Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 173


__ADS_3

Sementara itu, Han Beng memandang dengan hati lega dan kagum. Ternyata nona itu pandai bermain silat. Gerakannya yang begitu cepat dan otomatis, juga pandai mengatur gerakan dengan menggunakan tenaga secara tepat sekali.


Pengemis gendut yang masih dalam suasana marahnya sudah mengangkat tongkatnya yaitu sebatang tongkat hitam terbuat dari bambu yang ujungnya dipasangi besi runcing.


Dan dengan senjata ini, dia menyerang nona cantik itu. Han Beng terkejut dan dia sudah siap siaga untuk melindungi nona itu. Akan tetapi segera dia tahu bahwa nona cantik itu tidak memerlukan perlindunganya karena dengan amat sigapnya, gadis sudah mengelak dengan mudah.


Dan kini, kedua orang pengemis sudah menggunakan tongkat mereka untuk :ngeroyok. Dua batang tongkat dengan ujung besi runcing menyambar-nyambar kearah nona cantik, yang dengan lincahnya mengelak ke sana-sini bagaikan seekor burung walet saja.


Kini gadis itu dengan cepat mcnyambar sebatang kayu pengganjal pintu toko yang panjangnya sekitar dua meteran yang besarnya sekepalan tangan. Dengan senjata sederhana serupa toya ini, gadis itu menghadapi tiga batang tongkat lawan dan kini ia berailat dengan indah dan cepatnya. Han Beng terbelalak kagum karena dia mengenal ilmu silat yang dasarnya tak salah lagi tentu ilmu dari perguruan walet putih.


Karena toko obat itu terletak di jalan raya dekat pasar, maka perkelahian depan toko itu menarik perhatian orang dan sebentar saja tempat itu telah dilingkari banyak orang yang menonton, mereka itu agaknya tadi mengira bahwa ada serombongan pemain silat atau pedagang obat mengadakan pertunjukan di situ.


Akan tetapi ketika mereka mengenal dua orang anggota perkumpulan pengemis sabuk merah dan mereka menjadi terkejut. Ada rasa girang di dalam hati mereka bahwa kini ada orang berani menentang dua tokoh Perkumpulan gembel itu, dan orang itu bahkan hanya seorang nona yang cantik.


Karena takut kalau tiga bungkusan obat itu terinjak mereka yang sedang berkelahi, maka Han Beng segera memungutinya. Kalau saja dia tidak mengkhawatirkan akan keselamatan gadis itu tentu dia sudah pergi, tidak ingin terlibat dalam perkelahian.


Akan tetapi di harus menjaga keselamatan gadis yang telah menolongnya itu.


Permainan toya gadis itu memang hebat, dan perguruan walet putih memang terkenal sekali dengan permainan toya ini. Hal ini tidak mengherankan karena perguruan walet putih merupakan perguruan para pendekar aliran putih.


Bagi seorang pendekar untuk membela diri kalau diserang musuh adalah toya yang dapat dipergunakan pula sebagai sebatang tongkat.


Han Beng memandang dengan kagum pada nona Itu memang lihai dan begitu toyanya diputar dengan amat cepatnya, dua orang pengemis itu terdesak dan mundur.


Tiba-tiba nona cantik itu mengeluarkan bentakan yang melengking panjang dan ujung toyanya tergetar keras, membuat gerakan melengkung dan begitu gulungan sinar toya berkelebat, dua orang pengeroyok roboh.


Dua orang pengemis sabuk perah itu terengah-engah, Si pengemis gendit itu kepalanya benjol besar, Si Tinggi Kurus meringis karena kaki kanannya terkena sambaran toya sehingga tulang keringnya terasa seolah remuk dan dadanya yang terasa sesak.

__ADS_1


Nona cantik itu menghentikan gerakannya, berdiri dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tangan kanan yang memegangi toya yang dia berdirikan.


Kedua pengemis itu tahu diri, mereka bangkit dan tanpa banyak cakap lagi berjalan pergi secara terhuyung-huyung. Semua orang memuji kehebatan gadis itu, akan tetapi mereka yang mengenal kekuasaan perkumpulan pengemis sabuk merah itu merasa khawatir akan keselamatan nona si pemilik toko obat.


Para penonton itu pun bubar dan dan Han Beng menjura dengan penuh hormat kepada Si nona cantik yang perkasa itu.


"Sungguh saya bersyukur sekali bahwa Nona telah menolong saya dan guru saya. Terima kasih, Nona." kata Han Beng dengan sopan.


"Ah, tidak mengapalah, Saudara. kau dan gurumu adalah pengembara dan gurumu sakit. Sudah sepatutnya kalau aku memberi obat kepadamu. Dan mengenai dus orang tadi, mereka sendiri yang mencari penyakit dan memang perlu dihajar!" seru nona cantik itu.


Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan dua orang laki-laki menghentikan kuda mereka di depan toko itu.


Han Beng melihat seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, berpakaian sastrawan, dan seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih berpakaian ringkas dan bersikap gagah.


Ketika dua orang laki-laki itu berlompatan turun dari atas kuda mereka, nona cantik itu dengan cepat menghampiri laki-laki yang berpakaian sastrawan itu.


"Iya." jawab laki-laki itu yang memandangnya lengan wajah heran, sama sekali tidak gembira, bahkan suaranya terdengar marah.


"A Hui! apa yang kudengar ketika memasuki kota tadi? kau membela seorang pengemis asing dan berkelahi dengan dua orang anggota perkumpulan pengemis sabuk merah!" seru laki-laki itu dengan rona wajah yang memerah.


Nona itu menghadapi ayahnya dengan sikap tenang, tegas dan bertanggung jawab.


"Benar, Ayah. Dan dia inilah Saudara yang telah kutolong itu katanya menunjuk kepada Han Beng masih berdiri dengan hati tidak enak.


Majikan toko obat itu bernama Han Tiong, yang merupakan seorang ahli obat atau seorang tabib yang seringkali menerima undangan untuk mengobati orang sakit, akan tetapi juga membuka toko obat yang diurusi puterinya.


Puterinya itu anak tunggal bernama Han Hui, Ibu dari Han Hui ini, telah lama meninggal dunia.

__ADS_1


Han Tiong memandang sejenak kepada Han Beng lalu dia membalik menghadapi puterinya lagi.


"Apa yang telah terjadi?" tanya Han Tiong yang dalam suaranya masih terkandung rasa tidak senang.


Dia menganggap puterinya mencari gara-gara saja, karena dia tahu benar siapa itu perkumpulan pengemis sabuk merah yang amat berpergaruh di kota raja, bahkan mempunyai hubungan baik dengan para pembesar di istana.


"Sesungguhnya aku tidak bersalah.Ayah," kata Hui Tiong yang dapat melihat bahwa ayahnya marah.


"Apa maksudmu?" tanya Han Tiong yang mengrenyitkan kedua alisnya.


"Saudara ini datang dan minta pertolongan , agar diberi obat untuk gurunya yang sedang sakit demam dan batuk, karena kulihat dia seorang pengembara yang sedang dirundung malang, maka aku memberinya obat yang dimintanya. Tiba-tibi muncul dua orang pengemis perkumpulanpengemis sabuk merah itu yang bersikap sombong dan melarang aku memberikan obat kepada Saudara ini. Tentu saja aku marah, Ayah. Mereka tidak berhak melarangku memberikan obat milikku sendiri kepada siapapun juga. Mereka malah menghina saudara ini, mengusirnya dan melarangku menyerahkan obat. Maka terjadilah perkelahian itu dan mereka melarikan diri." jelas Hui Tiong yang apa adanya.


Dengan alis yang masih berkerut, Han Tiong memandang ke arah Han Beng.


Sejenak dia mengamati pemuda yang bertubuh tinggi besar dan berwajah gagah itu, lalu karena penyesalannya bahwa puterinya menanam permusuhan dengan perkumpulan pengemis sabuk merah hanya karena gara-gara pemuda ini.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


...   ...


__ADS_2