
"Kami bukan murid Hua Tian! Tapi kami adalah putra Sin Yang, dimana kami tinggal di Lembah Seribu Bunga." jawab Sin Lan yang mewakili adiknya Sin Lin.
Mendengar Lembah seribu Bunga, ketiga patriak itu saling pandang dan mereka merasa terkejut. Mereka sudah pernah mendengar tentang Lembah Seribu Bunga yang kabarnya merupakan tempat yang amat gawat, tempat yang amat sukar didatangi karena mengandung banyak alat rahasia dan jebakan berbahaya. Juga mereka mendengar bahwa pemilik Lembah Seribu Bunga yang merupakan seorang laki-laki aneh aneh yang suka akan bunga dan tidak pernah mencampuri urusan dunia persilatan, walaupun dia memiliki kepandaian yang tinggi.
"Patriak, sekali lagi kami bertiga mohon maaf atas kelancangan kami berkunjung ke perguruan ular kobra ini dan mohon patriak memberi kesempatan kepada kami untuk bertemu dan menghadap Ketua perguruan ular kobra ," kata Hua Li sedikit memohon.
"Kakak kami Ketua perguruan ular kobra tidak mempunyai banyak waktu untuk bertemu dengan sembarang orang. Akan tetapi mendengar bahwa kalian bertiga adalah murid-murid orang pandai, kami hendak menguji kebenaran keterangan kalian." ucap salah satu patriak yang memanfang
Pendekar tua itu menggerakkan tangan kanannya ke belakang punggung dan tahu-tahu dia sudah mencabut sebatang pedang yang berkilauan karena tajamnya.
"Nona, jika kamu mampu menandingi jurus pedangku selama lebih dari tiga puluh jurus, maka kalian cukup berharga untuk menghadap Ketua kami!" seru Patriak song.
"Adik Hua, biarkan aku yang maju menandinginya!" kata Sin Lin yang tangannya sudah gatal hendak menghajar pendekar tua itu.
"Kakak Li, biar aku yang mewakili kalian. Karena mereka menginginkan aku yang melawan mereka!" seru Hua Li yang mengulas senyum pada Sin Lin.
"Tapi adik Hua ..!" ucap Sin Lin yangtiba-tiba dipotong oleh Sin Lan.
"Adik Lin, biarkan Li'er yang mengambil keputusan!" kata Sin Lan menegur adiknya dan Sin Lin tidak bisa membantah lagi, hanya memandang kepada ketiga pendekar tua itu dengan kesal.
Hua Li menjura kepada patriak Song.
"Patriak, kami datang berkunjung bukan untuk menguji kepandaian. Kami percaya sepenuhnya bahwa jurus pedang kalian pasti amat tinggi dan lihai. Kami tidak berani main-main dan harap patriak perkenankan kami menghadap Ketua perguruan ular kobra." ucap Hua Li dengan sopan.
"Tidak bisa, kalau kalian tidak mau diuji tingkat kepandaian kalian atau seorang di antara kalian, maka terpaksa kami tidak dapat mengijinkan kalian memasuki tempat kami!" seru Patriak Song dengan lantang.
Hua Li menghela napas panjang. Dia tahu bahwa ketiga pendekar tua itu agaknya berwatak keras dan seperti kebanyakan ahli silat, selalu haus untuk menguji kepandaian dengan orang lain.
"Baiklah, patriak! saya akan melayani kehendak Patriak akan tetapi harap Patriak menaruh hati kasihan kepada saya yang bodoh ini." ucap Hua Li yang dengan perlahan mencabut pedangnya dan tampaklah sinar keemasan ketika pedangnya berada di tangannya.
"Pedang Sinar Emas?" kata Patriak Song sambil memandang pedang di tangan Hua Li dengan mata terbelalak.
"Benar, Patriak. Pedang ini aku dapatkan saat melawan para panglima Mongol!" jawab Hua Li sambil melintangkan pedangnya di depan dada.
__ADS_1
Biarpun kaget melihat Pedang Sinar Emas, Patriak Song tentu saja tidak merasa gentar karena yakin kalau la tidak mungkin dapat menandinginya yang sudah memiliki pengalaman puluhan tahun.
Dia membuat gerakan perlahan mengatur pasangan kuda-kuda jurus pedang andalan perguruan ular vv pedangnya menjulur lurus ke depan menyambung pundak dan dua jari tangan kirinya menunjuk ke atas.
"Orang muda, bersiaplah dan coba tahan seranganku!" seru Patriak Song yang mulai pasang kuda-kuda.
"Saya sudah siap, Patriak!" seru Hua Li yang juga sudah memasang kuda-kudanya.
"Sambutlah, hiaaaat....!"
Seru Patriak Song seraya menggerakkan tubuhnya dan pedangnya berubah menjadi sinar yang gemilang menyambar ke arah leher Hua Li dengan jurusnya.
Hua Li tahu kalau lawannya seorang ahli pedang yang amat tangguh, maka dia dengan cepat memutar tubuh ke samping sambil mengelebatkan pedangnya untuk menangkis.
"Trang.... Trang...Trang......!"
Bunga api berpijar dan merasa betapa tangannya tergetar, Patriak Song melangkah ke belakang untuk memeriksa pedangnya.
Bagaimanapun juga, melihat Sinar Emas tadi dan dia merasa khawatir kalau pedangnya rusak walaupun pedangnya itu juga sebatang pedang pusaka yang ampuh.
"Hiaaat....!"
Kembali Patriak Song menyerang lagi dengan jurus-jurus andalannya yang merupakan serangan berantai yang susul menyusul dan amat cepat sekali.
Hua Li menghinda dengan mengelak, berlompatan ke sana-sini, bahkan terkadang harus bergulingan dan ada kalanya pedangnya menangkis.
Rangkaian serangan itu datang seperti hujan, seolah olah pedang di tangan pendekar tua itu telah berubah menjadi tigabelas batang pedang yang menyambar-nyambar seperti kilat.
Bukan main heran dan penasaran rasa hati gadis itu tapi semua serangan dapat dielakkan atau ditangkisnya.
Patriak Song mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua jurus simpanannya, namun semua hasilnya sia-sia belaka. Karena gadis itu hanya mengelak dan menangkis, sama sekali tidak pernah membalas serangannya.
Sekali lagi Patriak Song merasa penasaran dan juga marah karena sikap gadis itu seperti mempermainkan atau memandang rendah padanya.
__ADS_1
"Nona, balaslah seranganku!"seru Patriak Song, yang mengira bahwa Hua Li tidak mampu membalas karena terdesak olehnya dan tidak mempunyai kesempatan untuk membalas serangannya.
Akan tetapi kini dia mulai menyadari bahwa gadis itu mengalah dan tidak mau membalas. Hal ini membuat dia penasaran sekali.
Kemudian Patriak Song mengeluarkan jurus andalannya yaitu jurus pedang yang tidak pernah diajarkan kepada para murid. Yang menguasai jurus pedang ini hanyalah Sang Ketua dan tiga orang sutenya ini.
Maka dapat dibayangkan betapa dahsyat ilmu pedang ini yang merupakan jurus pedang andalan dari para pimpinan perguruan Ular kobra dan hanya kalau keadaan amat mendesak, baru ilmu ini dikeluarkan.
Patriak Song yang berwatak keras itu lupa bahwa dia hanya ingin menguji kepandaian Hua Li. Baginya karena sejak tadi serangannya gagal, dia merasa dipermalukan kalau tidak mampu mengalahkan gadis itu.
"Wusss...... wusss.....!"
Ketika dia mainkan jurus pedang ini, terdengar suara berdesingan, dan angin gerakan pedang itu menyambar-nyambar, pedangnya lenyap menjadi gulungan sinar putih yang melingkar-lingkar.
Kakak beradik itu sampai merasa khawatir, bahkan Sin Lin yang biasanya tak kenal takut dan galak itu kini diam dan hanya memandang dengan mata terbelalak, demikian pula Sin Lan.
Tiba-tiba saja bayangan Hua Li lenyap sama sekali dan yang ada hanya sinar kuning emas yang bergulung-gulung mengelilingi Patriak Song dan gerakan pedangnya.
Gulungan sinar pedang putih dari tosu itu makin lama semakin mengecil dan menciut, seolah terdesak dari luar oleh sinar kuning emas yang berputar mengelilinginya.
"Haaa......ha....ha......! Cukup sudah......!" seru Patriak Song dengan tawa khasnya.
... ~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1