Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 122


__ADS_3

Di dalam jala mereka itu nampak benda panjang yang mengeluarkan sinar berkeliuan bergerak-gerak hendak lepas.


Melihat delapan orang itu agaknya berhasil menangkap "Anak Naga", banyak perahu meluncur mendekati mereka. Melihat ini, mereka siap dengan senjata mereka.


"Ular naga kecil ini sudah kami tangkap. Kami yang berhak memilikinya, harap para sahabat yang gagah tidak mengganggu kami!" seru ketua dari delapan orang itu.


Tampak seorang laki-laki tinggi gemuk bermuka hitam meloncat dari perahunya, ke atas perahu delapan orang itu. Dua orang delapan orang itu menyambutnya dengan bacokan golok, dibuat terjungkal dari perahunya oleh tendangan laki-laki gemuk itu dan sekali dia menyambar, jala itu telah dirampasnya.


Dengan kecepatan luar biasa, dia sudah meloncat ke perahunya sendiri. Akan tetapi ketika dia hendak melarikan diri dengan perahunya, membawa jala yang membungkus ular berkilauan itu terdengar bentakan halus.


"Tinggalkan anak naga itu padaku dan sinar hitam meluncur cepat sekali ke arah laki-laki gemuk bermuka hitam. Laki-laki yang amat lihai itu hendak menangkis, akan tetapi ternyata ada sinar kedua menyambar dan mengenai pundaknya.


Dia roboh dalam perahunya, jala itu terlepas dari tangannya kedalam air. Laki-laki yang roboh di dalam perahunya itu tidak dapat bergerak lagi, mukanya berubah membiru dan dia tewa seketika terkena senjata rahasia jarum yang tadi dilepaskan oleh wanita cantik yang tadi membunuh Ceng-san di kedai.


Sebelum wanita itu dapat menangkap ular dalam jala yang terlempar agak jauh dari perahunya, sebuah perahu lain meluncur dekat dan seorang laki-laki tinggi kurus menyambar jala itu dan dia cepat mengeluarkan ular dari dalam jalan.


Tiba-tiba dia memekik, ular itu telah mengigit pangkal lengannya dan begitu kena digigit, dia berkelonjotan dan ular itu melesat kedalam air dan menghilang.


Orang tinggi kurus itu hanya sebentar berkelonjotan karena dia sudah tewas dalam perahunya dengan tubuh membengkak seluruhnya, seperti balon yang ditiup.


Ternyata racun gigitan ular atau anak naga itu tidak kalah hebatnya dibandingkan racun yang terkandung dalam jarum yang dilemparkan iblis betina selaksa Racun itu..


Keadaan menjadi makin kacau karena anak naga itu lenyap lagi. Perahu-perahu berseliweran dan semua mata mengamati air dan mencari-cari anak naga yang tadi terlepas dan menyelam.


Karena semua orang tenggelam dalam perhatian mereka untuk mencari "anak naga" itu, keadaan menjadi sunyi sekali.


Perahu-perahu semua diam dan tak seorangpun mengeluarkan suara seolah-olah takut kalau ada suara gaduh, anak naga yang tadi sudah memeperlihatkan diri akan tetapi tidak berani muncul muncul kembali.

__ADS_1


Dari ketegangan memuncak karena semua orang maklum bahwa untuk memperebutkan anak naga itu, para tokoh kang-ouw tidak segan-segan untuk merampas dan membunuh, seperti dilakukan oleh si Muka Hitam, kemudian si betina selaksa racun.


 Keadan yang sunyi itulah yang menyebabkan suara anak perempuan itu terdengar nya.


"Heiiiii! Umpan pancingku disambar ikan!"


Teriakan yang mengandung kegembiraan besar dan Hok Cu yang sejak tadi memancing dan tidak pedulikan keadan sekitarnya, nampak bersusah payah menahan pancingnya sehingga tangkai pancingnya melengkung dan Hok Cu harus mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menahan diri.


"Wah, ikannya besar dan kuat sekali...!" seru Hok Cu dan di lain saat tubuhnya terjatuh kedalam air karena terbawa oleh tarikan ikan pada pancingnya yang amat kuat dan ia tidak mau melepaskan gagang pancingnya.


 "Byuuuuurrrrr"".!"


 Dua keluarga itu terkejut bukan main. Akan tetapi yang lebih dulu bergerak adalah si Kian Beng. Melihat betapa kawan barunya itu terjatuh kedalam air, diapun tanpa membuang waktu lagi segera melepaskan dayung ditangannya dan melompat kedalam air.


Sebagai seorang anak nelayan, Kian Beng pandai berenang, demikian pula Hok Cu yang dusunnya terletak di tepi sungai.


"Iiih.,...! Ular... Ular....!"


"Iiih.,...! Ular... Ular....!"


Gadis itu menjerit karena merasa jijik dan takut.


Pada saat itu, Kian Beng sudah berenang mendekat. Melihat gadis itu dibelit ular yang besarnya selengan orang tua dan panjangnya satu setengah meter, membuat anak perempuan itu tidak dapat berenang lagi dan gelgapan, Kian Beng yang merasa kuatir dan menjadi nekat.


Dia memegang leher ular itu menarik-narik lilitannya agar terlepas dari tubuh Hok Cu. Ular itu memang melepas lilitannya pada tubuh Hok Cu, akan tetapi kini dengan marah menggerakkan kepalanya dan mulutnya tahu-tahu sudah mengigit pundak Hok Beng.


Rasa nyeri yang amat hebat membuat tubuhnya seperti kejang dan panas dan juga seolah-olah ada ribuan semut berapi yang mengigit seluruh tubuhnya. Pundaknya terasa seperti dibakar. Hok Beng tiba-tiba menjadi marah sekali pada ular itu. kepala ular itu masih menempel di pundaknya dan tubuh ular itu mulai membelit dada dan lehernya.

__ADS_1


Dia menjadi nekat dan dengan mengerahkan sepenuh tenaganya, dia menangkap tubuh ular itu, menariknya ke dekat tubuh ular itu, menariknya kedekat mulutnya dan diapun menggigit tubuh ular itu dibagian leher.


Begitu dia mengigit dengan sekuat tenaga sehingga menembus kulit ular yang licin dan amis itu, dia merasakan sesuatu yang manis dan juga amis membasahi mulutnya. Itulah darah ular.


Diapun teringat bahwa ular itu masih menggigitnya, pundaknya nyeri bukan main, maka dalam kemarahannya, untuk membalas kepada ular itu, diapun menggigit semakin kuat dan menghisap darah ular itu, ditelannya sampai berteguk-teguk.


 Aneh sekali, begitu dia menelan darah ular itu, hatinya merasa senang.


"Rasakan kamu!" pikirnya. Kalau perlu, kita mati berbareng Dia menghisap terus tanpa mengendurkan gigitannya sedikitpun juga.


 Sementara itu, melihat kawannya digigit ular pada pundaknya dan tubuh ular itu membelit tubuh Kian Beng, Hok Cu tidak tinggal diam. Ia yang tadi ditolong oleh Kian Beng sehingga belitan ulr pada tubuhnya terlepas. Kini iapun tidak mau tinggal diam, dan ia pun meniru perbuatan Kian Beng yang mengigit leher ualar.


Hok Cu tidak dapat membantu karena ia tidak memegang senjata, maka satu-satunya senjatanya hanyalah gigi dan iapun mengigit ekor ular itu sekuat tenaga. Dan seperti Kian Beng, ia merasakan darah ular manis dan amis, akan tetapi ia tidak melepaskan gigitannya dan bahkan menghisap sehingga sedikit darah ular memasuki perutnya.


Pada awalnya para tokoh dunia persilatan mengerutkan alis dan marah melihat dan mendengar kegaduhan yang dibikin seorang anak perempuan, akan tetapi ketika mereka melihat bahwa yang kena pancing itu anak naga yang dijadikan rebutan, semua orang terkejut dan perahu-perahu itu meluncur datang. Karena banyaknya perahu, terjadi kekacauan dan ada perahu-perahu yang bertabrakan.


Hal ini membuat mereka agak lambat mendekati kian Beng dan hi Cu yang bergulat dengan ular yang oleh para tokoh disebut anak naga itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


...   ...


__ADS_2