
Terlalu indah dan berbahaya bagi batinnya kalau dipandang terus, pikirnya. Baru memandang sekilas saja, darah mudannya sudah bergejolak dan jantungnya berdebar.
"Mereka itu adalah para pimpinan perguruan Serigala emas, perkumpulan yang katanya merupakan perkumpulan para pendekar yang melindungi rakyat yang tertindas, orang-orang perguruan Serigala emas yang mengaku sebagai para pejuang itu juga bersekutu dengan Cang Jin." jelas Hok Cu.
"Ahhh......... ! Kalau begitu benar dugaan Liu Tai!" kata Han Beng dengan girang.
Ternyata dari gadis ini dia telah mendengar segala yang hendak diketahuinya.
"Lalu kenapa mereka itu mengeroyokmu dan hendak membunuhmu?" tanya Han Beng yang penasaran.
"Karena Hong Lan yang yang menjemukan itu!" seru Hok Cu yang geram.
"Dia juga masuk menjadi sekutu mereka yang jelas hendak memberontak terhadap pemerintah dan mereka membujuk agar aku ikut lalu bersekutu dengan mereka. Aku menolak dan pergi. Mereka mengejar dan aku lalu mereka keroyok." lanjut jelas Hok Cu.
"Tapi kenapa nona?" tanya Han Beng yang semakin penasaran.
"Mudah saja diketahui. Karena aku tidak mau menjadi sekutu mereka dan hendak pergi, mereka khawatir karena aku telah mengetahui rahasia mereka." jawab Hok Cu.
"Ah, begitukah? Sungguh keji mereka!" gerutu Han Beng.
"Kau muncul menolongku! Hemmm, aku menjadi penasaran sekali. Pertama, kita pernah bertanding beberapa gebrakan, akan tetapi ketika itu aku mengeroyokmu bersama Hong Lan. Kemudian, kau menghindarkan aku dari bahaya. Seolah-olah aku lemah sekali dan kau yang jagoan!" kata Hok Cu dengan wajah yang menjadi merah dan ia memandang dengan mulut cemberut, sedikit marah.
"Aih, siapa bilang begitu, Nona?" tanya Han Beng.
"Aku yang bilang begitu!" seru Hok Cu.
"Sama sekali aku tidak menganggap begitu. Kau sungguh lihai sekali dan aku........" kata Han Beng yang kembali dipotong oleh Hok Cu.
"Kau kelihatan seperti lebih lihai dariku, akan tetapi aku belum mau percaya sebelum melihat buktinya engkau dapat mengalahkan aku. Hayo keluarkan senjatamu dan mari kita menguji kepandaian kita masing-masing!" seru Hok Cu yang menatap Han Beng dengan tajam.
"Aku tidak pernah menggunakan senjata." kata Han Beng dan dia mengerutkan alisnya.
__ADS_1
Gadis ini agak tinggi hati walaupun dia sudah yakin akan kelihaianya dan diam-diam dia pun ingin sekali mencoba sampai di mana kehebatan gadis yang amat menarik hatinya ini.
"Aku tidak ingin berkelahi, Nona." lanjut kata Han Beng.
"Siapa yang mengajakmu berkelahi Tidak ada hal yang membuat kita bermusuhan, akan tetapi sebelum aku mengukur sendiri kepandaianmu, selamanya aku akan merasa penasaran. Hayo, kita coba dengan tangan kosong saja kala begitu! Lihat pukulan!" seru Hok Cu yang kemudian maju menyerang dengan tamparan kedua tangan yang dilakukan bertubi dari kanan dan kiri.
"Wuuuttttt .......! Wuuuttttt.......... !"
Tamparan itu mendatangkan angin pukulan yang amat dahsyat, tanda bahwa gadis cantik ini memiliki tenaga sin-kang yang kuat. Han Beng mengelak dengan menarik tubuhnya ke belakang.
Akan tetapi, gerakan gadis itu lincah dan cepat bukan main. Begitu kedua tamparannya luput, dara itu sudah menerjang lagi dengan kecepatan seperti seekor burung walet menyambar-nyambar.
Kedua tangannya seolah berubah menjadi enam, menyerang Han Beng ke manapun tubuh pemuda ini menghindar.
"Plak....! Plakk...!"
Karena tak mungkin mengelak terus dari serangan bertubi-tubi itu, Han Beng menangkis dua kali dan keduanya terkejut karena pertemuan Kedua tangan mereka mendatangkan getaran yang amat kuat.
Selama meninggalkan gurunya di puncak Thai-san, belum pernah ia bertemu dengan lawan sedemikian tangguhnya, kecuali pemuda bercaping itu. Dia pun kini membalas dan terjadilah pertandingan yang amat hebat dan seru.
"Wuzz....wuzzz...!"
Angin menyambar-nyambar di sekeliling mereka, menggerakkan daun pada ujung ranting-ranting pohon, bahkan banyak daun berguguran, terdengar suara bersiutan nyaring dan tubuh kedua orang itu tidak lagi nampak bentuknya, berubah menjadi dua bayangan orang yang berkelebat.
Pertandingan yang dahsyat, bagaikan dua ekor naga saja yang saling serang merebutkan mustika.
Makin lama Han Beng menjadi semakin kagum. Tak disangkanya sama sekali bahwa gadis itu benar-benar merupakan lawan yang demikian hebatnya sehingga tidak akan mudah baginya untuk dapat mengalahkannya.
Dia tahu setelah mereka bertanding selama puluhan jurus, bahwa hanya satu saja keunggulannya, yaitu dalam hal tenaga dalam. Dia telah berkali-kali mengadu kekuatan ketika menangkis sedikit demi sedikit menambah tenaganya sampai dia dapat mengukur bahwa kuatan tenaga dalam gadis itu masih berada di bawah kekuatannya sendiri.
Kalau menghendaki, dengan keunggulan tenaga sakti ini, tentu dia akan mampu mengalahkannya. Akan tetapi tidak, dia tidak tega melakukan hal itu. Dia tidak ingin menyinggung perasaannya, membuatnya malu dan penasaran.
__ADS_1
Di lain pihak, Hok Cu juga terkejut bukan main, di samping kekagumannya.
"Pemuda tinggi besar ini memang luar biasa. Pantas ketika aku membantu Hong Lan mengeroyoknya, kami berdua tidak mampu mendesak pemuda ini. Memang hebat bukan main, kokoh kuat bagaikan batu karang. Dia merupakan satu-satunya lawan hebat yang pernah aku hadapi, yang membuat aku kehabisan akal. Semua ilmunya telah ia keluarkan, bahkan ilmu-ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari guru Mo Li aku keluarkan keluarkan, namun tanpa hasil." gumam dalam hati Hok Cu.
Uap panas menghitam yang keluar dari tangannya, membuyar ketika bertemu dengan hawa pukulan yang keluar dari kedua telapak tangan pemuda itu, hawa yang lembut namun mengandung kekuatan yang dahsyat.
Beberapa kali, ketika mereka terpaksa mengadu telapak tangan, ia terhuyung mundur, tangannya terasa kesemutan. Makin bahwa dengan tangan kosong ia tidak akan mampu menang, Hok Cu yang masih penasaran dan ingin menguji sampai sepenuhnya, lalu meloncat ke belakang dan ia sudah menghunus pedang tumpulnya.
"Sudah cukup mengadu ilmu silat dengan tangan kosong, mari kita coba dengan senjata...!" seru Hok Cu yang berusaha mengatur napasnya.
Gadis itu tidak dapat menahan napasnya yang terengah dan juga merasa betapa di dada bagian ulu hati terasa berat dan nyeri, la memejamkan mata sebentar dan napasnya memburu.
"Ah, Nona! kau ... kau terluka dalam! Sungguh aneh, aku.... aku tidak memukulmu, tapi jelas sekali kau menderita luka dalam. Cepat bersila Nona dan kumpulkan hawa murni melakukan pernapasan dan perlahan-lahan usir hawa dalam dada itu!" seru Han Beng.
Hok Cu terkejut sekali dan ia merasakan sesuatu kelainan pada ulu hatinya yang terasa semakin nyeri.
Teringatlah ia akan nasehat Biksu Hek Bin ketika mengajarkan latihan pernapasan lan penghimpunan hawa sakti secara bersih, ketika biksu sakti itu menggemblengnya.
Biksu Hek Bin memperingatkan agar ia tidak mempergunakan ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari gurunya Mo Li, terutama ilmu yang mengandung hawa beracun hitam.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1