
Seketika itu juga dada Lim Mao bersimbah darah dan tubuhnya jatuh lunglai dan akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.
Setelah yakin Lim Mao sudah tak bernyawa lagi, Hua Li melangkahkan kaki meninggalkan ruangan itu.
Tiba-tiba saja ada beberapa prajurit yang berdiri dihadapannya.
"Oh, mau main keroyokan ya!" seru Hua Li dengan sikap tenang dan mengulas senyumnya.
"Kurang ajar! beraninya menyusup dan mengganggu tuan muda Lim Mao! Serang dia!" seru salah satu dari prajurit itu yang memberi perintah pada teman-temannya.
Tanpa tunggu aba-aba lagi, empat orang prajurit bersenjatakan golok dan pedang itu mengepung dan menyerang Hua Li.
Gadis itu yang melawan mereka dengan tangan kosong, terkadang mereka mengelak ke kanan dan ke kiri yang ternyat dapat membuat para prajurit itu kelelahan tapi terus berupaya menyerang Hua Li.
Di saat ada kesempatan, Hua Li berhasil merebut salah satu golok itu dan mulai melakukan perlawanannya dengan dahsyatnya dan untuk kedua kalinya para prajurit itu dibuat kewalahan oleh gadis itu.
"Trang....Trang...Trang...!"
"Trang....Trang...Trang...!"
"Sreett.... Sreeett.... sreett....sreet...!"
"Aarrghh....!"
Golok yang dibawa Hua Li menggores luka yang menganga di dada para prajurit itu, dan darah segar keluar pada sayatan tersebut.
Hua Ali segera melesat keluar dari tempat itu dan kini yang dituju adalah rumah pelesir Bunga Merah karena dia mendapat keterangan dari penyelidikan pembantu di rumah keluarga Siok bahwa Kun Cie malam itu berpelesir dan menginap di rumah pelesir itu.
Rumah pelesir itu cukup besar dan didepannya terdapat sebuah taman bunga yang penuh dengan bunga berwarna merah. Mungkin karena inilah tempat itu dinamakan Rumah Pelesir Bunga Merah.
Malam telah larut, agaknya para tamu yang biasanya memenuhi ruangan depan sambil minum-minum dilayani para wanita tuna susila, sudah meninggalkan tempat itu.
Hanya ada Kun Cie yang bermalam di situ karena pemuda putera Kepala Pengadilan itu dapat dikatakan berkuasa di rumah ini yang seolah menjadi rumah peristirahatannya sendiri.
Dialah yang menjadi penyumbang utama dan diandalkan oleh para pengurusnya.
__ADS_1
Seperti biasa di Rumah Pelesir Bunga Merah terdapat para tukang pukul yang mendapat giliran berjaga. Jumlah tukang pukul di tempat itu ada lima orang dan setiap malam melakukan penjagaan secara bergilir.
Akan tetapi malam ini Kun Cie bermalam di situ dan seperti biasa dia membawa pengawal sebanyak lima orang maka di ruangan depan itu kini berkumpul sepuluh orang penjaga yang bertubuh tinggi besar dan tampak galak menyeramkan.
Mereka sedang bermain kartu akan tetapi tidak berani membuat gaduh karena Kun Cie berada di rumah itu, dalam sebuah kamar bersenang-senang minum arak dilayani dua orang wanita tuna susila yang menjadi langganannya.
Kun Cie bersendau gurau dengan dua orang wanita itu. Dia tampak gembira sekali karena setelah membasmi Keluarga Siok yang menjadi penghalang baginya tewas, dia selalu tampak gembira.
Kini seperti dulu dia dapat berbuat sesuka hatinya, bersenang-senang menghamburkan uang ayahnya yang didapat dari suapan dan sogokan mereka yang mendapatkan perkara di pengadilan.
Setelah minum arak cukup banyak dan mulai agak mabok, Kun Cie menyuruh pelayan menyingkirkan semua sisa makanan dan minuman dari kamar itu dan bersiap-siap untuk bersenang-senang dengan dua orang wanita cantik itu.
Tiba-tiba daun jendela yang menghadap ke taman terbuka dan sesosok bayangan berkelebat masuk dan berdiri menghadap ke arah Kun Cie dan dua wanita cantik itu.
Hua Li dengan cepat menotok dua orang wanita penghibur itu yang sebelumnya terkejut dan menjerit, dan kemudian mereka segera roboh karena tertotok.
Melihat seorang gadis yang menotok kedua wanita penghiburnya dan dia mengenal gadis itu, Kun Cie menjadi marah sekali.
Kun Cie bukan seorang pemuda yang lemah karena bersama Lim Mao dia telah mempelajari ilmu silat yang cukup lumayan. Segera dia menyambar sebatang golok yang tak pernah terpisahkan dari dirinya dan mencabut golok itu.
"Iya, dan aku diutus Lim Mao untuk mengajak engkau menemuinya!" balas Hua Li dengan mengulas senyum miringnya.
Kun Cie mengerutkan alisnya, kecurigaannya muncul kembali, apalagi ketika pandang matanya bertemu dengan tubuh dua orang gadis penghibur itu yang menggeletak di atas lantai tanpa dapat bergerak.
"Tidak mungkin Lim Bao memanggilku tengah malam begini! Hayo katakan apa maksudmu sebenarnya?" tanya Kun Cie yang merasa curiga.
"Kun Cie, engkau harus ikut denganku, mau atau tidak mau!" jawab Hua Li dengan lantang.
"Kurang ajar! pengawal...!" seru Kun Cie yang memanggil pengawalnya sambil menerjang ke depan, menyerang Hua Li dengan goloknya.
Akan tetapi menghadapi Hua Li, ilmu silat pemuda ini sama sekali tidak ada artinya. Hanya satu kali tubuh Hua Li bergerak dan golok itu telah terlepas dari tangan dan diambil alih oleh
"Sreet...! sreet...!"
"Aaagrh...!"
__ADS_1
Dua sayatan pedang mengenai dada Kun Cie dan darah segar muncrat disayatan itu.
Seketika itu juga Kun Cie ambruk jatuh ke lantai.
Pada saat itu, sepuluh orang pengawal yang mendengar teriakan Kun Cie dan memasuki kamar itu, mereka melihat Kun Cie yang terkapar bersimbah darah dan mereka segera menyerang dengan senjata tajam mereka berupa golok atau pedang.
"Kurang ajar! serang...!" seru para pengawal itu.
Hua Li menyambut serangan sepuluh orang pengawal itu dengan tendangan kedua kakinya. Kedua kaki itu menyambar-nyambar dengan kecepatan yang tak dapat diikuti penglihatan para pengeroyok itu dan tahu-tahu tubuh mereka terlempar dan berpelantingan.
Mereka hanya dapat berteriak mengaduh dan setelah sepuluh orang itu roboh semua oleh tendangannya, Hua Li lalu melompat keluar dari rumah pelesir itu dan menghilang dalam gelap.
Sepuluh orang pengawal yang tidak terluka parah, merangkak bangkit dan mencoba mengejar, akan tetapi mereka tidak menemukan jejak Hua Li.
Terpaksa mereka lalu beramai-ramai pergi ke gedung Kepala Pengadilan Kun Hok untuk melaporkan peristiwa itu.
Kun Hok mendengar laporan mereka bahwa puteranya tewas dibunuh gadis yang membawa kecapi, kemudian dia mengerahkan semua perajurit pengawal yang ada untuk melakukan pencarian terhadap diri pendekar yang namanya amat dikenal itu.
Juga pihak keluarga Lim juga minta kepada para perwira pasukan untuk mencari Pendekar Kecapi yang saat ini menjadi buronan mereka.
Hua Li terus melesat dan dia tidak mau singgah di rumah keluarga Siok yang dijaga seorang pembantu wanita keluarga Siok. Tidak ada orang mengetahui ketika dia berkunjung ke rumah itu dan dia tidak ingin ada orang mengetahui agar pembantu itu tidak terbawa-bawa sebagai akibat dari perbuatannya menghukum Lim Mao dan Kun Cie.
Malam itu juga Hua Li berlari dengan cepat, hingga malam berganti pagi. Saat ini gadis itu telah berada jauh sekali dari kota Cin-yang.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1