
"Baik ketua, kami sangat berterima kasih karena kalian masih mendengarkan keluh kesah kami." ucap si kakek kurus yang mewakili yang lainnya.
Hua Tian menganggukan kepalanya dan mengulas senyumnya.
"Permisi semuanya!" ucap pamit Hua Li dan kemudian bersama ayahnya melangkahkan kaki kembali menuju ke perguruan Bambu kuning untuk mengajak Chen Bun mengobrak-abrik markas Bajak Sungai Buaya Kepala Besi.
Sesampainya di perguruan Bambu kuning, mereka segera menemui Chen Bun yang sedang berlatih bersama Ayahnya.
"Saudara Hua, dari mana saja kalian!" seru Chen Bun pada saat melihat Hua Tian dan Hua Li menghampiri mereka.
"Kami baru saja berjalan-jalan ke sekitar perkampungan bambu kuning." jawab Hua Tian sembari mengulas senyumnya.
"Paman Kun, bolehkah kakak Bun ikut dengan kami?" tanya Hua Li pada Chen Kun.
"Ikut dengan kalian? memangnya kalian mau kemana?" tanya Chen Kun yang penasaran.
"Apakah kamu belum tahu kekacauan di desa bambu kuning?" tanya Hua Li yang sedikit menguji pengetahuan Chen Kun.
"Yang aku dengar mereka aman-aman saja, bahkan katanya ada banyak saudagar kaya yang singgah di perkampungan bambu kuning." jawab Chen Kun yang memang tak mengetahui hal yang sebenarnya.
"Itu semua kata siapa saudara Chen?" tanya Hua Li yang mengernyitkan kedua alisnya.
"Utusan mereka yang datang kemari, bahkan aku menggelontorkan dana untuk membangun pelabuhan di tepi sungai sekitar perkampungan." jawab Chen Kun yang ikut mengernyitkan kedua alisnya.
"Apa! paman ditipu mereka!" seru Hua Li dengan lantang.
"Ditipu, apa maksud kamu Li'er?" tanya Chen Bun yang penasaran.
"Begini saudara Chen dan juga A Bun, selama ini di desa bambu kuning telah di satroni oleh bajak sungai Buaya kepala Besi. Hampir semua hasil rakyat disana dimonopoli oleh mereka. Jadi utusan yang dikirim kemari adalah anggota dari mereka!" jelas Hua Li yang seketika membuat Chen Kun dan Chen Bun terbelalak karena saking terkejutnya.
"Jadi.... semua uangku tidak sampai pada warga!" seru Chen Kun yang mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Sial! kurang ajar mereka!" umpat Chen Bun dengan geramnya.
"Makanya, sebagai seorang pemimpin kamu sebaiknya jangan sepenuhnya percaya dengan orang-orang yang menjabat dibawah kamu. Ada baiknya kamu mendatangi sendiri perkampungan-perkampungan yang ada disekitar aliran sungai kuning ini. Itu tujuannya agar saudara Chen tahu mana petugas yang jujur dan mana yang hanya memakan hasil rakyat." nasehat Hua Tian yang didengarkan oleh Chen Kun.
"Kamu benar saudaraku, akuvterlalu sibuk mengurusi perguruan. Sampai perkampungan di sekitar perguruan tak pernah aku tengok sekalipun. Ma'afkan aku yang telah gagal memimpin perguruan saudara Hua!" ucap Chen Kun yang menundukkan kepalanya.
"Yang berlalu biarlah berlalu, sekarang segera perbaiki setiap kesalahan kamu!" seru Hua Tian seraya menepuk pundak sebelah kiri Chen Kun.
"Nah sekarang kakak Bun boleh kan ikut bersama kami?" tanya Hua Li yang sedikit memohon.
"Oh, tentu saja. Misi ini bisa menambah pengalaman kalian." balas Chen Kun seraya mengulas senyumnya.
"Kalau begitu ayo kita pergi sekarang juga!" seru Hua Tian.
"Paman Li'er pergi ya!" ucap pamit Hua Li.
"Ayah A Bun juga pergi menjalankan misi." ucap pamit Chen Bun.
"Siap paman!" balas Hua Li yang juga melambaikan tangannya.
"Iya ayah!" balas Chen Bun yang begitu halnya dengan Hua Li, membalas lambaian tangan ayahnya.
Kemudian mereka bertiga melangkahkan kaki menuju ke tepi sungai, setelah mendapati sebuah perahu kecil milik Hua Tian, mereka segera naik perahu kecil tersebut.
Hua Tian duduk di tengah-tengah sambil berpeluk tangan dan memejamkan mata, sedangkan Chen Bun di belakang dan Hua Li di depan mengayuh biduk kecil itu dengan cepat sekali menuju ke Tikungan Maut.
Kedatangan biduk kecil yang ditumpangi oleh seorang laki-laki paruh baya dan dua orang anak muda itu cepat sekali diketahui oleh Tek San yang telah menyebarkan mata-matanya di sepanjang sungai Kuning.
Tek San bersiap karena mendengar bahwa yang datang itu adalah utusan-utusan dari Chen Kun, hingga dia dapat menduga bahwa mereka tentulah orang-orang yang memiliki jurus yang tinggi.
Tetapi sedikit pun dia tidak takut, karena sesungguhnya yang membuat dia berani mengganggu anak buah Chen Kun adalah karena kedatangan saudara seperguruannya yang ikut bergabung dengannya.
__ADS_1
Kakak seperguruannya ini adalah seorang pendekar aliran hitam yang bernama Lauw Seng. Karena melakukan pekerjaan terkutuk, di antaranya mengganggu gadis-gadis kampung dan merampok, dia dicari oleh para pendekar aliran putih dari kotanya sehingga terpaksa dia melarikan diri.
Kemudian Lauw Seng ini mendengar tentang adik seperguruannya yang kini menjadi kepala bajak yang makmur, maka segera dia menyusul dan ikut membonceng adik seperguruannya itu. Tentu saja Tek San merasa girang sekali karena dengan adanya kakak seperguruannya ini, kedudukannya semakin kuat sehingga dia tak perlu lagi takut kepada Chen Kun.
Sementara itu Hua Tian dan kedua anak muda yang naik biduk kecil itu tahu bahwa biarpun tikungan itu nampak sunyi-sunyi saja, namun di kedua tebing terdapat sungai yang curam.
Di atas batu-batu karang yang tinggi di kanan kiri, tampak bergerak orang-orang bersembunyi di balik batu. Tetapi baik Hua Tian dan kedua anak muda itu, tetap tenang-tenang saja dan seakan-akan tidak ada sesuatu yang mengancam keselamatan mereka.
Kalau dulu Hua Li masih harus menggunakan seluruh kepandaian untuk membawa biduknya melalui Tikungan Maut itu dengan selamat, kini gadis itu sudah biasa lewat di situ dan dapat melalui segala bahaya tikungan itu dengan mudah.
Apalagi sekarang ada Chen Bun yang membantunya, maka ketika biduk kecil melewati tikungan itu, biarpun air datang menghantam dari depan sangat cepat dan kuatnya, namun keduanya dapat membawa biduk menerjang aliran air dan menikung dengan selamat.
Bahkan putaran-putaran air itu tak berdaya mengganggu biduk yang didayung oleh dua orang muda yang memiliki kepandaian dan tenaga yang terlatih hebat.
Melewati sungai yang penuh batu-batu karang, biduk itu sedikit pun tidak bergoncang hingga Hua Tian yang tampak tidur sambil duduk di tengah-tengah perahu sama sekali tidak merasa terganggu.
Puluhan pasang mata mengintai biduk kecil itu dari kedua tebing sungai, di atas batu-batu karang yang tinggi.
Mereka sangat penasaran dengan biduk kecil yang dapat menerjang arus sungai dan mudik melalui tikungan yang demikian berbahaya, sedangkan untuk membawa perahu dengan selamat ke hilir saja adalah pekerjaan yang dapat mendatangkan maut.
Kemudian dari kedua tebing tinggi, mereka menjatuhkan batu-batu yang berhamburan menimpa biduk kecil itu. Hal ini adalah akal keji dari Tek San yang hendak menghancurkan utusan musuhnya dengan sekali serang.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...