Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 274


__ADS_3

Han Beng terkejut dan berdiam diri, tak bergerak seperti telah berubah menjadi patung.


Dia terkejut bukan main, lebih kaget daripada kalau diserang dengan pedang secara tiba-tiba. Dia tidak mampu menjawab, bahkan tidak mampu berpikir karena pikirannya sudah berputar putar tidak karuan, mengikuti gerak jantungnya yang berdebar karena terguncang oleh kata-kata suhunya tadi.


Hua Li dapat memaklumi keadaan muridnya dan dia tertawa.


"Ha...ha....ha....! jangan kau tertegun seperti itu, Han Beng. Kau seorang laki-laki, apa anehnya kalau tiba saatnya engkau harus beristeri? Pikirlah baik-baik. Kala engkau sudah beristeri, hidupmu akan tenteram. Berumah tangga, berkeluarga, dan kau bekerja untuk menghidupi keluargamu. Tidak menjadi seorang pengelana yang tidak menentu hidupnya, tidak menentu pekerjaan dan tempat tinggalnya!" seru Hua Li.


Han Beng merasa tersudut. Apa yang harus dia katakan, Dia tahu bahwa gurunya ini memiliki watak yang jujur akan tetapi keras bukan main. Kalau dia begitu saja menjawab bahwa dia tidak setuju dan menolak usul gurunya, tentu dia akan menyakiti hati gurunya yang dihormati dan disayangnya itu. Akan tetapi dia pun tentu saja tidak mungkin dapat menerima ikatan jodoh semudah itu.


"Hei, Han Beng, kenapa kau dian saja? Jawablah!" seru Hua Li.


Seruan Hua Li ini menyadarkan Han Beng dan dengan gagap dia menjawabnya.


"Bagaimana murid harus menjawab guru? Urusan ini terlalu tiba-tiba dan murid sendiri bingung. Murid membutuhkan waktu untuk memikirkan usul guru ini." kata Han Beng yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Pendekar kecapi itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Baiklah, kau memang terlalu berhati-hati. Kuberi waktu padamu. Berapa lama kau hendak memikirkan persoalan ini dan memberi jawaban pasti kepadaku!" seru Hua Li.


Han Beng yang lebih dulu ingin menyelami perasaan hati Hok Cu terhadap dirinya, lalu berkata,


"Guru, Han Beng sudah berjanji kepada Hok Cu untuk menghadap guru dan bertanya tentang kematian orang tuanya. Kemudian dari sini, kami akan mendatangi Mo Li untuk menuntut pertanggungan jawab dari wanita iblis itu. Nah, setelah murid menemaninya bertemu dengan Mo Li barulah Murid akan kembali ke sini dan memberi jawaban yang pasti kepada guru." kata Han Beng.


Hua Li adalah seorang pendekar besar. Dia menghargai kehormatan lebih besar daripada nyawa. Kalau dia sudah mengeluarkan janji, sampai matipun harus dia hadapi untuk memenuhi janji itu. Maka, mendengar bahwa muridnya sudah berjanji kepada Hok Cu untuk menemaninya menghadap Mo Li dia pun mengangguk-anggukan kepalanya, dan tidak mau dia melarangnya.


Apalagi dia tahu bahwa gadis bernama Hok Cu adalah seorang teman sejak kecil dari Han Beng maka sudah sewajarnya kalau Han Beng membantunya mencari pembunuh ayah ibu gadis itu.


"Baiklah, Han Beng. Kau boleh menemani Hok Cu menemui Mo Li sambil berpikir-pikir tentang keinginanku agar kau segera menikah. Setelah selesai urusan dengan Mo Li itu, kau segera kembalilah kesini dan kita membuat persiapan untuk perayaan pernikahanmu." kata Hua Li.

__ADS_1


Han Beng mengangkat muka memandang kepada gurunya.


"Ma'af guru kalau sekiranya murid lancang, bagaimana jika guru yang terlebih dulu mencari jodoh guru sebelum murid mempertemukan jodoh murid pada guru?" tanya Han Beng yang tentu saja membuat Hua Li sangat terkejut.


"Kau...!" seru Hua Li yang kemudian menghela napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara pelan-pelan.


Liu Bhok Ki tersenyum dan memandang Han Beng dengan mengernyitkan kedua alisnya.


"Kalau aku mau, aku sedari dulu akan menikah dan mungkin tak akan bertemu dengan kamu, Han Beng." kata Hua Li dengan lirih.


Han Beng tidak menjawab lagi, akan tetapi hatinya merasa tidak enak bahkan khawatir sekali. Baru kali ini dia menyinggung masalah pribadi guru pertamanya itu.


"Kau benar Han Beng, apakah mungkin aku akan seperti ini terus? siapakah yang akan menjadi cinta sejatiku? apakah aku akan bertemu dengan jodoh aku?" gumam dalam hati Hua Li yang penuh tanda tanya.


...****...


Pendekar kecapi ini ingin agar muridnya, Han Beng, segera menyelesaikan tugas yang dijanjikan kepada Hok Cu, lalu pulang dan mau menikah.


Pandangan mata yang berpengalaman dari Hua Li melihat betapa ada perubahan sikap dalam diri pemuda yang menjadi murid keduanya itu setelah Han Beng dan Hok Cu pergi.


 Muridnya itu, yang tadinya biarpun pendiam selalu bergembira, kini setelah Han Beng dan Hok Cu pergi, pemuda itu nampak sering kali termenung, bahkan murung.


 Hal ini bagi Hua Li merupakan suatu pertanda baik.


Beberapa kali, secara halus dia memancing pendapat Lan Yi tentang Hok Cu.


"Bagaimana pendapatmu tentang teman dari kakak seperguruan kamu itu, Lan Yi?" tanya Hua Li sambil lalu ketika mereka membicarakan dua orang muda yang baru saja meninggalkan tempat itu.


"Nona Hok Cu cantik dan pandai memasak. Ah, dia seorang yang baik sekali, gagah perkasa dan ramah." jawab Lan Yi yang apa adanya.

__ADS_1


Hua Li mengangguk-anggukan kepalanya dan tersenyum.


"Memang, gadis yang menjadi seorang pendekar yang gagah perkasa. Aku pun sepenungguh aku bangga mempunyai murid seperti dia. Kau tahu, sekarang kepandaiannya jauh melampaui tingkatku, dia dua kali lebih lihai daripada aku, ha-ha-ha "


"Sungguh hebat. Teecu juga bangga qQ Suheng seperti dia, Suhu."


Hua Li tidak mendesak terus atau memancing terus. Pertemuan dua orQang muridnya itu baru satu kali terjadi, dan tidak enak kalau bertanya tentang perasaan hati gadis pendiam itu tentang Han Beng. Biarlah, dia akan menanti dengan sabar.


Dia hampir yakin bahwa akan kembali padanya, pastinya dia menerima dengan hati terbuka akan dirinya. Yang mengkhawatirkannya adalah kalau Han Beng yang menolak mengingat betapa akrabnya hubungan muridnya itu dengan Hok Cu.


"Akankah aku bisa memendam terus perasaan ini? Kenapa desiran jantungku semakin menggebu pada murid pertama ku itu?" gumam dalam hati Hua Li.


"Ah, apakah aku sanggup harus menunggu sampai Han Beng kembali?" kembali Hua Li menggumam dalam hatinya.


Sementara itu Han Beng dan Hok Cu terus berjalan menuju ke arah dimana keberadaan guru pertama Hok Cu. Mereka kadan kejar samping mengejar, dan terkadang mereka berjalan beriringan.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ini...


...Bersambung...


...   ...

__ADS_1


__ADS_2