
Seolah-olah racun itu mampu menjalar melalui sumpit, mengenai dua jari tangan yang kalau tidak cepat diobati akan berbahaya sekali baginya, dapat membuatnya mati konyol.
Kini tahulah dia bahwa pelempar piauw itu merupakan seorang lawan tangguh yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan.
Pada saat itu, muncullah belasan orang di depan pintu pondok. Mereka itu rata-rata berusia empat puluh tahun, mengiringkan seorang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh tahun. Pemuda ini berwajah tampan dan begitu melihat wajah pemuda itu, Hua Li merasa jantungnya berdebar tegang.
Wajah Coa Siang yang telah menggoda dan menggauli para gadis, istri orang dan janda yang menghebohkan dunia persilatan selama dalam pengembaraannya.
Persis wajah Coa Kun yang kepalanya kini tergantung di tengah ruangan pondok. Pemuda itu kini berdiri memandang kepadanya, tiba-tiba pemuda itu menjatuhkan diri berlutut.
"Nona...!"
Dan diapun sambil berlutut memberi hormat delapan kali kearah Hua Li, gadis itu sudah bangkit berdiri dan dia memandang bengong kepada pemuda itu.
"Apa maksud laki-laki ini?" tanya dalam hati Hua Li yang penasaran.
Rasanya tidak mungkin jika laki-laki itu mendadak tunduk padanya.
Setelah memberi hormat pada Hua Li, si pemuda yang tampan berpakaian seba putih itu bangkit berdiri memandang kepada Hua Li dengan sinar mata aneh itu.
Pandang mata seperti ini sudah biasa dirasakan oleh dari para pe duduk disekitar, maka diapun balas memandang dengan sikap tenang saja.
Hua Li melangkah mundur, dan para penduduk yang berada dibelakangnya juga ikut mundur. Sambil melangkah mundur tanpa melepaskan pandang matanya dari laki-laki setengah tua di dalam pondok itu.
"Hua Li, keluarlah dan mari kita selesaikan perhitungan yang telah terpendam lama ini!" seru laki-laki itu dengan kemarahannya.
Hua Li melangkah maju, mulutnya tersenyum dan ketika dia berada diluar pondok, di udara terbuka, dia lalu tertawa bergelak.
"Ha....ha....ha...!"
Lalu dia menunduk dan manatap laki-laki didepannya itu penuh perhatian.
__ADS_1
"Tuan, kau telah mengenal namaku, akan tetapi aku belum mengenalmu. Biasanya, tidak pernah aku menanyakan nama orang-orang yang datang dengan maksud membunuh aku. Entah sudah berapa banyak, mungkin lebih dari enam puluh orang yang tewas dalam usaha mereka membunuhku. Akan tetapi kau lain, siapa namamu?" tanya Hua Li yang penasaran.
Sikap pemuda itu tenang dan cukup gagah, nampak ketabahan luar biasa pada sinar matanya.
"Namaku Coa Siang dan memang mendiang Coa Kun adalah ayah kandungku. Sebagai putera kandungnya, tentu kau cukup maklum apa yang menjadi maksud kunjunganku ini. Bersiaplah untuk mengadu nyawa denganku, pendekar kecapi!" seru pemuda itu dengan geram.
Hua Li memandang ragu dan penuh selidik. Biarpun wajah pemuda pakaian putih itu memang serupa dengan mendiang Coa Kun, akan tetapi sepengetahuan dia kalau Coa Kun itu tak punya saudara, apalagi kembaran.
"Hemm, ketahuilah bahwa Coa Kun itu adalah orang yang jahat dan perlu diberantas dimuka bumi ini!" seru Hua Li dengan menatap pemuda dihadapannya dengan tajam.
Mendengar ucapan ini, wajah yang tampan itu berubah merah, dan tiga belas orang yang bersamanya, yang pakaiannya terdapat lukisan harimau hitam kecil di dada sebelah kiri baju mereka.
Mereka saling pandang dan merekapun kelihatan rikuh. Memang, pemuda bernama Coa Siang ini adalah saudara kembar dari Coa Kun yang juga menjadi pendekar yang mereka harapkan, akan mampu menandingi dan merobohkan musuh besar mereka.
"Pendekar, aku datang bukan untuk menceritakan riwayat saudara kembarku kepadamu. Dan aku datang untuk menuntut balas atas kematian saudaraku di tanganmu!" seru Coba Siang dengan geram.
Hua Li menarik napas panjang. Dia tidak pernah merasa gembira, setiap kali diserbu orang-orang dari perguruan Harimau kecil. Dia melayani mereka hanya karena terpaksa, untuk membela diri dan karena mereka itu selalu menyerangnya mati-matian maka tidak dapat dihindarkan lagi setiap kali jatuh korban diantara mereka.
Apalagi kini yang maju adalah saudara kembar Coa Kun.
"Aku tidak perduli! Yang jelas, kau telah membunuh saudara kembarku, aku datang untuk menuntut balas kepadamu,!":seru Coa Siang dengan marah.
Hua Li kembali menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan sehingga membuat heran para anggota perguruan Harimau hitam.
"Coa Siang, seharusnya engkau membuat jasa-jasa baik, melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk menebus dosa-dosa saudar kembarmu itu agar hukumannya lebih ringan di neraka sana." kata Hua Li yang menatap Coa Siang dengan tajam.
"Pendekar kecapi, tidak perlu kau menasehati aku dan memburuk-burukkan saudara kembarku! Apa kau kira dirimu itu baik dan juga hebat? Jadi kau merasa sok paling unggul diantara yang lainnya!" seru Coa Siang yang mengerutkan alisnya dan kini suaranya meninggi, tanda bahwa dia marah sekali.
Ucapan pemuda itu sungguh merupakan mata pedang yang tajam meruncing menusuk perasaan hatinya.
"Coa Siang, sudah menjadi hakmu untuk membela saudara kembarmu walaupun dalam pembelaanmu itu kau seperti buta tidak melihat kejahatan saudara kembarmu yang menghancurkan ketentraman rumah tangga orang lain, menghancurkan kebahagiaan hidup, mendatangkan aib dan penghinaan kepada para korbannya. Nah, sekarang kau mau apa!" seru Hua Li yang sudah kesal dengan sikap Coa Siang.
__ADS_1
Pertanyaan ini mengandung tantangan. Kedua tangan pemuda itu bergerak dan nampak dua sinar terang berkelebat ketika dia mencabut Sepasang pedang yang tadi tergantung di punggungnya.
Coa Siang menyilangkan kedua pedangnya di depan dada, matanya mencorong memandang ke arah Hua Li si Pendekar kecapi.
"Hua Li, bersiaplah kau untuk mati di ujung pedangku!" bentak pemuda itu dan tiba-tiba saja pedangnya mencuat berubah menjadi sinar terang menusuk ke arah gadis cantik itu.
Hua Li bersikap tenang saja. Dengan gerakan mantap dia mengelak ke bukan belakang melainkan kesamping bahkan memajukan kakinya dan tangan kirinya menampar dari samping kearah kepala lawan.
Ketika Coa Siang merasa ada angin pukulan yang amat kuat mendahului tangannya, maka dengan cepat dia menggerakkan pedang kedua di tangan kanan untuk menangkis dan sekalian membabat lengan lawannya.
Hua Li menarik kembali tangannya dan kini kakinya menendang dengan tendangan kilat kedepan. Tendangan ini mengandung tenaga sakti yang amat kuat dan diapun terpaksa meloncat ke belakang sambil memutar kedua pedang melindungi dirinya.
Pendekar kecapi itu tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk menyusun serangan baru. Dia cepat melangkah maju dan menyusulkan serangan bertubi-tubi dengan kedua tangan dan kakinya.
Pemuda itu semakin kaget dan diapun mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak kesana-sini dan kadang-kadang menggunakan kedua pedangnya untuk membendung serangan lawannya itu, dan dia terdesak dengan hebat.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1