
"Bagus! Kiranya kau berubah menjadi seorang yang berhati lemah dan lunak sekali! Kalau kau tidak sanggup menghancurkan mereka, biarlah aku yang akan membunuh sendiri mereka!" seru Hua Li yang menatap Coa Siang dan Cu Ming dengan tajam.
Setelah berkata demikian, tiba-tiba sekali hentak, pendekar kecapi itu meloncat ke atas dan bagaikan seekor burung rajawali menyambar calon mangsanya, dia sudah menerkam dan menyerang Coa Siang dan Cu Ming.
Serang Itu amat dahsyat karena dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya dalam jurus mautnya itu. Selihainya suami isteri itu, kiranya menghadapi jurus maut ini mereka sukar untuk dapat menghindarkan diri dan menangkis serangan itu.
Itu berarti mereka harus menghadapi gelombang tenaga yang amat dahsyat. Mereka tentu akan tewas atau setidaknya menderita luka dalam yang parah kalau melakukan tangkisan.
"Wuuuuuttttt........ dess....!'"
Tubuh Hua Li terpental dan hampir terpelanting, namun Han Beng yang menangkis serangan itu pun terjengkang sampai terguling-guling karena memang dia tadi tidak berani mengerahkan tenaga terlalu kuat agar tidak melukai gurunya.
Dia tidak rela melihat gurunya menyerang suami isteri itu dengan jurus maut yang dia tahu amat berbahaya, maka cepat dia menangkis serangan itu dari samping.
Hua Li sudah berdiri tegak lagi dan kini mukanya berubah merah, matanya mengeluarkan sinar berapi ketika dia memandang kepada muridnya yang kembali sudah berlutut di depan kakinya.
"Han Beng! Apa yang kaulakukan ini? kau hendak melawan aku dan melindungi dua orang musuhku ini!" seru Hua Li dengan kemarahannya.
"Maaf, guru. Murid sama sekali tidak berani melawan guru dan murid buta melindungi kakak Coa dan isterinya, melainkan murid harus mencegah gurunya melakukan perbuatan yang tidak benar!" seru Han Beng.
"Guru, mereka ini bukanlah musuh guru. Bukankah dua orang musuh guru telah guru bunuh selama bertahun-tahun? Dua orang ini sama sekali tidak bersalah kepada guru. Karena itu guru, murid mohon agar guru menyadari kekeliruan tindakan ini, agar guru dapat membuang jauh cemburu dan dendam yang tidak pada tempatnya!" sambung Han Beng yang menjelaskan.
Sepasang mata indah milik Hua Li itu semakin terbelalak marah.
"Apa? kau berani bicara seperti itu? Bagus! kau murid murtad engkau sudah berpihak kepada musuh oleh karena itu, kau pun kini menjadi musuhku. Aku akan bunuh dulu kau, baru mereka!" seru Hua Li yang dengan kaki menendang mengarah pada Han Beng.
"Desss......... !"
Tubuh pemuda itu terpental dan terbanting keras. Akan tetapi Han Beng yang sama sekali tidak melawan itu, sudah bangkit duduk, lalu berlutut kembali ke arah gurunya, memberi hormat tanpa mengusap darah yang keluar dari ujung bibirnya.
__ADS_1
Melihat keadaan itu, Coa Siang menggandeng tangan isterinya dan cepat mereka berlutut di depan kaki Hua Li, menghalangi perempuan itu menghajar muridnya.
"Murid kamu adalah penyelamat nyawa kami. Jangan kau membunuh dia. Kalau kamu menghentikan nyawa kami, silakan! kami akan menyerahkan nyawa kami kepadamu!" seru Coa Siang yang mengajak istrinya untuk berlutut..
Melihat dua orang suami isteri itu berlutut di depan kakinya dan minta dibunuh untuk menyelamatkan Han Beng, hal ini membuat Hua Li menjadi bengong.
Pada saat itu, terdengar suara anak kecil.
"Ayah.......... Ibu..........!"
Dan muncullah Coa Ki, anak itu mencari-cari dengan pandang mata nya. Ketika melihat mereka itu berlutut di depan kaki seorang perempuan berpakaian serba putih, Coa Ki lalu berlari menghampiri mereka, dan dia pun ikut-ikutan berlutut di depan Hua Li.
Hua Li pun tertegun, yang tadinya dia melihat Coa Siang sebagai Coa Ku dan Cu Ming sebagai Hui Cu, akan tetapi kini dia melihat mereka sebagai sepasang suami isteri dengan seorang anak mereka.
"Pendekar Hua, kami ibu ayah dan anak menyerah kepada pendekar, dan mohon pendekar mengampuni Adik Beng." kata Cu Ming.
Pandangan mata mereka saling bertemu dan seketika Hua Li menjadi lemas. Entah daya kekuatan apa yang terkandung dalam sepasang mata anak berusia tiga tahun itu. Mata yang bebas dari perasaan hati dan akal pikiran, sepasang mata yang menyinarkan suatu yang suci, seperti mata malaikat, atau mata yang mengandung sinar mata kasih dan kekuasaan Tuhan, yang ampuh melumpuhkan dan mencairkan semua kekerasan yang menggumpal di dalam hati Hua Li.
Pada saat pertemuan pandang mata itu, seketika Hua Li menyadari akan semua sepak terjangnya yang dipenuhi nafsu dendam kebencian yang timbul dari cemburu. Baru dia merasa betapa jahat dan kejamnya dia selama ini dan tak dapat ditahannya lagi, perempuan itu menangis dengan terisak dan dia memalingkan tubuhnya membelakangi keempat orang yang berlutut padanya.
Melihat keadaan gurunya ini, Han Beng merasa terkejut dan cemas. Dia heran dan juga terharu, ada perasaan bersalah, karena mengira dia tidak mentaati gurunya maka orang tua itu kini merasa menyesal dan menangis.
Han Beng segera berlutut dan memeluk lutut gurunya.
"Guru, ampunkan murid...!"
Hua Li menangis semakin sedih, sampai terisak-isak dan sesenggukan, kedua tangan menutupi mukanya. Air mata mengalir keluar dengan derasnya melalui celah-celah jari tangannya.
Seolah-olah semua gumpalan yang tadinya membeku di dalam dirinya telah mencair dan menjadi air mata, kini tertumpah keluar semua. Dadanya terasa lapang dan dia lalu menurunkan kedua tangannya, memegang kedua pundak muridnya dan menariknya berdiri.
__ADS_1
"Guru, jangan teruskan rasa dendam dihati guru. Murid tak ingin guru menjadi penjahat, mudid ingin bersama guru dan mu...murid...!" ucap Han Beng dengan terbata-bata dan Hua Li membungkuk lalu mengangkat tubuh Han Beng untuk berdiri.
"Han Beng, mau kah kau maafkan gurumu ini?" tanya Hua Li lirih dan menatap muridnya.
"I..iya guru. Gu..guru tak bersalah!" balas Han Beng dengan gugup yang juga menatap gurunya, ada debaran yang dahsyat diantara keduanya.
Ada perasaan keduanya untuk saling berpelukan untuk melepas rindu, tapi hal itu mereka urungkan mengingat ada keluarga kecil yang sedang berlutut menghadap mereka.
Hua Li kemudian mengalihkan pandangannya pada keluarga kecil itu.
"Kalian.... kalian maafkanlah semua perbuatanku yang lalu......"ucap Hua Li dengan lirih.
"Pendekar Hua... !" seru Cu Ming yang kini menangis, tidak dapat menahan keharuan hatinya mendengar betapa kakek yang keras hati itu kini menangis dan minta maaf padanya.
Hua Li membungkuk dan mengangkat Coa Ki dalam pondongannya. Anak itu sama sekali tidak merasa takut, merangkul leher kakek itu d terdengar suaranya yang merdu.
Rupanya nalurinya sebagai seorang wanita dan calon ibu itu telah menghantam kerasnya hati pendekar kecapi itu.
... ~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1