
"Ah...! Ular merah...!" seru Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu yang menjerit kaget begitu melihat dua ekor ular yang berwarna melintas di depan kakinya.
Kedua ekor ular berbisa itu saling berkejaran. Tubuhnya yang hampir satu setengah meter panjangnya itu menjalar dan meliuk-liuk kesana-kemari.
"Tenanglah, manis...I" perempuan tua itu membujuk kudanya seraya mengelus-elus leher binatang itu.
Namun mata perempuan tua itu segera terbelalak ketika di dalam keremangan malam itu tampak belasan lampu yang lain bergerak kesana-kemari diantara semak dan batu-batuan. Wanita tua itu merasakan sesuatu yang tak beres dengan hadirnya ular-ular itu disana.
Tiba-tiba saja Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai itu teringat pula akan sebuah kisah tentang ular-ular tersebut.
Jenis ular yang langka di dunia yang biasa hidup di gua-gua gelap atau di sungai-sungai dibawah tanah. Selain bisanya sangat tajam, binatang ini juga sangat kuat kulitnya, sehingga kabarnya ular ini kebal terhadap senjata tajam dan ular-ular itu sering terlihat di Lembah Ang-leng-kok di Pegunungan Kun-lun-san. Sungguh sangat mengherankan sekali kalau binatang berbisa ini dapat sampai di tempat ini.
Perlahan-lahan Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu menuntun kudanya kembali me lalui jalan semula. Sambil berjalan mundur perempuan tua itu menoleh kembali ke bawah atau ke belakang untuk memberi peringatan kepada Yui Lan. Namun betapa kagetnya perempuan tua itu tatkala Yui Lan tidak ada di sana. Yui Lan lenyap bersama binatang tunggangannya.
"Yui Laaaaaaaaaaan..!" panggil pendeta palsu itu dengan cemas, dan perempuan tua itu terus memanggil namun tak ada jawaban.
Perempuan tua itu semakin cemas hatinya, dia meninggalkan Kudanya, lalu berlari-lari kesana-kemari mencari kawan kesayangannya itu. Tapi Yui Lan benar-benar hilang lenyap tak berbekas.
"Yui Laaaaan...!"
"Yui Laaaaaaaaan...!"
"Saudari, aku di sini!"
Tiba-tiba terdengar jawaban dari atas puncak, dan perempuan tua itu merasa lega rasanya hati perempuan tua itu. Namun kelegaan itu segera berubah menjadi kecemasan kembali tatkala dilihatnya kawannya itu berada di atas puncak.
"Eh! Yui Lan...! Hati-hati! Di situ banyak ular berbisa!" Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu berseru. Tapi terlambat sudah, belum juga gaung suara perempuan itu hilang, Yui Lan telah menjerit kesakitan.
"Aaauww ...!"
Dan bersamaan dengan itu pula, tiba-tiba terdengar suara gemuruh disertai suara ringkikan Kuda yang menyayat hati, ketika binatang tunggangan Yui Lan terjerumus ke dalam jurang yang dalam.
__ADS_1
"Yui Laaaan!"
Penggil perempuan itu yang kemudian dia melesat dengan cepatnya, meluncur ke atas bukit. Perasaan cemas dan khawatir akan keselamatan kawannya, membuat perempuan tua itu mengerahkan segala kemampuannya.
"Wuuus...!"
Dalam sekejap saja Si Pendeta Palsu itu telah berada di samping Yui Lan.
"Kudaku! Kudaku...!" seru Yui Lan yang menangis sambil mencengkeram seekor Ang-leng-coa yang masih menanamkan taringnya di kaki Yui Lan. Tapi perempuan tua itu tak mempedulikan tangisan kawannya. Dengan cepat ia menyambar ular itu dan membantingnya ke atas batu.
"Blug...!"
Batu itu pecah berantakan dan ular itu tidak apa-apa. Ular itu cuma menggeliat sebentar seperti sedang menghilangkan rasa gatal, lalu menggeleser pergi.
"Saudari! Jangan bunuh ular itu! Dia tidak bersalah! Saudarilah yang telah menginjaknya...!" seru Yui Lan yang tiba-tiba menjerit seraya memegang lengan Saudarinya.
Yui Lan sama sekali tidak menyadari 'keajaiban" yang baru saja terjadi di depannya. Sementara itu Si Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai kelihatan termangu-mangu di tempatnya.
"Yui Lan...! Lihat kakimu. Oh Tuhan...!" teriak perempuan tua itu yang gugup seraya menyingsingkan celana Yui Lan. Darah merah nampak merembes keluar dari dua buah luka kecil di kaki Yui Lan.
Tapi Yui Lan sendiri seperti tak mempedulikannya. Yui Lan masih saja meratapi Kudanya yang terjatuh ke dalam jurang. Sebaliknya Si pendeta Palsu Dari Teluk Po hai itulah yang justru kelabakan melihat luka tersebut.
Bolak-balik tangannya merogoh ke dalam saku jubahnya, namun obat luka yang dicarinya tak kunjung ketemu.
"Ini... eh... anu! Wah.! Semua obat itu ada di dalam buntalan pakaian...!" serunya kesal seraya menengok ke bawah tebing di mana Kudanya tadi ia tinggalkan.
"Yui Lan! Tunggu disini! Jangan bergerak! Aku akan mengambil obat itu! Mengerti?" Tanpa menunggu jawaban lagi perempuan tua itu me lesat ke bawah, menuruni lereng untuk mencari Kudanya.
Tapi meski telah berputar kesana-kemari perempuan tua itu tidak menemukan juga binatang itu. Tampaknya binatang itu telah pergi ketika ditinggalkan tadi. Keringat dingin membasahi jubah perempuan tua itu.
"Kuda celaka...! Ohh... di mana dia?" perempuan tua itu mengumpat-umpat. Lalu dengan suara yang semakin gugup dan cemas perempuan itu berteriak ke atas.
__ADS_1
"Yui Lan...? Kau tidak apa-apa, bukan?" Tiada jawaban. Dan perempuan tua itu menjadi pucat.
Tapi Yui Lan tetapi jj
"Yui Laann...??" panggilnya cemas. Lalu dengan tergesa-gesa perempuan tua itu
W kembali ke puncak bukit. Sementara itu tanpa mempedulikan gigitan ular di kakinya, Yui Lan merayap turun ke dalam jurang untuk menengok Kudanya. Dengan tenaga dalam dan meringankan tubuhnya yang cukup tinggi Yui Lan menuruni tebing terjal yang sangat dalam itu.
Berkali-kali kakinya hampir terpeleset ketika menginjak batu berlumut yang licin.
Yui Lan yang di atas bukit, mendengar kalau Saudarinya memanggil-manggil namanya. Tapi Yui Lan tidak mengacuhkan panggilan itu. Yui Lan lebih memikirkan Kudanya yang mengalami kecelakaan itu daripada yang lain.
Sementara itu malam semakin gelap, dan bulan yang cuma sesisir itu ternyata tak mampu melemparkan sinarnya yang suram ke dalam jurang, apalagi ke dasarnya, Yui Lan merayap perlahan dari batu ke batu, dengan hanya mengandalkan perasaannya saja.
Sesekali Yui Lan berhenti sejenak untuk melihat-lihat atau mendengarkan keadaan di sekitarnya. Demikianlah beberapa waktu kemudian Yui Lan telah menginjakkan kakinya di dasar jurang.
Begitu dalamnya jurang itu sehingga teriakan Si Pendeta Palsu dari Teluk po-hai itu tidak terdengar sampai ke bawah. Setelah menenangkan hati dan menata perasaannya, Yui Lan meraba kesana-kemari mencari Kudanya.
Usahanya itu tidak terlalu sukar dilaksanakan, karena dasar jurang itu berbentuk seperti sungai kering. Sempit dan memanjang, melingkari bukit, dengan dinding-dinding tebingnya yang tinggi mencakar langit.
Kuda itu terkapar mati dengan tulang-tulangnya yang berpatahan. Yui Lan segera bersimpuh meratapinya, sekarang Kuda itu tidak hanya sebagai binatang tunggangan bagi Yui Lan, tetapi juga sebagai sahabat yang telah mengalami suka-duka bersama.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ini...
__ADS_1
...Bersambung...