Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 178


__ADS_3

"Wah, nampaknya guru sedang kambuh kembali, datang lagi penyakit lamanya!" gumam dalam hati Han Beng yang takut kalau-kalau gadis itu akan tersinggung.


Yi Hui tidak tersinggung melainkan heran memandang kepada kakek yang tertawa-tawa itu. Pandang matanya menegur dan bertanya mengapa kakek itu tertawa seperti itu melihat ia sedang dilanda kesengsaraan.


"Ha....ha....ha...! Nona yang baik hati, ke mana perginya kedukaanmu tadi? Kau tidak menangis lagi, tidak ada lagi kedukaan membayang di wajahmu! Mengapa? Heh-heh, karena duka itu hanya permainan pikiranmu sendiri saja. Pikiranmu itu mengingat-ingat akan keadaanmu, semua kehilangan dan penderitaan, maka muncullah iba-diri dan kau pun menangis, merasa sengsara, begitu pikiranmu beralih dan memperhatikan percakapan dengan aku, maka hilang pula kedukaan itu tanpa bekas! Nanti kalau kauingat lagi, kau akan berduka lagi." racau Kwe Ong.


Yi Hui mengerutkan alisnya, melihat kebenaran yang tersembunyi dalam ucapan kakek itu.


"Tapi apakah tidak boleh saya berduka?" tanya Yi Hui yang penasaran.


"Bukan tidak boleh, hanya apakah gunanya berduka, Nona? Hidup penuh penderitaan kalau kita membiarkan pikiran berkuasa. Segala yang terjadi adalah suatu kewajaran. Ayahmu tewas, hartamu habis, semua itu wajar, karena semua itu terjadi atas kehendak Tuhan! Dan semua kehendak Tuhan terjadilah! Tidak ada kekuasaan apa pun yang akan mampu mencegahnya. Dan Tuhan Maha Kasih Segala kehendakNya yang terjadi adalah adil dan baik, demi kebaikan kita! hanya kita tidak mengerti akan raba yang tersembunyi dibalik semua peristiwa itu. Percayalah kepada Tuhan anak baik, dan serahkan segalanya kepada Tuhan. Apa yang nampak ini semua hanya seperti mimpi belaka, seperti gelembung-gelembung sabun yang setiap saat akan meletus dan lenyap. Semua tidak kekal, hanya sementara saja, maka jangan kaget kalau sewaktu-waktu semua ini akan lenyap meninggalkan kita. Bahkan tubuh ini pun tidak kekal, kita harus siap untuk sewaktu-waktu meningalkannya! Jadi, apa yang perlu disalahkan? Tidak ada! Ha-ha-ha, tidak ada yang patut disusahkan, kita bahkan harus selalu gembira, melihat tontonan yang amat menarik ini, tontonan kehidupan manusia." jelas Kwe Ong dengan panjang lebar.


Han Beng menundukkan mukanya, alangkah bijaksananya gurunya itu, walaupun sikapnya seperti orang sinting.


Dia dapat mengerti akan semua ucapan tadi, dan dia merasa betapa kecilnya lirihnya, betapa lemah dan tidak berarti, bahkan tidak berdaya dalam kekuasaan Alam Semesta.


"Kakek, apakah kalau sudah begitu, kalau kita sudah percaya sepenuhnya kepada Tuhan, sudah pasrah segalanya kepada Tuhan, kita akan selam at? Apa perlunya kita berobat kalau sakit, menghindar kalau ada bahaya mengancam? Bukankah kita lalu menjadi diam saja dan memasrahkan segalanya kepada Tuhan?" tanya Yi Hui yang pertanyaan ini terkandung rasa penasaran.


Maklum, seorang nona muda yang cantik seperti Yi Hui, tidak mudah menangkap inti dari semua ucapan kakek Itu yang mengandung makna dalam sekali.


Mendengar pertanyaan nona cantik itu, Kwe Ong kembali tertawa.


"Ha ..ha...ha...! bukan begitu, Nona. Kita diciptakan sebagai mahluk hidup yang tergerak, kita wajib untuk berikhtiar, menjaga dan memelihara diri, namun dengan dasar iman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kalau kita sakit, sudah menjadi kewajiban kita untuk berikhtiar mencari penyembuhannya dengan pengobatan, namun dasarnya harus iman penyerahan kepada Tuhan. Apa pun yang telah ditentukan Tuhan, tidak perlu diterima dengan penasaran! Itulah iman! Dunia hanya permainan pikiran.'' jelas Kwe Ong.


"Pernahkah Nona mempertanyakan hal ini kepada diri sendiri! Han Beng, pernahkah engkau bertanya kepada diri sendiri siapakah dirimu dan siapakah engkau?" sambung Kwe Ong dengan pertanyaan.

__ADS_1


Han Beng terbelalak memandang gurunya.


"Belum pernah guru bertanya seperti itu, dan mengapa pula harus bertanya? Apakah guru ini benar-benar sedang kumat lagi sintingnya? Kenapa orang harus bertanya siapa dirinya? Siapakah aku ini?" gumam dalam hati Han Beng.


Karena Han Beng dan Yi Hui tidak menjawab pertanyaan itu, Kwe Ong yang agaknya juga tidak mengharapkan jawaban, lalu bernyanyi sesuka hatinya.


Beberapa menit kemudian, Han Beng dan gurunya menasehati agar Yi Hui tinggal saja di tempat persembunyiannya, tidak ikut mereka yang berkunjung ke sarang perkumpulan pengemis sabuk merah. Akan tetapi gadis itu memaksa.


"Aku telah kehilangan segala-galanya karena perkumpulan pengemis sabuk merah,! Oleh karena itu, baik dibantu oleh Kalian atau tidak, aku pasti akan menuntut balas dan menyerbu sarang perkumpulan pengemis sabuk merah dengan taruhan nyawa!" seru Yi Hui.


"Baiklah, kamu boleh ikut nona!" seru Han Beng yang sebelumnya dia memandang gurunya, dan gurunya itu memberi tanda dengan menganggukkan kepalanya.


Guru dan murid itu terpaksa membiarkan Yi Hu untuk ikut, walaupun hadirnya nona cantik itu menambah beban bagi mereka yang harus melindunginya.


Mereka sudah mulai melakukan perjalanan dan ketiganya telah sampai di depan pintu gerbang perkumpulan pengemis sabuk merah.


"Aku kukira kalau aku tidak mampu melompatinya!" seru Yi Hui yang lirih kepada Han Beng.


"Mari kubantu, Nona. Peganglah tanganku erat-erat!" seru Han Beng yang kemudian memberi isyarat agar mereka meloncat berbareng.


Dengan mengerahkan tenaganya, dengan mudah saja bagi Han Beng untuk menambah tenaga loncatan Yi Hui sehingga keduanya melayang ke atas pagaar tembok lalu turun ke sebelah dalam.


Akan tetapi, begitu tiba di dalam pagar tembok, kakek jembel itu memberi isarat agar mereka tidak mengeluarkan suara.


Dan benar saja di rumah itu dijaga ketat sekali, bahkan dikepung penjaga. Tidak ada kesempatan sama sekali bagi mereka untuk menyelinap masuk tanpa diketahui dan kalau ketahuan tentu semua anggota perkumpulan pengemis sabuk merah, mereka akan melakukan pengeroyokan sehingga mereka tidak sempat melakukan penyelidikan.

__ADS_1


Kemudian Kwe Ong memberi isyarat kepada muridnya dan Yi Hui untuk keluar lagi.


"Kita datang saja dari pintu." bisik Kwe Ong.


"Tapi guru, mereka sudah mengenal kita, tentu mereka akan menghadang kita dengan pengeroyokan pula!" balas Han Beng dengan berbisik.


"Hemmm, andaikata dikeroyok pun kalau di luar kita lebih leluasa dan tidak ada bahaya alat-alat jebakan. Sukur kalau Sin Kai masih mengingat akan persahabatan antara kami dan mau keluar menemuiku." balas Kwe Ong.


Dengan jantung berdebar penuh ketegangan, akan tetapi sama sekali bukan karena takut, Han Beng dan Yi Hui mengikuti jejak gembel itu yang berjalan menuju ke pintu gerbang di mana terdapat banyak sekali anggota perkumpulan pengemis sabuk merah.


Ketika mereka bertiga tiba di depan pintu gerbang dan para pengemis itu melihat mereka, tentu saja para anggota perkumpulan pengemis sabuk merah itu menjadi geger.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


...   ...

__ADS_1


   


__ADS_2