
Bab 101
Siang kini sudah bergerak perlahan menuju petang.
Matahari yang tadi begitu galak dengan sinar terik membakar kini berangsur-angsur meredup sehingga cahayanya tidak begitu panas seperti tadi.
Namun rasa panas itu tidak berkurang sedikitpun di hati Dianna saat ini.
Dia yang mengemudikan mobil nya terus melaju seperti di kejar hantu terus membelah jalan kota Metro City menuju kantor besar William Group.
Begitu dia sampai, Konferensi pers itu sudah selesai di gelar dan para awak media dari beberapa televisi dan surat kabar telah pun meninggalkan ruangan dimana acara di gelar.
Dianna yang sudah pasrah menerima nasib kini sangat tergesa-gesa menuju lift yang akan mengantarnya ke ruang kerja tuan Brylee.
Sesampainya di depan pintu, Dianna langsung mengetuk.
Setelah mendapat izin, dia pun segera mendorong pintu dan bergegas masuk ke dalam menemui Brylee yang saat ini sedang memeriksa beberapa dokumen penting.
"Oh..., Miss Dianna. Silahkan duduk!" Kata Brylee mempersilahkan Dianna untuk duduk.
Dianna yang saat ini merasa sangat tertekan dan sedikit ketakutan segera duduk dan mulai membuka suara. "Tuan Brylee, Apakah benar bahwa anda telah di beri wewenang untuk memeriksa seluruh laporan kontrak yang telah saya sepakati dengan perusahaan Regnar?" Tanya Dianna.
"Miss Dianna? Apakah anda telah menonton laporan khusus siang ini di televisi?"Tanya Brylee kepada Dianna.
"Benar Tuan. Saya telah menonton nya."
"Lalu apakah anda merasa bahwa saya sedang becanda ketika menjawab beberapa pertanyaan wartawan tadi?" Tanya Brylee sambil menatap tajam ke-arah Dianna.
Dianna mulai merasakan jantung nya berdebar dengan sangat kencang ketika ini.
Dia tampak sangat salah tingkah dan hanya bisa menunggu apa yang akan di katakan oleh Brylee.
__ADS_1
"Miss Dianna.., apakah kedatangan anda kemari dengan membawa seluruh dokumen perjanjian kontrak kerja dengan beberapa perusahaan yang telah anda sepakati?" Tanya Brylee.
"Benar Tuan Brylee. Kedatangan saya kemari adalah untuk memberikan seluruh dokumen perjanjian kerja sama dengan beberapa perusahaan yang telah saya sepakati. Sesuai dengan permintaan anda dan kini saya telah datang sendiri ke ruangan kerja anda dengan membawa semua dokumen itu." Kata Dianna dengan suara sedikit bergetar.
"Baiklah. Anda tinggalkan dokumen itu di meja saya. Besok anda harus segera membuat pernyataan bahwa anda telah memutuskan kerja sama dengan perusahaan Regnar secara sepihak, diikuti oleh pernyataan pengunduran diri anda sebagai direktur eksekutif di perusahaan ini paling lambat 48 jam dari mulai saat ini!" Kata Brylee dengan tegas.
Tidak ada pilihan bagi Dianna saat ini selain menuruti saja apa yang dikatakan oleh Brylee kepadanya.
"Baik Tuan Brylee. Saya akan menuruti perkataan anda dan terimakasih."
"Berterimakasih lah kepada pemilik baru di perusahaan ini karena tidak ingin memperpanjang masalah ini sampai ke meja hijau. Dia hanya berpesan agar anda menjadi istri dan ibu yang baik. Nikmati masa tenang anda dan jangan berfikir untuk berbuat sesuatu di luar kemampuan anda. Karena itu akan sia-sia!" Kata Brylee sambil memasukkan seluruh surat-surat penting kedalam koper nya dan segera pergi tanpa pamit meninggalkan Dianna yang terhenyak di kursi tempat duduk nya.
Dianna hanya bisa mengertakkan gigi nya dan membanting tangan di atas meja sebagai bentuk pelampiasan kekesalan nya.
********
Sore itu Jerry hanya duduk saja sendirian di taman dekat kampus.
Ketika itu hanya ada 4 orang yang sangat baik kepada nya. Itu adalah Ryan, Daniel, Riko dan Via.
Mengingat tentang itu semua, membuat Jerry seakan-akan tidak percaya dengan perubahan dalam dirinya.
Walau pun dari segi penampilan tidak ada yang berubah, tapi setidaknya dia memiliki perusahaan yang besar dan uang yang banyak saat ini. Tapi mengapa dia tidak bahagia?
Jerry mengingat kembali ketika hari ulang tahunnya. Dia merayakan dengan ke-empat sahabatnya hanya dengan sebuah cake yang kecil dan sebatang lilin tapi rasanya sungguh meriah.
Kamana perginya kehangatan yang dulu?
Satu per satu sahabat-sahabat nya menjauh. Bahkan Riko langsung tidak ada kabar sama sekali.
Jerry tidak tau bahwa Riko saat ini berada di Hillstreet sedang bekerja sebagai tukang kayu di area konstruksi milik perusahaan Future of Company.
__ADS_1
Sore ini seperti biasa. Setelah seharian bekerja, akhirnya Riko bisa beristirahat dengan santai sambil melepas lelah.
Sambil duduk di depan pintu, Riko mengeluarkan ponsel nya sambil melihat-lihat album foto ketika dia masih kuliah bersama teman-taman nya.
Foto pertama adalah Daniel sedang tertidur sambil kaki nya di ikat di kaki ranjang.
Foto kedua adalah Ryan yang sedang makan sesuatu dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Foto ke tiga adalah Jerry sedang jungkir balik akibat kaki ranjangnya patah karena bergelut dengan Daniel.
Riko terus melihat foto-foto kebersamaan itu dan tanpa terasa air mata nya menetes sendiri.
"Sahabat ku. Aku merindukan kalian. Maafkan aku karena harus menjauhi kalian. Bukan karena kalian memiliki salah kepadaku. Hanya saja aku merasa sudah tidak pantas lagi bersahabat dengan kalian." Kata Riko dalam hati.
Terlintas dalam ingatannya dimana mereka saling berbagi, saling mengisi dan saling melengkapi.
Walaupun mereka terkenal sebagai mahasiswa miskin di kampus, namun mereka merasa cukup dengan kebahagiaan karena erat nya persahabatan dan rasa saling memiliki diantara mereka.
Saat ini Riko terus saja menggulir Foto di layar ponsel nya sampai lah dia menemukan foto seorang gadis cantik yang lebih dari dua tahun menjadi mimpi indah baginya.
"*Rina.., maafkan aku yang mengecewakan mu. Apa k*au masih mengingat ku? Percayalah suatu saat aku pasti akan menemui mu. Tapi bukan seperti Riko yang dulu. Aku harus berhasil dan memiliki banyak uang. Barulah aku akan mencari mu dan akan membuat mu bahagia juga merasa bangga memiliki seorang yang dapat kau andalkan." Batin nya dalam hati.
Saat ini Riko segera bersandar di dinding dekat pintu barrak tempat para kuli bangunan tinggal.
Dia semakin tenggelam dalam lamunan nya dan sedikit mendongak agar air mata yang telah sejak tadi tergenang tidak benar-benar semakin tumpah menetes di pipinya.
Dia tidak cengeng. Juga tidak lemah. Dia hanya rindu kepada sahabat-sahabat nya dan merasakan kesedihan ketika jauh dari mereka.
"Kalian semua.., apakah kalian baik-baik saja saat ini. Aku disini baik-baik saja. Jerry, Ryan, Daniel... Aku rindu kalian. Sangat-sangat rindu. Semoga kalian sukses dan dapat lulus dengan predikat sebagai mahasiswa yang unggul. Mendapat pekerjaan yang baik dan bisa merubah nasib kalian dari orang yang selalu di hina, menjadi orang yang mulia." Kata Riko sambil terus tenggelam dalam kesedihan nya.
Bersambung.....
__ADS_1