
Mobil Lamborghini sian berhenti di persimpangan jalan menuju ke arah perumahan menengah ke atas Metro city dan seorang pemuda yang mengemudikan mobil sport tersebut menurunkan kaca mobil dan berkata setengah berteriak. "Kalian pergi duluan. Aku akan menjemput Clara sebentar." Kata pemuda itu.
"Jerry. Pergilah jemput Clara. Kami akan menunggumu di sini." Kata seorang pemuda sebaya dengan Jerry dari dalam mobil Audi R8.
"Ya sudah kalau begitu." Kata Jerry lalu segera berbelok ke kanan menuju ke rumah Drako untuk menjemput Clara.
Tidak sampai 20 menit, mobil Lamborghini itu telah tiba dan langsung berbelok ke kanan menuju bukit Metro diikuti oleh rombongan mobil yang terparkir di bahu jalan.
Iring-iringan mobil sport yang di kawal oleh puluhan mobil Mercedez benz dan BMW itu akhirnya tiba juga di sebuah bangunan megah nan mewah dibagian utara MetroHill tersebut.
Ketika melihat mobil yang baru saja tiba itu, tanpa banyak tanya ini dan itu para penjaga langsung saja membukakan pintu pagar dan menunduk dengan hormat sambil menpersilahkan rombongan itu untuk memasuki halaman Villa yang luas tersebut.
"Selamat datang Tuan muda."
"Silahkan Tuan muda..!" Kata para pengawal itu dengan sangat hormat.
"Terimakasih." Kata Jerry lalu memarkir mobil nya di halaman parkir.
Ketika itu Jerry juga melihat bahwa beberapa mobil yang dia kenal telah terparkir di depan sana.
"Hmmm.., berarti ayah angkat dan tuan Syam telah sampai duluan." Kata Jerry bergumam dalam hatinya.
"Ada apa Jerry?" Tanya Ryan.
"Tidak ada apa-apa."
"Mana yang lain? Suruh mereka keluar dan kita akan masuk menemui kakek ku di dalam." Kata Jerry lalu segera membukakan pintu mobil untuk Clara.
Setelah semua teman-temannya telah berada di dekatnya, Jerry pun akhirnya memimpin mereka untuk memasuki Villa itu setelah menginstruksikan kepada para pengawal yang mengiringi rombongan nya tadi untuk mengatur posisi menjaga keamanan selama dia berada di dalam Villa nanti.
"Mari!" Kata Jerry mengajak Ryan, Daniel, Riko dan Arslan untuk memasuki Villa tersebut.
Bagi Ryan dan Daniel, mereka sudah beberapa kali memasuki Villa ini dan mereka tidak kaget lagi. Tapi bagi Riko, Arslan dan Clara, jelas mereka terbengong-bengong menyaksikan kemegahan, kemewahan dan keindahan Villa Smith tersebut.
"Pantas saja dia disebut sebagai kaisar di Starhill oleh Ryan dan Daniel. Lihat saja Kak! Betapa megahnya Villa milik kakek Jerry ini." Kata Riko sambil mencubit tangan Arslan.
"Iya. Seumur hidupku, ini adalah kali pertama aku memasuki istana seperti ini. Ini Jelas berbeda dengan Lotus mansion." Kata Arslan berdecak kagum.
"Hey. Apa yang kalian bisikkan? Apakah kalian memuji Villa milik kakekku yang sudah usang ini? Lihat ketika proyek real estate di Country home selesai. Bukit metro ini tidak ada apa-apanya." Kata Jerry tanpa bermaksud sombong.
Sementara itu Clara merasakan kegugupan di dalam hatinya ketika akan bertemu dengan kakek Jerry. Ini adalah kali pertama dia akan bertemu langsung dengan tuan Smith dan tuan William. Sebagai seorang yang dari sejak kecil di didik dengan cara keras oleh kakek Malik, Clara tidak pernah merasa gugup walaupun dikeroyok oleh banyak orang. Tapi yang ini sangat berbeda. Ntahlah. Pada saat itu, sangat sulit untuk menggambarkan perasaan hatinya.
"Ada apa sayang? Kau tampak pucat. Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Jerry kepada Clara.
__ADS_1
"A.., aku.., aku sangat gugup. Ntah mengapa hatiku merasa tidak tenang." Kata Clara.
"Tenangkan dirimu dan Jangan gugup! Ada aku di sini." Kata Jerry sambil menggenggam tangan Clara untuk menguatkan hati gadis itu.
"Aku takut Kak." Kata Clara.
"Tenang lah. Bersikap lah sewajarnya. Semua akan baik-baik saja." Kata Jerry lagi.
"Wajar dia sangat gugup Jerry. Kali ini yang akan dia temui adalah orang terpandang, terkaya, berpengaruh sekaligus adalah pengganti orang tua mu. Bagaimana dia tidak gugup?" Kata Arslan yang mengerti benar suasana hati Clara saat ini.
"Clara.., ingat. Ada aku di sini untuk mu." Kata Jerry lagi dan lagi untuk menguatkan Clara.
Clara akhirnya luluh juga dan hanya mengangguk saja.
Sementara itu di dalam ruangan pertemuan jauh sebelum Jerry tiba bersama teman-temannya, pembahasan tentang undangan dari MegaTown itu telah lama berlangsung dan kini topik pembicaraan mereka beralih ke masalah pribadi Jerry.
"Drako. Aku mendengar bahwa anak mu yang menyelamatkan Jerry ketika dia hanyut dan hampir mati. Aku sangat mengucapkan terimakasih untuk itu." Kata tuan Smith dengan tulus.
"Ya benar. Aku juga sangat berterimakasih untuk itu. Mungkin jika tidak ada kak Malik dan anak gadis mu, entah apa yang terjadi dengan Jerry ku saat itu." Kata tuan William pula.
"Apa yang anda katakan Tuan besar. Itu hanyalah sebuah kebetulan belaka. Aku juga mendapat hikmah atas kejadian ini. Bukan maksudku bersyukur atas musibah yang menimpa terhadap diri Jerry ketika itu. Tapi, berkat itu jugalah aku bisa bertemu kembali dengan anak dan istriku setelah berpisah selama 22 tahun." Kata Drako berbicara merendah sambil tersenyum tak enak.
"Ya ya ya. Aku sangat bersyukur mengetahui bahwa Jerry masih hidup. Namun ada satu hal yang menjadi kekhawatiranku, Drako." Kata tuan William.
"Apakah itu Tuan besar William. Maaf jika saya memberanikan diri bertanya." Kata Drako.
"Benar sekali Drako. Ketahuilah bahwa kami ini sebenarnya ingin menjodohkan Jerry dengan cucu sahabatku ini Lorna. Karena dari segi bibit, bebet dan bobotnya sudah jelas. Namun apalah daya bahwa ternyata Lorna itu ternyata telah menjalin hubungan dengan cucu sahabat kami juga yaitu Ivan Patrik. Dan tidak mengapa, karena kami memiliki banyak kandidat yang baik dari segi kekayaan, kekuasaan, dan kemuliaan yang setara dengan kami. Jadi, aku berharap kau bisa memahami apa maksud dari kekhawatiran kami ini." Kata tuan Smith pula.
Deeegh....!?
Berdegup jantung Drako mendengar perkataan kedua tuan besar kakek Jerry itu. Namun dengan senyum mengiba, Drako hanya bisa tertunduk dan tersipu mendengarkan perkataan halus itu.
Mendadak rasa rendah diri menyelinap di lubuk hatinya dan terus menusuk kedalam palung hatinya saat ini. Dia jelas tau diri. Mana pantas burung gagak berdampingan dengan burung merak.
Tuan Syam yang sejak masalah ini mulai di bahas hanya diam saja, melirik kasihan kearah Drako. Andai orang lain, sudah pasti leher kedua orang tua itu telah patah oleh Drako. Tapi kali ini berbeda. Dia juga tidak dapat membantu sedikit pun untuk membela Drako.
"Maafkan saya yang lalai dalam membendung anak gadis saya Tuan. Lain kali saya akan lebih hati-hati lagi." Kata Drako sambil menatap ujung kaki nya.
"Dulu ketika kau bersama dengan Wilson, kau telah mendapatkan segalanya dan aku tidak pernah melarang kau memanggil kakak angkat kepada mendiang putraku yang malang itu. Bahkan orang-orang juga terkadang memanggil mu dengan sebutan Drako William. Tapi itu juga tidak pernah aku permasalahkan. Tapi kali ini berbeda. Sangat berbeda."
"Kau tau bahwa untuk menguasai dan merajai dunia bisnis, seseorang itu selain memiliki pondasi yang kuat juga harus memiliki koneksi yang kuat pula. Seperti kerajaan kuno zaman dahulu. Raja 'A' akan menjodohkan putrinya dengan Raja 'B' atau dengan putranya untuk membentuk sebuah aliansi. Dan kami ingin membentuk sebuah aliansi yang kokoh dan meninggalkan sebuah warisan dengan pondasi yang kuat sebagai pijakan yang bisa mendorong Jerry untuk berkembang lebih besar, lebih tinggi dan tinggi lagi. Karena tanpa pondasi yang kuat, sebuah bangunan akan runtuh. Aku yakin kau bisa mengerti maksudku itu." Kata tuan William.
Mereka terus menekan Drako tanpa mereka sadari beberapa pasang mata menyaksikan dan mendengarkan apa yang mereka katakan di dalam ruangan itu.
__ADS_1
Saat itu Jerry, Clara, Ryan, Daniel, Riko dan Arslan sedang berdiri di balik pintu dengan mata berair.
Ketika Jerry akan melangkah memasuki ruangan tersebut, Satu tangan halus menekan pundaknya membuat Jerry segera memalingkan wajah ke arah pemilik tangan tersebut.
"Sayang..."
"Jangan marah..! Tahan emosi mu! Jangan di lawan dan biarkan saja. Anggap kau tidak pernah mendengar apa yang mereka katakan." Kata pemilik tangan lembut itu.
"Ta.., tapi..."
"Saat ini menghadapi musuh mu lebih penting daripada harus membantah. Jangan marah! Jangan emosi. Kendalikan dirimu!" Kata gadis itu lagi dengan lembut membuat Riko yang keras, Arslan yang tegas, Daniel yang gokil dan Ryan yang selalu tenang menjadi menangis berjamaah.
"Aku bersumpah dengan nama mendiang ayah ku dan aku bersumpah atas nama mendiang ibuku. Aku tidak akan pernah lagi bisa mendapatkan seseorang yang benar-benar menjadi pelengkap dari kepingan-kepingan hatiku selain dirimu." Kata Jerry sambil menyeka airmata di pipi Clara.
"Sudah jangan seperti itu. Bagaimana kau ingin menemui kakek mu jika matamu merah seperti itu?" Pujuk Clara dengan sangat lembut.
"Iya kau tenang saja. Aku juga sudah terbiasa seperti ini. Yang terpenting adalah berusaha menjauhkan perusahaan dari segala bentuk gangguan yang ingin menjatuhkannya. Setelah itu, dari miskin kembali ke miskin." Kata Jerry.
Berulang kali Jerry menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan dengan tenang untuk sekedar menenangkan dirinya.
"Ingat Kak. Jika kau benar-benar tulus mencintaiku, berusahalah untuk tetap tenang dan tidak mendurhakai kedua kakek mu itu. Bisa kan?" Tanya Clara.
"Bisa. Aku berjanji pasti bisa." Kata Jerry lalu menggandeng tangan Clara kuat-kuat dan mengajak Ryan, Daniel, Riko dan Arslan untuk memasuki ruangan pertemuan itu.
"Kek.., aku datang!" Kata Jerry dengan senyum lebar ketika dia memasuki ruangan itu dan di sambut dengan pelukan hangat dari tuan Smith, tuan William, tuan Patrik dan tuan Walker.
"Tuan Syam." Sapa Jerry kepada tuan Syam yang berdiri mematung.
"Ayah...!" Kata Jerry membungkuk meraih tangan Drako lalu mencium nya.
"Selamat datang Tuan muda." Kata tuan Syam sambil tersenyum.
"Kau telah tiba Jerry?" Tanya Drako sambil mengelus rambut pemuda itu dengan perasaan bercampur aduk.
Jerry hanya bisa menatap sayu kearah wajah Drako yang terlihat penuh beban serta tekanan.
Menyedihkan untuk seorang penguasa dunia kegelapan harus menerima tekanan seperti ini. Padahal jika tidak ada Dragon empire, William group, Smith group sama seperti bangkai hidup. Baru setelah Future of Company mengambil alih kedua perusahaan itu lah kedua naga ompong ini bisa menarik nafas lega.
"Bantu aku Ayah. Bantu aku menghadapi tekanan dari kiri dan kanan pundak ku ini. Jika aku tau bahwa aku hanyalah sebuah alat untuk mencapai sebuah ambisi, maka aku memilih untuk tidak pernah ada." Kata Jerry berbisik ketelinga Drako sambil berpura-pura memeluknya.
"Jika bukan karena mendiang ayahmu dan kasih sayangku kepadamu melebihi kepada putriku sendiri, sudah lama aku meninggalkan keluarga ini dan menjalankan bisnis ku sendiri. Kau lah menjadi alasan mengapa aku mau terhina dan dihina seperti ini." Kata Drako.
"Terimakasih Ayah." Kata Jerry lalu segera berbalik untuk duduk di atas kursi kepala keluarga dan dengan lantang berkata, "Baik.., kali ini aku datang atas undangan dari kedua kakek ku. Kalian semua yang ada di ruangan ini silahkan duduk. Aku tidak suka antara aku dan kalian dipisahkan oleh jarak yang terlalu jauh. Tuan samuel dan anda Tuan Lenard, sediakan kursi untuk mereka!" Kata Jerry dengan tegas.
__ADS_1
"Dengan senang hati Tuan muda." Kata mereka berdua lalu bergegas menyediakan kursi untuk tuan Syam, Drako, Regan, Ryan dan yang lainnya termasuk beberapa orang yang tidak bisa disebutkan satu per satu.
Bersambung dulu ya.