PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Robin Monyet


__ADS_3

Hotel Mega-MegaTown.


Setelah puas menyombongkan diri, akhirnya Jerry, Ryan dan Daniel lelah sendiri dan mulai berhenti berkoar-koar.


"Hahaha aku lelah." Kata Daniel dengan gaya tengil nya.


"Sama aku juga. Sebenarnya entah apa yang kita sombongkan. Kau sudah miskin Jerry!" Kata Ryan sambil mengusap-usap perutnya yang mules menahan tawa.


"Biar miskin asal sombong." Kata Jerry pula sambil berjalan melenggang menghampiri dua orang wanita yang bertugas sebagai resepsionis.


"Selamat malam Tuan. Bisakah anda menunjukkan kartu undangan sebelum memasuki aula tempat acara peresmian hotel ini akan di adakan?!" Tanya salah seorang dari wanita itu.


"Oh. Tentu. Tentu saja ada Nona. Ini!" Kata Jerry sambil memberikan Kartu undangan tersebut kemudian berkata. "Ambil saja kartunya. Bawa pulang. Rendam di dalam air hangat lalu minum!" Kata Jerry lalu segera berjalan meninggalkan dua orang wanita resepsionis itu yang saling pandang mendengar kata-kata Jerry tadi.


Sementara itu di satu ruangan yang terpisah oleh dinding, tampak seorang lelaki setengah baya sedang menerima laporan dari bawahannya tentang keadaan di luar dan di aula pertemuan itu.


"Tuan Robin. Jerry dan kedua sahabatnya telah tiba." Kata lelaki itu melaporkan.


"Simon.., apakah kau sudah memeriksa bahwa Jerry hanya datang dengan kedua sahabatnya saja?" Tanya Robin.


"Benar Tuan. Mereka hanya bertiga saja. Saat ini tidak ada tindakan mencurigakan dari mereka. Orang-orang kita yang sengaja saya tempatkan untuk mengawasi keadaan juga tidak menemukan adanya orang-orang dari Metro city yang datang secara beramai-ramai." Kata Simon menjelaskan.


"Bagus. Hanya ada tiga anak ingusan. Tidak sulit bagi kita untuk menyingkirkan mereka."


"Simon. Apakah Fardy dan Syntia sudah berada di aula utama?" Tanya Robin.


"Mereka memang sudah berada di sana sejak menjelang malam tadi, Tuan."


"Bagus. Aku ingin melihat apa reaksi ketiga anak ingusan yang memiliki darah panas itu ketika di Provokasi oleh Fardy nanti." Kata Robin sambil tersenyum jahat.


Saat ini di aula yang luas itu tampak seorang lelaki berusia bawah 40-an ditemani oleh seorang wanita setengah baya sedang sibuk menyambut para tamu undangan yang berdatangan antara lain adalah, Tuan besar Smith bersama dengan tuan besar Walker dan tuan besar William. Di sana juga ada tuan Regnar dan Diana Regnar. Jackson William, beberapa orang asing sahabat Fardy yang datang dari Hongkong, Jerry, Daniel, Ryan serta puluhan orang lainnya.


Tampak Fardy sedang berusaha sekuat tenaga memaksakan senyuman di bibirnya ketika menyambut para tamu yang datang dari Metro city ini. Namun karena dia sendiri yang mengundang mereka, maka terpaksa Fardy berusaha seramah mungkin.


Ketika giliran dia menyapa Jerry dan teman-temannya, Fardy juga berusaha untuk bersikap ramah sampai pada akhirnya dia mengetahui nama ketiga pemuda itu yang tidak lain adalah Jerry William, Ryan dan Daniel.

__ADS_1


"Ternyata anda yang bernama Jerry. Sungguh sangat di luar dugaan ku. Bagaimana bisa seorang yang sangat berkuasa seperti anda ini berpenampilan layaknya seperti tukang parkir." Kata Fardy sambil tergelak diikuti oleh orang-orang yang berada di dekatnya.


"Anda datang kemari bersama dua ekor anak monyet ini. Sungguh pemandangan yang sangat bagus." Kata Fardy lagi.


"Baiklah. Silahkan anda mencari tempat duduk." Kata Fardy mempersilahkan. Namun begitu Jerry akan duduk di kursi yang kosong, Fardy segera melarang. "Maaf Tuan Jerry. Kursi itu milik tamu terhormat. Anda boleh mencari kursi lain." Kata Fardy setengah berteriak.


Mendengar larangan dari Fardy, Jerry dan kedua sahabatnya pun segera pindah ke kursi lain yang masih kosong. Namun baru saja dia ingin duduk, Fardy kembali menegur. "Tuan Jerry William. Kursi itu juga bukan untuk anda. Silahkan cari yang lain. Atau anda bersama kedua sahabat anda bergabung saja dengan mereka. Di sana mungkin tempat yang pas untuk anda." Kata Fardy sambil menunjuk ke arah kursi-kursi di bagian samping tempat para sopir, dan bawahan paling rendah jabatannya sedang duduk.


Mendengar teguran dari Fardy ini, Jerry dan kedua sahabat nya hanya mengangkat bahu sedikit lalu segera bergabung di kursi tempat para supir dan karyawan rendahan berada.


"Apakah di sini boleh, Tuan Fardy?" Tanya Jerry.


"Emmm.., ya boleh lah." Kata Fardy acuh tak acuh membuat tuan Diana Regnar sekeluarga meledak tawa diikuti yang sepemikiran dengan mereka.


Melihat cucu mereka di hina didepan umum membuat tuan Smith dan tuan William merasa marah. Namun mengingat semua telah mereka sepakati kemarin, mereka hanya bisa menelan kemarahan itu dan tetap tenang.


"Selamat datang Tuan-tuan sekalian yang sangat saya hormati. Tuan Walker, Tuan Smith, Tuan William, Tuan Regnar dan yang lainnya. Selamat datang di hotel Mega ini dalam rangka meresmikan dan menyatakan bahwa saya, Fardy Ramendra telah kembali ke negara ini dan akan turut meramaikan dunia perbisnisan di negara ini."


"Salam hormat dan cinta saya untuk mendingan ayah saya yaitu tuan besar Ramendra yang perkasa karena berhasil meninggalkan sebuah warisan yang besar kepadaku." Kata Fardy memulai kata-kata pembukaannya.


Daniel dan Ryan yang berada di kiri-kanan Jerry berusaha untuk menenangkan agar Jerry tidak terpancing emosi.


Saat ini seseorang yang Jerry kenal datang membawakan minuman ke meja tempat ketiga sahabat ini duduk. Melihat siapa yang datang, Jerry segera berisik. "Sampaikan kepada Herey ketika terjadi bentrok nanti, kalian harus mengamankan tuan Walker dan kedua kakek ku terlebih dahulu!" Kata Jerry.


"Di mengerti Ketua. Kami telah mengatur semuanya." Kata anak buah Jerry dari kelompok Tiger syam yang menyamar sebagai pelayan itu.


Saat ini Fardy terus saja mengoceh dan mengolok-olok Jerry beserta perusahaan Future of Company miliknya sambil di iringi oleh tepuk tangan dan gelak tawa dari orang-orang yang sepemikiran dengannya.


"Baiklah. Sekian dulu kata-kata sambutan dari saya. Maaf sekiranya saya terlalu jujur mengutarakan isi hati saya. Mungkin ada di antara tamu undangan yang ingin menyampaikan sepatah dua kata dalam acara ini atau Jerry William ingin membuat bantahan dari semua yang telah saya sampaikan tadi, waktu dan tempat saya persilahkan." Kata Fardy.


Mendengar ucapan dari Fardy ini, Daniel yang memang ahli dalam hal seperti ini langsung berdiri dan menghampiri mic dan mulai akan membuka suara.


Melihat bukan Jerry yang maju, Fardy segera memberikan bantahan dan merasa tidak senang karena Daniel ini hanyalah bawahan dan bukan pemilik perusahaan.


"Sebelumnya maafkan saya Tuan Fardy yang terhormat. Apakah menurut anda bahwa acara peresmian hotel berkarat seperti ini terlalu megah sehingga seorang penguasa seperti Jerry William harus menghina dirinya sendiri dengan berdiri di sini memberi kata sambutan? Seorang Jerry William yang dengan rendah hati mau menghadiri acara yang anda selenggarakan ini pun anda harus merasa bersyukur. Jadi, jangan terlalu besar kepala." Kata Daniel dengan senyum tengil nya membuat Fardy mengertakkan gigi menahan geram.

__ADS_1


"Tadi saya mendengar kata-kata sambutan yang sangat sombong sekali dari anda, Tuan Fardy Ramendra. Anda sungguh berani sekali." Kata Daniel sambil mencibir. "Ketahuilah,Tuan! Bahwa tidak sedikit dari orang-orang yang berakhir mengenaskan karena kesombongannya sendiri. Memang benar kata pepatah bahwa buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya kecuali di larikan oleh Monyet." Kata Daniel diikuti oleh gelak tawa dari para hadirin.


"Masih tentang pohon dan buah. Seperti yang kita tahu bahwa tuan besar Ramendra adalah seorang yang sangat sombong, angkuh dan tinggi hati. Beliau ini tidak memandang siapa lawannya dan terlalu membesar-besarkan kekuatan yang dia miliki. Tapi apa akhir dari perjalanan karier beliau? Hancur dengan cara mengenaskan dan sepertinya Tuan Fardy ini ingin mengikuti jejak mendiang ayahnya. Ternyata buah yang jatuh itu tidak jauh dari pohonnya."


"Di Metro city, ada sebuah pohon yang tadinya sangat rindang dan banyak yang menggantungkan hidup dari pohon itu. Hanya saja buah dari pohon itu dilarikan oleh monyet. Ini adalah perumpamaan bagi tuan besar Patrik dan anaknya Robin Patrik. Lalu, pohon yang berasal dari buah yang dilarikan oleh monyet ini tumbuh menjadi pohon dan berbuah lagi. Buah dari pohon yang dilarikan monyet itu tidak dilarikan oleh monyet. Tapi jatuh ke sungai dan terbawa arus sehingga menghasilkan satu pohon lagi. Pohon itu bernama Ivan Patrik. Makanya antara tuan besar Patrik, Robin dan Ivan memiliki perbedaan. Tuan besar Patrik adalah orang yang jujur dan ksatria. Berbeda dengan Robin yang cenderung seperti monyet."


"Hahahaha....?!" Terdengar gelak tawa dari para hadirin.


"Sementara buah dari pohon yang bersifat seperti monyet ini memiliki dua buah yang satu sudah mati di tebang oleh sang penguasa yaitu Jerry William. Yang satu lagi hanyut terbawa arus sungai memiliki sifat yang jujur dan jantan. Berani menanggung akibat yang sama sekali bukan dari kesalahannya sendiri. Itu adalah Ivan Patrik. Beruntung dia tidak hidup di bawah pohon asalnya.


"Mengingat tentang segala tuduhan yang dilancarkan oleh Tuan Fardy terhadap Tuan besar kami yaitu Jerry William. Saya tadi mendengar bahwa anda mengatakan bahwa Tuan kami bermain secara kasar kan? Ketahuilah untuk semua yang ada di sini! Siapa yang bermain kasar terlebih dahulu? Mengeroyok empat orang pemuda sehingga yang tiga orang mengalami koma selama hampir 7 bulan dan membuang tubuh salah satu dari keempat pemuda itu ke dalam air di bawah jembatan penghubung Metro city-MegaTown, membuat onar di Country home dengan menyewa para demonstran palsu dan membayar wartawan sewaan untuk menjatuhkan nama baik perusahaan lain. Apakah perbuatan seperti ini menurut anda adalah sifat terpuji?" Tanya Daniel kepada Fardy.


"Semua ini dilakukan oleh Ayah anda dan anak monyet bernama Robin Patrik. Maaf. Tidak layak Robin ini di sematkan nama Patrik di belakangnya. Itu terlalu terhormat. Sebut saja namanya Robin Monyet. Beruntung bagi anda bahwa ayah mu keburu mati sebelum pihak kepolisian berhasil mengusut kasus ini. Ini baru beberapa tindak kejahatan saja. Belum lagi ayah anda ingin membungkam saksi yang koma di rumah sakit dengan cara mengirim pembunuh bayaran warga negara Jepang untuk membunuh dua anak muda bernama Kevin Lenard dan David Regan di rumah sakit. Ini karena ayah anda takut ketika orang ini bangun dari koma, dia akan memberikan kesaksian di depan pihak penegak hukum. Jika ini sampai terjadi, ayah mu pasti akan berakhir didalam penjara. Nah, pertanyaan saya, mana lebih tidak terpuji antara perbuatan Tuan besar kami atau mendiang ayah anda?" Tanya Daniel sambil tersenyum menghina.


Saat ini baik Robin yang berada di balik layar maupun Fardy dan Syntia yang berada di kursi barisan kehormatan merasa benar-benar telah ditelanjangi oleh perkataan Daniel ini. Mau bagaimana lagi? Semua yang dikatakan Daniel ini adalah benar dan seluruh pihak kepolisian baik di Metro City maupun di Country home mengetahui dan tinggal mengumpulkan bukti-bukti saja sebelum menangkap Ramendra. Tapi sebelum semua itu terwujud, Ramendra keburu mati di tangan kakek Malik.


"Apa kalian tau bahwa saat ini anak monyet bernama Robin Patrik itu kemungkinan besar bermain di balik layar? Keluar lah anak monyet. Jangan seperti pengecut!" Teriak Daniel.


"Heh Daniel. Sudah cukup omong kosong mu itu. Turun lah sekarang sebelum aku hilang kesabaran!" Teriak Fardy yang mulai sudah terprovokasi.


"Hilang kesabaran? Kalian semua adalah saksi ketika terjadi unjuk kekuatan antara saya sebagai wakil dari perusahaan Future of Company dan Ramendra di acara pelelangan hotel Mega ini beberapa waktu yang lalu. Bagaimana akhir dari sebuah kesombongan itu? Berakhir dengan kematian bukan? Nah, Fardy ini...! Tanpa tedeng aling-aling ingin melawan arus. Tidak mengukur kemampuan sendiri sehingga berani menantang sang penguasa. Saran ku untuk anda Tuan Fardy, kembali lah dan menyusu saja dengan ibu anda." Kata Daniel sambil terus tersenyum menghina.


"Kurang ajaaaar......!"


Dor...!


Dor...!


Dor...?!


Fardy sudah kehilangan kesabaran nya saat ini dan langsung mengeluarkan pistol nya kemudian menembak secara acak ke arah Daniel.


Beruntung memang pakaian Daniel sudah di lapisi dengan baju anti peluru di bagian dalam membuat tubuh Daniel membengkak seperti orang yang gemuk.


Namun akibat dari peluru yang menghantam kearah tubuhnya tak urung membuat Daniel terjengkang juga di atas panggung itu sambil merintih menahan sakit akibat dari tendangan peluru tersebut.

__ADS_1


__ADS_2