PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Drako dan Roxana bertemu


__ADS_3

Kecuali Jerry, semua yang berada di ruangan itu terkejut melihat lelaki setengah baya yang memperkenalkan nama nya sebagai Drako itu tiba-tiba berdiri dan menghambur memeluk seorang wanita setengah baya yang baru saja datang dari arah dapur.


"Roxana. Kau.., kau masih hidup?!" Tanya Drako sambil mengelus-elus pipi wanita setengah baya itu.


"Apa kau tau bahwa aku telah menghabiskan banyak waktu mencari mu. Sebelum mendiang kak Wilson terbunuh, dia juga telah mengerahkan banyak orang untuk mencarimu." Kata Drako lagi dengan mata berkaca-kaca.


"Sama dengan mu Drako. Aku juga mengira bahwa kau telah mati di tangan anak buah Robin. Berita terakhir yang ku dengar adalah tuan Wilson telah terbunuh. Setelah itu aku tidak pernah lagi mendengar kabar dari Metro city."


"Kemana saja kau menghilang Drako?" Tanya wanita itu dengan berurai air mata.


"Anak bandel. Kesini kau!" Kata Drako sambil memelototi Jerry.


"Mati aku." Kata Jerry bergumam sambil bankit berdiri lalu menghampiri sepasang lelaki dan wanita paruh baya itu.


"Kau ini Jerry...?!"


"Aduh.., Duh... Sakit...?!" Teriak Jerry sambil berusaha melepaskan tangan Drako dari telinga nya.


"Berani kau mempermainkan aku? Dari mana kau belajar mempermainkan orang tua?" Tanya Drako sambil mendelik.


"Sudah lah Drako. Oh ya.., itu adalah Clara. Putri mu." Kata Roxana sambil menunjuk ke arah seorang gadis yang melongo di samping lelaki tua melihat adegan itu.


"Clara...?!"


"Apakah Clara yang kau katakan calon istrimu di telepon kemarin?" Tanya Drako semakin membesar saja mata nya memelototi Jerry.


"Ayah.. ?!"


"Iya Clara. Ini adalah Ayah mu. Ayo beri hormat kepada Ayahmu Nak!" Kata Roxana sambil menuntun tangan Clara menghampiri Drako yang masih menjewer telinga Jerry.


"Tuh Putri mu calon istriku menghampiri mu. Apakah kau akan menjewer ku sampai subuh?" Tanya Jerry sambil menyeringai.


"Kurang ajar kau Jerry. Awas kau nanti!" Bisik Drako membuat Jerry terkikik.

__ADS_1


Dasar Jerry. Merusak moment saja.


Begitu Roxana mendekati Drako dan Jerry sambil menarik tangan Clara, Drako langsung melepaskan tangannya dari telinga Jerry kemudian langsung memeluk Clara.


"Putri ku. Maafkan Ayah yang tidak bisa melindungi Ibumu hingga kita terpaksa berpisah selama puluhan tahun." Kata Drako.


Sedikitpun Clara tidak menjawab perkataan Drako. Dia hanya menangis terisak-isak.


Bagaimana tidak, selama ini dia mengira bahwa ayahnya telah mati di bunuh oleh musuhnya. Setidaknya begitu lah yang selalu dia dengar dari ibu nya.


"Kemana saja kau selama ini Drako? Jika masih hidup, mengapa tidak ada kabar dari mu?" Tanya Roxana.


"Ceritanya panjang." Kata Drako lalu menceritakan semua saru per satu dari dia dikalahkan oleh anak buah Robin, sampai di selamatkan oleh Wilson, dan Wilson pun terbunuh dan dia sengaja menghilang untuk membesarkan dan mendidik anak tuan nya tersebut yaitu Jerry.


"Begitu lah kisah nya." Kata Drako.


"Lalu wajah mu? Mengapa dengan wajah mu Drako?" Tanya Roxana sambil menyentuh bekas luka memanjang dari alis sampai ke pipi Drako.


"Aku berusaha keras untuk mengubah penampilanku agar tidak di kenali oleh orang lain. Dan luka ini adalah salah satunya. Ini aku lakukan agar aku bisa fokus melindungi dan Membesarkan Jerry. Setelah waktunya tiba, barulah aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada Jerry siapa dirinya." Kata Drako menjelaskan tentang bekas luka memanjang di wajah nya.


"Apakah mereka berhasil menemukan keberadaan mu?" Tanya Roxana.


"Jika mereka gagal, tidak mungkin Jerry menjadi memiliki perusahaan Future of Company yang memiliki puluhan proyek termasuk membangun pabrik penggilingan, pelebaran jalan dan membangun bendungan irigasi di kampung mountain slope ini." Kata Drako.


"Jadi.., kau adalah pemuda kaya raya yang datang dari kota itu Jerry?" Tanya kakek Malik sambil berdiri dan kembali telinga Jerry mendapat jeweran.


"Memang anak bandel. Aku memuji anak muda itu di depan orang nya sendiri. Kau mempermainkan aku Jerry." Kata kakek Malik.


"Salah Kakek mengapa tidak bertanya." Kata Jerry cuek namun tetap meringis menahan sakit.


"Drako. Ada satu hal yang ingin aku tanyakan kepada mu." Tanya kakek Malik.


"Apa itu paman? Silahkan!" Kata Drako.

__ADS_1


"Apakah kau yang telah mengajarkan ilmu bela diri kepada Jerry ini?" Tanya kakek Malik.


"Hehehe..., tidak bisa dikatakan bela diri. Itu hanya olah raga bisa, Paman." Jawab Drako malu-malu.


"Kau ceroboh sekali Drako!" Kata kakek Malik menegur.


"Mengapa Paman berkata begitu?" Tanya Drako heran.


"Kau mengajari nya bela diri langsung tanpa tahap dasar. Kekuatan fisik dan pernafasan mengapa tidak kau titik beratkan?" Tanya lelaki tua itu sambil mendelik.


"Ini karena salahnya sendiri Paman. Dia tidak pernah mau berlatih serius. Disuruh berlatih dia malah kabur. Dia mau berlatih karena ketika itu dia di keroyok oleh anak seusia dengannya sampai babak belur." kata Drako membela diri.


"Benar begitu Jerry?" Tanya kakek Malik.


"Hehehe.., aku.., aku.."


"Aku.., aku apa? Mulai besok kau akan di latih lebih keras lagi. Kekuatan fisik dan pernafasan mu harus di latih lagi dari awal. Kau baru boleh meninggalkan tempat ini setelah kau selesai menamatkan latihan mu." Kata lelaki tua itu.


"Mampus aku." Kata Jerry sambil menyeringai.


"Itu lah kau. Sekarang rasakan akibat malas mu dulu." Kata Drako.


"Baiklah. Latihannya kan mulai besok. Hari ini aku mau istirahat dulu. Kepala ku sudah benjut terkena lemparan ubi dari Kakek Malik." Kata Jerry sambil menarik tangan Clara.


"Ayo Clara. Kita tinggalkan pasangan tua bangka itu. Biarkan mereka melepas rindu. Mereka akan menemui kita setelah selesai nanti. Itupun kalau mereka tau diri." Kata Jerry.


"Brengsek kau Jerry. Mau kau bawa kemana Putri ku?" Tanya Drako sambil mengacungkan tinju nya ke arah Jerry.


"Urus saja urusan masing-masing. Kalian sudah 22 tahun tidak bertemu. Silahkan Tuan dan Nyonya bersama Tuan besar Malik dan kuli Raven berbincang-bincang dulu. Urusan anak muda biar anak muda yang mengurus." Kata Jerry sambil memainkan sebelah matanya berkedip-kedip.


"Clara. Jangan ikuti Jerry itu. Dia itu tidak waras." Kata Drako menakut-nakuti Clara.


"Pilih Ayah mu atau aku?" Kata Jerry sambil melihat tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Sudah.., sudah.., sudah! Kalian pergi lah keluar." Kata Roxana menengahi.


"Hahaha.., Ayah. Kau tenang saja. Aku ini anak baik. Hihihi... Dari Ayah angkat menjadi Ayah mertua." Kata Jerry sambil nyelonong berlalu diiringi oleh tatapan tajam dari Drako.


__ADS_2