
Kriiiing...!
Kriiiing...!
"Hallo Herey.., ada apa subuh-subuh begini kau menelepon ku?"
"Ryan, aku ada kabar duka dari Metro city."
Seeer...!
Berdesir darah Ryan mendengar Herey menyebutkan kabar duka dari Metro city.
"Kabar duka apa maksud mu Herey?" Tanya Ryan lalu buru-buru bangun dari tempat tidur.
"Tuan muda kita, Ryan."
"Dia bersama dengan Ivan, David kan Kevin telah di serang oleh sekelompok orang yang tidak di kenal. Ivan saat ini cedera parah. Sedangkan David dan Kevin koma di rumah sakit Metro city." Kata Herey.
"Lalu bagaimana dengan keadaan Jerry?" Tanya Ryan.
"Tuan muda, menurut yang dikatakan oleh Nona Lorna, para penyerang tersebut membuang tubuhnya di bawah jembatan dan hanyut terbawa arus. Tidak diketahui entah masih hidup atau sudah...,"
"Stop Herey. Dari mana kau peroleh berita ini?" Tanya Ryan.
"Tuan Syam baru saja memberi kabar kepada tuan Barry. Saat ini mereka masih sedang melakukan pencarian di sepanjang sungai Metro city." Kata Herey.
"Tuan Regan dan Jeff sudah bersiap-siap untuk kembali ke Metro city. Terutama tuan Regan. David adalah putra nya. dia ingin melihat kondisi putranya yang dikabarkan sedang koma."
"Herey.., aku akan berangkat bersama Daniel ke Metro city. Kau tolong jangan beritahu berita ini kepada Riko. Bagaimana pun dia belum sembuh. Aku takut berita ini akan membuatnya terpukul." Kata Ryan mencegah agar Herey jangan kelepasan kata di hadapan Riko.
"Terlambat Ryan. Riko sudah mengetahui tentang ini. Tuan Obery telah menerima telepon dari tuan Barry di rumah sakit. Pasti Riko sudah tau hal ini." Kata Herey.
"Habis sudah kalau begini ceritanya." Kata Ryan lalu segera mengakhiri panggilan telepon tersebut.
Ryan yang merasa harus berangkat ke Metro city tampak terburu-buru menggedor pintu kamar Daniel.
"Daniel...!"
"Woy Daniel... Cepet buka pintu kamar mu ini!" Kata Ryan dengan suara yang sengaja di kuatkan.
"Ada apa Ryan? Mengganggu saja." Kata Daniel membuka pintu kamarnya sambil menggosok-gosok mata nya.
"Jerry, Daniel. Jerry!" Kata Ryan sambil menggoyang-goyangkan pundak Daniel.
"Ada apa dengan Jerry? Apakah dia sudah kembali ke Starhill. Mengapa begitu cepat?" Tanya Daniel yang masih setengah sadar.
"Jerry di timpa musibah di Metro city." Kata Ryan setengah menekan nada suaranya.
"Apa... Musibah apa maksud mu Ryan? Kau jangan becanda!" Tanya Daniel langsung sadar sepenuhnya.
Ryan lalu menceritakan semua yang dia dapat dari Herey tadi kepada Daniel.
__ADS_1
Saat ini Daniel langsung membelalakkan matanya seakan tidak percaya.
"Kita harus ke Metro city. Harus!" Kata Daniel bergegas mengambil handuk dan setengah berlari ke kamar mandi.
...*...
Di rumah sakit rakyat Country home kini tampak juru rawat baru saja menyuntikkan obat penenang kepada Riko.
Riko yang mendengar percakapan antara tuan Barry dan tuan Obery langsung bertindak agresif. Jika tidak di halangi, mungkin dia sudah melompat dan berlari meninggalkan rumah sakit itu untuk pergi ke Metro city.
Tuan Obery dan Ramos berjibaku untuk membuat Riko tenang sebelum perawat datang dan memberikan suntikan penenang agar Riko tidak lagi menjerit dan meronta.
"Bagaimana ini Obery?" Tanya Ramos kepada tuan Obery.
"Tampak nya aku harus tetap di sini menemani Riko. Aku khawatir jika tidak di jaga, dia akan nekat kabur dari rumah sakit ini." Kata tuan Obery sambil menarik nafas panjang.
"Jika begitu Aku akan menemanimu di sini." Kata Ramos sambil menarik kursi dan duduk. Tampak riak lelah terpancar di wajah lelaki lima puluhan itu.
"Terimakasih Pak Ramos." Kata tuan Obery dengan tulus.
...**...
Kantor besar Future of Company Country home.
Tuan Barry, Ronald, Regan dan Jeff tampak sudah bersiap-siap untuk berangkat ke bandara lokal Country home.
Setelah menitipkan pekerjaan kepada Austin, Herey, dan tuan Raven, mereka segera berangkat satu mobil menuju bandara lokal tersebut.
Setelah menitipkan mobil mereka kepada kedua anak buah Herey yang di tugaskan menjadi pengawal bayangan bagi kedua gadis itu, mereka lalu segera menuju ke pos pemeriksaan dan langsung berjalan tergesa-gesa menuju ke arah pesawat terbang yang akan berangkat ke Metro city.
"Sesampainya di sana nanti, kita harus berusaha menemui Lorna." Kata Ryan. Laku melanjutkan. "Hanya dia satu-satunya saksi yang melihat kejadian itu."
"Iya. Benar katamu. Kita harus menanyainya. Bagaimanapun, kita telah bersahabat dengan nya. Aku rasa dia pasti lebih nyaman berbicara dengan kita." Kata Daniel.
"Semoga saja begitu." Kata Ryan pula mengamini perkataan Daniel.
Tak lama kemudian pesawat yang di naiki oleh Daniel, Ryan, Joanna dan Hellen lepas landas menuju ke Bandara internasional Metro city.
Setibanya mereka di sana, Daniel dan Ryan yang sudah pernah sekali menemani Jerry ke Villa Smith tidak merasa canggung lagi.
Mereka berempat lansung menghentikan taxi dan segera melaju ke arah Bukit Metro menuju Villa Smith.
Tepat pukul 11 menjelang tengah hari, taksi yang mengantar Daniel dan teman-temannya sampai di Villa Smith.
Setelah memberitahu siapa mereka di Future of Company, para pengawal yang bertugas sebagai penjaga Villa itu langsung mempersilahkan Ke empat muda mudi itu untuk masuk dengan hormat.
Begitu mereka tiba di depan pintu masuk Villa, tampak tuan Barry, Ronald, Jeff dan Regan telah berada di sana.
Ryan lansung menyapa tuan Smith dengan hormat.
"Selamat menjelang siang Kek. Apakah anda masih mengenali saya?" Tanya Ryan dengan hormat.
__ADS_1
"Oh.., itu kau Ryan. Ayo silahkan masuk. Ajak juga Daniel dan kedua wanita itu." Kata Tuan Smith mempersilahkan Ryan untuk masuk.
"Terimakasih Tuan besar." Kata Ryan lalu mereka pun memasuki ruangan besar di Villa megah itu.
Begitu dia tiba di dalam, tampak wajah-wajah sedih dari masing-masing orang yang berada di ruangan itu.
"Lorna.., apa kau baik-baik saja?" Tanya Ryan begitu dia melihat Lorna juga berada di ruangan itu.
"Aku baik-baik saja. Tapi Ivan, Jerry dan kedua pengawalnya semuanya masih dalam keadaan kritis." Kata Lorna kembali menangis.
"Lorna, siapa ke empat muda-mudi ini?" Tanya tuan Walker yang memang tidak mengenal Ryan dan Daniel.
"Mereka ini adalah sahabat kami di Golden university Kek. Mereka juga sahabat Jerry sejak lama. Bahkan mereka bertiga adalah sahabat dan tinggal 1 rumah." Kata Lorna yang di balas anggukan tanda mengerti oleh tuan Walker.
"Lorna, Bisakah kau menceritakan sedikit kepada kami apa sebenarnya yang terjadi dengan Jerry, Ivan dan yang lainnya?!" Kata Daniel.
Mendengar permintaan dari Ryan, Lorna pun langsung menceritakan semua kejadian yang dia lihat secara terperinci.
"Begitu rupanya." Kata Ryan.
"Saat ini Robin masuk dalam daftar hitam yang sangat di kehendaki oleh pihak kepolisian. Mustahil Robin masih memiliki kekuatan untuk melakukan pekerjaan ini sendirian." Kata Daniel sambil menatap ke arah Ryan.
"Tuan Syam.., sebelum Jerry datang ke sini, kami baru saja bentrok dengan Robin dan anak buahnya di Country home. Sial bagi kami karena Robin berhasil lolos. Sekarang saya ingin bertanya kepada anda. Apakah Robin ini masih memiliki tempat bersandar? Jika ada, siapa orang ini Tuan?" Tanya Ryan dengan wajah serius.
"Ryan. Untuk apa kau menanyakan tentang Robin dan orang yang berdiri di belakangnya? Mereka ini sangat berbahaya. Kau jangan mencari penyakit. Kami akan mengurus masalah ini dan akan membumi hanguskan MegaTown sebentar lagi. Kau jangan bertindak gegabah Ryan. Cukup lah tuan muda kita sebagai contoh." Kata tuan Syam memperingati.
"Anda salah menilai saya Tuan Syam. Terus terang jika untuk berkelahi, saya memang tidak bisa melakukannya. Tapi kalau untuk adu otak, silahkan anda pilih orang-orang di sekitar anda untuk melawan kami berdua. Jika aku kalah, aku akan pulang ke Starhill dalam keadaan telanjang bulat." Kata Ryan yang sudah sangat sulit menahan ledakan emosi nya.
"Apa maksud dari ucapan anda ini cucu ku?" Tanya tuan William penasaran.
"Tuan besar William.., Jika yang melakukan semua ini adalah Robin, aku berani mengatakan bahwa ini murni balas dendam. Tapi jika yang melakukan ini ada campur tangan orang lain, ini jelas persaingan bisnis. Ibarat kata pepatah, sambil menyelam minum air." Kata Ryan.
"Sebelum Jerry meninggalkan Country home, dia telah meninggalkan sepucuk surat kuasa kepada kami bertiga untuk mengurus segala pekerjaan yang dia tinggalkan selama dia tidak berada di tempat. Dan Tuan Barry juga telah menyatakan bahwa surat ini sah. Bukan begitu Tuan Barry?" Kata Ryan sambil meminta surat tersebut kepada Daniel.
Daniel segera memberikan surat kuasa tersebut kepada Ryan dan di teruskan kepada tuan William.
Setelah membaca surat tersebut, tuan William segera mengajak tuan Smith dan Mr.Brylee untuk berunding.
Keputusan yang di dapat adalah, Ryan, Daniel dan Riko memang telah mendapat mandat dari Jerry untuk meneruskan program kerja selama dia tidak berada di Starhill dan itu di saksikan oleh tuan Obery dan Arslan serta pak Ramos ketika mereka berada di Rumah sakit rakyat Country home.
Setelah Jerry berangkat ke Metro city menggunakan Jet pribadi, Ryan dan Daniel telah menunjukkan surat tersebut kepada tuan Barry dan tuan Barry selaku presiden perusahaan Future of Company menyatakan bahwa surat itu sah dan berlaku selama Jerry tidak kembali ke perusahaan.
Disini baru terlihat bahwa Jerry memiliki pandangan yang jauh.
Dia menilai bahwa keberangkatannya ini mengandung resiko yang besar. Maka sebelum dia berangkat, dia telah memilih orang-orang yang tepat yang tanpa pamrih rela bersahabat dengannya dalam susah maupun senang.
"Aku akan membalas perbuatan ini dengan cara ku. Bahkan jika aku juga harus menerima nasib seperti Jerry, aku hanya akan berkata bahwa itu lah takdirku." Kata Daniel sambil mengepalkan tinju nya.
"Benar. Kita akan membalas semua ini. Aku mohon kepada Tuan Syam, Paman Drako, dan siapa saja yang mengetahui tentang latar belakang lawan kita ini, untuk menceritakannya kepada kami. Kami akan mempelajari kelemahan lawan seperti kami mempelajari kelemahan Robin ketika masih bersama Jerry." Kata Ryan dengan mata berair menahan luapan emosinya.
Bersambung...
__ADS_1