
POV Karina
"Sudah. Kita berangkat sekarang". Ajak ku dengan wajah sedih karena harus berpisah dengan mama dalam waktu lama.
"Jangan gila ya, mah". Harap ku dalam hati.
Depan rumah sudah terparkir sebuah mobil yang ku yakini adalah anak suruhan calon ibu dan ayah angkat ku.
"Kamu memesan taksi?". Tanya papa pada ku.
Aku mengangguk malas menjawab pertanyaan papa. Aku sengaja meminta pertolongan pada ibu dan ayah angkut ku untuk menyingkirkan juragan Jarwo. Sangat kesal pada pria tua bangka itu karena nyewel ingin menjadikan ku istri kelima nya. Sebenarnya aku bisa menyingkirkan nya sendiri tapi keahlian ku belum pernah ku gunakan di luar maka nya aku meminta seorang pria untuk berjaga - jaga kalau aku membutuh kan bantuan.
Papa menunjukkan arah ke rumah juragan Jarwo, setelah menempuh perjalanan yang entah memakan waktu berapa jam. Kini kami sudah sampai di sebuah rumah megah yang cukup luas dengan taman yang menurut ku cukup indah. Tapi masih jauh berbanding rumah calon ibu dan ayah angkat ku yang ku kunjungi tadi pagi.
"Sekarang kita masuk, mereka semua sudah menunggu di dalam. Juragan Jarwo sudah memanggil penghulu untuk menikahi kami malam ini juga". Ajak papa dengan wajah sembringan. Aku tahu ia cukup bahagia karena sebentar lagi hidupnya akan terlepas dari hutang meskipun itu dengan menjual anak nya sendiri.
Beruntung dia bukan bapak kandung ku, kala tidak aku sudah merasa sedih dan terpuruk karena mendapatkan bapak seperti s3tan ini.
Aku menurut untuk masuk ke dalam rumah. Di luar tampak banyak pengawal yang berjaga bahkan di dalam juga tapi aku sama sekali tak merasa gentar. Tekat ku membunuh juragan Jarwo udah bulat dan aku juga tak segan membunuh siapa saja yang mencoba menghalangi ku meskipun itu bapak sekali pun.
Aku di minta masuk ke sebuah kamar untuk bertukar pakaian dan di rias seadanya saja oleh seorang wanita.
"Kamu jangan khawatir, ya. Aku adalah istri ketiga juragan Jarwo. Nasip kita berdua sama, bahkan dua istri nya yang lain juga sama. Hanya istri pertama yang mencintai juragan dengan tulus tapi ia sudah tua dan tak sanggup menghalangi keinginan suami kami. Kami bertiga hanya menunggu waktu pria tua itu mati dan harta nya akan kami bagi rata sesama istri. Jika kamu juga berminat, maka kita bisa bekerja sama". Ujar wanita yang menolong ku bertukar pakaian dan merias wajah ku.
__ADS_1
Dia ternyata istri ketiga juragan Jarwo, aku sudah menebak maksud mereka bisa bertahan bersuamikan pria tua itu, apa lagi kalau bukan harta yang menjadi incaran mereka.
"Saya sama sekali tak berminat dengan harta pria bau kuburan itu. Tapi aku akan membantu mbak dan madu - madu mbak untuk merealisasi kan impian. Tapi saya harap mbak tak menghalangi niat saya apa lagi membuka rahasia ini karena ini juga menguntungkan bagi kalian". Sahut ku dengan wajah datar.
"Kamu serius? Tapi bagaimana kamu melakukan nya? Kami sudah beberapa kali mencoba nya dengan banyak cara tapi selalu gagal. Menyewa orang untuk membunuh nya tapi dia selalu di jaga 24 jam oleh pengawal. Kami juga pernah mencoba meracuni nya tapi I setiap kali dia makan dia selalu meminta istri nya yang lebih dulu memakan makanan yang ada di piring nya. Karena takut di antara kami ada yang mati maka aku sengaja menjatuhkan kan makanan berisi racun itu agar tidak dicurigai". Jelas mbak ini.
Meski pun kami baru bertemu bahkan belum sempat berkenalan, istri ketiga juragan Jarwo ini nggak segan menceritakan semua nya pada ku. Begitu pula aku, tidak ragu mengatakan rencana ku untuk membunuh Juragan Jarwo malam ini pada nya.
"Apa kamu akan bertarung menggunakan baju kebaya ini, atau kamu bisa menggunakan dress ini aja. Aku akan mengatakan pada juragan kalau kebaya ini tidak cocok untuk mu". Saran nya sambil memperlihatkan dress simpel dari dalam lemari.
"Itu lebih baik, mbak". Aku kembali menukar pakaian yang ku gunakan. Dress ini lebih nyaman di gunakan dan memudahkan aku untuk bergerak saat bertarung nanti.
"Mbak tahu nggak di mana atau siapa yang sering memegang senjata api?". Tanya ku.
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan nya. Aku ada rencana tersendiri dan pasti harus ku jalan kan malam ini juga. Setidak nya perbuatan ku ini akan membuat hidup beberapa orang wanita bahagia.
Saat keluar dari kamar, semua mata menatap ke arah ku tapi tatapan Juragan Jarwo tampak berkedut. "Kenapa tak memakaikan nya kebaya yang telah ku belikan? Baju ini itu tidak cocok untuk acara pernikahan ini. Kamu itu bagaimana, sih Kiyah". Ujar Juragan kesal pada istri ketiga nya.
"Kebaya yang mas beli terlalu besar di tubuh kecil gadis ini jadi aku pinjam kan aja dress yang kecil ini pada nya". Sahut mbak Kiyah.
"Biar kan aja mas yang penting malam ini mas berhasil mendapatkan istri baru lagi". Bujuk salah seorang wanita yang duduk di sofa sambil menyilang kan kaki nya.
"Iya, sayang. Lagi pula calon istri mas ini pasti akan terlihat jelek memakai kebaya yang kebesaran di tubuh nya". Imbuh wanita muda sambil mengusap bahu juragan perlahan.
__ADS_1
"Terserah lah. Lebih baik segera mulai saja akat nya. Aku udah nggak sabar menikmati tubuh gadis muda ini". Ujar juragan Jarwo dengan wajah mesum nya sambil mengusap paha ku perlahan lalu menekan nya.
Aku sudah tak bisa sabar lagi. Ku tendang wajah mesum nya itu dengan kuat sampai ia tersungkur mencium lantai. Semua yang menyaksikan kejadian itu tampak kaget. Istri - istri juragan berlarian masuk ke dalam kamar ssdangkan yang lain berlari masuk ke dapur, pak penghulu yang tadi nya duduk sambil mempersiapkan acar akad nikah juga turut kabur entah kemana.
Pengawal yang berjaga di dalam ruangan ingin mendekat untuk menyerangku tapi dengan cepat ku ambil tubuh juragan menjadi tawanan. Pisau yang ku sembunyikan di dalam dress ku kini ku letakkan di leher juragan Jarwo agar ia tidak berani melawan.
"Kalian berani maju selangkah maka bos kalian ini akan mati dan kalian tidak akan mendapatkan bayaran sedikit pun dari mayat nya". Ancam ku.
"Ka - kalian jangan maju, aku tak mau mati". Cegah juragan pada pengawal nya.
"Keluarkan semua senjata kalian dan buang jauh - jauh!". Titah ku dengan wajah mencekam.
Mereka tidak mengindahkan perkataan ku dan masih berdiri dengan berjaga - jaga. Pisau ku tekan ke leher juragan hingga mengeluarkan sedikit darah.
"Ke - keluarkan saja senjata kalian". Lirih nya. Setelah mengatakan itu, para pengawal baru Mengeluarkan senjata mereka dan melemparkan ke sebarang arah.
Bagus, ini lah saat nya.
Sreeet.....
Leher juragan ku sembelih layak nya hewan korban. Kini juragan sudah mati di tangan ku. Puas hati ku.
Semua mata menatap nyalang ke arah ku. Sebelum mereka berhasil mengambil senjata yang mereka lempar tadi, aku bergegas melumpuhkan mereka dengan keahlian bela diri ku. Tubuh kekar semua pengawal ini tidak menjadi tolak ukur kekuatan mereka. Dengan mudah mereka ku lumpuhkan hanya dengan satu serangan di bagian vital.
__ADS_1
Tak berselang lama, pengawal yang berjaga di luar pun masuk dan ingin menyerangku. Seperti perkiraan ku, tak satu pun dari mereka yang memiliki senjata api. Jadi mudah bagi ku menyingkirkan mereka lalu kabur.