
"Kriiiing..."
"Kriiiing...!"
"Hallo.." Kata Seorang pemuda menjawab panggilan telepon tersebut.
"Ivan..., ini aku Hyden." Terdengar suara dengan angkuh menyebutkan namanya.
"Ada apa kau menelepon ku Hyden?" Tanya pemuda yang ternyata adalah Ivan tersebut.
"Ayah menyuruh ku menanyakan bagaimana dengan pekerjaan yang ditugaskan oleh ayah kepada mu. Apakah kau berhasil mencari informasi tentang Jerry William itu?" Tanya Hyden.
"Katakan kepada ayah bahwa aku gagal menemukan siapa Jerry William ini sebenarnya." Kata Ivan dengan tegas.
"Jika kau tidak bisa menemukan atau mengorek informasi tentang Jerry William ini, lalu untuk apa kau berlama-lama di Starhill? Segera kembali dan temui aku!" Bentak Hyden dengan marah.
"Wah.., Hyden. Sombong sekali kata-kata mu ini. Sejak kapan aku harus patuh kepada mu?" Tanya Ivan.
"Ingat Ivan! Kau hanyalah anak haram yang tidak ada se-kuku hitam bagiku. Kau harus tau dengan siapa kau bicara saat ini!" Kata Hyden dengan pongah nya.
"Aku tidak akan kembali ke Metro City. Mengapa kalian begitu ingin aku kembali? Bukankah kehadiran ku di sana juga tidak di inginkan?" Tanya Ivan.
"Kembali kata ku kembali! Apa kau mendengar?" Kata Hyden dengan emosi.
"Kau Hyden. Urus saja dirimu sendiri. Jangan menganggap aku seperti anak kecil. Bagaimanapun aku ini adalah kakak mu." Kata Ivan mengingatkan.
"Puih....! Kakak kata mu. Kau tidak layak untuk itu. Aku katakan sekali lagi kepadamu anak haram. Jika tidak ada yang bisa kau lakukan di sana, maka kau harus kembali untuk menemui ayah." Tegas Hyden.
"Jika aku tidak mau, kau mau apa?" Kata Ivan menantang.
"Bagus. Hahaha..., bagus sekali Ivan. Kau tunggu lah waktu mu." Ancam Hyden.
"Kau tidak perlu mengancam ku Hyden. Aku sudah bosan mendengar ancaman. Kau dan ibu mu sama saja. Sama-sama serigala." Kata Ivan mencibir.
"Dasar sialan. Aku akan mengadukan mu kepada ayah."
"Ini Starhill nak. Bukan Metro city. Pergi lah adukan. Katakan juga bahwa aku menantang kalian untuk datang kesini!" Kata Ivan sambil mengolok-olok Hyden.
"Tut.., tut.., tut..." Terdengar suara menandakan panggilan itu telah berakhir.
Di Villa Patrik saat ini tampak Hyden dengan marah membanting ponsel nya ke lantai. Dia dengan marah berteriak-teriak membuat semua orang segera mengalihkan perhatian kepadanya.
"Ada apa dengan mu Tuan muda?" Tanya salah seorang pengawal kepada Hyden.
"Di mana ayah?" Tanya Hyden.
"Tuan besar ada di ruangan nya." Jawab pengawal itu.
Mendengar jawaban pengawal itu, Hyden segera berbegas menuju ruangan kerja ayahnya yaitu Robin Patrik.
__ADS_1
Sebaik saja dia tiba, dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu dan dengan kasar membanting pintu tersebut lalu segera menghempaskan dirinya di kursi yang terdapat di dalam ruangan itu.
Melihat Hyden seperti sangat marah, Robin pun segera bertanya. " Ada apa dengan mu Hyden? Tampaknya kau sangat marah sekali." Tanya Robin Patrik melihat anak kesayangan nya itu tampak seperti kesetanan.
"Anak haram itu Ayah. Dia sengaja membuat aku marah." Kata Hyden mengadukan Ivan kepada ayahnya.
"Memangnya mengapa dengan Ivan?" Tanya Robin tidak mengerti.
"Aku menanyakan tugas yang Ayah berikan kepadanya. Tapi dia malah mengejek dan menantang ku untuk mencari informasi itu sendiri. Dia juga tidak mau lagi tunduk kepada Ayah." Kata Hyden dengan sengaja memojokkan Ivan agar ayahnya terpancing.
Benar saja. Begitu Robin mendengar aduan dari Hyden, dia langsung menampar meja dengan keras.
"Anak sialan itu berani menentang perintah ku. Dia harus di beri pelajaran." Kata Robin.
"Dia berada di Starhill ayah. Apakah kita akan ke Starhill untuk membalasnya?" Kata Hyden bertanya.
"Tidak untuk saat ini anak ku. Bagaimanapun saat ini ayah sedang di sibukkan dengan perusahaan kita yang semakin menurun. Harga saham menurun dan nilai pasar perusahaan juga terjun bebas. Kita jangan mencari masalah baru." Kata Robin.
"Ikut apa kata Ayah saja lah. Oh ya, aku ingin menemui Sendiego di Country Home. Aku ingin bertarung di sana. Aku merasa sangat bosan begini terus." Kata Hyden.
"Pergi lah. Tapi ada satu yang tidak boleh kau ganggu untuk saat ini. Namanya Riko. Dia akan menghadapi petarung dari negara 'B' Tak lama lagi. Kau jangan menjadi pengacau persiapan nya. Ini karena apa bila dia kalah, maka 200 juta taruhan ku akan lenyap." Kata Robin memperingatkan.
"Aku ingin menghadapi yang terbaik." Kata Hyden tak mau kalah.
"Aku punya rencana untuk mu Hyden. Tapi kau harus sabar!" Kata Robin.
"Tunggu lah sekitar 1 bulan lagi. Kau akan tau rencana ku. Yang pastinya jika berhasil, ratusan juta Dollar akan menjadi milik kita." Kata Robin sambil menunjukkan ekspresi wajah licik.
"Aku akan menunggu. Asalkan aku bisa bertarung, maka aku akan bertarung. Untuk saat ini aku harus berlatih lagi dengan lebih giat." Kata Hyden.
"Pergilah temui Ramond!. Dia pasti mampu untuk melatih mu." Kata Robin.
"Baik Ayah. Aku mungkin akan mengajak dia sekalian berangkat ke Starhill." Kata Hayden lalu segera keluar dari ruangan itu.
"Tetap berada di Country home. Jangan injakkan kaki mu di Starhill!" Kata Robin mengingatkan.
...*********...
Di waktu yang sama, rombongan Jerry, Ryan, Daniel dan Joanna telah berangkat menaiki bus meninggalkan kampung halaman Ryan.
Ada rasa haru di hati mereka ketika harus kembali ke Starhill. Ini karena hati mereka terlanjur suka dengan suasana pedesaan itu.
Tapi semua yang di rasakan Jerry dan Daniel tentu saja sangat berbeda dengan Joanna.
Dia yang selama 19 tahun ini tidak pernah kemana-mana selain di desa saja sengat penasaran seperti apa kehidupan di kota.
Beruntung baginya Ryan dan Daniel sangat pengertian. Dia sengaja di biarkan bersebelahan dengan Jerry di kursi belakang. Sedangkan Ryan dan Daniel berada di depan kursi mereka.
Joanna tampak sedikit salah tingkah. Namun disisi lain dia juga sangat senang karena bisa sebangku dengan Jerry.
__ADS_1
Sesekali Joanna akan mencuri-curi pandang ke arah Jerry dan berpura-pura tidak melihat ketika Jerry tanpa sengaja memandang ke arah nya.
"Ada apa Joanna? Sepertinya ada sesuatu yang sedang kau fikirkan." Tanya Jerry yang pura-pura tidak tau kalau Joanna sering mencuri pandang kepadanya.
"Eh.., ah. Tid.., tidak apa-apa Kak. Aku hanya membayangkan seperti apa nanti kehidupan di kota." Kata Joanna beralasan.
"Kehidupan di kota jauh berbeda dengan kehidupan di desa. Di sana tidak ada istilah siang atau malam. Selalu saja sibuk sepanjang waktu. Sangat sulit untuk dapat beristirahat dengan nyaman jika berada di kota." Kata Jerry menjelaskan.
"Lalu Kak, apakah di kota nanti aku akan memiliki teman seperti di kampung? Aku mendengar kalau orang-orang di kota itu kebanyakan sombong dan memandang rendah orang-orang yang datang dari desa. Kak Ryan juga pernah bercerita kalau dia sering mendapatkan hinaan serta cacian ketika dia baru saja tiba di Starhill." Kata Joanna.
"Tidak semua orang-orang di kota seperti itu Joanna. Jenis orang yang seperti kau sebutkan tadi dimana-mana juga ada. Bahkan di kampung tempat tinggal mu juga pasti ada." Kata Jerry.
"Tapi di kampung tidak ada yang berani menghina ku Kak. Ini karena aku adalah keponakan kepala desa." Kata Joanna sambil tersenyum manis.
"Disana nanti kau juga tidak akan mendapat perlakuan seperti yang kau khawatirkan. Katakan saja bahwa kau adalah keponakan tuan Ronald!" Kata Jerry.
"Siapa itu tuan Ronald Kak?" Tanya Joanna ingin tahu.
"Tuan Ronald itu adalah orang yang cukup berpengaruh di Starhill. Suatu saat aku akan memperkenalkan dirimu kepada tuan Ronald ini. Tunggu saja ketika pekerjaan ku beres semua." Kata Jerry berjanji.
Sepanjang perjalanan mereka terus saja mengobrol ntah apa saja untuk sekedar menghilangkan kejenuhan disepanjang perjalanan tersebut sampai akhirnya Joanna tertidur.
Awalnya Joanna tertidur biasa-biasa saja dengan bersandar di kursi tempat duduk nya. Namun lama-kelamaan Joanna kini rebah dan bersandar di bahu Jerry membuat aliran darah Jerry seperti berhenti mengalir.
Jerry sengaja membiarkan Joanna bersandar di pundak nya. Dia sama sekali tidak berusaha untuk menghindar sampai ketika Daniel yang usil melirik kebelakang.
"Ryan.., lihat adik sepupu mu! Hahaha..." Kata Daniel tertawa membuat Ryan terpaksa harus melirik juga karena penasaran.
"Enak benar dia dapat bantal empuk buatan pabrik William." Kata Ryan sambil tersenyum sumbing.
"Apa yang kalian tertawakan? Jangan berisik! Nanti Joanna terbangun." Kata Jerry menegur kedua sahabatnya itu.
"Urusan betina saja onta jantan ini begitu lunak dan perhatian." Kata Daniel mencibir.
"Kau ini Daniel. Otak mu selalu saja mesum." Kata Jerry sambil menjambak rambut Daniel dari belakang.
"Jerry. Sesampainya kita ke Starhill nanti, aku akan meminta cuti 1 hari lagi. Aku akan menemui Hellen." Kata Daniel meminta persetujuan Jerry.
"Aku juga Jerry. Aku akan menemui Jenny. Aku juga kangen." Kata Ryan.
"Terserah kalian lah. Berarti gaji kalian di hitung 29 hari karena mengambil cuti ketika waktunya kerja." Kata Jerry sambil menahan tawa.
"Huhh.., dasar. Pantas saja kau bisa kaya secepat itu. Perhitungan mu persis seperti orang Belanda." kata Daniel.
"Aku kaya karena warisan. Jika tidak, aku bahkan lebih miskin dari kalian yang hanya bercita-cita sebagai pedagang tomat." Kata Jerry sambil menahan tawa karena takut Joanna akan terbangun.
"Baiklah. Itu sepadan dari pada mati kering menahan rindu." Kata Daniel yang di sambut oleh ledakan tawa Ryan.
Bersambung...
__ADS_1