PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Jerry belum sadarkan diri


__ADS_3

Seminggu sejak peristiwa berdarah di jembatan Metro city.


...*...


Clara masih terus memandangi sosok pemuda dalam keadaan terbungkus lilitan kain putih yang dia tolong seminggu yang lalu.


"Bu. Belum ada tanda-tanda bahwa orang ini akan sadar dalam waktu dekat." Kata Clara sambil menatap wanita setengah baya yang duduk sambil menyiangi sayuran.


"Kita hanya bisa berdoa semoga Yang Maha kuasa memberikan pertolongan-Nya kepada pemuda itu." Kata wanita setengah baya itu.


"Sebenarnya siapa lelaki ini Bu? Aku melihat di dompet nya terlalu banyak kartu dan kertas-kertas yang sudah tak terbaca."


"Kau jangan lancang Clara! Tidak sopan melihat milik orang lain tanpa izin dari yang punya." Kata wanita setengah baya itu menegur.


"Aku hanya melihat sekilas bu. Karena ketika aku menarik tubuhnya dari terus terbawa arus, aku sempat melihat dompet nya nyaris jatuh. Lalu aku mengambilnya dan sudah aku simpan. Nanti ketika dia sadar, aku akan mengembalikannya." Kata Clara.


"Hmmm..., kau jangan sekali lagi berani lancang ingin mengetahui isi dompet itu! Bagaimanapun itu tindakan yang tidak terpuji. Kau mengerti Clara?" Tanya wanita setengah baya itu.


"Clara mengerti bu. Aku janji tidak akan melakukannya lagi." Kata Clara berjanji.


"Apa yang kalian bicarakan berdua ini?" Tanya seorang lelaki tua yang baru saja masuk dari pintu belakang.


"Ini Clara, Ayah. Dia terlalu berani melihat isi dompet pemuda ini." Kata wanita itu.


"Kau nasehati anak mu baik-baik Roxana! Dia masih terlalu muda." Kata lelaki tua itu.


"Maaf Kek. Clara tidak akan melakukannya lagi." Kata Clara sambil tertunduk.

__ADS_1


"Apa kau sudah berlatih pagi ini?" Tanya lelaki tua tersebut.


"Sudah kek." Jawab Clara singkat.


"Kau harus rajin mengasah kemampuan mu Clara! Kedepannya kau harus bisa menjaga dirimu sendiri. Aku tidak tau entah esok atau lusa dipanggil oleh Sang Pencipta. Atau kau yang akan meninggalkan aku untuk mencari kehidupan yang layak. Bekali dirimu! Jangan sampai karena kemalasanmu membuat kau menyesal di kemudian hari." Kata lelaki tua itu menasehati.


"Clara mengerti Kek." Kata Clara lagi.


"Semua kau mengerti. Asal di tanya, semua kau iyakan. Tapi ketika praktek, kau terlihat seperti orang bodoh. Pergi latihan lagi sekarang!. Pemuda itu tidak akan bangun walau pun kau menjaganya di situ sepanjang waktu." Kata lelaki tua itu membentak Clara.


Mendapat bentakan seperti itu, Clara langsung terlonjak kaget dan buru-buru beranjak keluar dari dalam rumah tersebut.


"Anak itu sama seperti ayahnya. Seperti pahat. Jika tidak di ketuk, tidak akan jalan." Kata Roxana sambil menghela nafas dalam-dalam.


"Kau merindukan suami mu Roxana?" Tanya lelaki tua itu.


"Aku ingin mencarinya. Akan tetapi aku takut karena musuh nya sangat mengenali wajah ku. 22 tahun aku terpaksa bersembunyi di sini. Untung ada kau Ayah angkat yang berbelas kasih sudi merawat kami sampai sejauh ini."


"Ah sudah lah. Itu adalah kewajibanku sebagai seorang manusia yang memiliki akal dan hati nurani. Aku selalu mendoakan suatu saat kau bisa kembali berkumpul bersama suami mu."


"Semoga saja dia masih hidup. Kemungkinan yang terbesar adalah dia mengira bahwa aku sudah mati. Andai dia tau bahwa aku masih hidup, dia pasti akan mencari ku." Kata Roxana dengan yakin.


"Yah. Kejadian mu dulu sama persis dengan anak muda ini. Saat aku menemukan mu, kau tidak sadarkan diri selama hampir 3 minggu dan hanya bergantung pada susu sapi perahan untuk mengisi perut mu. Sungguh sangat-sangat beruntung Clara lahir waktu itu dalam keadaan tidak kurang satu apapun." Kata lelaki tua itu sambil mengenang waktu dia menyelamatkan Roxana yang hanyut terbawa arus sungai.


"Ada sesuatu yang tidak aku mengerti, Ayah." Kata Roxana dengan ekspresi wajah takut-takut.


"Apa yang ingin kau mengerti Roxana?" Tanya lelaki tua itu.

__ADS_1


"Maafkan jika pertanyaan ku ini menyinggung perasaanmu atau aku terlalu ingin tau tentang hal-hal yang sengaja menjadi rahasia bagimu." Kata Roxana sambil membuang muka karena tidak berani menatap wajah lelaki tua itu.


"Kau ingin tau mengapa aku mengasingkan diri di tempat terpencil seperti ini?" Tanya lelaki tua itu.


"Benar Ayah. Mengapa kau tidak tinggal di perkampungan Mountain slope. Selama 22 tahun ini aku juga tidak pernah melihat mu berbaur dengan orang di perkampungan itu." Tanya Roxana dengan sedikit heran.


"Panjang. Ceritanya sangat panjang." Kata lelaki tua itu sambil menarik nafas berat.


"Dulu aku adalah jawara di kampung itu. Namun ketika itu pernah sekali terjadi bentrok dengan seorang pengusaha yang kaya raya dari kota. Ketika itu aku adalah kepala desa di Mountain slope itu jauh sebelum Morgan lahir."


"Pengusaha kaya itu sengaja ingin mengorek hasil bumi di desa itu dan berhasil mempengaruhi adik ku yang juga sangat di hormati di kampung itu. Awal mula memang berjalan dengan lancar. Akan tetapi semakin lama mereka semakin menjadi-jadi. Banyak hutan di tebang dan kayu nya di bawa ke kota tanpa ada yang mampu mencegahnya."


"Lalu apa yang terjadi setelah itu Ayah?" Tanya Roxana.


"Ketika itu di pinggiran sungai ini hutan masih sangat lebat. Namun semakin lama penduduk desa semakin resah karena mulai terjadi banyak bencana alam seperti tanah longsor dan banjir kilat. Penduduk desa terbagi menjadi dua ketika itu. Ada yang berpihak kepada adik ku dan menjadi antek-antek orang kaya dari kota tersebut, dan ada yang berpihak kepadaku."


"Sampai suatu hari kesabaran ku benar-bener telah habis. Aku bersama beberapa warga yang sudah muak mulai membuat perlawanan. Seluruh alat berat dan mesin mereka habis kami bakar dan kami berhasil mengusir orang kaya itu keluar dari kampung ini. Namun adikku tidak terima. Karena ketika orang kaya itu pergi, maka dia tidak mendapatkan apa-apa lagi dari hasil pembalakan liar tersebut."


"Suatu hari pertengkaran hebat terjadi antara aku dan adikku. Mungkin karena saat itu kami masih terlalu muda dan memiliki darah yang masih panas, akhirnya terjadi peekelahian yang berujung kepada aku telah membunuh adikku itu. Aku merasa sangat terpukul dan menyesal dengan tewasnya adikku di tangan ku sendiri. Sampai pada satu titik aku bersumpah tidak akan ikut campur lagi dalam segala urusan yang terjadi di kampung itu."


"Pada akhirnya aku menyerahkan jabatan kepala desa kepada kakeknya Morgan dan aku menyingkir ke pinggiran hilir sungai ini lalu menetap disini sendirian." Kata lelaki tua itu mengisahkan kisah nya kurang lebih puluhan tahun yang lalu.


"Siapa nama orang kaya itu Ayah? Dari kota manakah dia. Lalu, apakah dia tidak pernah datang lagi ke kampung ini?" Tanya Roxana ingin tau.


"Ramendra. Orang kaya itu bernama Ramendra. Dia berasal dari MegaTown. Namun semenjak kejadian itu, aku tidak pernah lagi mendengar cerita tentang dirinya. Ini karena mungkin sudah tidak ada lagi yang bisa dia jarah di kampung itu." Kata lelaki tua itu.


"Pernah sekali aku pergi ke MegaTown untuk membalasnya. Ini karena, jika bukan karena dirinya, aku tidak mungkin membunuh adikku sendiri. Namun setelah aku tiba di MegaTown, mataku terbuka. Ternyata dia memiliki kekuatan yang besar dengan ratusan bahkan ribuan anak buah. Akhirnya aku mundur dan kembali ketempat ini sambil berusaha menenangkan hati dan merelakan yang telah terjadi." Kata lelaki tua itu dengan mata sembab.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2