PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 53 Ternyata


__ADS_3

"Kamu hampir saja menggagalkan rencana kita. Kalau Haikal sampai tahu kalau kamu berniat memerkosa Rinata maka jangan harap ia akan mudah kita kendali kan seperti sekarang. Mungkin mulai sekarang ia akan mencurigai kamu dan malah menyelidiki yang sebenarnya". Teriak Meri penuh emosi.


Sebenarnya ia tidak terlalu memperdulikan tentang balas dendam yang ingin Ronal lakukan tapi ia cemburu karena Ronal tetap masih penasaran dengan Rinata padahal semalam ia sudah bersusah payah melayani Ronal hingga puas.


"Kamu jangan kurang ajar sama aku, Meri! Ingat kamu disini itu sebagai apa? Sudah bagus aku mau mengajak mu kerja sama tapi bukan berarti kamu bisa memperlakukan ku sesuka hati". Bentak Ronal sambil mencengkram leher Meri dan membawanya bersandar di dinding.


"Ma - mas, sa - sakit". Lirih Meri dengan nafas yang tersengal - sengal kerana sesak nafas.


"Maka nya jangan lancang kamu sama aku. Makin hari makin kurang aja kamu jadi orang. Ingat, kamu itu hany wanita murahan. Begitu pula dengan gadis muda itu, tiada istilah perkosa dalam kamus wanita seperti kalian. Bukan kah yang kalian ingin kan memang sebuah belaian dari lelaki...". Kesal Ronal dengan mata yang melotot tajam menusuk ke arah Meri.


"Ma - maaf kan, a - aku mas". Meri berusaha menahan tangan Ronal agar tidak semakin kuat mencekik lehernya.


"Kamu jangan pikir aku takut membunuh, aku hanya menjadi kan mu wanita simpanan ku dan selama nya akan seperti itu". Imbuh Ronal sambil menghempaskan tubuh Meri hingga mencium lantai.


Bibir Meri mengeluarkan darah segar, wanita menyentuh bibirnya sambil meringis kesakitan. Tiba - tiba pintu terbuka memperlihatkan anak buah kepercayaan Ronal.


"Maaf mengganggu, bos. Saya dapat laporan kalau saat ini Haikal sedang mengajak Rinata keluar dari kota mati". Lapor anak buah Ronal bernama Jamil. Nafas nya tersengal - sengal habis berlari dari jarak yang cukup jauh hanya untuk melaporkan perkara itu pada Ronal.


"Aku tahu, ia sudah meminta izin sebelum nya pada ku. Tapi kirim anak buah kita untuk memata - matai pergerakan mereka. Laporkan apa saja yang mereka lakukan di luar sana dan pastikan perekam suara di mobil yang mereka gunakan masih berfungsi dengan baik supaya kita tahu dengan jelas arah tujuan dan rencana mereka". Sahut Ronal.

__ADS_1


"Saya sudah meminta tiga orang anak buah kita untuk mengikuti kemana saja mereka pergi. Dan perekam suara di mobil itu juga masih berfungsi dengan baik. Dari hasil yang saya dengar tadi, mereka berencana menuju sebuah mall untuk membeli beberapa baju untuk kegiatan malam ini kata nya". Imbuh Jamil melaporkan lagi.


"Bagus, pantai terus pergerakan mereka. Jika ada hal yang mencurigakan segera laporkan pada ku. Kamu boleh keluar sekarang!". Usir Ronal dengan nada ketus..


Sebelum keluar, Jamil sempat melirik ke arah Meri yang duduk di sofa sambil membersihkan bekas luka yang ada di bibir nya. Jamil prihatin dengan nasip wanita itu tapi sama sekali tak berani menyapa apa lagi menghampiri wanita itu karena di ruangan ini juga ada Ronal yang sedang memerhatikan mereka berdua.


"Keluar saja cepat, jangan peduli kan wanita si4lan itu!". Ketus Ronal seperti bisa membaca pikiran anak buah nya itu.


"Baik, bos. Saya pamit keluar dulu". Balas Jamil salah tingkah.


Kini kembali hanya ada Ronal dan Meri di dalam ruangan itu. Ronal sama sekali tidak memperdulikan Meri yang sedang meringis kesakitan oleh perbuatanya tadi.


Meri ingin keluar ruangan mencari seseorang yang bisa mengobati luka nya tapi dengan cepat di cekal oleh Ronal. Tangan Meri kembali di tarik dengan kasar oleh Ronal menuju kamar pribadi nya.


"Bukan cuma kamu yang punya dendam besar ada orang lain Ronal. Tapi aku juga, mulai saat ini kau adalah musuh utama ku. Bagaimana ambisiusnya kamu ingin membalas dendam pada keluarga Purbalingga sampai menggunakan Haikal sebagai alat, begitu juga aku yang akan membalas dendam pada mu". Batin Meri sambil pasrah di geluti oleh Ronal.


*


*

__ADS_1


Semenjak malam pembunuhan Juragan Jarwo. Tak lagi pernah muncul di desa kelahiran nya atau di desa sekitarnya. Ia sekarang berada di sebuah pulau terpencil yang cukup jauh dari tempat tinggal nya. Ia tinggal bersama sebuah keluarga yang selama ini hidup di bawah hasil kiriman uang dari nya. Ternyata sebagian besar pemberian Ronal untuk membesarkan Haikal ia kirimkan ke keluarga ini. Dan sisa nya baru ia gunakan untuk kebutuhan nya sendiri..


"Sampai kapan kamu akan bersembunyi di sini? Bukan kah ingatan mu sudah semakin membaik, bahkan fisik mu sekarang sudah sangat kuat untuk melawan mereka dan merebut kembali wanita yang kamu cintai". Tanya Karim pada sahabatnya yang bernama Rehan..


Rehan pernah mengalami luka parah di bagian kepala sehingga membuatnya hilang sebagian besar ingatan nya. Sebuah pigura yang di dalam nya ada foto sepasang keluarga yang tampak bahagia selali dalam genggaman nya.


"Aku hanya menunggu waktu yang tepat, Rim. Lagi pula ibu dan Desi belum tahu kalau aku sebenarnya tahu kalau istri pertama ku masih hidup. Mereka selalu berpikir kalau aku percaya setiap cerita yang mereka karang agar aku percaya kalau Aisyah sudah mati". Sahut Rehan menjelaskan pada Karim..


"Aku sebenarnya meras kesihan pada putra mu itu, Han. Tapi karena saran dan permintaan mu aku sanggup - sanggupi aja untuk mendidik nya seperti itu. Aku sempat merasa aku orang yang paling kejam dalam membesarkan anak". Karim malah mengungkit cara mendidik seseorang pada Rehan.


"Kamu nggak perlu merasa bersalah pada putra ku, Albar. Yang kamu lakukan sudah tepat jika tidak, mungkin dia juga nggak akan sekuat sekarang. Aku nggak akan menyalah kan mu malah aku berterima kasih karena kamu mau menjaga nya untuk ku. Kamu teman yang paling baik untuk ku". Imbuh Rehan dengan senyum hangat nya.


"Iya, aku ikhlas menjaga nya untuk mu, maka nya uang pemberian bos Ronal tidak sepenuhnya ku gunakan untuk diri ku sendiri, sebagian juga aku kirim untuk mu. Anggap aja itu uang hasil kerja keras putra mu selama ini. Dia anak yang baik dan penurut". Balas Karim.


"Aku heran dengan mu, Rim. Anak ku kau agung - agung kan tapi anak gadis kamu pula malah kamu jual pada pria tua untuk melunasi hutang mu. Ya aku membenarkan ucapan mu tadi kalau kamu orang yang paling kejam di dunia ini sebagai seoarang ayah". Rehan kembali menatap foto yang ada di pigura itu..


"Dia bukan anak ku". Balas Karim malas.


"Hah, maksud kamu apa, sih? Bukankah Karina anak mu bersama Sukma istrimu". Tanya Rehan heran..

__ADS_1


"Aku memang menyayangi nya sama seperti aku menyayangi Albar. Tapi sikap ibu nya membuat aku muak. Kebetulan pula aku memiliki hutang yang cukup banyak pada juragan Jarwo, sekalian aku gunakan anak gadis istri ku itu untuk melunasinya supaya dia sakit hati. Tapi aku tak menyangka kalau gadis itu punya keahlian bela diri yang cukup kuat hingga bisa menumbangkan semua pengawal dan berhasil membunuh juragan tamak itu". Jawab Karim menceritakan pada Rehan dengan ekspresi heran..


"Padahal selama ini yang aku tahu dia sama sekali tak punya keahlian itu. Maka nya untuk menyelamatkan diri, aku kabur ke pulau ini dan tinggal bersama kalian". Sambungnya.


__ADS_2