PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Riko menolak untuk kalah


__ADS_3

Country home.


Sebuah mobil sport Audi R8 warna silver melaju membelah jalan dan berbelok ke arah kantor perusahaan pinjaman uang berbunga Arsend yang di kelola oleh Sendiego.


Sebenarnya kantor ini hanyalah sebuah kedok saja untuk menjerat para peminjam kemudian akan di jadikan sebagai sapi perahan.


Banyak sisi gelap yang sengaja di tutup-tutupi di kantor yang bangunannya memiliki tiga lantai ini.


Seorang pemuda memakai T-shirt abu-abu dengan gagah keluar dari mobil. Sebelum dia memasuki kantor tersebut, dia berpapasan dengan seorang wanita yang dia kenal sebagai Manager Alice.


"Kau datang Riko?" Kata Manager Alice menyapa sambil tersenyum manis.


"Ya. Aku di telepon oleh Sendiego untuk datang ke sini. Apakah badut itu ada di dalam?" Tanya Riko.


Mendengar Riko menyebut Sendiego dengan sebutan badut, Manager Alice setengah mati menahan tawa.


"Kenapa Alice? Apakah dia ada atau tidak?" Tanya Riko tidak sabaran.


"Dia menunggu mu di ruangan nya." Kata Manager Alice.


"Hmmm... Terimakasih." Kata Riko.


"Riko. Apakah kau hari ini sibuk? Jika tidak, apakah kau berencana untuk mentraktir ku makan siang?" Tanya Manager Alice.


"Maaf Alice. Aku ada janji dengan seseorang." Kata Riko lalu dengan acuh meninggalkan Manager Alice yang tampak sedikit kecewa.


"Tok.., tok.., tok.."


"Masuk..!"


"Sendiego.., ada apa kau menyuruhku datang kemari?" Tanya Riko sebaik saja dia memasuki ruangan kerja Sendiego.


"Duduk lah dulu Riko! Aku ada sesuatu yang akan aku rundingkan dengan mu." Kata Sendiego sambil mempersilahkan Riko untuk duduk.


"Katakan saja Sendiego! Aku buru-buru saat ini." Kata Riko yang tak menyukai basa-basi busuk dari Sendiego.

__ADS_1


"Begini Riko.." Kata Sendiego menyodorkan amplop besar berisi uang kepada Riko.


"Apa maksud mu Sendiego? Apakah ada sesuatu di balik pemberian mu ini?" Tanya Riko curiga.


"Ini 50 ribu kau ambil lah. Anggap itu sebagai tanda kebaikan dari ku karena kau telah banyak memenangkan uang untuk ku." Kata Sendiego.


"Aku dapat merasakan bahwa ada sesuatu di balik pemberian mu ini." Kata Riko.


"Hahaha.., kau terlalu berprasangka buruk kepadaku Riko." Kata Sendiego sambil tertawa.


"Aku tau di dalam perut mu itu ular semua Sendiego! Setiap pemberian selalu mengandung maksud." Kata Riko yang mulai curiga.


"Baik. Aku akan berterus terang sekarang. Kau tau Riko, bahwa akhir-akhir ini aku tidak lagi mendapatkan untung dari kemenangan mu bertarung." Kata Sendiego mengawali perkataan nya.


"Aku bermaksud menawarkan 5 juta Dollar kepada mu dengan syarat agar kau mau mengalah dalam pertarungan yang akan di langsung kan awal bulan depan." Kata Sendiego.


"Hahahaha..., Kau ingin aku kalah seperti pecundang, Sendiego? Kau jangan membuat ku merasa lucu!" Kata Riko sambil tertawa.


"Dengar lah dulu Riko. Jika kau merasa kurang, aku bisa menambahkannya dua juta lagi. Kau kan tau bahwa semua orang kini bertaruh hanya untuk mu. Jika begini terus, lalu siapa yang akan melawan taruhan mereka. Tidak ada lagi yang berani memasang taruhan untuk jagoan lain. Aku hanya ingin agar kau berpura-pura kalah dan 7 juta akan menjadi milik mu." Kata Sendiego membujuk Riko.


"Apa susah nya untuk berpura-pura kalah Riko? Setelah ini kau bisa menang kembali. Tujuannya hanya untuk mengubah pemikiran mereka bahwa kau juga manusia biasa yang bisa juga kalah." Kata Ramond menyelah pembicaraan antara Riko dan Sendiego.


"Kau tau apa tentang semua ini Ramond. Yang kau tau hanya urusan uang dan uang. Harga diri bagimu tidak penting. Tapi semua itu jelas berbeda bagiku. Aku lebih baik mati daripada harus menelan kekalahan." Kata Riko dengan tegas.


"Kau benar-benar tidak bisa di ajak untuk bekerja sama Riko." Kata Ramond marah dan ingin memberi tamparan kepada Riko.


Belum lagi tangan Ramond mencapai sasaran, Riko dengan sigap telah menangkap tangan besar itu, memelintir nya sehingga membuat Ramond terkejut dan tiba-tiba saja wajah Ramond telah di kandaskan oleh Riko di atas meja kerja Sendiego.


"Kau hanya besar badan saja Ramond. Kau bukan lah lawan ku. Berani terlalu banyak bicara, Tangan mu ini akan aku patahkan." Ancam Riko.


"Sudah..., sudah.., sudah! Lepaskan dia Riko!" Kata Sendiego memerintahkan.


"Jika kau tidak mau mengalah di atas ring nanti, tidak apa-apa. Kau boleh pergi dan melakukan latihan untuk persiapan mu bertarung beberapa minggu lagi." Kata Sendiego.


"Baiklah. Jika tidak ada lagi yang perlu aku lakukan, maka aku akan segera pergi. Ingat Sendiego! Kau jangan ulangi sekali lagi dengan permintaan bodoh mu itu. Aku bukan Ramond yang bisa kau atur sesuka hati mu." Kata Riko sambil melepaskan tangan Ramond dari kuncian nya.

__ADS_1


"Kau boleh pergi sekarang!" Kata Sendiego.


Setelah Sendiego menyuruh Riko untuk pergi, Riko segera memutar tubuh meninggalkan ruang itu. Namun dia berbalik dan segera menyambar amplop berisi uang tersebut lalu segera kabur menuju ke mobil nya.


"Plak..."


"Kurang ajar." Kata Sendiego melampiaskan kemarahannya dengan membanting sesuatu di atas meja.


"Anak ini benar-benar tidak bisa di pandang sebelah mata. Aku khawatir suatu saat dia akan membunuhku jika aku tidak bertindak dengan cepat."


"Tuan Sendiego. Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Ramond.


"Sepertinya sudah tidak ada jalan lain. Aku harus melakukan opsi ke tiga yang telah di rencanakan oleh tuan besar." Kata Sendiego seperti berbicara untuk dirinya sendiri.


"Apa maksud anda Tuan?" Tanya Ramond yang tidak mengerti apa maksud dari kata-kata Sendiego barusan.


"Jika anak ini tidak bisa di ajak untuk bekerja sama, maka kita akan memaksanya untuk kalah."


"Bagaimana cara nya Tuan? Anak itu sangat liat sekali. Aku bahkan tidak mampu mengalahkan nya." Kata Ramond tanpa malu-malu lagi.


"Sekarang ini jawabannya ada pada Ramos. Kita harus bisa menggunakan Ramos untuk memaksa Riko agar kalah."


"Lalu, bagaimana caranya Tuan?"


"Kita akan memaksa Ramos untuk menghianati Riko. Hanya dia yang bisa melakukannya." Kata Sendiego.


"Sepertinya itu mustahil Tuan. Anda tau sendiri bagaimana kedekatan Riko dan Ramos ini." Kata Ramond merasa sangsi dengan gagasan ini.


"Jika dia tidak mau, maka paksa agar mau. Ramond..! Kau bawa beberapa anak buah mu dan sandra keluarga Ramos. Hanya dengan begini kita baru bisa memaksa Ramos untuk mengkhianati Riko." Kata Sendiego.


"Baiklah Tuan. Aku akan segera mengurus masalah ini."


"Hmmm.., segera lakukan tugas mu. Kabari aku setelah kau berhasil! Hanya dengan ini maka aku bisa mengintimidasi Ramos. Hahahaha..."


"Segera akan saya lakukan. Anda tunggu saja kabar baiknya." Kata Ramond segera keluar mininggapkan Sendiego.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2