
Beberapa jam yang lalu di mansion Purbalingga.
"Mumpung semua sudah ngumpul di sini, saya dan Aisyah ingin menyampaikan kabar baik untuk kalian semua. Tapi sebelum nya kami minta kalian tenang dulu, yah". Zack membuka pembicaraan saat semua keluarga nya sudah berada di ruang keluarga.
"Apa yang ingin kamu sampaikan, Zack? Katakan saja, kami sudah penasaran banget nih". Ujar Mawar, kakak angkat Zack dam Aisyah. Wanita itu sedang duduk sambil menemani putra nya yang berusia dua tahun bermain.
"Bagi ibu, nggak ada kabar yang lebih dari kabar keberadaan Albar, cucu ku". Begitu lah, Mega. Selalu saja memikirkan cucu kandung nya. Semenjak ia mengetahui kehilangan Albar, wanita tua itu seperti hilang semangat untuk menjalani hidup.
"Sabar lah, melodi. Pasti kabar gembira itu akan segera kita dengar, tapi kamu sabar ya". Bujuk Panji, suami Mega yang duduk di samping istrinya sambil merangkul lembut sang istri tercinta.
Zack dan Aisyah saling pandang sambil tersenyum mendengar ucapan sang ibu. Aisyah duduk di hadapan Mega dan meletakkan kepalanya di pangkuan sang ibu tersayang.
"Kabar yang ibu ingin dengar itu lah yang ingin Aisyah dan mas Zack sampai kan pada kalian semua, bu". Lirih Aisyah lembut.
Mega bahkan semua orang yang berada di ruangan itu sontak tercengang.
"Kamu bilang keberadaan Albar sudah di temukan, Syah? Apa itu benar, nak?". Tanya Panji memastikan ucapan Aisyah tadi.
Aisyah mendongak dan mengangguk meyakinkan mereka semua. Mega celingukan mencari keberadaan Albar, cucu nya. "Di mana dia sekarang, nak? Bawa dia ke hadapan ibu sekarang! Ibu sangat rindu dan ingin memeluk nya". Lirih Mega pada Aisyah.
__ADS_1
"Dia masih di desa, bu. Nanti sore baru datang ke rumah ini di hantar Josep dan Kali. Dia akan tinggal bersama kita mulai hari ini. Kalian semua bahagia kan?". Sahut Aisyah membuat Mega dan Panji nggak sabar menunggu sore hari.
"Kenapa nggak sekarang, nak. Ibu sudah nggak sabar bertemu dengan nya". Imbuh Mega.
"Kami sengaja meminta nya datang sore nanti, bu. Sebab ada yang harus kami sampaikan pada kalian semua sebelum kita menyambutnya masuk ke rumah ini". Imbuh Zack duduk di samping sang ibu mertua.
"Apa lagi yang ingin kamu sampai kan, Zack? Kamu jangan menunda membawa cucu ibu pulang, kamu tahu sendiri ibu sangat merindukan nya". Ujar Mega tidak sabar.
"Albar belum tahu identitas sebenarnya, dia masih menganggap dirinya itu bukan bagian dalam keluarga ini. Zack memutuskan untuk membiarkan nya berpikir seperti itu untuk sementara waktu. Kita harus menguji diri nya terlebih dahulu sebelum kita menyampaikan kenyataan yang sebenar pada Albar. Zack takut dengan berubah nya kehidupan nya secara drastis juga akan mengubah kepribadian nya". Jelas Zack sambil menggenggam tangan ibu mertuanya meminta persetujuan.
"Betul yang mas Zack katakan, bu. Aisyah setuju - setuju saja kalau Albar di uji dulu asal dia hidup dan tinggal bersama kita di rumah ini. Kami nggak ngelarang ibu atau siapa pun menyayanginya tapi dengan identitas nya yanh sekarang yah. Jangan pernah sebut atau sampai keceplosan menceritakan yang sebenarnya pada Albar. Ibu dan ayah setuju kan?". Bujuk Aisyah.
Panji membuang nafas berat, menurut nya untuk apa menyembunyikan identitas cucu nya. Tapi dia tidak bisa membuat keputusan sendiri, segala keputusan yang terbaik bagi Albar ada di tangan orang tua nya sendiri. Dia cukup memberi dukungan dan memberi nasihat jika di perlukan.
"Terima kasih karena ayah memahami keputusan kami. Tentang permintaan Ayah ingin membawa Albar masuk ke perusahaan itu sudah tentu akan kami lakukan tapi tidak sekarang, ia harus fokus melanjutkan pendidikan nya dulu. Kita harus membantu nya meraih impian nya terlebih dahulu sebelum membebankan nya dengan masalah perusahaan". Sahut Zack mendapat anggukan setuju dari Aisyah.
"Bagaimana menurut, ibu? Ibu bisa membantu kami kan?". Tanya Aisyah pada Mega yang diam saja tanpa memberi tanggapan.
Mega tidak ingin menjawab, ia harus memikirkan semua nya terlebih dahulu. "Ibu ingin ke kamar dulu". Pamit Mega.
__ADS_1
Semua nya membuang nafas berat, "Beri ibu waktu, ia harus menenangkan pikiran nya terlebih dahulu". Ujar Mawar menenangkan Aisyah yang sedikit khawatir jika sang ibu keberatan dengan rencana mereka.
"Iya, kak. Kalau pendapat kakak sendiri bagaimana?". Tanya Aisyah pada Mawar.
"Kakak nggak bisa memberi keputusan apa pun tentang keluarga kecil kamu. Kamu yang melahirkan nya, tentu kamu yang lebih mengerti anak kamu sendiri. Kalau kamu bimbang Albar akan berubah jika mendapat kekayaan, maka jelas keputusan kalian ini benar. Tapi jika menurut kamu dia tidak akan terpengaruh sama sekali bukan kah ini akan memperpanjang kesengsaraan anak kamu? Itu hanya pendapat kakak, keputusan yang terbaik ada di tangan kalian berdua, kakak kan nurut saja dengan rencana kalian". Sahut Mawar.
"Kalau nggak ada apa - apa lagi, kakak mau tidur kan Aman dulu di kamar, dia tampak udah ngantuk dari tadi". Sambung nya pamit pada semua orang yang ada dalam ruangan itu.
"Kalau bibi juga sependapat dengan Mawar. Menurut bibi semua nya tergantung dengan sifat putra kamu sendiri. Selama belasan tahun dia tidak tinggal bersama kita, hidup sengsara di luar sana sudah tentu ia rasakan. Meskipun kamu mengenali sifat anak kamu sendiri, tapi keseharian nya dan sifat orang di sekeliling nya bisa saja mengubah sifat dan kepribadian nya. Kita tidak tahu kan". Mama kandung Mawar membuka suara mengeluarkan pendapat nya juga.
"Jadi menurut bibi renacan kami untuk menguji Albar terlebih dahulu udah benar?". Tanya Aisyah memastikan.
Bu Saras mengangguk, ia menepuk pundak Aisyah lalu pamit keluar untuk istirahat. Tubuh nya yang udah tua membuatnya cepat merasakan capek. "Bibik pamit ke kamar dulu, yah. Nanti bibik bantu membujuk ibu kamu. Bibi yakin dia bisa memahami keputusan kalian itu".
"Terima kasih ya bik. Istirahat lah, bibik pasti udah capek". Sahut Aisyah.
"Ayah juga mau ke kamar dulu nyusul ibu kalian. Udah jangan terlalu di pikirkan, ayah juga akan bantu membujuk ibu kami supaya setuju dengan rencana kalian, semua demi kebaikan Albar dan keluarga ini juga kan". Pamit Panji menepuk pundak Zack dan membelai pipi putrinya.
"Terima kasih, yah". Sahut Aisyah dan Zack serentak.
__ADS_1
"Oh, iya. Jangan lupa pesan pada chef untuk membuat jamuan penyambutan untuk cucu ayah. Kita harus menyambutnya nanti sore di meja makan". Setelah mengatakan itu Panji keluar ruangan menyusul istrinya ke kamar.
Zack merangkul bahu istrinya masuk ke pelukan nya. Ia tahu jika perasaan wanita itu sedang khawatir jika sang ibu tidak setuju dan keberatan dengan rencana mereka.