PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 34 Bibik yang baik Hati


__ADS_3

POV Haikal


Aku mengangguk menyetujui permintaan tante Jasmin. Aku memang akan membalaskan dendam mama dan papa ku tapi bukan berarti aku harus menuruti permintaan kalian. Aku akan memastikan identitas ku yang sebenar terlebih dahulu. Siapa keluarga ku yang sebenarnya saja aku masih kurang pasti.


"Sebentar lagi tante minta bibik hantar kan makanan, kamu pasti sudah lapar". Ujar tante Jasmin saat berdiri dekat pintu.


"Nggak perlu tante, aku akan ke dapur untuk ambil sendiri. Lagi pula saya kurang nyaman makan di dalam kamar sendirian. Sudah terbiasa makan ramai - ramai. Kita baru bertemu sekeluarga harus kumbul bersama untuk saling mengenali, bukan". Tawar ku.


Bukan berniat untuk sok akrap dengan semua penghuni rumah ini tapi seperti nya mereka tidak berniat membawa ku keliling rumah ini dan hanya ingin aku menghabiskan waktu dalam kamar.


"Ta - tapi kamu pasti masih capek. Jadi di kamar aja dulu yah. Besok tante akan pastikan semua anggota keluarga kita menyambut kamu. Sebenarnya tidak semua tahu kalau kamu sudah kembali hari ini karena keadaan nya tiba - tiba". Jelas tante Jasmin menolak permintaan ku.


"Kalau begitu nggak papa lah tante. Tapi nggak papa kan kalau aku keluar untuk lihat - lihat rumah ini. Aku belum pernah melihat rumah semegah ini sebelum nya jadi penasaran aja". Aku masih bersikukuh kalau ia tak mengizinkan maka aku terpaksa harus keluar diam - diam dari kamar ini.


"Nggak bisa, sayang. Kamu istirahat dalam kamar aja dulu, yah. Tante takut kamu tersesat dalam rumah ini, kalau besok tante akan menemani kamu keliling lihat - lihat rumah ini yah". Sudah ku duga kalau tante Jasmin tetap tidak mengizinkan ku keluar kamar.


"Ya udah kalau nggak boleh. Lain kali juga boleh kok". Sahut ku pasrah.


Tante Jasmin kemudian pamit keluar. Aku semakin yakin kalau mereka bukan keluarga ku yang sebenar. Sikap tante Jasmin sangat mencurigakan. Menurut ku, jika aku benar keluarga mereka seharusnya menyambut ku dengan hangat, bukan malah memintaku makan di dalam kamar sendirian. Sudah terpisah belasan tahun mustahil mereka tidak merindukan ku jika semua yang mereka ucapkan adalah kebenarannya.


Tiba - tiba aku teringat waktu pertama kali ke mansion Purbalingga. Mereka semua berkumpul di meja makan untuk menyambut kedatangan ku padahal mereka tahu aku hanya seorang anak remaja yang bekerja sebagai supir di sana tapi mereka malah menganggap ku sebagai keluarga sendiri. Kata nek Saras majikan mereka memang seperti itu, tidak membandingkan status siapa pun di rumah itu.


Berada di sekitar mereka seperti berada dalam keluarga sendiri. Kasih sayang yang mereka berikan tidak pernah ku terima saat berada di rumah mama Sukma. Meskipun sudah berkorban banyak untuk mereka tapi tetap saja sering di manfaat kan.


Tok,, tok,, tok,,

__ADS_1


"Masuk saja". Teriak ku..


Pintu di buka dari luar dan tampak seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan meneteng nampan berisi makanan dan segelas jus. "Ini makan malam untuk den Albar. Semoga den suka". Ucap pelayan itu dengan tatapan iba.


"Bibik kenal aku?". Tanya ku dengan mengerutkan dahi.


"Sudah tentu! Bibik lah yang merawat kamu saat masih berada di rumah ini sehingga mereka membawa kamu...". Bibik itu segera menutup mulut nya dengan wajah ketakutan.


Kenapa ia harus terlihat takut seperti itu. Pasti ia ingin mengatakan sesuatu tapi ia baru sadar jika ia hampir saja keceplosan.


"Terus apa bik?". Tanya ku sedikit mendesak.


"Ma - maksud bibik, bibik yang merawat kamu semenjak nyonya meninggal dunia. Ya maksud bibik itu". Sahut nya seperti salah tingkah.


"Kalau begitu bibik pamit dulu, nanti bibik datang lagi untuk ambil piring kosong nya". Pamit bibik itu dengan keringat bercucuran di dahi nya. Tampak nya ia sangat ketakutan karena hampir saja keceplosan.


Aku hanya mengangguk membiarkan kan nya keluar kamar. Sikap nya sangat aneh. Yakin kalau dalam kamar ini adalah kamera tersembunyi atau semacam perekam suara. Aku akan mencari dan merusak nya secara diam - diam.


Menatap sepiring nasi lengkap dengan teman - teman nya dan segelas jus di atas meja. Sebenarnya lapar dan ingin segera menghabiskan nasi itu tapi aku khawatir kalau di dalam nya sudah di taburi obat tidur seperti sebelumnya.


Mengambil tas yang ku bawah dan mengambil sebungkus roti di dalam nya dan mulai melahap roti itu hingga tangkas. Tapi bagaimana dengan besok. Aku tak mungkin bisa tahan tidak maka selama berhari - hari karena khawatir dalam makanan yang mereka berikan ada obat yang bisa7 membuat ku tertidur pulas sedangkan aku rela ikut mereka ya untuk mencari sebuah petunjuk tentang keluarga ku yang sebenar.


Tapi bagaimana aku bisa keluar dari kamar ini kalau aku saja yakin dalam kamar ini ada sebuah kamera pengintai atau semacam perekam suara. Aku memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu agar sedikit lebih segar untuk berpikir.


Setelah selesai berpakaian menggunakan baju yang tersedia dalam lemari, pintu kembali di ketuk.

__ADS_1


"Masuk!". Sahut ku.


Pintu terbuka dan bibiku tadi kembali masuk untuk mengambil nampan yang sama sekali belum ku sentuh. Ia tampak kaget karena nasi dan jus itu masih belum berkurang sedikit pun tapi ia tetap mengangkat nampan itu tanpa mengeluarkan sedikit pun suara bahkan ia tampak takut untuk menatap ku.


"Bibiku baik - baik saja, kan?". Aku khawatir dengan keadaan nya. Ia sama sekali menjawab pertanyaan ku tapi setiap pergerakan tak lepas dari perhatian ku.


Aneh nya ia tampak menyulitkan sesuatu di bawa jam meja kemudian bergegas keluar dari kamu dengan langkah terburu - buru. Aku bersikap biasa - biasa saja agar tidak terlihat mencurigakan, meskipun sekarang tiada siapa pun dalam ruangan ini tapi aku merasa di perhatikan.


Berpura - pura mengagumi setiap perabotan di setiap sudut kamar ini untuk mencari sesuatu yang mencurigakan. Bang Jo sempat menyinggung tentang sebuah kamera pengintai yang terdapat begitu banyak jenis dari yang paling besar ke paling kecil. Aku juga sempat menyusuri google melihat semua jenis kamera itu dan cara memasang nya.


Sengaja mematikan lampu secara keseluruhan untuk mendeteksi kamera pengintai, di tangan sudah ada senter yang memancarkan cahaya inframerah.


"Aduh kok bisa mati semua, sih padahal aku cuma ingin mematikan lampu utama saja untuk istirahat. Harus cari tombol lampu secepat nya nih". Ujar ku sengaja mengelabuhi siapa saja yang sedang mendengar kan di balik layar agar ia tak curiga. Moga saja.


Dengan menggunakan penglihatan yang jeli, dengan sekelip mata aku bisa melihat ada beberapa kamera pengintai yang tersembunyi di kamar ini. Aku akan merusak nya satu persatu dalam waktu yang berbeda agar tidak di curigai.


Tak sampai semenit, lampu meja segera ku hidup kan agar tidak menimbulkan kecurigaan. Terdapat satu kamera yang bisa memperlihatkan pergerakan di sekitar meja yang tersimpan di sebuah mata mainan berbentuk ultramen.


"Wah, pasti ini mainan ku saat aku kecil. Lucu juga tapi sayang aku sudah tidak menyukai mainan semacam ini sekarang". Ucap ku di hadapan mainan itu. Memutar kepalanya lalu rusak lah kamera pengintai itu.


Aku akhirnya bisa melihat apa yang di selip kan oleh bibi tadi di sela jam meja. Sebuah kertas berukuran kecil dengan tulisan...


'Hati - hati, setiap minuman yang di berikan terdapat obat tidur atau semacamnya. Tapi jangan khawatir karena makanan saya jamin aman'.


Ternyata bibik itu memperingati ku agar hati - hati dalam meminum sesuatu yang di berikan. Tapi beruntungnya makanan tidak. Semoga saja.

__ADS_1


__ADS_2