PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Perjalanan ke Metro city


__ADS_3

Dua mobil BMW dan Mercedes benz meluncur dengan kecepatan tinggi menuruni jalan berbukit dari Mountain slope menuju ke Metro city.


Di dalam mobil yang di depan, tampak seorang lelaki setengah baya dengan tampang dingin dan di wajah nya terdapat bekas parut luka memanjang dari alis sampai ke pipi itu dengan fokus mengemudikan kendaraan nya melintasi jalan berbukit di malam yang gelap gulita itu.


Di samping kursi pengemudi, tampak seorang wanita setengah baya yang masih terlihat sisa-sisa kecantikan masa muda nya dengan setia menemani sang sopir tersebut. Sedikitpun dia tidak tidur walaupun sang sopir telah berkali-kali menyuruh nya untuk tidur barang sesaat.


"Sayang.., tidur lah barang sejenak! Perjalanan masih sangat panjang." Kata lelaki setengah baya itu menyuruh wanita di sampingnya untuk tidur.


"Biarlah Drako. Aku akan menemanimu ngobrol di sepanjang perjalanan ini. Biarkan Ayah saja yang tidur. Dia sudah tua. Tentu fisiknya tidak sekuat dulu." Kata wanita separuh baya itu sambil menoleh kebelakang melihat seorang lelaki tua tertidur sambil sesekali tubuh nya miring ke kiri dan ke kanan mengikuti irama goncangan pada mobil.


"Ya sudah. Jika mengantuk, jangan di paksakan." Kata lelaki setengah baya yang ternyata adalah Drako itu.


Sementara itu, satu lagi mobil yang di kemudikan oleh pemuda yang didampingi oleh seorang gadis yang sangat cantik juga tak kalah fokus mengemudikan mobil nya.


Sesekali dia melirik ke arah gadis yang berada di kursi sebelah pengemudi.


"Kau mengantuk Clara?" Tanya pemuda itu.


Yang di tanya hanya menggeleng lembut dan melirik ke arah pemuda tampan yang sedang mengemudikn kemdaraan tersebut.


"Jika kau mengantuk, tidur lah! Perjalanan masih jauh." Kata pemuda itu lagi.


"Kak Jerry, seberapa jauh lagi perjalanan kita ke kota?" Tanya gadis itu dengan lembut.


"Aku juga tidak tau pasti. Aku pernah ke desa itu dari Starhill. Tidak pernah dari Metro city mengendarai mobil." Kata Jerry menjawab.


"Tapi pernah dari jalan air kan?" Tanya gadis itu bercanda.


"Hahaha... Kau menyendir ku Clara?" Tanya pemuda yang ternyata adalah Jerry itu.


"Hehehe... Tidak juga Kak. Aku tidak menyindir mu. Itu tadi adalah ungkapan fakta dan kenyataan." Kata gadis itu mencibir.


"Ya. Itu adalah fakta. Tapi aku tidak menikmati perjalanan melalui air sungai itu. Aku malah penasaran bagaimana rasanya." Kata Jerry becanda.

__ADS_1


"Kau mau merasakannya sekali lagi Kak? Jangan lah. Itu saja untung kau tidak mati." Kata gadis itu.


"Kau mengkhawatirkan aku, Clara?" Tanya Jerry.


"Siapa bilang aku mengkhawatirkan mu." Jawab Clara.


"Hahaha... Ya sudah. Keberangkatan ku kali ini menantang maut. Lebih baik bagiku jika tidak ada yang merasa khawatir." Kata Jerry sambil tersenyum kecut.


"Kak. Mengapa harus ada perkelahian? Mengapa harus ada yang saling mencelakai? Apakah kalian tidak bisa hidup berdampingan dengan damai?" Tanya Clara.


"Kau tidak mengerti tentang musuh ku ini, Clara. Mereka bisa melakukan apa saja demi tujuan mereka. Andai aku tidak mencari gara-gara, maka mereka yang akan memulai." Kata Jerry.


"Ayah ku di bunuh, kakek ku di khianati, aku juga hampir mati oleh mereka. Perusahaan ku ingin di tumbangkan oleh mereka. Bagaimana seharusnya menurut mu. Mereka yang menjual. Apakah aku tidak boleh membeli?" Tanya Jerry sambil menghembuskan nafas berat.


"Iya memang. Walau bagaimanapun, kau berhak untuk membela diri. Namun kau harus menjaga dirimu baik-baik. Aku khawatir kau akan di sakiti oleh mereka." Kata Clara mengungkapkan kekhawatirannya.


"Katanya tadi tidak khawatir?!" Kata Jerry mencoba menggoda Clara.


"Ihh... Siapa juga yang khawatir." Kata Clara sambil membuang muka.


"Sehebat dan sekaya apa dirimu di kota Kak? Apakah kau memiliki sawah yang luas, ladang yang lebar sejauh mata memandang, atau kau memiliki gudang besar yang di penuhi oleh padi?" Tanya Clara ingin tau.


"Aku tidak memiliki semua itu, Clara. Tapi yah bisa dikatakan seperti memiliki sawah dan ladang yang luas lah." Kata Jerry.


"Kalau begitu, aku percaya bahwa kau memang orang yang kaya." Kata Clara memuji Jerry dengan tulus.


Mendengar perkataan yang sangat polos dari Clara ini, Jerry hanya bisa tersenyum dan memegang kepala Clara sambil mengusap-usap rambut nya membuat Clara berusaha menghindar.


"Setelah sampai di kota, apakah kau akan mengajak ku jalan-jalan Kak?" Tanya Clara.


"Iya. Aku akan mengajak mu jalan-jalan. Tapi setelah aku berhasil mengawal ketiga sahabat ku yang sedang menjadi incaran musuh. Setelah itu, aku akan mengajak mu pergi kemanapun kau mau." Kata Jerry.


"Apakah dengan mobil ini? Pasti tuan Raven akan marah. Ini kan mobil pinjaman." Kata Clara lagi dengan luguh nya.

__ADS_1


"Nanti kita bisa meminjam mobil ayah mu. Beres kan?." Kata Jerry sambil terus mengendalikan stir mobil nya.


"Mana mungkin ayah ku mengizinkan. Aku melihat bahwa dia sangat marah padamu ketika kau menceburkan mereka ke sungai." Kata Clara.


"Hahaha... Kalau dia tidak mengizinkan mobilnya kita pinjam, aku akan mencabut satu ban mobil nya. Biarkan dia kebingungan mencari ban yang baru." Kata Jerry.


"Awas kau Kak. Aku akan mengadukan rencana jahat mu kepada Ayah. Biar kau tau rasa di hajar oleh ayah ku." Kata Clara mengancam.


"Kau tega?" Tanya Jerry lalu mengeluh. "Oh Tuhan. Betapa malangnya nasib ku ini. Gadis yang aku cintai ternyata tidak berpihak kepadaku." Kata Jerry berpura-pura sedih.


"Jangan gitu Kak. Aku hanya becanda."


"Tapi.., apakah yang kau ucapkan tadi itu benar-benar dari lubuk hati mu?" Tanya Clara.


"Benar. Aku mencintaimu jauh di dalam hati ku. Bertahta di sanubari jiwa raga dan lubuk hati yang terdalam." Kata Jerry.


"Panjang amat Kak." Tanya Clara sambil menahan tawa.


"Dengan mu harus serba panjang." Kata Jerry.


"Apanya Kak yang panjang?" Tanya Clara merasa aneh.


"Maksud ku, cinta nya harus panjang. Percaya pada ku Clara. Aku berjanji akan menjaga mu dan berusaha semampu dan sekuat tenaga ku untuk membahagiakan serta melindungi mu." Kata Jerry dengan tulus.


"Aku percaya kepada mu Kak. Aku tau kau sangat mencintai ku." Kata Clara sambil tertunduk malu.


"Bodoh sekali aku ini. Mengapa aku tiba-tiba merasa terlalu percaya diri?" Kata Clara dalam hati.


"Terimakasih Clara. Terimakasih karena telah mempercayakan hati mu untuk hati ku. Terimakasih juga karena telah memberikan kesempatan kepadaku untuk merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan selama 22 tahun ini. Sandarkan harapan mu dan gantungkan cita-cita mu di pundak ku! Aku akan melakukan apa saja selagi tidak melanggar rambu-rambu lalu lintas untuk membahagiakan dirimu." Kata Jerry dengan tulus.


"Kau sama sekali tidak bisa berkata romantis Kak. Aku tidak akan menyuruh mu melanggar rambu-rambu lalu lintas demi kebahagiaan ku. Yang ada bukan kebahagian, melainkan malapetaka yang kita dapat." Kata Clara membuat Jerry tersedak dalam tawa.


Waktu terus saja berlalu seiring dengan perjalanan mereka yang sudah jauh sekali meninggalkan gubuk kakek Malik menuju ke Metro city.

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan itu, Jerry hanya membiarkan saja Clara merebahkan kepalanya di pundaknya dengan sesekali Jerry membelai rambut lembut Clara dengan penuh kasih sayang.


Bersambung...


__ADS_2