PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Ryan melarang tuan Smith mengadakan pesta


__ADS_3

Bab 85


Malam itu di bukit metro saat ini sangat tenang. Udara Yang sejuk membuat ketiga pemuda yang sedang berdiri di depan pagar bangunan megah itu sedikit menggigil.


"Huh.., udara disini benar-benar sangat dingin. Tidak seperti di Starhill. Kalau begini terus kita bisa membeku disini Jerry." Kata seorang pemuda yang berada di samping kanan mengeluh kepada sahabatnya yang bernama Jerry itu yang berdiri di tengah.


"Benar Ryan. Aku juga merasakan hal yang sama." Kata seorang lagi yang berdiri di sebelah kiri.


"Daniel, Ryan.., menurut alamat yang aku ketahui, disini lah letak Villa kakek ku." Kata pemuda yang berdiri di tengah yang ternyata adalah Jerry itu.


"Bagaimana Jerry? Kau telepon saja kakek mu supaya kita bisa masuk dan beristirahat. Tapi apa kau yakin kalau kakek mu pemilik Rumah super besar ini?" Tanya Daniel sedikit ragu.


"Entahlah Daniel. Semua akan terjawab ketika aku selesai menelepon." Kata Jerry sambil mengeluarkan ponsel nya.


Saat ini di ponsel nya sudah masuk sekian puluh pesan teks dan suara yang membuat Jerry sedikit terkejut.


Dia segera membuka aplikasi whatsapp dan melihat disana ada pesan dari tuan Barry, Ronald, Drako, David dan Kevin.


"Ah.. abaikan saja dulu. Nanti aku akan membalas pesan ini satu per satu." Kata Jerry dalam hati. Lalu dia pun segera mendail nomor tuan besar Smith untuk membuat panggilan.


Setelah beberapa saat lamanya menunggu, akhirnya panggilan itu pun terhubung.


"Hallo Jerry..., apakah kau sudah sampai di bandara sekarang?" Tanya seseorang yang suaranya seperti suara lelaki tua di seberang telepon.


"Iya kakek. Aku bahkan sudah sampai di Bukit Metro." Kata Jerry.


"Hah.., Apa.? Mengapa Ronald tidak memberi tahu kepadaku jika kau sudah bertemu dengannya?" Tanya lelaki tua yang ternyata adalah Tuan besar Smith itu.


"Aku tidak bertemu dengan nya kek. Aku kemari menggunakan taxi dan sudah sampai di Bukit Metro. Hanya saja aku tidak pasti yang mana satu dari Villa-villa ini yang menjadi tempat tinggal kakek."


"Jerry..., Kau tunggu di situ dan berikan lokasi mu pada kakek. Kakek akan menjemput mu segera." Kata Tuan Smith buru-buru mengalir panggilan.


"Bagaimana Jerry?" Tanya Daniel penasaran.


"Aku akan mengirim lokasi kita saat ini kepada kakek ku. Tunggu lah sejenak Daniel, mereka akan menjemput kita disini." Kata Jerry yang membuat lega dihati kedua sahabat nya itu.


Saat ini Jerry kelihatan sedang mungutak-atik ponsel nya dan mengirim lokasi dimana dia berada saat ini menggunakan whatsapp ke nomor whatsapp milik kakek nya.


Semenit setelah itu tampak orang-orang berpakaian serba hitam berlarian dari samping bangunan Villa itu dan membuat barisan di depan pintu.


"Treeeeng....."

__ADS_1


Terdengar pintu pagar terbuka sendiri membuat ketiga pemuda itu terkejut dan segera menyingkir dari pagar bangunan megah dan mewah itu.


Mereka bertiga kini memperhatikan ke halaman dan pintu Villa ketika seorang lelaki tua keluar dengan memegang tongkat kuning ke-emasan melangkah penuh wibawa di ikuti beberapa pengawal berbadan besar di belakang dan samping kiri-kanan nya.


Kini ketiga pemuda itu saling pandang dan bertanya, "Jerry, Apakah orang tua itu adalah kakek mu?" Tanya Daniel yang sedikit ketakutan melihat para pengawal berbadan besar itu sangat ramai di halaman Villa menuju ke arah pagar dimana Jerry dan kedua sahabatnya berdiri.


"Seharusnya benar Daniel. Aku baru sekali bertemu dengan nya di Hillstreet. Namun aku sangat mengenal tongkat kuning ke-emasan yang berada di tangan nya itu. Itu pasti kakek ku." Kata Jerry sangat yakin.


"Oh.., Syukurlah jika begitu Jerry. Sebaiknya kita tunggu saja disini." Kata Ryan yang tidak lepas dari memperhatikan lelaki tua yang di kawal ramai orang berperawakan tegap itu.


Begitu iringan orang yang berada di halaman Villa itu telah sampai di dekat ketiga pemuda yang berdiri itu, Jerry yang merasa bahwa lelaki tua itu adalah kakek nya berinisiatif untuk maju ke depan. Namun langkahnya terhenti ketika Ryan menarik ujung bajunya.


"Tetap disini Jerry!" Kata Ryan yang merasa ada yang tidak beres. Memang di antara mereka berempat, Ryan adalah orang yang paling peka terhadap sesuatu di sekitar nya. Ini terbukti ketika penghianat Pero membuntuti mereka, Ryan lah orang pertama yang mengetahui akan hal itu.


Jerry yang merasa baju nya di tarik dari belakang oleh Ryan tidak berusaha menolak. Dia tetap berdiri di tempat nya menunggu rombongan itu sampai.


"Kalian bertiga.., ikuti aku masuk kedalam.!" Kata lelaki tua itu sebaik saja sampai di hadapan ketiga pemuda itu, dan memutar tubuh nya mengarah kembali ke halaman Villa di ikuti oleh ketiga pemuda itu dari belakang.


"Dingin sekali sikap kakek mu Jerry." Kata Daniel berbisik disamping telinga Jerry.


"Jaga kata-kata mu Daniel! Kakek Jerry memiliki alasan mengapa dia begitu." Kata Ryan menyuruh Daniel agar tidak sembarangan bicara.


Daniel dan Jerry hanya diam saja mendapat teguran berturut-turut dari Ryan.


"Kalian semua berjaga-jaga di luar. Perhatikan setiap gerakan yang mencurigakan!" Kata lelaki tua itu memberi perintah kepada para pengawal.


"Kami mengerti Tuan besar." Kata mereka serentak.


Lelaki tua itu mengangguk puas dan kini berpaling ke arah ketiga pemuda itu.


"Kalian bertiga, mari masuk kedalam.!" Kata lelaki tua itu lagi. Kemudian dia terus masuk ke Villa di ikuti oleh Jerry, Daniel dan Ryan.


Sesampai nya mereka di dalam ruangan yang sangat luas itu, Orang tua itu lalu berbalik dan segera memeluk Jerry dengan erat.


"Cucu ku. Akhirnya kau datang juga mengunjungi ku disini." Kata Tuan Smith sambil memeluk Jerry membuatnya menjadi gelagapan.


"Kakek, Sebenarnya ada sesuatu yang sangat penting yang ingin aku sampaikan. Itu lah sebab nya aku membererani kan diri datang ke Metro City ini." Kata Jerry sambil melepaskan pelukan dari kakek nya itu.


"Hmmmm..., Pasti itu adalah sesuatu yang sangat penting." Kata Tuan Smith menebak.


"Benar kek. Sesuatu yang akan saya sampaikan ini berhubungan dengan hidup dan mati nya keluarga William ku kek." Kata Jerry.

__ADS_1


"Sebaik nya mari kita duduk dulu. Aku akan menyuruh kepala pelayan untuk menyiapkan makan malam untuk kita. Kepulangan mu ini harus di rayakan secara besar-besaran biar semua penduduk Bukit Metro ini tau bahwa pewaris yang hilang bagi 2 keluarga besar telah kembali ke rumah." Kata tuan Smith dengan bersemangat.


Jerry hanya tersenyum saja mendengar perkataan kakek nya lalu memandang ke arah Ryan.


Saat itu juga senyum senang di wajah Jerry berubah menjadi kerutan-kerutan pada dahi nya ketika dia melihat Ryan menggelangkan kepalanya.


Semua kejadian ini tidak lepas dari perhatian tuan Smith. Maka dengan wajah di liputi tanda tanya dia segera berkata, "mengapa Jerry? Apakah sahabat mu ini tidak suka jika aku merayakan kepulangan cucu ku kedalam keluarga ini?" Tanya tuan Smith.


Jerry yang mendengar pertanyaan dari kakek nya ini segera menatap ke-arah Ryan sebagai bentuk pertanyaan.


Ryan yang mengetahui bahwa tatapan semua orang kini mengarah kepadanya hanya menarik nafas dalam dan mulai membuka suara.


"Maafkan aras kelancangan saya ini Tuan besar. Tapi walau bagaimana pun Jerry adalah sahabat saya. Kami berteman bukan baru sehari dua hari. Kami telah menerima Jerry sebagai sahabat bahkan sebelum kami tau bahwa dia dari keluarga kaya. Tepat nya ketika Jerry ini dikenal sebagai mahasiswa yang melarat dan miskin. Ada beberapa alasan mengapa saya tidak menyetujui jika kepulangan Jerry ini jangan terlalu di besar-besarkan." Kata Ryan berusaha menjelaskan pandangan nya kepada tuan Smith.


"Oh..., mari silahkan duduk dulu. Kita akan membahas ini bersama secara santai dan sambil minum teh." Kata tuan Smith yang segera membawa ketiga pemuda itu menuju meja besar dan mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Tadi kau mengatakan bahwa kepulangan Jerry tidak harus di rayakan secara besar-besaran. Dapatkah anak muda ini memberikan penjelasan kepada orang tua seperti saya ini!?" Pinta tuan Smith merendah.


"Begini Tuan besar. Sejak kami masih berada di bandara Starhill sampai kami berada di Metro City ini, saya merasa bahwa kami bertiga telah di ikuti oleh sekelompok orang yang tidak menunjukkan diri mereka. Itu lah sebab nya mengapa saya tidak menyuruh Jerry untuk menghampiri para pengawal yang berada di bandara tadi. padahal saya yakin bahwa mereka adalah orang-orang yang sengaja di kirim oleh Tuan besar. Bagaimana pun kemungkinan itu sangat besar mengingat Jerry adalah cucu Tuan besar satu-satunya."


"Andai Jerry menghampiri mereka, tentu saya akan melarang nya. Syukur lah bahwa Jerry tidak mengenali mereka dan terus saja keluar dari bandara seperti layaknya kebanyakan orang." Kata Ryan lalu berhenti sejenak.


"Mungkin Tuan besar ingin tau alasan saya? Ini adalah kedatangan kami ke Metro City ini tidak luput dari perhatian musuh bisnis keluarga Jerry. Bagaimana pun saya sempat mendengar kata-kata tuan Barry ketika di Lotus mansion mengatakan bahwa ayah Jerry terbunuh oleh pesaing bisnis nya. Bukankah begitu Tuan?" Tanya Ryan.


"Benar.., sangat benar sekali." Kata Tuan Smith yang mulai dapat membaca jalan fikiran Ryan.


"Atas alasan ingin mengalihkan perhatian musuh-musuh keluarga Jerry lah mengapa kami berdua berinisiatif untuk ikut serta bersama Jerry. Ini karena agar mereka tidak dapat memastikan siapa Jerry yang asli di antara kami bertiga mengingat kami adalah pemuda mahasiswa satu kampus dengan usia yang sama. Mungkin saat ini mereka sangat kebingungan." Kata Ryan sambil tersenyum.


"Itu lah alasan mengapa aku menarik baju mu ketika kau akan maju menyongsong Tuan besar tadi Jerry. Ini karena aku melihat beberapa bayangan berkelebat di kegelapan tidak jauh dari taman dibelakang kita berdiri tadi." Kata Ryan.


Mendengar alasan Ryan ini, Jerry akhirnya faham betapa Ryan sangat peka dan begitu jeli dengan keadaan di sekitarnya.


"Tuan besar, sejak kejadian Jerry di buntuti oleh seseorang yang saya rasa memiliki niat yang tidak baik, maka aku jarang jauh dari Jerry kecuali beberapa hari yang lalu ketika dia meminjam mobil Kevin untuk pergi sendirian."


"Kau.., kau tau itu Ryan?" Kata Jerry dengan heran.


"Apa yang tidak aku ketahui Jerry? Walaupun tidak di minta, aku juga mengetahui apa tujuan David dan Kevin pindah ke Golden university. Mereka adalah pengawal pribadi mu kan? Ini karena aku merasa tidak wajar di wajah mereka yang sangat ketakutan ketika kau mengalami luka pukul di kepala mu. Logika nya saja untuk orang yang baru kenal beberapa jam. Mereka tidak mungkin se-khawatir itu terhadap seseorang yang baru mereka kenal." Kata Ryan.


"Hal ini jelas berbeda dengan Lorna dan adele. Juga dengan Ivan. Ketika mereka bertiga sampai di halaman Lotus mansion pada malam perayaan ulang tahun Rindy, aku memperhatikan kegugupan David dan Kevin serta wajah biasa-biasa saja dari Ivan. Ini menandakan bahwa ada sesuatu antara kau dan mereka bedua."


"Jenius..., benar-benar jenius. Jerry, kau sangat beruntung mendapatkan sahabat-sahabat yang sangat peduli kepada mu." Kata tuan Smith dengan senyum terharu.

__ADS_1


"Hahaha. Kau telah menipu ku selama ini dengan berpura-pura bodoh Ryan. Aku membenci mu dengan sayangku." Kata Jerry sambil memeluk Ryan.


Bersambung...


__ADS_2