
Kancing baju Haikal di buka semua sehingga memperlihatkan tubuh Haikal yang tak lagi kurus seperti dulu. Kini tubuh nya penuh dengan otot dan perut nya berbentuk sixpack. Tapi baru saja ia ingin membuka kancing celana yang di gunakan Haikal. Tiba - tiba....
"Kalau kamu berani membuka nya maka kamu juga harus berani pada benda yang ada di dalam nya".
Rinata tercengang, ia menatap Haikal yang kini juga menatapnya dengan memainkan kening nya menggoda Rinata.
"Kamu udah sadar? Aku cemas banget sama kamu tadi mas. Aku sudah bilang jangan lakukan rencana itu karena beresiko besar. Lihat, mereka bahkan sengaja menyakiti mu seperti ini. Aku nggak mau tahu, lain kali mas nggak boleh pulang dalam keadaan seperti ini lagi atau aku nggak akan memaafkan mas lagi". Lirih Rinata sambil memukul dada Haikal perlahan meluapkan kekesalan nya.
"Aduh, sakit...". Rintih Haikal sambil memegang dada nya sakit.
"Hah, maaf - maaf. Aku nggak sengaja mas". Sahut Rinata sambil mengusap - usap dada bidang pria itu dengan lembut.
Di luar dugaan, Haikal malah menarik Rinata masuk ke dalam pelukan nya. "Maaf membuat mu cemas. Jujur dari tadi aku sama sekali nggak pingsan kok. Aku cuma...". Haikal mencoba menjelaskan apa yang terjadi tapi Rinata segera memotong ucapan nya.
"Sudah, mas. Jangan sok kuat di hadapan ku. Dari tadi jelas - jelas mas pingsan, mustahil sudah babak belur dengan darah yang berlumuran sekujur tubuh seperti ini nggak pingsan. Aku tak akan memuji mu kuat mas. Jangan coba - coba mencari perhatian dari ku". Potong Rinata nggak percaya.
"Ya udah kalau kamu nggak percaya tapi tolong aku masuk ke kamar mandi, aku harus membersihkan tubuh ku cepat, lengket banget tahu nggak". Pinta Haikal pada Rinata.
"Ba - baik lah". Sahut Rinata mencoba membuang muka kerana gugup. Ia memopong tubuh Haikal menuju kamar mandi dengan susah paya.
"Kata nya tadi tak pingsan, ini malah membebankan semua berat tubuh nya pada ku. Dasar penipu!". Batin Rinata kesal.
"Kamu tenang saja. Aku tak akan meminta mu membantu ku mandi kok". Bisik Haikal seolah tahu kalau saat ini Rinata sedang gugup.
"Siapa juga yang mau memandi kan mu. Ogah!". Cerca Rinata menahan malu sambil membuang muka kesal pada Haikal.
"Tapi kamu tetap harus berada di kamar mandi ini agar om Ronal tidak curiga". Tahan Haikal saat Rinata ingin keluar dari kamar mandi.
"Iya aku tahu kok, tapi aku harus keluar dulu mengambil handuk. Mas mau keluar tanpa menggunakan sehelai kain pun?". Sahut Rinata dengan muka masam nya.
__ADS_1
"Oh, silahkan tapi jangan lama - lama, yah". Goda Haikal sengaja membuat Rinata semakin kesal. "Aku suka lihat wajah nya yang cemberut kayak gitu. Comel". Batin Haikal sambil tersenyum hangat.
Rinata keluar lalu segera masuk dengan membawa handuk di tangan nya. Tapi alangkah terkejutnya dia saat masuk ternyata Haikal sudah membuka baju dan celana nya, hanya tersisa celana boxer menutupi alat nya.
"Ahhh, mas kok kayak gitu sih. Sana cepat mandi". Teriak Rinata sambil menutup matanya.
"Kamu, sih kembali nya cepat banget. Aku belum sempat membuka boxer ini". Goda Haikal lagi.
"Eh,,,mas...kenapa sih semakin hari mas semakin cabul begini aku nggak suka tau". Imbuh Rinata sambil menghentak - hentak kan kaki kesal.
"Iya, iya maaf. Soal nya kamu lucu banget sih kalau lagi marah gitu. Mas jadi candu lihat nya". Sahut Haikal jujur.
Pipi Rinata menjadi hangat mendengar perkataan Haikal tadi. Ia merasa seperti terkena renjatan elektrik dengan pujian itu. Ia membalikkan badan nya membiarkan Haikal mandi terlebih dahulu. "Ya udah sana mandi cepat. Luka di tubuh mu itu harus segera di obati". Pesan Rinata.
Selesai mandi. Haikal meminta handuk yang masih di pegang oleh Rinata. "Tolong Handuk nya".
Rinata tercengang sambil memukul dahi nya. "Kok aku lupa memberi kan handuk ini pada nya, sih?".
"Aduh kejauhan itu, mundur lagi". Pinta Haikal.
"Aduh, ribet banget sih kamu mas". Balas Rinata menuruti perkataan Haikal.
Ia mundur beberapa langkah, tapi...
Lantai yang di pijak Rinata licin karena sisa sabun yang di gunakan Haikal merembes keluar sehingga membuat gadis muda itu tergelincir dan jatuh.
"Ahhh,,,". Teriak Rinata tak bisa menyeimbangkan tubuh nya.
"Awas...". Haikal menyambut tubuh mungil Rinata agar tidak mencium lantai kamar mandi.
__ADS_1
Mata Rinata membulat sempurna saking kaget nya. Tatapan mereka berdua bertembung membuat hati kedua insan itu berdebar - debar tak karuan. Wajah Rinata kini memenuhi penglihatan Haikal. Tanpa ia sadari, bibir wanita itu seperti menghipnotisnya untuk mendekat.
Begitu pula dengan Rinata, ia tidak bisa bergerak saat wajah Haikal sangat dekat dengan wajah nya. "Aku kok nggak bisa kontrol tubuh ku, sih? Mas Haikal juga mau ngapain semakin mendekat kayak gitu? Aku harus ngapain sekarang!". Gumam Rinata bingung.
Secara refleks wanita itu menutup matanya menunggu Haikal menyelesaikan apa yang ingin ia lakukan pada diri nya. Semakin dekat, dekat.....dan dekat....
Rinata sudah berharap bisa mencium bibir Haikal tapi tak ia sangka tubuh nya malah terhuyung di tegakkan oleh Haikal. Dengan kecewa Rinata sengaja menyalahkan Haikal akan hal ini.
"Kamu kenapa menutup mata seperti itu? Ayoh, sedang menunggu apa? Hayoh bilang...". Goda Haikal sambil memakai handuk yang sudah berpindah ke tangan nya entah semenjak kapan.
"A - aku. ..ini semua salah mas Haikal lah". Tungkas Rinata salah tingkah.
"Kok malah salah ku sih?". Bingung Haikal.
"Iya lah, kenapa mandi itu nggak pandai pelan - pelan, lihat lantai di luar sini jadi licin karena sabun yang merembes keluar". Balas Rinata mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kamu jangan mengelak deh. Apa kata nya coba sabun ini dengan kamu menutup mata tadi? Nggak nyambung tahu nggak". Kata Haikal.
"I - itu... Ya ada lah kaitan nya. Udah sana. Aku juga mau membersihkan diri dulu. Sana menghadap belakang, jangan coba - coba mengintip ke belakang. Akan aku tambah luka di tubuh mu itu nanti". Ancam Rinata mendorong Haikal segera menjauh dari sudut pancuran air.
"Iya - iya, bawel banget sih". Sahut Haikal mengalah.
Sementara mereka berdua bertengkar. Ronal sedang mengirim hasil video yang ia buat tadi ke akun khusus klan Naga Merah. Ia sedang bersama beberapa orang anak buah kepercayaan nya untuk menunggu reaksi dari pihak Naga Merah mengenai video penyiksaan Haikal tadi.
Seperti dugaan mereka, sebuah pesan langsung masuk ke akun mereka setelah beberapa saat lalu video berhasil terkirim.
'Lepaskan anak itu. Katakan apa saja yang kalian ingin kan sebagai ganti nyawa anak itu. Kami akan segera penuhi'.
"Ide Haikal benar - benar berhasil. Tak perlu menunggu lama, mereka berhasil masuk ke dalam perangkap kita". Sahut salah satu kepercayaan Ronal bernama Ijal.
__ADS_1
"Kamu benar. Haikal memang sangat berguna untuk kita. Aku yakin mereka curiga jika Haikal adalah bagian dari mereka tapi karena tanda lahirnya telah ku hilangkan saat ia masih kecil, maka nya mereka sedikit ragu. Tapi aku sangat yakin kalau mereka menyayangi Haikal karena memang sudah ada firasat. Bukti nya mereka sanggup melakukan apa saja demi menebus nyawa Haikal". Sahut Ronal dengan senyum sinis nya.
"Tak sia - sia bos menculiknya dan membiayai hidupnya selama ini. Sekarang bos bisa dengan mudah nya menghancurkan klan Naga Merah itu". Imbuh Ijal lagi.