PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 8 Kekhawatiran Karina


__ADS_3

"Kakak pikir aku takut? Kakak nggak ada hak ngelarang aku untuk suka pada Haikal. Urus aja urusan kakak sendiri!". Hana mendorong Rudi keluar dari kamar nya dan mengunci pintu nya.


"Ahhh,,, sial!!!". Teriak Rudi kesal.


"Apa istimewanya si Haikal miskin itu? Semua cewek di sekolah suka sama dia bahkan Masyah dan adik aku sendiri pun sama. Si miskin itu pasti pakai pelet memikat lawan jenis bukti nya dia tak ada kelebihan apa pun banyak yang suka. La aku cuma si Karina itu aja yang selalu ngejar...Sial!!!". Gumam Rudi saat berjalan ke kamar nya.


"Aku akan melakukan segala cara agar si miskin itu sehingga malu menunjuk kan batang hidung nya lagi. Kalau boleh dia harus di buang sekolah sebelum hari kelulusan. Aku nggak mau usaha nya selama ini bertahan untuk tetap sekolah membuah kan hasil...". Sambung Rudi sambil berpikir jebakan apa lagi yang akan ia lakukan untuk menjatuhkan Haikal sejatuh - jatuh nya.


*


*


"Haikal!! Haikal!!". Teriak Sukma di awal pagi. Kebiasaan nya setiap pagi adalah mandi dengan air hangat yang di sediakan Haikal tapi hari ini semua nya belum tersedia, cucian kain masih numpuk bahkan sarapan belum tersedia.


"Kamu jangan pikir udah memenuhi permintaan ku untuk makan ayam kamu bisa seenak nya sekarang. Bangun! Atau aku hancurkan pintu ini!". Ancam Sukma sambil menggedor - gedor pintu kamar Haikal.


Karina yang merasa terganggu pun terbangun dari tidur nyenyak nya. "Ibu kenapa sih teriak - teriak. Meme kak pagi - pagi buta gini, udah gila?". Sindir Karina ketus.


"Ini anak mulut nya memang perlu di sekolahin. Mama sendiri saja di sumpahin terus. Kamu saj yang gila sana, dasar anak nggak guna!". Kesal Sukma.


Karina membuang muka malas. "Mamah ada apa teriak - teriak depan kamar Haikal? Mama nggak tahu kalau di lagi di rumah sakit?". Kata Karina.

__ADS_1


"Apa? Rumah sakit, ngapain?". Bingung Sukma.


"Maka nya mah. Tolong perhatian sedikit saja pada anak angkat mamah itu. Dia sakit saja pun mamah nggak tahu. Di pingsan semalam". Jawab Karina malas.


"Kenapa juga dia harus ke rumah sakit? Dapat duit dari mana coba bayar tagihan rumah sakit nya? Bagus uang itu di gunakan untuk beli makanan lezat, buang - buang duit aja". Sahut Sukma tak suka.


"Bapak dan mamah memang nggak ada hati perut sedikit pun kan? Anak sakit bukan nya di kasihani, lagi pun selama ini dia yang menghidupi kita semua, kalau dia sakit dan tidak dapat pengobatan lalu mati siapa lagi yang akan kerja? Mamah boleh nggak jangan egois sangat, sam aja dengan bapak". Ucap Karina kesal. Ia menutup pintu untuk melanjutkan tidur nya.


"Ini anak memang nggak ada sopan santun nya sama orang tua. Dia pikir biaya rumah sakit itu murah apa? Kita makan saja susah, kok. Dasar nggak ada otak". Gumam Sukma kesal.


"Sekarang siapa yang akan masak, cuci kain dan beres rumah? Aku mah ogah, bagus aku ke pasar untuk bertemu pangeran hati ku. Tapi kalau aku nggak masak bakalan paper dong. Mana si pangeran nggak pernah ngajak makan lagi. Jangan kan ngajak makan lirik aku aja enggak". Gumam Sukma kecewa.


Mau tak mau ia harus terjun ke dapur sendiri untuk memasak. Semenjak Haikal berusia sepuluh tahun, semua pekerjaan rumah di limpahkan pada nya sampai lah saat ini. Meskipun Haikal sakit, tetap saja dia yang harus melakukan nya atas paksaan Sukma. Haikal tipikal anak yang penurut tidak seperti Karina.


Sukma menggedor pintu kamar Karina untuk membangun kan nya ke sekolah. "Woi, kenapa belum bangun lagi, kamu nggak sekolah?". Teriak Sukma.


Karina yang sedang asik tidur pun kembali terganggu oleh teriakan sang mamah. Ia bangkit dengan malas dengan wajah yang cemberut.


"Mamah tuh bodoh atau gimana? Ini hari minggu mah, nggak ada yang sekolah pada hari ini. Mamah lebih baik tutup mulut mamah itu pakai lakban. Lebih baik nggak bersuara dari pada gangguin orang aja kerjaan nya...". Ujar Karina ketus..


"Apa kau bilang, kamu mau mamah sumpah kan kamu jadi batu? Selalu saja sakiti hati mama sendiri. Ingat, mamah yang kandung kan kamu selama satu tahun dan membesarkan mu sampai sebesar ini. Kamu jangan lupa itu!". Kesal Sukma nggak terima dengan sikap putri nya.

__ADS_1


Karina membulatkan mata nya kaget mendengar ucapan Sukma. Ia lalu tertawa terbahak - bahak. "Apa? Satu tahun? Nggak salah tuh mah. Udah yah, sebelum mamah semakin ngayur lebih baik jangan ngomong lagi, semakin terlihat kalau mama ini nggak ada otak. Dan yang perlu mamah ketahui aku bersikap seperti ini karena belajar dari mama dan bapak. Jadi jangan salah kan aku kalau bersikap seperti ini. Udah sana, jangan ganggu aku! Aku mau lanjut tidur". Sahut Karina lalu menutup pintu.


"Ini anak memang nggak mengenang budi langsung, awas aja kamu yah, mamah sumpahin kamu nggak akan pernah sukses seumur hidup". Teriak Sukma kesal.


Karina tersentak me dengar sumpah wanita yang telah melahirkan nya. Tiba - tiba bulir bening menetes dari mata nya. "Tega mamah ngomong kayak gitu". Lirih. Hatinya seakan teriris dengan pisau tajam.


"Kenapa aku harus di lahir kan dalam keluarga seperti ini? Ini nggak adil! Aku mau juga merasakan di sayangi dan cintai oleh orang tua sendiri. Tapi yang aku rasakan selama ini hanya keegoisan mereka. Tiada sati pun yang bisa ku banggakan dari mereka berdua. Hanya Haikal yang sering membuka pikiran ku bagaimana menjadi orang yang baik...". Karina tiba - tiba merindukan sosok Haikal.


Karina memutuskan tidak tidur lagi, tanpa mandi terlebih dahulu ia memakai pakaian terbaik yang ia punya untuk keluar rumah. Ia memutuskan untuk menjenguk Haikal di rumah sakit.


"Tapi rumah sakit mana dua orang pria semalam membawa nya? Aku harus mencari tahu di mana?". Gumam Karina bingung.


"Kamu mau kemana pakai baju cantik gitu? Nggak lihat sekarang mamah lagi repot gini kerjaan semua nya sendiri? Kamu malah senang - senang aja keluar rumah". Omel Sukma yang sedang menjemur pakaian.


"Haikal aja rela bangun jam 4 subuh melakukan nya sendiri sedangkan ia juga harus ke sekolah, bahkan sepulang sekolah pun di harus kerja lagi untuk kita. Mamah nggak pernah tub kasihan pada nya. Mamah baru sehari ini aja ngerjain nya udah ngeluh". Sahut Karina mengingatkan sikap Sukma yang tidak peduli pada keseharian Haikal.


"Jawab, jawab. Mulut kamu itu pandai sangat menjawab apa yang orang tua bilang. Jadi anak pun nggak guna. Haikal udah seharus nya lakuin semua itu untuk aku. Dia harus membalas jasa yang sudah ku korban kan untuk nya, kalau bukan aku dia nggak akan hidup sampai sekarang. Jadi jangan sama kan mama dengan anak tak guna itu". Kata Sukma tidak terima dengan perkataan Karina yang seolah membalas perbuatan nya terhadap Haikal selama ini.


"Terserah mama mau bilang apa. Aku nggak peduli". Karina melanjutkan langkah nya menjauh dari rumah.


Ternyata usaha nya untuk menyadarkan kedua orang tua nya untuk lebih mengerti keadaan Haikal tidak akan pernah berhasil. Dia malah semakin merindukan pria itu padahal baru semalam ia melihat nya.

__ADS_1


"Semoga kamu baik - baik saja". Lirih Karina dalam hati.


__ADS_2