
Setelah tuan Syam pergi meninggalkan ruangan pribadi Jerry di hotel mutiara itu, Jerry pun segera bersiap-siap untuk pergi meninggalkan ruangan nya tersebut.
Sebelum pergi dia berfikir sejenak. "Apa yang kurang?" Katanya dalam hati.
"Oh. Pakaian ini. Sialan sekali. Baju kesayanganku semua tinggal di Starhill. Tidak mungkin aku mengenakan pakaian seperti ini untuk menemui Jessica. Bisa-bisa nanti dia mencurigai aku." Kata Jerry lagi.
"Hmmm.., aku harus meminjam baju kakek Malik. Hahaha... Mampus lah. Semua pakaian orang tua itu adalah pakaian tahun 60-an.Ah jangan. Jangan seperti itu. Itu keterlaluan." Kata Jerry sambil garu-garu kepala.
"Bagaimana ini. Apakah aku harus kembali ke Starhill mengambil baju dan celanaku setahun yang lalu? Itu tidak mungkin."
Di saat Jerry sedang berfikir keras, ponselnya berdering menandakan ada seseorang yang menelepon ke nomor nya.
"Siapa lagi ini." kata Jerry dalam hati lalu mengeluarkan ponsel nya.
"Hallo Ayah." Kata Jerry begitu menjawab panggilan yang ternyata dari Drako itu.
"Jerry. Bagaimana dengan kemajuan dari rencana kalian?" Tanya Drako.
"Lancar, Ayah. Oh ya. Malam ini aku akan mengadakan pertemuan dengan Jessica warga negara Hongkong itu. Tapi aku tidak memiliki pakaian yang seperti aku kenakan di Starhill. Apakah Ayah memiliki pakaian yang sudah sekarat?" Tanya Jerry.
"Kau datang dulu ke rumah. Jangan asal bertemu saja. Jika Clara tau, kau bisa dicakar olehnya." Kata Drako memperingatkan.
"Ayah kan bisa membantu aku menjelaskan kepada Clara." Kata Jerry.
"Hey.., mengapa harus aku. Kalian yang memiliki hubungan mengapa harus aku?" Tanya Drako sengit.
"Aduh. Bisa timbul masalah baru lagi kalau begini."
"Kau datang kemari dan jelaskan kepada Clara. Jangan sampai dia mengetahui kau bersama wanita lain di belakangnya. Nanti yang aku takutkan adalah mereka malah berkelahi gara-gara dirimu. Datang ke sini cepat!" Bentak Drako.
"Iy.., iya. Iya aku datang." Kata Jerry mulai merasakan mulas di perut nya.
"Nah begitu. Jadilah seorang lelaki yang jantan. Aku tidak ingin di antara kau dan Clara merasa bahwa aku berpihak. Aku tidak akan berpihak kepada siapa pun. Clara adalah putri ku dan kau adalah anak yang aku besarkan, aku rawat, aku didik dengan tangan ku sendiri. Jangan buat aku menjadi serba salah." Kata Drako lagi.
"Siap Ketua." Kata Jerry buru-buru mengakhiri panggilan sebelum didamprat oleh Drako.
"Huhh.., memang susah juga menjadi lelaki yang tampan ini. Apa dosa ku ya Tuhan." Kata Jerry sambil tertawa sendiri karena merasa lucu.
Tak lama setelah itu Jerry menekan satu tombol di atas meja nya dan mulai memberi perintah. "Buka pintu lift khusus! Aku ingin keluar." Kata Jerry lalu segera meninggalkan ruangan itu menuju ke arah mobil Lamborghini nya yang di parkir di ruangan khusus.
*
Mobil Lamborghini sian meluncur mulus meninggalkan hotel mutiara menuju ke perumahan kelas menengah tidak jauh dari hotel mutiara tersebut.
Ketika mobil itu tiba di sebuah rumah dua lantai dan tampak sangat bersih, seorang pemuda mengenakan Jas hitam, celana hitam, sepatu kulit dan memakai masker turun dan langsung saja mendorong pintu rumah tersebut sesuka hatinya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Di dalam dia melihat seorang lelaki setengah baya berwajah bengis sedang duduk di atas kursi sambil mengisap cerutu.
"Ayah...?!" Kata pemuda yang baru tiba itu sambil membungkuk menyalami lelaki setengah baya itu dan mencium tangan nya.
__ADS_1
"Hmmm..." Hanya itu saja jawaban lelaki setengah baya itu.
"Di mana yang lainnya ayah?" Tanya pemuda itu.
"Bibi mu di dapur. Clara di atas. Kakek Malik sedang mengobati tuan muda Kenny." Kata lelaki itu menjawab pertanyaan pemuda tadi.
"Oh. Aku akan menemui Clara. Tapi sebelum itu, Aku ingin agar Ayah mengurus pakaian ku. Pakaian seperti ini tidak bisa aku pakai menemui gadis warga asing itu. Takutnya nanti dia malah mencurigai ku." Kata pemuda itu.
"Kau pergi ke lemari itu! Lihat di dalam kotak kayu. Di sana ada beberapa pakaianmu dulu ketika masih di Hillstreet." Kata lelaki setengah baya itu sambil menunjuk ke arah lemari.
"Wow.., aku rindu baju ku yang dulu. Ternyata masih Ayah simpan." Kata pemuda itu sangat gembira lalu bergegas menuju lemari tadi dan membukanya.
"Hahahaha... Ini baju ku ketika aku jadi sopir taxi. Uh masih ada aroma bensin nya. Hahaha. Oh ini baju ketika aku berlatih jurus-jurus tak masuk akal. Tapi sayang sudah tidak muat. Oh.., aku pakai yang ini saja. Ini adalah baju pemberian Via ketika aku ulang tahun yang ke 21 dulu."
"Via. Semoga kau tenang di sana." Kata pemuda itu dengan mata berkaca-kaca.
"Pergi ke kamar mu dan coba saja satu per satu. Siapa tau masih ada yang muat dengan ukuran tubuh mu yang sekarang!" Kata lelaki setengah baya itu.
"Yang ini pasti muat. Ini kan waktu aku ulang tahun dulu. Belum genap 2 tahun." Kata pemuda itu lalu menenteng sepasang pakaian dan memasuki kamar yang memang di sediakan untuknya walaupun sepanjang hari dia berada di hotel mutiara.
Setelah selesai berganti pakaian, pemuda itu keluar dari kamarnya dan memandang dirinya di cermin kaca.
"Jerry William yang dulu. Hehehe." Katanya sambil tertawa lalu bergegas berjalan menaiki tangga untuk menemui Clara.
Tok.., tok.., tok..!
"Hey Kak Jerry. Mengapa baru datang sekarang? Aku merindukan mu." Kata Clara begitu dia membuka pintu kamar dan melihat siapa yang datang.
"Maaf sayang. Aku sibuk seharian kemarin." Kata pemuda yang ternyata Jerry itu.
"Mau masuk?" Tanya Clara.
"Ayo ke bawah. Pantang memasuki kamar anak gadis orang sebelum menikah." Kata Jerry lalu segera berbalik dan menurini tangga diikuti oleh Clara.
"Pantang katanya. Di gubuk kakek Malik dulu mengapa tidak pantang?" Tanya Clara sambil mencibir.
"Itu kan karena gubuk kakek Malik hanya ada 1 kamar. Jadi yah sesekali aku masuk. Tapi kan tidak berbuat apa-apa." Kata Jerry.
"Nih kalau mau berbuat apa-apa." Kata Clara sambil mengacungkan tinju nya.
"Kasar begini alamatlah kau akan menjadi gadis tua." Kata Jerry becanda.
"Biarlah. Gadis tua tidak apa-apa." Jawab Clara.
"Selalu saja ada jawabanmu." Kata Jerry mulai jengkel.
"Oh ya Clara. Malam ini aku akan menemui seorang gadis. Kau jangan salah faham ya. Ini semua karena menjalankan rencana." Kata Jerry sedikit ragu-ragu.
"Ayah. Lihat Kak Jerry ini!" Kata Clara mengadukan Jerry kepada ayahnya.
__ADS_1
"Kalian urus saja urusan kalian sendiri." Kata lelaki setengah baya itu lalu bangkit dari kursinya dan segera berlalu menuju ruangan dapur menemui istrinya.
"Clara sayang. Kau harus mengerti bahwa aku ini bukan hanya milik satu orang. Aku ini adalah milik banyak orang yang menggantungkan nasib mereka di perusahaan yang aku miliki. Saat ini musuh sedang mengintai untuk menghancurkan perusahaan Future. Jika aku tidak mengatur rencana dengan menyamar agar bisa mendekati musuh guna mengorek informasi, lalu apakah aku harus pasrah saja menghadapi serangan dari lawan tanpa ada persiapan untuk menangkis serangan tersebut?" Tanya Jerry berusaha meminta pengertian Clara.
"Aku mengerti dengan semua yang kau katakan dan alasan yang kau kemukakan. Tapi satu hal yang harus kau ingat. Walau pun kau mendekati gadis penjahat sekalipun, dia itu punya hati. Bagaimana jika dia berharap kepadamu? Ketika kau mendekati gadis itu, kau sudah pasti akan menebar pesona dan harapan. Jika sudah begitu, maka aku tidak tau lagi." Kata Clara serius.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Mereka memiliki niat jahat. Apa aku tidak boleh memiliki rencana jahat dengan memanfaatkan kedekatanku dengan gadis itu?" Tanya Jerry.
"Begini saja Kak. Apa kau bisa menjamin bahwa nanti dia tidak akan menyukai mu?" Tanya Clara.
"Mana aku tau hati orang." Jawab Jerry.
"Nah itu dia. Aku tidak masalah kau mau dekat dengan siapa saja. Asalkan jangan beri harapan palsu kepada wanita yang kau dekati. Walau apapun misi yang kau emban, jangan berikan harapan kepada seorang wanita karena ketika seorang wanita sudah mulai berharap, maka mereka akan berusaha untuk menggapai harapannya tersebut." Tegas Clara.
"Saat ini aku sedang berada di antara dua pilihan yang sulit. Jika aku membiarkan gadis itu, maka informasi tidak akan bisa aku peroleh. Jika aku mendekatinya, sudah pasti aku akan melakukan hal yang kau takutkan itu. Tolonglah untuk mengerti dengan keadaanku sayang!" Kata Jerry sambil membelai rambut Clara.
"Kau boleh berteman dengannya. Tapi jangan terlalu memaksakan. Di sisi mu masih banyak orang hebat. Tuan Syam hebat. Ayah ku hebat. Kakek Malik juga hebat. Jika itu tidak cukup, masih ada Daniel yang ahli dalam bidangnya. Ada Ryan yang bijak. Ada Riko yang bisa berkelahi. Ada Arslan yang bisa menasehati juga ada Herey yang bisa menyelinap bagai bunglon. Sebenarnya tidak ada yang kurang. Hanya kau saja yang tidak memanfaatkan potensi yang ada pada diri mereka ini. Kau mengira bahwa kau akan mampu mengatasi setiap permasalahan dengan mengandalkan diri sendiri. Mana ada manusia yang super power yang mampu mengatasi segala sesuatunya sendirian." Kata Clara menasehati.
"Kau juga bisa berkelahi." Kata Jerry sambil mencubit hidung Clara.
"Aku berkelahi hanya untuk mu. Aku tidak perduli. Jika kau di sakiti, aku akan merasakan dua kali lipat dari itu." Kata Clara sambil menatap sayu ke wajah tampan Jerry.
"Terimakasih sayang. Tapi aku harus menepati janji ku untuk menemui gadis itu. Kau bisa memperhatikanku dari jauh jika kau tidak percaya kepadaku." Kata Jerry.
"Kalau kau memang mencintaiku, kau akan berusaha untuk setia. Percuma aku memaksakan. Ketulusan itu dari hati. Kalau ada niat buat selingkuh, kau pasti akan mencari kesempatan. Tapi jika dalam hatimu benar-benar hanya ada aku, maka seribu wanita cantik pun tidak berarti apa-apa bagimu. Tapi itu mungkin hanya ada di dalam dongeng." Kata Clara.
"Sayang.., aku berjanji kepada mu. Bahwa aku Jerry William tidak akan macam-macam. Paling hanya senggol-senggol dikit lah." Kata Jerry.
"Kan.., kan.., kan."
"Iya. Janji tidak akan menduakan cinta mu. Aku juga berjanji akan menjaga ucapan ku nanti dan tidak akan memberi harapan kepada gadis itu. Percaya padaku!" Kata Jerry bersungguh-sungguh.
"Aku hanya memberikan kepercayaan kepada seseorang sebanyak satu kali. Ingat Kak! Hanya satu kali. Jika kepercayaan ku dikhianati, maka dirimu adalah dirimu, diriku adalah diriku." Kata Clara memperingatkan.
Merinding juga bulu roma Jerry mendengarkan peringatan dari Clara ini. Bagaimanapun dia sangat cinta mati dengan Clara. Seribu Jessica pun tidak akan setara dengan Clara. Clara si gadis baju merah yang telah mencuri hatinya.
"Aku tau batas-batasnya. Berikan kepercayaan untukku, dan aku akan berusaha menjaga kepercayaan itu untuk mu." Kata Jerry sambil menggenggam jemari lembut milik Clara.
"Pergilah Kak. Jangan lupa nanti jaga dirimu dan jangan sampai penyamaran mu terbongkar." Kata Clara.
"Terimakasih sekali lagi. Aku tidak akan menemukan gadis seperti dirimu dalam sisa hidupku ini. Jika aku tanpa mu aku lebih baik..."
"Jangan diteruskan!" Kata Clara sambil menutup mulut Jerry dengan tangan nya.
"Iya. Hampir saja aku kebablasan. Aku pergi dulu." Kata Jerry lalu bangkit berdiri dan ingin mencium kening Clara. Tapi dia tidak jadi melakukannya karena dia ingin melakukan hal seperti itu ketika mereka menikah nanti.
Jerry hanya mencium tangan Clara dengan lembut sebelum melangkah dan menghilang di balik pintu.
Tak lama setelah itu terdengar suara deru mesin meninggalkan halaman rumah tempat tinggal Clara itu.
__ADS_1