
"Kamu benar. Haikal memang sangat berguna untuk kita. Aku yakin mereka curiga jika Haikal adalah bagian dari mereka tapi karena tanda lahirnya telah ku hilangkan saat ia masih kecil, maka nya mereka sedikit ragu. Tapi aku sangat yakin kalau mereka menyayangi Haikal karena memang sudah ada firasat. Bukti nya mereka sanggup melakukan apa saja demi menebus nyawa Haikal". Sahut Ronal dengan senyum sinis nya.
"Tak sia - sia bos menculiknya dan membiayai hidupnya selama ini. Sekarang bos bisa dengan mudah nya menghancurkan klan Naga Merah itu". Imbuh Ijal lagi.
"Kamu pikir semua yang ku lakukan tanpa pertimbangan yang matang. Ini juga merupakan sebab utama mengapa aku di lantik oleh om Danish untuk menggantikan posisi nya dalam memimpin klan Black Tiger". Ungkap Ronal membanggakan diri.
"Iya benar, bos. Tuan Danish memang nggak salah memilih anda sebagai penerus klan ini. Kalau tidak maka anak perempuan nya lah yang akan mewarisi tahta ini, siapa lagi nama nya, saya saja sampai lupa bos". Ijal memang suka mencari muka di hadapan Ronal tidak seperti yang lain yang lebih memilih diam dan menyasikan saja tingkah Ijal itu.
Hanya Ijal yang sering memuji Ronal sebagai pemimpin yang bijak sedangkan yang lain hanya suka pada cara Ronal menghibur anak buah nya. Bagi mereka Ronal hanya jenis yang pria yang lemot dan mudah di kelabuhi. Tapi mereka nggak bisa membantah atau sekedar memberi pendapat, jika mereka berani maka semua hiburan akan segera di tarik dari mereka.
Tringgg...
Satu pesan kembali masuk dari pihak Klan Naga Merah. Ronal sampai mengerut kan dahi membaca pesan kedua itu.
'Jika kalian berani menyakiti anak itu lagi, maka pria dan wanita di dalam foto0 ini akan kami bunuh'.
Pesan itu di sertakan dengan sebuah foto seorang pria dan wanita paruh baya yang tak asing bagi Ronal..
"Om Danish, tante Meranti?". Mata Ronal membulat sempurna melihat foto itu.
Meranti merupakan keluarga satu - satu nya bagi Ronal saat ini. Ia sudah menanggap Meranti sebagai ibu nya sendiri karena Meranti merupakan kembaran dari almarhum ibu kandung nya. Sementara Danish merupakan suami Meranti dan kebetulan memiliki sebuah perkumpulan yang di sebuah Black Tiger. Meranti dan Danish menikah dengan membawa Jasmin sebagai anak nya dari seorang wanita masa lalu nya, sementara Meranti membawa dua anak angkat yaitu Ronal dan Rical.
Hanya Jasmin, Ronal dan Rical yang mengetahui pekerjaan Danish yang sebenarnya, sedangkan Meranti tahu Danish hanya berbisnis. Meranti merupakan wanita baik hati dan penuh kasih sayang, maka nya Ronal sangat menyayangi wanita itu bahkan lebih dari ia menyayangi nyawa nya sendiri.
"Sial! Mereka tahu kelemahan ku dan sekarang malah menggunakan mereka untuk menebus nyawa Haikal". Geram Ronal. Ia menghancurkan semua benda yang ada di hadapan nya tanpa mempedulikan harga nya.
__ADS_1
"Ada apa ini bos?". Bingung Ijal yang tak tahu apa - apa karena Ronal tiba - tiba mengamuk tak jelas.
Ijal berinisiatif memeriksa ponsel Ronal dan membaca pesan baru yang di kirim oleh seseorang yang memegang akun klan Naga Merah. "Sial". Maki Ijal ikutan kesal dan geram. Mereka kecolongan dan sama sekali nggak ingat kalau bos mereka juga di lindungi dengan sangat ketat..
"Panggil kan Haikal sekarang!". Titah Ijal pada rekan nya sementara ia hanya duduk menyaksikan Ronal mengamuk.
Meskipun sedikit kesal dengan sikap Ijal. Tapi salah satu dari mereka bergegas keluar ruangan untuk memanggil Haikal bukan karena takut pada Ijal, tapi ia juga nggak bisa terus melihat bos nya marah seperti itu.
Tok,, tok,, tok,,
Sementara di dalam kamar, Haikal dan Rinata sedang berdebat karena Haikal sengaja membuat wanita itu kesal.
"Ih, ganggu aja sih. Mereka lupa yah kalau aku sedang memerlukan perawatan ektra sekarang". Gumam Haikal kesal..
"Ya telah, aku kan suka lihat kamu cemas gitu sama aku apalagi kalau sedang ngambek gini, muka kamu itu lucu banget". Goda Haikal sama sekali tidak memperdulikan pintu nya yang di ketuk dengan kasar oleh seseorang..
"Ih,, mas!! Tolong berhenti nggak! Sana pergi saja". Usir Rinata sambil mendorong tubuh Haikal yang sudah berpakaian lengkap.
"Tapi janji ya, kalau aku nanti kembali dalam keadaan seperti tadi jangan nangis lagi, ya". Imbuh Haikal pasrah.
Rinata tercengang, mengingat keadaan Haikal saat kembali tadi membuat nya menggeleng dengan cepat. "Aku nggak mau kalau mas seperti tadi". Tolak Rinata cemas. Tampak jelas di wajah nya kalau ia tidak sedang main - main.
Tok,, tok,, tok,,
Pintu kembali di ketuk lebih keras dari luar.
__ADS_1
Rinata mendahului Haikal menuju pintu, bukan untuk mempersilahkan Haikal keluar menemui orang itu tapi ia malah mengunci pintu itu dan melarang Haikal pergi.
"Jangan temui dia! Aku tak akan membiarkan mas pergi dan menyakiti diri sendiri lagi. Aku nggak akan biarkan siapa pun nyakitin mas lagi". Ujar Rinata dengan wajah serius.
Haikal tersenyum haru dengan perhatian yang di berikan Rinata pada nya. Ia tak pernah merasakan di perhatikan setulus itu dari seoarang wanita. Ia tak menyangka gadis kecil yang kenal cuek selama ini bisa bersikap berlebihan seperti itu pada nya.
"Haikal! Cepat keluar! Bos Ronal sedang mengamuk di sana. Kami juga heran kenapa ia tiba - tiba bersikap seperti itu. Keluar lah, hanya kamu yang bisa menenangkan nya sekarang". Seru seorang pria yang mengetuk pintu itu.
"Diam! Mas Haikal sedang melakukan perawatan sekarang dan sama sekali nggak bisa bangun. Jadi kalian urua aja bos Ronal dulu selama mas Haikal menjalani masa pemulihan pasca kalian memukul nya tadi". Sahut Rinata menanggap dengan teriakan emosi.
"Tapi....". Pria itu masih belum menyerah tapi Rinata malah tak ingin mendengar perkataan nya lagi..
"Nggak ada tapi - tapian! Mas Haikal sekarang masih pingsan dan belum sadar kan diri. Jadi percuma kamu teriak - teriak memanggil nya. Dia tak akan dengar". Potong Rinata geram.
"Ya udah kalau gitu. Sampaikan sama dia kalau sadar nanti, bos Ronal sekarang mengamuk karena mendapat tanggapan berbeda yang tak sesuai perkiraan dari Naga Merah prihal video penyiksaan nya tadi". Imbuh Pria itu lalu berlalu pergi meninggal kan kamar itu.
"Apa maksud nya klan Naga Merah menanggapi dengan tanggapan yang berbeda? Mereka tidak menyetujui persyaratan dari Om Ronal untuk menebus nyawa ku? Atau mereka sebenarnya memang nggak peduli dengan hidup dan mati ku?". Gumam Haikal dengan nafas yang ikut memburu kesal.
"Nggak, mas. Pasti ada masalah lain yang sedang terjadi. Mereka nggak mungkin tidak memperdulikan kan mu. Mereka sangat menyayangi mu, mas". Imbuh Rinata menenangkan Haikal yang tampak salah paham dengan perkataan anak buah Ronal tadi.
Haikal menatap curiga pada Rinata. Wanita itu berbicara seolah - olah tahu segala nya tentang keluarga Purbalingga. Ia sekarang menjadi ragu dengan maksud dan tujuan Rinata ada di sini bersama saat ini.
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu? Katakan yang sejujurnya pada ku!". Desak Haikal dengan berbisik agar alat perekam suara tidak bisa mendeteksi suara mereka.
Rinata baru sadar kalau ia sudah membuat Haikal curiga pada dirinya dengan perkataan nya tadi. Ia bingung harus berkata jujur sekarang atau harus bagaimana untuk mengalihkan perhatian Haikal.
__ADS_1