PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Mereka akhirnya bertemu


__ADS_3

Mobil Mercedez hitam memasuki pelataran rumah sakit dan berhenti tepat di samping mobil Jaguar sport yang telah terparkir di sana sejak tadi.


Dari dalam mobil tersebut keluar seorang pemuda memakai baju T-shirt abu-abu dan celana jeans hitam memakai masker dan kacamata hitam.


Setelah memperhatikan keadaan di sekeliling, pemuda itu berjalan memasuki rumah sakit tersebut dan bertanya kepada petugas administrasi yang bertugas sore itu.


Begitu mereka selesai bertanya jawab, pemuda bermasker itu segera berlalu meninggalkan petugas administrasi dan terus berjalan menelusuri lorong rumah sakit tersebut dan berhenti tepat di salah satu kamar.


Saat itu Ryan, Daniel, Riko, Arslan dan Ivan yang ditemani oleh Lorna sedang berbincang-bincang, di kejutkan dengan ketukan dari arah luar tepat di pintu kamar tempat Ivan di rawat.


"Tolong bukakan pintu nya sayang!" Kata Ivan meminta tolong kepada Lorna untuk membukakan pintu tersebut.


Lorna segera beranjak dari duduk nya dan melangkah ke arah pintu.


"Siapa di luar?" Tanya Lorna sekedar bertanya.


"Dokter yang akan memeriksa pasien." Jawab satu suara dari luar.


Begitu pintu di buka, tampak seorang yang dari perawakan serta usia yang sebaya dengan mereka berdiri di kuar.


"Siapa kah anda ini?" Tanya Lorna sambil bertindak waspada.


Lelaki yang memakai masker itu tidak menjawab. Dia segera mendorong Lorna dengan lembut untuk membuka jalan dan segera menghampiri kelima pemuda yang berada di ruangan tersebut.


"Kau...?!" Kata Ryan terkejut begitu melihat lelaki bermasker itu.


"Ya. Aku..?!" Kata lelaki itu sambil menarik kursi dan segera duduk.


Melihat sikap acuh tak acuh dari tamu yang datang tanpa di undang itu membuat Arslan dan Riko segera waspada.


Mereka berdua menatap tajam ke arah lelaki itu dengan sikap menunggu kalau-kalau lelaki itu bertindak di luar batas.


"Sudah lah! Kendorkan sedikit ketegangan kalian berdua. Aku tau kalian sudah tidak memiliki kemampuan lagi untuk bertarung." Kata lelaki itu.


"Sudah Kak! Jika orang ini berniat jahat, untuk apa dia menolong kita tadi di jembatan." Kata Daniel meredakan ketegangan Arslan.


"Maaf sobat. Sebenarnya siapakah gerangan anda ini? Dan apa tujuan anda datang kemari?" Tanya Ivan dengan nada selembut dan sesopan mungkin.


"Kau bertanya, aku menjawab. Tujuan ku datang kemari adalah karena aku sangat merindukan kalian." Kata lelaki bermasker itu lalu mencopot kacamata hitam nya dan melepaskan masker yang menutupi separuh wajah nya.

__ADS_1


Jedooor......?!


Cetarrrr......?!


Semua yang ada di ruangan itu terpana bagaikan terkena hipnotis begitu lelaki itu membuka masker dan kacamata nya.


Keadaan seperti itu berlangsung hampir 10 detik hingga lelaki bermasker tadi menegur mereka.


"Hei...?! Apakah aku begitu menakutkan bagi kalian?" Tanya lelaki itu heran.


"Kau....?!"


"Jerry.....?!


"Oh Tuhan... Apakah ini nyata?" Kata Daniel sambil menampar pipinya dengan keras.


"Bodoh. Pipi sendiri di tampar. Ya sakit lah." Kata lelaki itu.


Sepontan keempat pemuda itu langsung nenubruk lelaki yang bermasker tadi sampai-sampai Ivan pun lupa kepada penyakitnya dan melompat dari ranjang untuk ikut-ikutan menubruk lelaki yang bermasker tadi.


"Apa kata ku?! Dia benar-benar Jerry kan? Kalian yang tidak mau percaya kepada ku." Kata Ryan sambil tertawa bercampur tangis.


"Katakan pada kami Jerry! Bagaimana kau bisa selamat?" Tanya Ivan sambil memijit-mijit bahu Jerry.


"Iya. Ayo ceritakan Jerry!" Kata Arslan pula menambahkan.


"Ya Ampun. Terimakasih Tuhan... Engkau telah mempertemukan kami kembali." Kata Riko sambil mendongak menahan genangan air matanya agar tidak tertumpah.


"Ceritanya panjang." Kata Jerry sambil menarik nafas.


"Kalau panjang, diperpendek saja!" Kata Daniel sambil merangkul pundak Jerry.


"Huhh... Aku juga tidak menyangka masih di beri umur panjang oleh Yang Maha Kuasa. Menurut dewa penolong ku, Sangat tipis harapan ku untuk hidup." Kata Jerry berhenti sejenak.


Kini dia mulai menuturkan kisah nya.


"Setelah kejadian itu, Aku di buang oleh mereka ke bawah jembatan dan hanyut dibawa oleh arus sampai ke Mountain slope dan di tolong oleh seorang gadis. Kau pasti ingat tentang gadis berbaju merah yang tanpa sengaja tertangkap kamera ku waktu itu kan Daniel?" Tanya Jerry.


"Ya.., ya. Aku ingat itu." Kata Daniel sambil terus memasang wajah serius.

__ADS_1


"Nah.., gadis itu lah yang menolong ku." Kata Jerry.


"Kau hanyut terbawa arus sampai ke kampung ku. Apakah ayah ku mengetahui nya?" Tanya Ryan.


"Ayah mu bertemu dengan ku setelah aku berada di hilir sungai itu selama lebih 3 bulan." Kata Jerry.


"Lalu, bagaimana kelanjutannya Jerry?" Tanya Ivan.


"Setelah aku di tolong oleh gadis itu, ternyata dia tinggal bersama ibu nya dan kakek Malik." Kata Jerry.


"Kakek Malik? Kau beruntung Jerry. Dia adalah jawara tua di kampung itu. Sebenarnya dia lah kepala desa yang asli sebelum menyerahkan jabatan itu kepada kakek ku dulu." Kata Ryan.


"Ya. Bisa dikatakan begitu. Hampir tiga bulan aku tidak bisa berjalan karena banyak tulang yang lepas dari sendi dan beberapa otot ku yang pecah. Aku merinding ketika membayangkan kakek Malik berkata bahwa aku selamat dari amnesia kerena cedera yang sangat parah di bagian kepala. Entahlah.., mungkin Tuhan masih sayang kepada hamba-Nya yang kotor ini." Kata Jerry dengan raut wajah penuh kesyukuran.


"Lalu sekarang apa rencana mu Jerry?" Tanya Daniel.


"Aku merencanakan malam ini juga akan menyerang mereka supaya mereka hancur berantakan. Manusia seperti itu harus segera di singkirkan." Kata Jerry penuh geram.


Mendengar perkataan Jerry ini, Ryan spontan menggelengkan kepalanya.


"Apakah kau punya pendapat lain Ryan?" Tanya Jerry.


"Kau jangan terbawa emosi Jerry! Bayangkan jika kau menyerang kubu Ramendra ini. Berapa banyak yang akan mati? Berapa banyak wanita yang akan menjadi janda? Ada pepatah mengatakan, ketika perang sudah pecah, yang menang menjadi arang dan yang kalah menjadi debu." Kata Ryan mengemukakan keberatannya.


"Ini lah tujuan ku menemui kalian. Aku tidak bisa sendiri tanpa kalian semua para sahabatku." Kata Jerry merendah.


"Jika kita berperang secara terbuka dengan mereka, ini sudah pasti akan melibatkan banyak pihak termasuk petugas penegak hukum. Kau mampu dengan kekuatan uang mu untuk memenangi ini semua. Tapi coba kau bayangkan bagaimana dengan korban yang telah berjatuhan nanti! Apakah keluarga yang di tinggal akan menerima begitu saja harga nyawa tulang punggung mereka dibayar dengan uang? Tidak semua bisa di beli dengan uang. Itu yang harus kau fahami, Jerry!" Kata Ryan.


"Kami telah melakukan peperangan dengan Ramendra ini hampir 6 bulan ini. Tapi perang taktik, bukan adu jotos. Dan rencana yang telah kami susun baru berjalan setengahnya. Masih banyak rencana lain yang belum terlaksana." Kata Ryan lagi menambahkan.


"Coba kalian kemukakan apa rencana yang telah kalian atur?!" Pinta Jerry.


"Beberapa hari lagi akan ada pertarungan antara orang-orang kaya dalam memperebutkan hotel Mega di MegaTown. Rencananya kami akan ikut kesana untuk menjadi pengacau. Aku akan pastikan bahwa adu gengsi akan berlangsung di acara pelelangan itu nanti. Untuk hal seperti itu, maka Daniel adalah raja nya." Kata Ryan sambil nenepuk pundak Daniel.


"Untuk rencana kedua, Riko dan Kak Arslan harus tinggal di rumah sakit ini....," Lalu Ryan mendekatkan kepala nya dan menarik kepala Jerry, Riko, Arslan, Daniel dan Ivan sambil membisikkan sesuatu.


"Bagaimana menurut kalian?" Tanya Ryan.


"Itu idea yang sangat cemerlang. Tanpa pertumpahan darah, tanpa ada nyawa yang melayang. Ini namanya membunuh tanpa menyentuh." Kata Ivan memuji rencana Ryan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2