PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Tiba di Restoran teratai


__ADS_3

Bab 116.


Mobil Mercedez S-Class itu melaju dengan cepat menuju kearah Restoran teratai.


Di depan restoran itu saat ini telah ramai di datangi oleh muda-mudi yang seumuran.


Paling depan sekali, tampak Ryan dan Jenny sedang sibuk menyambut para teman-teman yang dia undang.


Tampak juga di sana ada Kevin dan David seperti memperhatikan keadaan.


Namun, begitu dari dalam mobil itu keluar seorang lelaki tampan diikuti oleh 2 orang wanita cantik, Kevin langsung terbeliak matanya.


"David.., Lihat wanita yang bersama tuan muda itu. Cantik-cantik bukan?" Kata Kevin sambil menyeringai.


"Jangan macam-macam kau Kevin!. Apa kau sudah bosan makan gaji?" Kata David sambil mendelik.


"Aku bahkan tidak pernah tau berapa gaji ku. Semua diambil oleh Ayah." Kata Kevin bersungut-sungut.


"David, aku sudah tak tahan. Aku akan menanyakan kepada tuan muda, siapa yang bisa aku dekati diantara mereka itu." Kata Kevin lalu segera berjalan menghampiri Jerry diikuti oleh David yang sedikit mulai ketakutan.


"Tuan muda. Anda telah sampai." Kata Kevin berbisik ke telinga Jerry.


"Oh iya Kevin. Aku terlambat. Mobil nya mogok." Kata Jerry.


"Tuan muda.., di antara kedua gadis itu, yang mana calon anda?" Tanya Kevin sedikit malu-malu.


"Mengapa? Kau menyukai gadis yang bersama ku itu?" Kata Jerry sambil membeliakkan matanya.


"Tid-- tid-- tid---ak berani. Saya tidak berani. Ampun Tuan muda." Kata Kevin tergagap-gagap.


"Hahaha...., yang memakai gaun merah jambu itu namanya Lira. Dia adalah sahabat baik calon Nyonya mu." Kata Jerry berbisik.


"Berarti yang di samping nya memakai gaun biru itu adalah kekasih anda. Benar begitu Tuan muda?" Tanya Kevin ingin memastikan.


Jerry hanya mengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Kevin.


"Aku akan mencari perhatian agar bisa menarik perhatiannya." Kata Kevin bersemangat.


David yang sejak tadi memperhatikan saja tingkah Kevin, hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


Namun ekspresi wajah nya segera berubah ketika dia mendengar sesuatu yang paling dia benci keluar dari bibir Kevin.


"Sana gunung di sini gunung. Di tengah-tengah ada pohon mangga yang berbuah lebat---"

__ADS_1


"Hentikan di sana gunung di sini gunung sialan mu itu Kevin. Aku bosan mendengar nya." Kata David mencibir.


"Kau..., kau..! Aish..., sialanan betul. Berhentilah memotong pantun ku sebelum selesai!" Kata Kevin sambil mengibaskan tangannya.


"Pantun sialan mu itu harus nya sana gunung di sini gunung. Di tengah-tengah ada sarang harimau. Lalu harimau itu keluar dan langsung menerkam mu. Mati kau." Kata David dengan sewot nya di ikuti oleh gelak tawa semua yang ada di tempat itu termasuk Lira.


"Ah..., maaf nona. Sahabat saya itu telah membuat ketidak nyamanan di hati anda." Kata Kevin malu-malu di depan Lira sambil menunjuk ke arah David.


"Huh sialan. Dasar bajingan tengik." Maki David dalam hati.


"Ah tidak apa-apa. Saya nyaman-nyaman saja." Kata Lira sambil tersenyum malu-malu.


"Oh.., kalau begitu, boleh kah saya berkenalan dengan anda Nona? Oh ya.., nama saya Kevin. Saya mahasiswa baru di Golden University. Pindahan dari Metro City." Kata Kevin sambil mengulurkan tangannya.


"Namaku Lira." Kata Lira sambil menyambut uluran tangan Kevin dan mereka pun bersalaman.


Setelah proses perkenalan itu selesai, Kevin lalu melangkah dengan bangganya mendekati David.


"Jomblo lah kau seumur hidup mu. Pelihara lah sikap kaku mu itu sampai berlumut." Kata Kevin sambil mencibir membuat David mendelik melihat ulah Kevin ini.


*******


Tak lama setelah Jerry sampai ke restoran teratai, kini tampak sebuah mobil Toyota Supra memasuki area parkir restoran tersebut.


Setelah pintu itu di buka, kini tampak lah seorang wanita yang sangat anggun keluar dari dalam mobil sambil di tuntun oleh seorang pemuda yang membukakan pintu tadi.


Begitu sepasang muda-mudi itu berjalan menuju ke-arah restoran, semua mata terpusat memperhatikan pasangan muda itu.


Ada yang memuji bahwa mereka adalah pasangan serasi. Ada juga yang berdecak kagum dengan temperamen yang di miliki oleh wanita itu.


"Lihat wanita yang bersama dengan Daniel itu. Sungguh sangat cantik. Pantas Daniel tidak mengejar-ngejar Rindy lagi." Kata suara seorang wanita di samping Ryan.


"Ah.., bukan begitu Jenny. Andai Daniel tidak mengalah kepada Herman, sudah pasti dia tidak akan melirik wanita mana pun." Kata Ryan membela sahabatnya itu.


"Hei Ryan..., Maaf agak terlambat. Apakah acara makan nya sudah di mulai?" Kata lelaki yang baru saja sampai tadi.


"Belum Daniel. Jerry juga belum lama ini sampai. Kita masih menunggu Lorna, Adele dan Ivan." Kata Ryan.


"Wah..., kau makin akrab saja dengan Jenny. Aku turut bahagia untuk mu." Kata Daniel dengan senyum tulus.


"Daniel..! Apakah kau akan begitu terus tanpa memperkenalkan pacar mu kepada kami?" Tanya Jenny sambil menggoda Daniel.


"Eh..., Oh.., iya.. Iya. Ayo Jenny, perkenalkan! Ini Hellen adik nya Riko." Kata Daniel.

__ADS_1


"Hellen, ayo perkenalkan! Ini Jenny teman se kampus kami." Kata Daniel lagi sambil menarik tangan Hellen dengan lembut.


"Oh Nona Jenny. Senang berkenalan dengan mu." Kata Hellen sambil mengulurkan tangannya.


"Senang juga berkenalan dengan mu Hellen. Riko tidak pernah memberitahu kalau dia mempunyai seorang adik yang sangat cantik." Kata Jenny memuji dengan tulus.


"Apakah kalian berempat akan menjadi penyambut tamu di sana? Itu satu pemborosan." Kata satu suara berteriak dari dalam.


"Hey.., kak Jerry!" Kata Hellen sambil melambaikan tangannya kepada Jerry.


"Aduh sakit"


Jerry yang akan membalas lambaian tangan Hellen merasakan sesuatu di pinggang nya.


Begitu dia melihat bahwa Via telah mencubit, dia segera membiarkannya.


"Ingat janji mu Jerry!" Kata Via.


"Iya sayang. Aku ingat. Dia kan adik sahabat ku. Berarti, dia adik ku juga." Kata Jerry lalu menarik tangan Via untuk segera menghampiri Hellen dan Daniel.


"Kak Jerry.., apakah ini calon kakak ipar ku?" Tanya Hellen begitu Jerry dan Via sudah sampai di hadapannya.


"Iya benar. Kalian saling berkenalan lah dulu. Aku akan menemui seseorang sebentar." Kata Jerry lalu segera pergi ke samping dimana Austin dan para staf keamanan sedang duduk berjaga-jaga.


"Tuan muda." Sapa Austin begitu Jerry tiba di dekat mereka.


"Paman. Apakah kak Arslan malam ini sudah mulai bekerja?" Tanya Jerry.


"Saya tidak pasti Tuan muda. Ada apakah?" Tanya Austin.


"Paman..., perhatikan! Jika dia mulai bekerja malam ini, suruh dia bekerja di Lotus mansion untuk malam ini.!" Kata Jerry memberi perintah.


"Baik lah Tuan muda. Saya mengerti maksud anda." Kata Austin mengangguk faham.


"Baiklah paman. Maaf membuat mu repot malam ini." Kata Jerry dengan wajah menyesal.


"Ah.., bicara apa anda Tuan muda. Tugas saya adalah menjamin kenyamanan ketika anda sedang berada di sekitar Mountain Lotus." Kata Austin.


"Terimakasih Paman. Jika begitu, aku permisi dulu."


"Silahkan Tuan muda..." Kata Austin dengan hormat.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2