
Pagi itu Ryan merasa bahwa seluruh badannya terasa pegal-pegal setelah hampir semalaman bekerja keras bak artis Hollywood.
Dia baru saja bangun dari tempat tidur nya dan segera keluar dari kamar.
"Daniel.., apa kau melihat Jerry?" Tanya Ryan.
"Ada di kamar nya." Kata Daniel.
"Oh. Apa kau sudah sarapan?" Tanya Ryan.
"Sudah. Itu ada dua bungkus lagi. Satu untuk mu dan satu lagi untuk Jerry." Kata Daniel.
"Ok. Aku akan ke kamar Jerry." Kata Ryan.
"Aku ikut.." Kata Daniel bergegas bangkit dari kursi dan menyusul Ryan.
"Jerry.., kau sedang apa?" Tanya Ryan begitu dia mendorong pintu kamar Jerry.
"Waaah..., sendal jenis apa itu Jerry?" Tanya Daniel yang kagum melihat sepasang sendal yang sangat indah seperti yang sering di pakai oleh putri raja eropa dalam tv.
"Wajah mu kelihatan murung sekali Jerry?" Kata Ryan sambil duduk di pinggir ranjang.
Jerry hanya menarik nafas panjang dan menghempaskannya dengan keras.
"Ada apa dengan mu Jerry? Juga, untuk siapa sendal ini?" Tanya Daniel.
"Sendal ini telah aku pesan beberapa bulan yang lalu dan rencananya akan aku berikan kepada Via ketika aku berusaha untuk membujuk nya." Kata Jerry.
"Lalu mengapa sendal ini masih berada padamu?" Tanya Daniel.
"Via menolak ketika itu sebelum aku sempat memberikan kepadanya. Aku berencana akan memberikan di hari ulang tahun nya nanti. Tapi sudah lah. Itu tidak akan pernah terjadi." Kata Jerry.
"Jerry.., Via sudah terlalu jauh bertindak. Beruntung kau dapat mengetahui sifat aslinya sebelum terlambat." Kata Daniel.
"Wanita itu kalau sudah memendam dendam, akan sangat berbahaya. Dia bisa membunuh mu dengan kelembutannya." Kata Ryan.
"Via tidak seperti itu. Aslinya dia baik. Aku tidak tau siapa yang patut disalahkan antara kami." Kata Jerry.
"Susahnya itu. Jika hubungan tidak di landasi dengan saling percaya. Sudah lah Jerry. Lupakan saja Via. Apa kau masih mengharapkan dirinya?" Tanya Ryan.
"Tidak. Aku tidak pernah mengharapkan sesuatu yang telah lepas dari tangan ku. Aku hanya menyesalkan mengapa begini jalan ceritanya."
"Bagus jika kau sudah tidak berharap lagi padanya. Hanya satu pesan ku Jerry.., kau harus lebih berhati-hati lagi kedepannya." Kata Ryan memperingatkan.
"Yah..., aku tau pasti kedepannya akan semakin sulit. Musuh ku berada di mana-mana. Aku hanya percaya kepada kalian dan Arslan." Kata Jerry.
"Saat ini kita semakin sering berurusan dengan orang-orang dari keluarga Patrik. Kita beruntung memiliki orang-orang yang siap tempur. Jika tidak, entah apa jadinya Starhill ini." Kata Ryan.
__ADS_1
"Daniel.., apa kau telah menjenguk Herman?" Tanya Jerry.
"Sudah. Saat ini dia selang menjalani rehabilitasi. Dokter bilang kalau jenis obat yang dia pakai itu pengaruh nya sangat kuat. Untung saja Herman tidak mati." Kata Daniel.
"Syukur lah. Mahasiswa yang lainnya juga perlu di rehabilitasi. Aku khawatir ketika mereka tidak mendapatkan dosis, mereka akan stres yang berujung bunuh diri." Kata Jerry.
"Kau perintahkan saja kepada tuan Ronald agar merundingkan masalah ini dengan pak Robert." Kata Ryan.
"Iya. Seharusnya memang begitu." Kata Jerry
...*********...
Seorang lelaki berusia sekitar tiga puluhan menaiki sepeda motor nya melewati lampu merah di jalan Country home dan berbelok ke kiri memasuki jalan menuju perumahan sederhana di kawasan itu.
Begitu dia menemukan rumah yang dia cari, dia segera turun dari sepeda motor nya dan melangkah menuju pintu lalu mengetuk nya.
Tak selang berapa lama, keluar lah seorang lelaki baik rambut dan kumis nya sudah berwarna dua.
Lelaki tua itu menyipitkan matanya berusaha mengenali lelaki yang mengetuk pintu rumahnya tadi.
"Arslan.., kau kah itu?" Tanya lelaki itu.
"Benar Pak Ramos. Ini adalah aku Arslan." Jawab lelaki yang ternyata adalah Arslan itu.
"Bagaimana keadaan putri mu Arslan? Aku dengar kau kesusahan ketika itu untuk membayar biaya rumah sakit?!" Tanya pak Ramos.
"Oh ayo masuk dulu!" Ajak pak Ramos.
"Terimakasih pak."
"Maafkan aku Arslan karena tidak bisa membantu mu. Ini karena ketika itu ada Sendiego di sana."
"Ah.., tidak apa-apa pak. Aku tidak menyalahkan mu." Kata Arslan sambil melihat sekitar ruangan itu.
"Sepi sekali Pak. Mana ibu?" Tanya Arslan heran karena dari tadi dia tidak melihat istri pak Ramos.
"Oh.., itu.., itu."
"Itu apa Pak? Apakah telah terjadi sesuatu?" Tanya Arslan yang heran melihat wajah pak Ramos tiba-tiba murung.
"Istri, anak serta cucu ku saat ini sedang di sekap oleh Sendiego. Dia telah memerintahkan anak buah nya Rudock untuk menahan keluarga ku di satu tempat yang aku tidak tau." Kata pak Ramos sambil menarik nafas berat.
"Aneh. Mengapa Sendiego menyekap mereka pak? Apakah anda telah melakukan kesalahan?" Tanya Arslan sambil mengernyitkan kening nya.
"Ini semua sama seperti ketika kau masih menjadi petarung dulu."
"Apakah Sendiego menyandra keluarga bapak demi tujuan pertarungan?" Tanya Arslan.
__ADS_1
"Begitu lah Arslan. Hanya saja bedanya adalah, kau dulu di paksa untuk menang. Namun kali ini aku di paksa melakukan kecurangan agar anak asuh ku kalah dalam pertarungan itu." Jawab pak Ramos.
"Aneh." Kata Arslan.
"Tidak ada yang aneh anakku. Ini semua adalah bisnis. Baginya yang terpenting adalah uang."
"Maaf Pak. Apakah anda bisa menceritakan sedikit kepadaku maksud Sendiego ini?!" Pinta Arslan ingin tau cerita yang sebenarnya.
"Begini Arslan. Anak sah Robin Patrik bernama Hyden ingin menantang Riko bertarung di arena. Jadi, Robin memanfaatkan pertarungan ini demi tujuan mendapatkan sebanyak-banyaknya uang. Sudah pasti para petaruh akan bertaruh untuk kemenangan Riko. Jika Riko menang, maka sudah pasti mereka akan mengalami kerugian besar." Kata pak Ramos.
"Jadi, apa hubungannya dengan keluarga anda pak?" Tanya Arslan.
"Riko menolak untuk kalah. Ini lah yang menyebabkan Sendiego bermain secara kotor. Dia ingin agar aku mengkhianati Riko dengan cara memberinya obat pelemas otot agar dia tidak memiliki tenaga lagi ketika pertarungan berlangsung di ronde ke dua. Aku jelas menolak keinginan gila ini. Dan akhirnya Sendiego mmenculik keluarga ku agar aku mau menuruti keinginan nya." Kata pak Ramos menjelaskan.
"Kotor sekali Sendiego ini. Terakhir kali, di mana Bapak melihat mereka membawa keluarga mu pak?" Tanya Arslan.
"Di kantor Arsend tepatnya di ruangan lain dalam ruangan kerja Sendiego." Kata pak Ramos.
"Aku harus memberitahukan berita ini kepada Jerry." Kata Arslan sambil mengeluarkan ponsel nya.
"Arslan.., siapa Jerry ini?" Tanya pak Ramos.
"Pak, bisakah anda menjaga rahasia?" Tanya Arslan sedikit ragu-ragu.
"Mengapa Arslan? Apakah kau sudah tidak mempercayaiku lagi?" Tanya pak Ramos.
"Jerry ini adalah sahabat baik Riko. Hanya dia saat ini yang bisa kita harapkan untuk menolong Riko sekaligus membebaskan istri, anak serta cucu mu pak." Kata Arslan.
"Apakah Jerry ini sekuat itu?" Tanya pak Ramos dengan nada meragukan.
"Apakah anda pernah mendengar nama perusahaan Future of Company pak?" Tanya Arslan.
"Ya. Hampir seluruh kawasan Country home ini berada dalam naungan perusahaan itu." Kata pak Ramos.
"Jerry ini adalah pemilik perusahaan Future of Company itu."
"Apakah dia adalah Jerry William yang misterius itu?" Tanya pak Ramos sambil membelalakkan matanya.
"Benar pak. Harap anda menjaga rahasia ini agar tidak sampai bocor." Kata Arslan.
"Cepat lah kau beri kabar kepada tuan Jerry ini! Pertarungan antara Hyden dan Riko ini akan diadakan tanggal 1 bulan depan ini." Kata pak Ramos.
"Benar kah pak? Gawat. Berarti kita hanya punya waktu 5 hari lagi." Kata Arslan.
"Tolong lah Arslan! Di samping aku mengkhawatirkan keselamatan keluarga ku, aku juga sangat mengkhawatirkan keselamatan Riko juga. Aku sudah menganggapnya sebagai anak ku sendiri." Kata pak Ramos.
"Tenang lah pak. Aku akan mengadukan hal ini kepada Jerry." Kata Arslan sambil menenangkan ketegangan di wajah pak Ramos.
__ADS_1
Bersambung....