
Bab 114.
Jerry yang merasa sangat kecewa tampak dengan lesuh keluar dari mobil dan kemudian segera naik ke menuju kamar tempat tinggalnya di asrama.
Sesampainya dia di pintu, dia segera di sambut oleh Ryan yang saat ini telah selesai mandi.
Ryan yang heran melihat Jerry tampak seperti orang yang putus asa segera bertanya. "Ada apa Jerry? Mengapa kau begitu kelihatan seperti orang yang tidak memiliki semangat?" Tanya Ryan.
"Aku tidak apa-apa Ryan. Aku hanya terlalu lelah. Oh ya, di mana David?" Tanya Jerry.
"David ada di kamar mandi." Jawab Ryan.
"Oh. Ya sudah. Aku istirahat sebentar sebelum mandi dan bersiap-siap. Kita tunggu Daniel kembali, sebelum kita berangkat." Kata Jerry.
"Jerry.. Tunggu dulu! Kau pasti ada masalah kan? Hanya ada satu orang yang bisa membuat mu seperti hilang semangat hidup. Jangan katakan kalau itu karena Via." Kata Ryan yang dapat dengan mudah menebak.
"Aku tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari mu Ryan." Kata Jerry lalu segera menghempaskan dirinya ke ranjang tempat tidurnya.
"Kenapa Jerry? Apakah kau bertengkar lagi dengan Via?" Tanya Ryan.
Jerry hanya mengangguk dengan lemas dan menceritakan semuanya kepada Ryan tentang pertengkaran nya tadi dengan Via.
Mendengar penuturan dari Jerry, Ryan hanya menghela nafas.
"Aku kasihan dengan hubungan kalian ini." Kata Ryan singkat.
"Sudah lah Ryan mungkin sudah jalannya begini." Kata Jerry lalu segera mengambil handuk untuk segera mandi.
"David.., apa kau sudah selesai? Cepat lah! Sebentar lagi kita akan berangkat." Kata Jerry sedikit membesarkan volume suaranya.
"Tuan muda. Aku sudah selesai. Silahkan anda mandi!" Kata David sambil keluar dari kamar mandi.
*********
Di waktu yang sama, Via yang merasa legah setelah melampiaskan kekesalannya kepada Jerry merasa sedikit tenang.
Namun jauh di lubuk hatinya, dia memaki dirinya sendiri.
Bagaimana pun Jerry yang sekarang bukan Lah Jerry yang dahulu dia kenal. Jerry yang sekarang adalah Jerry yang memiliki kekuasaan. Jerry yang memiliki banyak hatra dan uang. Jerry yang akan mudah mendapatkan cinta dari gadis-gadis dengan kekayaan yang dia miliki.
"Aku benci kau yang sekarang Jerry. Jika waktu bisa di putar, aku ingin kau yang dulu. Yang tidak memiliki apa pun dan hanya aku harta satu-satunya yang kau miliki." Kata Via sambil membanting punggungnya bersandar di kursi depan rumah kos-kosan itu.
"Kamu kenapa Via?" Tanya satu suara yang membuat Via terkejut.
"Ah.., ternyata itu kamu Lira." Kata Via sambil membuang muka. Mengusap air matanya lalu merubah ekspresi wajah seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Jangan berbohong padaku Via. Aku lebih mengenalmu di banding Megan." Kata Lira sambil ikut duduk di kursi bersebelahan dengan Via.
__ADS_1
"Kau mendengar semuanya Lira?" Tanya Via sambil membelalakkan matanya yang memerah.
Lira hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Via.
"Apakah aku terlalu ego Lira?" Tanya Via.
"Kau keterlaluan Via. Jerry mungkin cukup sabar untuk saat ini. Tapi sudah tiga kali dia diperlakukan seperti ini. Yang pertama kau menolak untuk bertemu. Yang kedua kau menolak ketika dia ajak untuk berbicara. Yang ke tiga kau bahkan memarahi, memaki dan memukulinya. Ego lelaki itu sangat tinggi Via. Jika kau begini terus, kau akan kehilangan seseorang yang benar-benar menyayangi mu." Kata Lira menasehati.
"Aku tau aku juga salah. Tapi aku tidak tau harus memulai dari mana untuk meminta maaf. Menurut mu, apakah aku harus meminta maaf kepada Jerry?" Tanya Via.
"Mengapa tidak. Apakah karena kau seorang perempuan, sehingga kau merasa harga diri mu jatuh karena sebuah kata permintaan maaf? Wanita juga manusia sama seperti lelaki. Mahluk yang paling sering berbuat salah." Kata Lira membantah anggapan Via bahwa hanya lelaki saja yang harus meminta maaf.
"Aku malu harus memulai Lira. Lupakan saja lah!" Kata Via lirih.
"Aku hanya memberimu pendapat dan pandangan saja Via. Tidak bermaksud ikut campur atau menasehati mu. Kau sudah dewasa kan? Fikirkan sendiri. Penyesalan itu datang nya belakangan!" Kata Lira.
"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Via dengan nafas tersengal.
"Kalau aku menjadi kamu, aku akan bersaing dengan siapa pun demi cintaku. Kalau sikap mu begini, itu tidak akan memperbaiki keadaan. Kau hanya akan membuka peluang bagi wanita lain untuk memberikan perhatiannya kepada Jerry. Berkaca lah Via. Perbaiki dirimu. Renungkan dimana kurangnya dirimu!" Kata Lira.
"Mengapa harus aku? Mengapa bukan Jerry yang seperti itu? Kau membela dia seolah-olah aku ini bukan sahabatmu." Bentak Via.
"Aku hanya mengatakan apa yang aku tau bahwa, Jerry sudah 3 kali datang meminta maaf kepadamu. Jika kau menunggu yang ke 4, itu sama saja kau mengharap hujan di musim kemarau Via. Ingat kata-kata ku ini. Tidak akan ada yang ke 4." Kata Lira lalu segera bangkit dan melangkah masuk ke rumah.
Kini tinggallah Via sendirian merenungi apa yang di katakan oleh Lira.
********
Saat ini Jerry sudah selesai mandi dan memakai pakaian terbaik yang dia dapat dari Samuel kepala pelayan keluarga Smith.
Entah karena iseng atau apa lah itu, Jerry segera membuka aplikasi Facebook miliknya dan melihat bahwa seseorang telah meminta pertemanan kepada nya.
"Via...!?" Kata Jerry dalam hati.
Dia segera mengkonfirmasi pertemanan itu lalu segera beralih ke aplikasi Whatsapp dan di sana dia melihat bahwa Via sedang online.
Jerry yang merasa sedikit tak percaya langsung saja menelepon Via melalui panggilan Whatsapp.
"Hallo Jerry." Kata Via begitu panggilan itu terhubung.
"Via..., Maafkan aku Via. Aku terlalu banyak berbuat salah kepadamu. Maafkan aku Via. Tolong beri aku satu lagi kesempatan. Aku akan berusaha semampuku untuk tidak lagi membuat mu kecewa." Kata Jerry dengan tangan bergetar memegang ponsel di dekat telinganya.
"Aku juga ingin meminta maaf kepada mu Jerry. Kita berdua sama-sama salah. Aku memberi mu satu kesempatan lagi dan ini yang terakhir. Jika kau mengulanginya lagi, maka aku akan menghilang dari hidup mu dan selamanya kau tidak akan bisa bertemu lagi dengan ku." Ancam Via dalam panggilan whatsapp itu.
"Jangan katakan itu Via! Aku tidak pernah menduakan mu. Bagaimana kau bisa mengamcamku dengan kata-kata seperti itu?" Tanya Jerry.
"Pokoknya aku tidak mau tau. Kau harus janji padaku!" Kata Via yang mulai keluar sifat manja nya.
__ADS_1
"Aku Jerry William, berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak membuat Via kecewa." Kata Jerry sambil mengacungkan dua jari tangan nya ke atas.
"Aku pegang janji mu." Kata Via sambil tertawa bercampur tangisan.
"Via sayang. Aku akan menjemput mu untuk makan malam bersama teman-teman yang lainnya. Ada banyak orang nanti dan kali ini Ryan yang mentraktir kita. Bagaimana? Apakah kau mau ikut." Tanya Jerry bersemangat.
"He'em.., aku ingin sekali ikut. Apakah di sana nanti ada Lisa?" Tanya Via dengan suara sedikit menggertak.
"Iy-- iy-- iya. Di sana nanti ada Lisa dan yang lainnya." Kata Jerry tergagap.
"Ya sudah. Aku ikut. Tapi kau harus ingat! Jaga Jarak dengan siapa pun! Jika tidak, aku akan mencakar wajah mu biar semua orang tidak menyukaimu lagi dan hanya aku yang akan memilikimu." Ancam Via.
Mendengar ancaman ini, mendadak Jerry merasakan tersedak durian beserta dengan kulit nya sekalian.
"Iya sayang ku. Aku akan menjaga jarak seperti di rambu-rambu lalu lintas itu." Kata Jerry.
Dalam hatinya saat ini adalah, pokok nya iyakan saja lah semua kemahuan Via. Daripada nanti Via merajuk dan membuat dunia nya berhenti berputar.
"Hahaha... Kau ini Jerry. Aku tidak pernah melihat ada tulisan jaga jarak di rambu-rambu lalu lintas." Kata Via sambil tertawa lucu.
"Pokok nya kau tenang saja. Aku akan menjaga jarak. Apakah 500 meter cukup?" Tanya Jerry yang juga tertawa.
"Sekalian 5 kilo meter." Kata Via yang juga tertawa.
"Via.., kau bersiap-siap lah! Aku akan menjemput mu 30 menit lagi. Dandan yang cantik manis ya! Aku akan menyuruh tuan Barry untuk mengantar mobil Volvo butut untuk kita. Apa kau suka?" Tanya Jerry.
"Naik Onta pun aku bersedia asal bersama mu." Kata Via sambil tertawa lepas.
"Baik lah. Kita akhiri dulu panggilan ini. Sampai ketemu 30 menit lagi." Kata Jerry lalu mengakhiri panggilan.
"Plok... plok... plok...!" Suara tepuk tangan.
"Selamat ya Jerry bahlol. Akhirnya kalian rujuk juga." Kata Ryan sambil bertepuk tangan.
"Terimakasih Ryan. Eh.., Kau kan tuan rumah. Apa lagi yang kau tunggu? Segera pergi ke restoran teratai dan sambut kami disana!" Kata Jerry sambil mendelik.
"Oh.., ya ampun. Aku lupa." Kata Ryan lalu buru-buru turun kebawah.
"David akan mengantar mu Ryan..!!!" Kata Jerry sambil berteriak.
"Siap Tuan muda." Kata Ryan.
"Sekali lagi mengatakan tuan muda, aku akan menenggelamkan mu di padang pasir." Kata Jerry sesuka hatinya.
"Di padang pasir itu menjemur, bukan menenggelamkan. Dasar Jerry. Bodoh nya tak sembuh-sembuh." Kata Ryan mencibir.
"Iya juga. Ah sialan." Kata Jerry dalam hati sambil menggaru-garu kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Bersambung...