PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 58 Pertemuan Meri dan Jasmin


__ADS_3

"Apa kamu nggak dengar tadi? Bos bilang besok kita harus mulai beraksi. Kalau kita sekarang mabuk dan bersenang - senang, siapa yang akan bangun awal besok pagi, mayat mu?". Teriak yang lain kesal.


sebenarnya ia juga berharap hal yang sama tapi sekarang ia tak boleh gegabah karena Ronal berada pada mode serius.


"Kenapa lo yang sensi, sih? Kan gue cuma mengingatkan siapa tah bos Ronal lupa pada kebiasaan kita itu. Selama ini kan memang bos Ronal yang bersemangat untuk bersenang - senang dulu setiap kali sebelum berperang".


Mereka berdua malah ribut perkara yang sepele. Ronal yang menyaksikan secara langsung menjadi geram. "Jika kalian masih ingin berantem, maka keluar dari ruangan ini! Satu...". Ronal mulai menghitung untuk mengancam anak buah nya. Di tangan kanan nya juga sudah ada senjata api yang siap meluncurkan peluru ke otak mereka jika berani membantah..


"Ba - baik, bos. Kalau begitu kami semua pamit pulang dulu". Sahut mereka serentak. Setelah mereka keluar kini giliran Meri yang masuk menghampiri Haikal dan Ronal yang asik berbincang.


"Kenapa mereka semua pulang padahal ladies - ladies ku udah pada menunggu semua?". Bingung Meri.


"Kami sibuk dan tak ada masa untuk bersenang - senang". Ketus Ronal tanpa menatap Meri..


Meri tampak kaget dan heran, karena tak biasa nya Ronal bersikap seperti itu. Selama ini ia yang paling antusias membuat semua anak buah nya bersenang - senang terlebih dahulu sebelum beraksi keesokan harinya. "Bukan Haikal yang terpengaruh sekarang, yang ada Ronal yang berubah menjadi sedikit alim". Gumam Meri dalam hati nya.


"Kami sedang sibuk mami. Sekarang mami boleh pergi dan istirahat aja. Pesan sama Rinata agar tidak menunggu ku, aku lembur menemani om Ronal dulu". Imbuh Haikal terdengar mengusir Meri secara halus.


"Hah, lembur? Tumben - tumben pula mau lembur. Tugas apa pula yang mereka kerja kan sehingga harus lembur? Ini bukan sebuah perusahaan besar kali". Gumam Meri kesal.


"Untuk apa lagi kamu tercekat di situ? Sana keluar!". Bentak Ronal mengusir Meri.


Meri keluar dari ruangan dengan menahan perasaan kesal nya. Niat nya untuk mengacaukan rencana Ronal malam ini gagal total. Ia kemudian menghampiri Rinata dan semua anak buah nya yang lain yang dari tadi menunggu para pria masing - masing di ruangan sebelah sambil memperbaiki riasan di wajah masing - masing.


"Kalian lebih baik kembali ke kamar saka. Mereka semua sudah pada pulang. Malam ini kalian free kalau kalian mau boleh open pada pria lain aja". Kata Meri pada anak buah nya.


Semua nya menyimak dengan santai saja. Ada yang tampak kaget sama dengan reaksi Meri tadi ada juga yang tampak kecewa karena tidak bisa bertemu dengan pujaan hati, ada juga yang tampak senang karena mereka bisa istirahat malam ini dan tak perlu meladeni pria nya yang kasar dan tempramental.


Tinggal Rinata yang sabar menunggu Haikal, anak muda itu tak pernah sekali pun tidur di luar setelah kehadiran nya di markas ini. Itu karena Haikal nggak mau kalau Ronal kembali mengusik Rinata dan mencoba memerkosa nya saat ia pergi.


"Kamu kenapa masih di sini?". Tanya Meri ketus pada Rinata.


"Saya tunggu Mas Haikal, mami". Jawab Rinata..

__ADS_1


"Nggak perlu. Ia berpesan agar kamu kembali ke kamar aja duluan. Dia dan bos Ronal sedang lembur kata nya". Imbuh Meri menyampai kan pesan Haikal pada Rinata.


"Tapi tadi...". Ucap Rinata.


"Kamu ini yang paling muda di sini tapi kamu juga yang selalu membengkak dan banyak tapi - tapian. Sana pergi, jangan buat emosi ku kembali memuncak karena ulah mu!". Potong Meri membentak Rinata.


"Ba - baik, mami". Sahut Rinata berlalu keluar. Tapi baru saja Rinata ingin pergi tiba - tiba datang sekarang wanita cantik dengan wajah yang tampak kesal.


"Kamu yang nama nya Meri?". Wanita itu bertanya pada Rinata sambil mematangkan telunjuk nya tepat ke wajah gadis muda itu. .


"Anda siapa yah?". Rinata Balik bertanya.


"Malah balik tanya. Jawab pertanyaan ku perempuan mur4han!". Bentak wanita itu.


"Aku bukan perempuan mur4han tante!". Bantah Rinata menantang wanita itu.


"Lalu apa? Sudah jelas kalian para perempuan di sini hanya mengandalkan tubuh kalian untuk bertahan hidup jadi jangan sok - sokan nggak suka di katai mur4han". Wanita itu malah semakin kesal.


"Terserah tante saja mau bilang apa". Rinata ingin berlalu meninggalkan Wanita itu sendiri tapi bahu nya dengan cepat di tahan dan di paksa menghadap ke arah belakang lagi menghadap wanita tadi.


"Aku bukan tante mu! Lagi pula umur ku belu setua itu untuk di panggil tante apa lagi oleh wanita mur4han seperti mu". Sahut nya lagi.


"Aduh, aku nggak ada masa meladeni ocehan mu. Aku lelah dan ingin tidur, bye". Pamit Rinata.


"Lancang kamu! Kamu belum tahu aku siapa, yah. Aku adalah calon istri dari Ronal Mahesa, ketua di antara para ketua di klan ini. Kamu harus hormat pada ku". Imbuh wanita itu yang ternyata adalah Jasmin.


Ia datang mencari Meri karena mendapat laporan kalau selama ini calon suami nya menyimpan gundik di markas nya. Jasmin berhasil menyuap supir pribadinya untuk membawa nya ke markas ini untuk melabrak Meri.


"Oh ternyata kamu wanita yang menahan sayang ku untuk tidak segera menikahi ku? Awet muda sih tapi tetap aja kelihatan tua". Tak terduga Meri keluar dari ruangan dan mendengar Jasmin mengatakan identitas nya sebagai calon suami Ronal.


Rinata yang tahu bakal ada perang dunia, memilih untuk masuk ke ruangan di mana Haikal dan Ronal berada.


"Jaga ucapan kamu! Kamu tak berhak mengomentari penampilan ku. Walau bagaimana pun aku ini wanita yang pantas untuk mendampingi mas Ronal, bukan seperti kamu yang hanya wanita mur4ran yang gatel ingin di garuk oleh sebarang pria". Balas Jasmin dengan angkuh.

__ADS_1


Meri kesal dengan omongan Jasmin. Ia menghampiri wanita itu lalu terjadi lah acara tarik menarik rambut di lorong kecil itu.


"Acckkhh, sakit". Rintih Jasmin sambil menahan tangan Meri agar tidak semakin menarik rambutnya.


"Rasakan tuh". Balas Meri nggak mau kalah..


Jasmin juga nggak menyerah begitu saja, ia mengambil ujung rambut Meri lalu menarik nya dengan kuat.


"Acchhh, rambut ku...". Rintih Meri tapi tidak ingin melepas rambut Jasmin..


Sementara di dalam ruangan. Rinata dengan nafas ngos - ngosan melaporkan kejadian pada Ronal. "Maaf mengganggu, bos". Sapa Rinata.


"Katakan ada perlu apa kamu masuk ke sini?". Tanya Ronal dingin.


"Di - di luar ada seorang perempuan yang tak pernah ku lihat sebelum nya sedang mencari mami Meri. Sekarang mereka sedang berantem, jambak - jambakan di luar bos". Imbuh Rinata menyampaikan maksud nya.


"Siapa wanita itu?". Tanya Ronal.


"Saya juga nggak kenal, bos. Tadi ia memperkenal kan diri sebagai calon istri bos Ronal". Jawab Rinata jujur.


"Jasmin?". Seru Ronal.


"Tante Jasmin?". Seru Haikal juga..


"Untuk apa pula perempuan itu datang ke sini membuat keributan saja". Omel Ronal sambil melangkah keluar..


Haikal dan Rinata mengikuti dari belakang juga ingin menyaksikan perkelahian antara Jasmin seraya calon istri dengan Meri selaku gundik simpanan om Ronal di Markas ini..


"Bagaimana kejadian ini bisa terjadi?". Tanya Haikal pada Rinata.


"Nanti aja aku cerita kan kak". Sahut Rinata berbisik.


"Tapi kamu nggak papa kan?". Cemas Haikal.

__ADS_1


Rinata menggeleng kepala terharu dengan perhatian yang di berikan oleh Haikal pada nya.


__ADS_2