
Bab 77.
Mobil Toyota Supra itu melaju dengan cepat dari Golden University menuju ke Lotus Road. Setelah itu mobil sport ini berbelok ke kanan dan terus menanjak ke arah Mountai Lotus.
Di belakang stir tampak seorang pemuda yang cukup tampan tampak sedang fokus mengemudikan mobil itu.
Sesekali dia melirik ke arah kaca spion untuk memastikan kalau-kalau ada kendaraan lain yang mungkin akan menyalib mobil nya.
Setelah terus melaju dengan kecepatan tinggi, Mobil itu akhirnya memperlambat lajunya ketika sampai di tikungan jalan dan terus membelok ke kiri memasuki area bangunan megah yang memiliki halaman yang sangat luas.
Begitu mobil itu berhenti di tempat parkir, beberapa orang lelaki berpakaian serba hitam yang sepertinya memang sedang menunggu di depan bangunan megah itu segera berlari untuk membukakan pintu.
"Selamat datang Tuan muda." Kata salah satu dari lelaki yang memiliki tubuh yang tegap serta berotot itu dengan hormat.
"Paman Austin, dimana Tuan Barry?" Kata lelaki yang baru saja keluar dari mobil Toyota itu.
"Sebentar lagi dia akan datang Tuan. Apakah anda ingin langsung masuk atau menunggu sebentar disini?" Tanya lelaki yang di panggil Austin oleh pemuda itu.
"Disini saja dulu." Kata pemuda itu singkat.
Begitu dia selesai berbicara, salah satu dari lelaki yang ada di tempat itu lalu berlari ke dalam bangunan megah itu kemudian keluar lagi membawakan payung.
Setelah dia sampai di samping pemuda itu, dia segera membuka payung tersebut dan memayungi pemuda itu agar tidak tertimpa terik sinar matahari yang cukup panas hari ini.
"Tidak perlu terlalu repot paman. Aku sudah terbiasa dengan keadaan panas begini." Kata pemuda itu yang tidak tega melihat yang lain berpanas-panasan, sedangkan dirinya berada dibawah teduhan payung yang di pegang oleh lelaki besar itu.
Lelaki yang di tegur oleh pemuda itu hanya diam saja dan tetap melindungi pemuda itu dari sinar matahari.
Beberapa menit berselang, kini tampak di ujung tikungan iring-iringan mobil Rolls Royce sedang melaju mengarah ke area bangunan megah itu.
Setelah iringan mobil mewah itu di parkir, tampak beberapa orang lelaki berjas hitam keluar dari mobil dan berlari-lari kecil menuju ke-arah di mana pemuda tadi sedang berdiri.
"Tuan muda, maafkan saya telah membuat anda menunggu." Kata seorang lelaki setengah baya sebaik tiba di dekat pemuda itu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Tuan Barry. Bagaimana dengan tugas yang aku berikan kepadamu di Country Home?" Tanya pemuda itu.
"Sudah saya laksanakan Tuan muda. Tinggal menunggu kabar dari Tuan Obery. Jika dia berhasil membujuk pemerintah setempat, maka peluang kita sangat besar." Jawab lelaki yang di panggil Tuan Barry itu.
"Hmmm... Bagus jika begitu. Oh ya, kedatangan ku kali ini untuk memecahkan sebuah tanda tanya dan juga untuk membahas beberapa planing kerja dengan kalian semua."
"Tuan muda, jika begitu mari kita masuk dan membahasnya bersama." Ajak Tuan Barry.
"Mari"
"Silahkan Tuan muda.!"
Begitu pemuda itu melangkahkan kaki nya menuju bangunan megah itu, para pengawal yang berada di sekitarnya langsung memberi jalan dan mengikuti dari belakang.
Mereka tetap berbaris di bawah teriknya sinar matahari itu walau pun pemuda itu telah memasuki bangunan megah itu.
Begitu dia masuk, kini tampak di dalam ruangan itu berbaris para staf dan pelayan yang seketika itu juga membungkukkan tubuh mereka ketika pemuda itu lewat di depan mereka.
"Silahkan duduk Tuan muda Jerry!" Kata tuan Barry mempersilahkan.
Jerry segera duduk di kursinya dan menatap wajah Barry dan Ronald secara bergantian.
"Tuan muda, sebenarnya ada hal yang penting apakah itu sehingga anda mengadakan pertemuan mendadak dengan kami?" Tanya Ronald penasaran.
"Paman Ronald dan Tuan Barry. Apakah anda ingat tentang penghianat yang bernama Pero itu?" Tanya Jerry.
"Benar Tuan muda. Kami memang sangat ingat dengan wajah penghianat itu. Jika bukan perintah dari anda, kemungkinan aku akan mengakhiri hidupnya." Kata Ronald dengan sangat geram.
"Paman Ronald. Justru karna itu lah aku mengajak kalian untuk bertemu hari ini. Setidaknya dengan kita melepaskan Pero, aku menemukan sesuatu yang baru yang tidak aku mengerti. Dan tujuanku datang kesini adalah ingin menanyakan sesuatu." Kata Jerry sambil membuka ponselnya dan meneruskan pesan Whatsapp kepada Ronald dan Barry.
"Apakah itu Tuan muda. Jika kami mengetahuinya, kami pasti akan memberitahu anda semua yang kami ketahui." Kata Barry bersungguh-sungguh.
"Silahkan buka pesan Whatsapp yang aku kirim. Dan beritahu kepadaku apa yang kalian ketahui tentang orang yang ada di dalam gambar itu." Perintah Jerry sambil mempersilahkan mereka untuk mengecek pesan yang baru saja masuk.
__ADS_1
Ronald dan Barry saat ini buru-buru mengeluarkan ponsel mereka dan begitu mereka membuka pasan yang baru saja masuk, spontan mereka berdua saling bertukar pandang dengan kerutan kening yang sangat dalam.
"Tuan muda. Siapa yang mengirim gambar dan video ini kepada anda?" Tanya tuan Barry.
"Aku belum mengkonfirmasi nya. Tapi dugaan ku adalah anak buah tuan Syam lah yang telah mengirimkan nya padaku."
"Tuan Barry dan Paman Ronald, apakah anda mengenal siapa wanita dan lelaki bersama Pero yang ada di dalam foto itu?" Tanya Jerry yang sejak tadi sangat penasaran dengan orang yang ada bersama Pero di dalam gambar tersebut.
"Jelas.., jelas bahwa kami sangat mengenal mereka ini." Kata tuan Barry sambil menatap ke arah Jerry.
"Siapa wanita dan laki-laki itu Tuan Barry. Cepat lah beritahu aku siapa mereka itu!" Desak Jerry yang mulai sudah tidak sabaran.
"Tuan muda, wanita yang ada di dalam Video ini adalah Dianna Regnar. Sedangkan yang laki-laki yang memakai jas hitam yang tampak sedang memberikan instruksi itu adalah Robin Patrik." Kata tuan Barry menjelaskan.
"Benar Tuan muda. Wanita itu adalah Dianna Regnar. Sedangkan lelaki selain Pero itu adalah anak tertua dari keluarga Patrik yaitu Robin." Kata Ronald menguatkan penjelasan yang di berikan oleh Barry tadi.
"Tunggu paman...!" Kata Jerry sedikit mengernyitkan keningnya.
"Aku dapat mengerti jika Pero mungkin saja telah berkomplot dengan keluarga Patrik untuk memata-matai kita. tapi yang tidak aku mengerti adalah, siapa wanita setengah baya itu? Dari keluarga mana dia berasal?" Tanya Jerry yang kian tidak mengerti.
"Tuan muda, saya harap anda tidak terkejut dengan apa yang akan kami jelaskan nanti." Kata Ronald sambil menatap wajah Jerry.
"Lanjutkan!" Perintah Jerry.
Mendengar Jerry menyuruhnya untuk melanjutkan, Ronald hanya memandang ke arah tuan Barry.
Mengerti akan makna dari tatapan itu, tuan Barry pun akhirnya membuka mulut.
"Tuan muda, Wanita yang bersama dengan mereka itu adalah Dianna Regnar. Dia adalah istri dari paman anda yaitu Jackson William adik kandung mendiang Ayah anda Tuan Wilson William." Kata tuan Barry menjelaskan dengan detil.
"Apa?"
Bagai di sengat listrik bertegangan tinggi. Begitu Jerry mendengar itu, dia tampak sangat terkejut dan menatap wajah Ronald dan Barry secara bergantian.
__ADS_1
Bersambung...