PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Ramendra menelepon Daniel


__ADS_3

...Metro City...


Saat ini di Villa William tampak Diana sedang berdebat dengan Jackson.


Jackson yang saat ini terus-terusan di desak oleh Diana agar menuntut kembali perusahaan William group setelah Jerry menghilang tampak sudah mulai kehabisan kesabaran.


"Sudahlah Diana. Hentikan ambisi mu itu untuk menduduki jabatan sebagai Direktur eksekutif. Ini karena kau telah di berhentikan dari jabatanmu dan itu masih berlaku sampai saat ini." Kata Jackson.


"Itu dulu. Sekarang ini tidak lagi. Kau harus menuntut kembali kepemilikan 70% saham mu di William group." Kata Diana.


"Bagaimana mungkin aku bisa seenaknya saja menuntut saham itu? Apa kau kira seperti membeli kacang goreng? Gunakan otak mu sedikit saja untuk berfikir!" Kata Jackson yang mulai marah.


"Dulu Jerry menguasai perusahaan itu. Tapi sekarang dia sudah tidak ada lagi. Kau harus meminta kepada ayah untuk menuntut kembali perusahaan itu kepada Mr.Brylee." Kata Diana yang tak mau kalah.


"Aku heran dengan cara berfikir mu yang menganggap gampang masalah ini. Perusahaan itu telah di serahkan oleh ayah kepada Jerry sebagai pewaris di keluarga ini dan itu ada surat pernyataan hitam di atas putih. Apa kau gila menyuruh ku untuk menuntut kembali perusahaan itu?!" Bentak Jackson.


"Jadi bagaimana dengan perusahaan itu sekarang ini? Sudah pasti perusahaan itu akan bangkrut karena Jerry saat ini masih belum tau di mana keberadaannya. Apakah masih hidup atau sudah mati." Kata Diana lagi.


"Saat ini keluarga sedang berduka, Diana. Kau jangan menabur garam di atas luka keluarga ini!" Tegur Jackson.


"Aku malah berharap agar anak itu tidak di temukan. Bila perlu dia mati sekalian."


"Plak..."


"Aw... Aduh."


"Kau.., kau menamparku Jackson?!" Kata Diana sambil memegang pipinya.


Selama puluhan tahun mereka menikah, baru dua kali dia di tampar oleh Jackson. Yang pertama ketika Jerry membongkar kedok nya. Yang ke dua baru saja ini.


"Heh perempuan sialan. Kau jangan keterlaluan. Asal kau tau saja, jika bukan karena aku memandang Kenny, sudah lama aku mencampakkan mu di pinggir jalan. Kau fikir kau siapa?"


"Aku berusaha untuk memaafkanmu berharap kau bisa berubah. Kau telah menjadi duri di keluarga ini selama kita menikah. Aku tau apa tujuan mu menuntut perusahaan William group agar di ambil alih lagi oleh ayah. Itu agar kau dapat mengucurkan dana kepada perusahaan ayah mu yang akan bangkrut kan?" Kata Jackson sambil menunjuk batang hidung Diana.


"Kau... Mengapa kau berubah menjadi kasar begini setelah kau menemukan anak gelandangan yang entah dari mana asalnya itu?"

__ADS_1


"Diaaam...!"


"Aku berubah karena kau. Jika suka, kau bisa tetap tinggal di Villa ini. Jika tidak suka, kau boleh angkat kaki sekarang!" Bentak Jackson lalu masuk ke kamar dan melemparkan koper besar.


"Kau kemasi barang-barang mu dan pergi dari rumah ini!" Kata Jackson dengan lantang.


...*********...


Kriiiing.....!


Kriiiing.....!


"Hallo..."


"Hallo.. Selamat siang. Bisa bicara dengan Bapak Daniel?"


"Ya saya sendiri. Apakah ada yang bisa saya bantu?"


"Wah.., maaf karena saya akan meminta sedikit waktu anda Pak Daniel. Nama Saya adalah Ramendra. Saya beberapa hari yang lalu telah sempat mengajukan tawaran kerja sama kepada tuan Barry. Namun dia mengatakan bahwa hanya anda yang berhak untuk memutuskan segala bentuk kerja sama." Kata lelaki yang ternyata Ramendra melalui panggilan telepon tersebut.


"Emmm... Besok.., besok. Tuan Ramendra, jujur saja saat ini saya sangat sibuk. Begini saja. Bagaimana jika lusa?!" Kata Daniel.


"Oh baik lah jika demikian. Ini karena saya ingin menjelaskan butiran kerja sama yang sedang ingin saya tawarkan untuk perusahaan Future of Company. Menurut saya lebih baik bertemu langsung daripada hanya sekedar melalui telepon." Kata Ramendra dengan nada suara di buat sedemikian berwibawa.


"Hahaha... Anda terlalu berbasa-basi Tuan Ramendra. Saya mengerti apa maksud dan tujuan anda. Ini karena tuan Barry telah menceritakan semuanya kepada saya."


"Baik. Begini saja. Aku ingin kita melakukan pertemuan di restoran bahagia. Aku akan menunggu anda di sana pukul 10 Pagi. Bagaimana?" Tanya Daniel.


"Baiklah Pak Daniel. Jika sudah sepakat, mari kita lakukan pertemuan dua hari kedepan tepat pukul 10 di restoran bahagia Starhill."


"Ok Tuan. Sampai bertemu besok lusa." Kata Daniel lalu mengakhiri panggilan tersebut.


"Hahahaha... Kena kau!" Kata Daniel dalam hati.


Dia lalu segera melakukan panggilan kepada Ronald dan mulai membahas tentang segala macam rencana untuk mengantisipasi kemungkinan yang mungkin saja terjadi.

__ADS_1


Setelah semua perencanaan telah direncanakan secara teliti, barulah Daniel mengakhiri panggilan dan segera berangkat menuju rumah sakit karena hari ini Riko sudah bisa keluar dari rumah sakit.


Sementara itu di MegaTown Ramendra juga sedang serius membahas rencana bersama Robin.


"Daniel ini. Aku merasa bahwa orang yang bernama Daniel ini masih sangat muda. Tadinya aku mengira bahwa orang yang bernama Daniel ini sebaya dengan Barry." Kata Ramendra.


"Dia menang masih muda, Ayah. Tapi dia ini sangat terpelajar. Salah satu dari empat mahasiswa Golden university yang memiliki predikat unggulan. Ketika mereka sudah bersama, sangat sulit untuk mengalahkan kekuatan otak dan otot keempat pemuda ini. Setidaknya itu yang aku baca dari keterangan Via yang dia tulis di buku catatannya." Kata Robin.


"Apakah seperti itu? Aku merasa bahwa catatan dalam buku itu terlalu berlebihan. Hahaha.. Apakah dia bisa lolos dari Naga tua ini?" Kata Ramendra dengan sangat percaya diri. Sedikit pun dia tidak memandang sebelah mata kepada anak muda yang bernama Daniel ini.


"Ayah jangan terlalu menyepelekan lawan. Andai mereka bertiga pun bersama, jangan harap Jerry bisa kita bunuh. Kita hanya bisa mencelakai Jerry karena kedua sahabatnya tidak bersama dengan nya waktu itu." Kata Robin.


"Hahaha... Apa bedanya? Ada atau tidak kedua sahabatnya itu apa yang bisa mereka lakukan jika Ramendra sudah bertindak. Bila perlu ketiga nya akan aku kirim ke neraka." Kata Ramendra lagi dengan angkuh.


"Keangkuhan mu itu lah yang akan memakan dirimu. Aku telah merasakan bagaimana aku mengalami kerugian yang besar karena sepak terjang ketiga anak muda ini." Kata Robin dalam hati.


Bagaimanapun dia sangat khawatir kepada ayah mertuanya ini yang terlalu memiliki rasa percaya diri yang berlebihan.


"Sudahlah Robin! Kau jangan terlalu banyak berfikir. Bagaimanapun kita memiliki beberapa rencana. Ini hanyalah permulaan. Awal dari kehancuran Future of Company. Hahahaha..." Kata Ramendra sambil tertawa terbahak-bahak.


"Baiklah Ayah. Aku percaya kepada kemampuan mu. Saat ini aku tidak bisa membantu terlalu banyak. Walaupun identitas ku telah dipalsukan, namun aku khawatir kepada Drako dan Syam. Dia pasti mencurigaiku atas apa yang telah menimpa kepada diri tuan muda mereka." Kata Robin.


"Kau tidak perlu khawatir Robin. Tidak ada yang memiliki bukti bahwa kita lah pelaku semua itu. Ada pun saksi, saat ini sedang sekarat menghadapi maut. Anak Regan dan anak bungsu Lenard saat ini sedang koma. Siapa yang bisa membongkar kejahatan kita?" Tanya Ramendra.


"Ya. Anak itu harus dibikin koma selamanya." Kata Robin.


"Jangan sekarang Robin. Saat ini mereka menjaga anak itu siang dan malam. Mereka juga membawa Dokter pribadi untuk mengurus anak itu. Saat ini kita belum memiliki kesempatan. Tapi kau jangan khawatir. Begitu ada kesempatan, kita habisi kedua anak itu." Kata Ramendra.


"Apakah Ayah ada mengirim mata-mata di rumah sakit tempat mereka di rawat?" Tanya Robin.


"Kelelawar hitam ada di sana. Dia adalah mantan ninja dari jepang. Kau tidak mengenal nya Robin. Ini karena dia akan datang ketika aku perlukan." Kata Ramendra.


"Hebat. Ayah sungguh sangat berpandangan jauh." Kata Robin memuji.


"Tunggu saja mereka lengah. Kita akan membantai mereka satu per satu." Kata Ramendra lalu beranjak pergi meninggalkan Robin yang tersenyum-senyum sendirian.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2