PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Kematian Jimmy dan Jessica


__ADS_3

Perkampungan pinggir pantai Country home.


Satu unit Helikopter menderu dari ketinggian yang tidak seberapa lalu mendarat dengan mulus tidak jauh dari pantai.


Begitu melihat Helikopter yang dikenali sebagai Helikopter yang selalu digunakan oleh perusahaan untuk menjemput Tuan muda pemilik perusahaan Future of Company itu, dua orang yang sedang berada di pinggir pantai itu pun segera melambaikan tangannya.


"Ayo Tigor! Jemputan sudah tiba." Kata lelaki setengah baya itu kepada seorang pemuda berbadan lumayan tegap, memliki rambut sedikit panjang belah tengah dan berwarna sedikit pirang itu.


Pemuda bernama Tigor ini adalah pemilik sebuah proyek yang sedang dikerjakan oleh orang-orang bawahan Ryan, Riko dan Daniel di kota Kemuning.


Di sana dia dikenal sebagai orang nomor dua dalam organisasi kucing hitam. Sebuah organisasi mafia yang bergerak dalam bisnis malam, judi, obat-obatan terlarang yang sering berbisnis di Hongkong, Macau, Taiwan dan Singapura serta beberapa negara di Asia lainnya.


Organisasi ini tidak lah besar. Bahkan untuk ukuran Dragon empire, organisasi kucing hitam ini pun tidak sampai seperdelapan nya. Tapi untuk sebuah kota di kampung halamannya, organisasi kucing hitam ini sangat diperhitungkan. Ini karena organisasi ini di sisi oleh orang-orang yang tidak kenal takut semenjak Tigor ini bergabung dengan mereka.


"Pak Jeff. Apakah kita dijemput menggunakan capung besar itu?" Tanya Tigor.


Wajar dia sangat heran. Ini karena seumur hidupnya, dia tidak pernah naik Helikopter. Jadi, dapat dibayangkan betapa kayanya Jerry William ini.


"Benar. Untuk menghemat waktu karena jarak tempuh yang jauh, maka Tuan muda merangkap ketua telah mengirim Helikopter ini untuk menjemput kita." Kata Jeff menjawab pertanyaan Tigor tadi.


"Ayo cepat Tigor! Nanti kita terlambat. Waktunya tidak banyak." Kata Jeff lalu melangkah mendekati Helikopter itu.


"Selamat kembali Pak Jeff. Ada salam dari Pak Austin untuk anda." Kata Pilot Helikopter tersebut.


"Wah ternyata Austin masih mengingat aku. Ok lah pak pilot. Mari kita segera berangkat!" Kata Jeff.


"Mari silahkan!" Kata Pak pilot itu.


"Silahkan pasang interkom anda pak Jeff dan teman anda ini. Ini akan memudahkan komunikasi antara kita selama berada di helikopter ini." Kata Sang pilot memperingatkan.


"Baik. Kau Tigor! Segera pasang ini di telinga mu biar telinga mu tidak sakit." Kata Jeff sambil membantu Tigor memasang benda tersebut ke telinga nya.


"Siap? Mari kita berangkat!" Kata sang pilot.


Lalu tak lama kemudian helikopter itu pun terangkat ke atas dan melaju dengan cepat menuju Metro City.


"Huh... Gamang sekali rasanya." Kata Tigor dalam hati.


Seumur hidup dia tidak pernah naik Helikopter. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan.


***


Kita tinggalkan dulu Tigor dan Jeff yang sedang dalam perjalanan.


Kini mari kita ikuti perjalanan Arslan menuju Villa Klasik dengan membawa Jessica dan Jimmy.


Ketika mereka tiba di Villa Klasik itu, Arslan langsung melangkah memasuki Villa tersebut dengan niat untuk menemui Jerry.


"Jerry. Jessica dan Jimmy sudah berada di Villa ini. Apa selanjutnya?" Tanya Arslan.


"Tetap tutup matanya, lalu ikat dan masukkan ke dalam kamar tahanan. Sebentar lagi yang lain akan tiba." Kata Jerry.


"Baik Jerry. Jika begitu, aku akan beristirahat dulu sebentar." Kata Arslan.


Tepat menjelang senja, beberapa kendaraan mewah satu per satu berdatangan di Villa Klasik.


Sementara itu di atas terdengar suara deru helikopter dan mendarat tepat di kawasan luas di samping Villa tersebut.


Tampak tiga orang turun dari helikopter dan langsung bergabung dengan beberapa orang yang berada di halaman Villa itu.


"Kau telah kembali Jeff?" Tanya seorang lelaki setengah baya.


"Wah ternyata Tuan Syam sudah tiba di sini. Ya aku kembali dengan membawa seseorang yang diinginkan oleh Ketua." Kata Jeff.

__ADS_1


"Hmm.. apakah kau yang bernama Tigor itu anak muda?" Tanya Tuan Syam.


"Benar Tuan." Jawab Tigor dengan sopan dan hormat.


"Salam untuk anda ketua." Kata Jeff lagi begitu melihat Drako.


"Bagus Jeff. Ternyata kau berhasil. Bagaimana perjalanan mu?" Tanya Drako.


"Beruntung tidak ada badai. Jadi kami selamat. Saat ini Speedboat yang kami gunakan sudah di bawa oleh nakhoda nya ke dermaga gudang kita di Country home." Kata Jeff.


"Bagus. Ayo kita masuk. Ketua sudah menunggu." Kata Drako.


Beberapa pentolan organisasi dari Dragon Empire dan Tiger pun mulai memasuki Villa dan langsung menuju ke sebuah ruangan pertemuan yang sangat luas dengan kursi-kursi berjumlah banyak.


Tigor, orang asing yang sengaja di jemput oleh Jeff atas perintah dari Jerry hanya terbengong dan nyaris ternganga melihat Villa mewah dengan dekorasi yang indah itu.


"Aku tidak pernah melihat rumah sebesar ini kecuali istana sultan di Medan." Kata Tigor dalam hati.


Begitu mereka tiba di ruangan itu, sekali lagi Tigor tercengang. Karena di dalam, sudah ada banyak orang yang sedang berdiri dengan rapi dalam jumlah yang jika dihitung melebihi seribu orang itu.


"Gila sekali. Organisasi apa ini? Ini yang di dalam. Lalu yang di luar melebihi tiga ribu orang. Pantas saja Tuan Ryan, Riko dan Daniel begitu sombong untuk menjamin keamanan proyek di kota Kemuning." Kata Tigor lagi dalam hati.


Lamunan Tigor buyar seketika begitu dari arah pintu khusus, tampak empat orang pemuda berjalan memasuki ruangan tersebut.


Tigor kembali tercengang ketika melihat semua orang berlutut dengan satu kaki di tekuk. Hal ini membuat Tigor mau tidak mau juga ikut berlutut dengan satu kaki di tekuk juga.


"Selamat datang ketua." Kata mereka serentak membuat langit-langit ruangan itu seperti ingin runtuh bergema.


"Itukah Jerry William itu?" Tanya Tigor dalam hati. Hal ini karena dia sudah mengenal ketiga pemuda yang berjalan tadi yaitu Ryan, Riko dan Daniel.


"Silahkan bangun dan duduklah di kursi masing-masing!" Kata Jerry lalu dia pun duduk di kursi besar milik ketua. Sedangkan Ryan, Riko dan Daniel berdiri di samping kiri-kanan nya.


"Kak Arslan. Bawa tawanan itu kemari!" Kata Jerry merujuk kepada Jessica dan Jimmy.


Tak lama kemudian beberapa orang lelaki berbadan tegap memasuki ruangan itu sambil menggiring dua orang dengan kepala tertutup dan tangan terikat.


"Buka penutup mata orang itu dan lepaskan ikatan pada tangannya!" Perintah Jerry.


Lelaki berbadan tegap itu hanya menurut saja tanpa membantah.


Begitu ikatan serta penutup mata kedua orang itu di buka, kini tampak lah wajah cantik Jessica yang memucat juga wajah bengis Jimmy yang seperti putus asa.


"Kita bertemu kembali Jimmy, dan kau Jessica." Kata Jerry dengan senyum yang sangat dingin.


"Kau. Jer... Jerry...?! Bagaimana mungkin? Bukan kah?!"


"Mengapa? Apa kau kira dunia ini terlalu luas untukmu melarikan diri dariku? Dunia ini sangat sempit bagi penghianat seperti kalian berdua ini." Kata Jerry.


"Maafkan kami Jerry!" Kata Jimmy ketakutan.


"Aku sudah mengatakan kepada kalian bahwa aku akan memberikan hukuman kepada pengkhianat dengan hukuman yang sangat pedih. Apakah karena kebaikan ku, atau karena kebodohan ku sehingga kalian berani mengkhianati ku?" Tanya Jerry.


Tidak ada jawaban dari sepasang muda-mudi itu. Mereka hanya tertunduk saja sambil menggigil ketakutan.


Wuuuzzz....!


Plak....!


"Akh... !"


Tampak sebuah benda dilemparkan oleh Jerry yang dengan tepat menghantam ubun-ubun Jimmy lalu menancap di sana.


Kini tampak tubuh Jimmy terjerembab di lantai dengan darah segar mengalir menggenangi lantai ruangan pertemuan itu.

__ADS_1


"Sudah aku katakan bahwa jika uang yang kau inginkan, akan aku berikan seberapa yang kau mau. Tapi jika aku dikhianati, nyawa busuk mu itu tidak cukup untuk membayarnya." Kata Jerry sambil melangkah mendekati tubuh Jimmy yang masih bergerak-gerak meregang nyawa itu.


Jerry lalu mencabut benda yang tertancap di ubun-ubun Jimmy. Menyeka nya dengan baju pemuda itu lalu dengan sigap melemparkan ke arah dinding ruangan hingga menancap di dinding tersebut.


Kejadian yang sangat cepat itu membuat yang menyaksikan menjadi pucat.


Bukan hanya Ryan, Riko dan Daniel yang heran menyaksikan kemarahan Jerry serta kemampuan nya. Tuan Syam, Drako bahkan Tigor yang memiliki kemampuan seperti itu pun juga merasa heran.


Tigor, yang memiliki kemampuan seperti itu hanya sebatas tubuh manusia saja. Tapi untuk melemparkan sesuatu hingga menancap di dinding, harus memiliki tenaga dalam yang cukup serta kecepatan yang tinggi.


Melihat Kakaknya terbunuh di tangan Jerry, membuat Jessica menjadi histeris.


"Jerry. Bunuh juga aku!" Jerit Jessica.


"Aku tidak pernah memukul wanita." Jawab Jerry.


"Jika begitu, aku yang akan membunuh mu!" Kata Jessica sambil mencabut sesuatu di pinggangnya dan meluruk ke arah Jerry.


Sedikitpun Jerry tidak menghindar. Namun dari samping tiba-tiba...,


Dor...


Dor...


Dor....!


Tampak Herey melepaskan tiga das tembakan yang dengan kecepatan tinggi langsung menerjang tubuh Jessica membuat gadis itu terjatuh sebelum mencapai sasarannya.


"Bereskan mayat kedua penghianat ini!" Kata Jerry sambil duduk kembali di kursinya.


Beberapa orang berseragam hitam-hitam itu langsung mengangkat tubuh Jimmy dan Jessica lalu sebagian dari mereka mulai membersihkan ruangan itu dari genangan darah kedua orang tersebut.


"Salah besar jika memandang Jerry William dengan sebelah mata. Apakah semudah itu bisa lolos dariku. Hari ini Jimmy dan Jessica. Lusa aku ingin kepala Fardy terpisah dari tubuhnya.."


"Paman Jeff. Mana orang yang bernama Tigor itu?" Kata Jerry bertanya dengan suara lantang.


"Jeff menjawab Ketua. Pemuda ini bernama Tigor!" Kata Jeff sambil menunjuk ke arah Tigor.


"Hmmm. Apakah benar dia orangnya?" Tanya Jerry kepada Riko.


"Benar Ketua." Jawab Riko.


"Bawa dia ke kamar yang kosong untuk beristirahat!" Perintah Jerry.


"Ayo Tigor ikut dengan ku. Kau tentu lelah setelah menempuh perjalanan jauh." Kata Riko.


"Mari Tuan Riko." Kata Tigor pula dengan tersenyum.


"Aku rasa sudah tidak ada yang perlu di bahas. Target kita tinggal Fardy. Lalu menggagalkan Tuan Holmes untuk menduduki kursi Gubernur Metro City ini."


"Semua sudah di atur Ketua! Saat ini Leo mungkin sudah melakukan aksinya dengan mengadu domba antara Fardy dan Tuan Holmes. Kita tunggu saja apa reaksi nya." Kata Arslan.


"Tetap pantau Villa milik Ramendra. Aku tidak ingin Fardy mencium situasi lalu melarikan diri lagi." Kata Jerry memerintahkan.


"Siap laksanakan Ketua. Saat ini anak buah Herey dan sebagian anak buah ku masih berada di MegaTown." Jawab Arslan.


"Hmmm... Bagus! Sekarang pertemuan ini aku bubarkan. Oh ya. Mari kita makan malam bersama. Sudah lama kita tidak makan malam bersama kan? Ayo kita bergotong royong memindahkan meja dan kursi ke luar. Kita akan makan malam bersama." Kata Jerry yang mendadak menjadi orang yang biasa.


Sama sekali tidak terlihat dalam diri Jerry adanya ketegasan, dingin dan mengintimidasi seperti tadi. Padahal baru saja dia membunuh Jimmy.


"Jerry ini seperri bunglon." Kata Ryan dalam hati.


Mereka lalu bergotong royong memindahkan meja dan kursi ke halaman samping Villa. Karena jika di dalam, tidak mungkin muat karena ruangan Villa itu tidak cukup menampung jumlah mereka yang ribuan orang jika ditambah dengan anggota yang berada di luar Villa itu.

__ADS_1


__ADS_2