PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 33 Bertemu tante Jasmin


__ADS_3

POV Haikal


"Bagus! Sekarang geledah pakaian nya. Jangan sampai markas kita di ketahui oleh keluarga Purbalingga. Sudah belasan tahun kita tidak mengusik keluarga itu dan hanya bergerak dalam diam. Tapi sebentar lagi mereka akan hancur di tangan darah daging mereka sendiri". Imbuh om Ronal membuat ku tercengang mendengar ucapan nya.


Siapa yang mereka maksud? Aku atau orang lain yang menjadi target balas dendam mereka. Tapi menurut ku, sudah jelas yang mereka maksud itu adalah aku karena hanya aku yang ada di mobil ini dan malah di curigai dengan menggeledah pakaian ku.


Beruntung aku tidak pernah membawa barang pemberian mama Aisyah ke sekolah seperti ponsel dan jam tangan. Itu agar aku bisa fokus belajar, lagi pula takut saja kalau tiba - tiba Rudi dan teman - teman nya merampas semua nya saat di sekolah. Jika mereka berniat membunuh ku rasanya nggak mungkin karena mereka ingin aku balas dendam.


"Tiada apa - apa di pakaian dan tas nya bos". Lapor pengawal setelah menggeledah pakaian dan tas ku.


"Selidiki semua tentang apa yang di lalukan anak ini selama tinggal dengan keluarga itu. Cari keberadaan si Karim juga, pria brengsek itu sudah berani bermain - main dengan ku selama ini. Aku sudah meminta nya untuk menyekolahkan anak ini di sekolah elit dan masuk seni bela diri agar saat masa nya sudah tiba ia juga sudah siap. Tapi ia malah memasukkan anak ini di sekolah biasa dan malah sama sekali tidak bergabung dalam klup seni bela diri".


"Saya sudah mencari keberadaan Karim sebelumnya tapi ia seperti tertelan bumi, tiba - tiba menghilang begitu saja. Terakhir kali orang melihatnya saat membawa anak gadis nya ke rumah seorang juragan bernama Jarwo untuk di nikahkan. Tapi malam itu malah terjadi tragedi yang mengenaskan". Jelas pengawal itu..


"Bagus, kamu sangat bisa di andal kan. Terus kan mencari, kalau boleh tanya kan pada anak perempuan nya itu ke mana bapak nya pergi". Ujar om Ronal.


Aku yakin mereka tidak sepenuhnya berhasil menyelidiki kejadian, hanya sebagian cerita yang mereka ketahui dan masih buram informasi. Sebuah ponsel tiba - tiba berdering membuat om Ronal berdecak kesal.


"Ini wanita kenapa juga selalu menggangguku? Dia pikir aku akan tertarik dengan sikap nya banyak muka itu". Omel Om Ronal.


"Angkat aja bos, dia juga bisa kita manfaat kan suatu hari nanti, untuk saat ini lebih baik kita ladeni saja dulu. Bila tiba saat nya nanti maka mereka semua akan musnah dengan sendiri nya". Saran pengawal yang mengemudi mobil.

__ADS_1


Om Ronal terdengar mengangkat panggilan itu dan mulai berakting kalau ia bahagia di perhatikan oleh wanita tersebut tapi sebenarnya ia sedang memasang wajah jengkel. Tiada obrolan berarti antara om Ronal dan wanita itu sehingga mobil memasuki sebuah rumah mewah yang cukup besar dan mempunyai halaman yang luas.


"Angkat dia ke kamar bawa lantai dua yang kosong, pastikan semua yang sudah kita rencanakan berjalan dengan lancar". Titah Om Ronal pada pengawal nya saat sudah berada di depan rumah.


Tubuh ku di gendong memasuki rumah, desain rumah ini cukup mewah lebih kurang seperti rumah mama Aisyah hanya di sini terlihat sedikit klasik tapi tetap mengesankan bagi yang pertama kali melihat nya. Memakai lift untuk ke lantai atas padahal di sebelah sana aku melihat ada tangga.


"Perlahan saja, takut nanti dia bangun badan nya malah sakit - sakit dan dia akan tambah curiga pada kita". Ujar salah satu pengawal. Aku di baringkan di atas kasur empuk lalu mereka segera pergi dari kamar ini dan menutup pintu rapat.


Sebentar sudah penat berpura - pura pingsan tapi sebagai seorang tawanan aku yakin di dalam kamar ini terdapat kamera tersembunyi untuk mengawasi tingkah laku ku. Dari pada terus berpura - pura lebih baik aku tidur beneran mumpung baring di atas kasur empuk dengan posisi baring yang nyaman.


Entah sudah berapa lama aku tertidur, samar - samar aku mendengar pintu terbuka. "Coba periksa dia, dia hanya meminum air itu sedikit tapi kok pingsan nya lama". Titah seorang wanita yang tampak bingung karena aku belum juga sadar.


Aku pura - pura bergeliak, "emm...".


"Dia sudah bangun nona". Lapor pengawal itu..


"Sakit nya badan ku seperti sudah tidur seharian". Gumam ku sambil memegang tinggal yang rasanya sakit sekali..


"Ponakan tante udah kembali, kamu baik saja kan sayang?". Wanita itu tiba - tiba memelukku dengan memasang wajah sedih nya.


"Eh, kamu siapa?". Tanya ku mencoba mendorong tubuh nya perlahan..

__ADS_1


"Ini tante sayang, kamu pasti sudah lupa yah. Tak mengapa, tante akan memperkenalkan diri. Nama tante Jasmin, tante adalah adik almarhumah mama kamu". Imbuh wanita itu, ia sudah berumur tapi terlihat awet muda dari usianya.


"Almarhumah mama aku?". Aku berpura - pura syok mendengar ucapan nya.


"Iya, sayang. Mama dan papa kamu meninggal karena di bunuh oleh seseorang. Dulu mama dan papa kamu sempat menitipkan kamu pada tante saat mereka berencana melakukan perjalanan bisnis keluar negeri tapi saat di menuju ke bandara, mobil mereka oleng tapi beruntung nya mereka selamat dan sempat di larikan ke rumah sakit untuk si tangani. Tapi setelah operasi, ada orang yang sengaja membunuh mereka dengan memasukkan racun ke infus mereka". Jelas tante Jasmin dengan linangan air mata.


Akting apa lagi ini.


"Boleh aku lihat foto mama dan papa, tante. Aku juga rindu pada mereka meskipun tidak bisa mengingat wajah mereka". Pinta ku ikut terlihat sedih tapi sulit untuk mengeluarkan air mata palsu.


"Kamu waktu itu memang masih kecil mustahil masih mengingat wajah mereka. Ta - tapi di rumah ini sudah tidak terdapat satu pun foto mereka". Sahut tante Jasmin kembali menundukkan kepala sedih.


"Kenapa tante? Kenapa foto mama dan papa tidak ada di rumah ini?". Tanya ku. Sebenarnya aku tahu mereka lupa untuk menyediakan persiapan yang lengkap untuk berakting di depan ku.


"I - itu karena kami tidak mau melihat wajah mereka lagi. Luka yang menganga di hati kami rasanya kembali di siram air panas saat melihat wajah mereka. Maka nya oma dan opa kamu memutuskan menitip kan mu pada orang lain untuk di besarkan karena melihat wajah kamu saja sudah menyakiti hati mereka. Lagi pula keberadaan kamu di rumah ini juga terancam karena orang yang membunuh mama dan papa kamu juga ingin kamu mati". Jawab tante Jasmin yang menurut ku tak masuk akal..


"Oh, begitu yah. Padahal aku begitu ingin bertemu mereka. Tapi mendengar cerita tante rasa sudah tidak ada harapan untuk bertemu bahkan melihat foto mereka juga tidak mungkin". Imbuh ku.


"Kamu nggak usah sedih ya, sayang. Tante masih ada di sini untuk menemani kamu, wajah kami berdua juga hampir sama aja kok. Kalau kamu rindu dengan mama kamu bisa langsung lihat wajah tante saja. kita balas dendam pada keluarga Purbalingga yang sudah membunuh mama dan papa mu sehingga kamu menjadi anak yatim piatu di usia masih balita. Kamu harus janji sama tante untuk membalas dendam mereka, sayang". Desak tante Jasmin sambil mengguncangkan bahu ku.


Aku mengangguk menyetujui permintaan tante Jasmin. Aku memang akan membalaskan dendam mama dan papa ku tapi bukan berarti aku harus menuruti permintaan kalian. Aku akan memastikan identitas ku yang sebenar terlebih dahulu. Siapa keluarga ku yang sebenarnya saja aku masih kurang pasti.

__ADS_1


__ADS_2