
Acara pertemuan akbar itu akan segera di mulai. Namun orang yang di tunggu-tunggu belum juga tiba.
"Oh Tuhan..., kemana lagi Jerry ini?" Kata Daniel menggerutu kepada Ryan.
"Mana aku tau. Itu lah kalau orang yang penyakikan. Masalah sebegini penting di anggap sepele oleh Jerry. Huhh...." Kata Ryan juga mengeluh.
Saat ini dia mengedarkan pandangan nya ke sekeliking ruangan. Namun dia tidak menemukan dimana Jerry berada.
Di barisan orang-orang penting di perusahaan juga tampak tidak kalah gelisah nya.
Tuan Barry, Ronald dan Austin adalah antara orang-orang yang tampak sangat gelisah.
"Kemana tuan muda ini. Acara akan di mulai. Tapi dia belum juga tiba." Kata tuan Barry sambil melihat satu per satu para staf sudah mulai berdatangan.
Kini tampak tuan Raven, tuan Isak dan tuan Ricardo memasuki ruangan bersama dengan keluarga masing-masing.
Lima menit kemudian tampak tuan Ricard juga memasuki ruangan bersama sang istri dan anak lelaki mereka yaitu Herman.
Begitu tuan Ricard memasuki ruangan, tuan Barry, Ronald, Austin dan tuan Paul langsung berdiri menyambut kedatangan teman masa muda sekaligus sebagai wakil dari jajaran staf dari perusahaan William Group selain Jackson sekeluarga dan Juga Brylee selaku pemegang kuasa hukum perusahaan.
"Oh Tuhan..., kau kah itu Ricard..?" Kata tuan Barry segera berjalan menghampiri tuan Ricard dan langsung merangkul sahabat lamanya itu.
"Hahaha... Barry. Kau tidak berubah. Dari dulu tetap ramah dan baik." Kata tuan Ricard memuji.
"Apakah ini anak mu Ricard?" Tanya tuan Barry. Dia seperti nya pernah melihat anak ini. Tapi dia lupa entah dimana.
"Benar. Ini adalah anak ku satu-satu nya lelaki. Herman, cepat beri hormat kepada Tuan Barry!" Kata tuan Ricard menyuruh Herman untuk memberi hormat kepada sahabat masa muda nya itu.
"Hallo Tuan Barry. Saya memberi hormat kepada anda." Kata Herman seraya membungkuk memberi hormat.
"Apakah kau melupakan ku Ricard?" Kata satu suara menegur.
"Hey... Ronald dan kau Austin. Hahahaha... Siapa bilang aku melupakan mu." Kata tuan Ricard lalu mereka saling berpelukan.
Ketika sampai kepada tuan Paul, tuan Ricard juga memeluknya dan mengusap kepala Anton yang dia anggap seperti keponakannya sendiri itu.
__ADS_1
"Aku sudah tidak sabar untuk melihat seperti apa wajah tuan muda kita itu. Dimana dia sekarang?" Tanya Ricard sambil memandang kesekeliling aula.
"Ini lah yang membuat ku bingung. Para staf sudah hampir semua menghiri pertemuan ini. Tapi tuan muda kita masih belum menampakkan diri." Kata tuan Barry sambil mengeluh.
Sebelum yang lain sempat berkata-kata, tiba-tiba dari luar masuk rombongan lelaki setengah baya yang tampak sangat di hormati didampingi oleh seorang wanita dengan dandanan bak ratu sambil mendorong kursi roda yang di duduki oleh seorang pemuda yang tampak sangat tanpan dan matang. Tampak senyuman tidak pernah lekang dari wajah pemuda yang duduk di kursi roda itu.
Begitu rombongan itu sampai di tengah-tengah aula, tampak semua yang ada di ruangan itu membungkuk memberi hormat.
"Selamat datang Tuan besar Jackson William beserta Miss Diana Regnar dan Tuan muda Kenny William." Kata mereka dengan hormat.
"Terimakasih... Terimakasih. Tidak perlu sesungkan ini. Kita dulu adalah sahabat waktu kecil. Mengapa memberi hormat sebegitu rupa." Kata tuan besar Jackson William sambil menegakkan tubuh tuan Barry dan Ricard agar berdiri.
"Ah.., Tuan besar Jackson tidak berubah. Dari dulu sampai sekarang masih tetap rendah hati. Benar-benar layak untuk di hormati." Kata mereka sambil tersenyum dan mempersilahkan mereka untuk mengambil tempat duduk di barisan yang paling tengah.
"Barry.., dimana keponakan ku itu? Dari tadi aku tidak melihatnya." Tanya tuan Jackson.
"Itu juga lah yang menjadi pertanyaan dihati ku ini Tuan besar. Aku bahkan sudah meminta anak buah ku untuk mencari. Namun mereka juga tidak menemukan dimana tuan muda saat ini berada." Kata tuan Barry yang tampak seperti kebingungan.
"Austin... Segera cari tuan mu! Aku ingin bertemu dengan nya." Kata tuan Jackson William memberi perintah.
"Akan saya laksanakan Tuan besar." Kata Austin dan segera bergegas mengatur beberapa anak buah nya kemudian membentuk team dan segera berbagi tugas.
Orang yang pertama kali menyadari bahwa Jerry berada di ruangan itu sebagai pelayan adalah Megan dan Lisa.
Mereka berdua tampak sedikit terkejut begitu melihat bahwa orang yang akan menghidangkan minuman di meja mereka adalah Jerry yang sangat mereka benci.
Begitu melihat Jerry menjadi pelayan di hotel tempat mereka berkumpul, maka Megan segera merencanakan sesuatu di hatinya dan segera berbisik kepada Lisa.
"Lisa.. Bukankah itu adalah Jerry?" Kata Megan sambil menunjuk kearah salah seorang pelayan yang akan membawakan minuman ke arah meja dimana mereka duduk.
"Ya benar. Itu adalah Jerry. Huhh... Najis sungguh aku melihat wajah nya." Kata Lisa mencibir.
"Mengapa tidak kita kerjai saja dia Lisa?" Tanya Megan.
"Maksud mu?" Kata Lisa balik bertanya.
__ADS_1
"Kau lihat saja nanti!" Kata Megan sambil tersenyum jahat.
"Ada apa kalian berbisik-bisik seperti ada sesuatu yang sedang kalian rencanakan?" Tanya Lira kepada kedua gadis itu.
"Ah.., nanti juga kau akan tau. Tapi ingat Lira. Kau jangan ikut campur. Lihat dan tonton saja apa yang akan aku lakukan kepada Jerry ini." Kata Megan memberi peringatan kepada Lira.
"Terserah kau saja lah Megan. Aku tidak ingin ikut campur." Kata Lira lalu segera berdiri dan pindah meja. Ini dia lakukan karena dia tidak tega melihat Jerry terus-terusan menjadi bahan ejekan mereka.
Megan dan Lisa tidak terlalu memperdulikan Lira yang pindah ke meja lain. Bagi mereka itu lebih baik.
Saat ini, Jerry yang tidak mengetahui rencana Megan hanya berinisiatif untuk melakukan tugas nya dan segera menghampiri meja dimana Megan dan Lisa duduk.
Dengan sangat hati-hati Jerry meletakkan gelas minuman itu di meja depan Lisa kemudian meletakkan gelas minuman tepat di depan Megan.
Namun tanpa dia sadari tangan Megan menjentik sedikit ujung bagian bawah gelas tersebut sehingga sebagian isi nya tumpah ke meja dan terus mengalis membasahi rok dan bagian paha Megan membuat dia sangat terkejut.
Jerry yang juga terkejut dengan ulah Megan ini berusaha meminta maaf. Namun Megan sepertinya tidak akan melepaskan Jerry begitu saja.
"Plak...!" Terdengar suara tamparan yang cukup keras.
"Dimana mata mu Jerry? Apa kau tidak melihat karena ulah mu ini, rok ku sampai basah." Kata Megan dengan wajah memerah.
"Maafkan aku Megan. Kamu yang salah. mengapa menarik gelas terlalu kuat." Kata Jerry membela diri.
"Aku tidak mau tau. Kau harus membersihkan rok ku seperti sedia kala. Jika tidak, aku akan mengadukan mu kepada Manager Tom agar kamu di pecat." Kata Megan memberi ancaman.
"Baiklah. Aku akan mencoba mengeringkannya menggunakan tisu." Kata Jerry lalu segera mengambil tisu dan mengusap kan nya ke atas rok Megan yang terkena tumpahan cairan tersebut.
"Kurang ajar...! Kau benar-benar lelaki mesum."
"Plak...!"
Terdengar sekali lagi suara tamparan dengan keras membuat Jerry hanya bisa menarik nafas dalam-dalam agar amarah nya tidak segera pecah saat ini.
"Kau ini Jerry. Apa tidak cukup hanya aku yang menjadi korban mu? Kau telah tertangkap basah. Namun kau masih tetap ingin memanfaatkan keadaan kepada Megan." Kata Lisa dengan kemarahan yang membuncah.
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud ingin kurang ajar. Bukan kah kau yang menyuruh ku agar membersihkan tumpahan minuman yang membasahi rok mu?" Kata Jerry membela diri.
"Huhh..., sekali mesum tetap saja mesum." Kata Megan masih tidak mau kalah.