
"Bagaimana Ryan? Kau sudah melihat barang nya, sekarang aku ingin melihat mana uang mu?" Tanya Ramond sambil tersenyum jahat.
"Hahaha.., baik. Kau tunggu di sini! Aku akan ke mobil untuk mengambil uang ku." Kata Ryan.
"Ryan.., Ryan.., Ryan. Kau jangan bermain-main dengan ku. Apa kau kira aku ini anak kecil yang bisa kau bodohi?" Kata Ramond.
"Apa maksud mu Ramond? Jika kau tidak percaya, kau bisa menyuruh Mike untuk menjemput uang itu di mobil ku." Kata Ryan.
"Baik.., baiklah." Kata Ramond sambil menunjuk-nunjuk ke arah Ryan. "Kau boleh menyuruh Mike untuk mengambil uang tersebut." Kata Ramond.
"Mike, ini kunci mobil ku. Ambil tas yang berada di kursi penumpang. Awas! Selembar saja uang itu berkurang, kau akan tau siapa aku!" Kata Ryan memberi peringatan.
"Tenang saja Ryan. Ramond di sini jika aku macam-macam." Kata Mike sambil menerima kunci mobil dari Ryan dan bergegas keluar.
...*...
"Tuan muda... Target telah keluar."
"Paman Regan. Jangan lakukan tindakan apa pun! Sampaikan kepada anak buah mu untuk menunggu perintah dari ku."
"Baiklah Tuan muda."
"Herey..., masuk!"
"Herey standby Tuan muda."
"Bagaimana keadaan di dalam?"
"Menjawab anda Tuan muda, saat ini Ryan masih bernegosiasi dengan ketua sindikat."
"Ikuti terus! Beritahu kepada ku kapan harus bertindak."
"Siap Tuan muda."
"Tuan muda masuk!"
"Paman, apakah anda melihat sesuatu?"
"Menjawab anda Tuan muda. Ada 1 mobil mengarah ke rumah susun."
"Baik. Aku akan meminta petugas kemanan Jeweleri untuk melihat rekaman cctv."
"Siap Tuan muda."
"Manager Olive, bawa aku ke ruangan pengawas." Kata Jerry kepada Manager Olive yang terus mendampingi nya bersama dengan Aline.
"Silahkan Boss besar!" Kata Manager Olive.
"Pak pengawas.., coba anda lihat di sekitar rumah susun dan perbesar gambar di sana!" Kata Jerry memerintahkan.
"Silahkan anda lihat Boss!" Kata kepala pengawas tersebut.
Begitu kamera cctv yang mengarah ke rumah susun itu di fokuskan, kini terlihat sebuah mobil Honda berhenti di tempat parkir.
Jerry yang terus memperhatikan semakin serius dan beranjak lebih dekat ke arah layar dan..,
"Deggg...."
"Via...!" Gumam Jerry tanpa sadar.
...*...
Saat itu di tempat parkir tampak seorang gadis keluar dengan tergesa-gesa berjalan memasuki lorong rumah susun tersebut.
Begitu gadis itu tiba di pintu No A 12, gadis itu mengetuk pintu.
"Mike.., lihat siapa yang datang!" Kata Ramond.
Mike segera melangkah ke arah pintu dan membukanya sedikit.
__ADS_1
"Ah.., itu kamu Via." Kata Mike menarik nafas lega.
"Masuk!" Kata Mike di susul dengan Via yang tersenyum sambil melangkah memasuki ruangan.
Begitu Via telah berada di dalam ruangan itu, Ryan segera memperhatikan dan berpura-pura sangat terkejut.
"Via.., apa yang kau lakukan di tempat ini?" Tanya Ryan sambil memelototi Via.
"Sama seperti mu." Jawab Via santai.
"Apa maksud mu Via. Apakah kau?"
"Hahaha..., sudah lah Ryan. Kau jangan berlagak suci. Kau dan aku sama. Lebih baik kau urus dirimu dan aku urus diriku. Intinya kita saling menjaga. Sesederhana itu." Kata Via acuh tak acuh.
"Sudah.., sudah..,sudah. Jika ingin mengobrol, lakukan setelah kalian meinggat dari tempat ini." Kata Ramond.
"Baik.., kembali kepada pembicaraan kita tadi. Ini uangnya dan mana barang ku?!" Kata Ryan.
"Baik.., kita lakukan transaksi sekarang. Ini adalah barang yang sesuai dengan jumlah uang mu."
"Hahaha..., bagus. Jika sudah Deal, maka aku akan segera pergi." Kata Ryan sambil meraih koper berisi obat-obatan terlarang itu dan segera berlalu.
"Tunggu Ryan. Kau tidak akan kemana-mana sebelum aku berlalu dari tempat ini." Kata Ramond.
"Apa maksud mu Ramond. Uang sudah kau dapatkan. Apakah aku tidak boleh membawa barang yang telah aku miliki?" Tanya Ryan.
"Bukan.., bukan begitu. Kita akan berangkat bersama-sama dari tempat ini. Bagaimanapun lebih baik waspada sebelum terlambat." Kata Ramond.
"Baik.., aku akan menuruti keinginan mu." Kata Ryan.
"Praaak....!"
Baru saja Ryan selesai bicara, tampak kini pintu ruangan itu di tendang dari luar dan kini ruangan itu telah di masuki oleh orang-orang berpakaian hitam.
"Kalian... Penghianat..!" Kata Ramond sambil mengeluarkan pistol dari pinggang nya dan..,
"Dor....!"
"Ryan...!" Teriak Jerry meluruk sambil menendang tangan Ramond.
Sontak perkelahian pecah dalam ruangan yang sempit itu.
"Ryan... hei..!" Kata Jerry sambil menepuk-nepuk pipi Ryan.
"Bisa kah lebih lembut sedikit Jerry!" Kata Ryan sambil tertawa.
"Bugh..."
"Aduh setan...!"
"Sial kau Jerry. Sakit woy...!"
"Aku kira kau sudah menjadi bangkai. Hampir saja aku menjadi teman yatim." Kata Jerry.
"Kau ini Jerry. Eh mana Via?" Tanya Ryan sambil celingak-celinguk.
"Biarkan dia. Ayo kita selesaikan urusan ini." Kata Jerry sambil bangkit dari posisi berlutut nya.
...*...
"Huh..., sungguh membosankan. Dor dar dor dar main pistol seperti banci baru menetas. Emang ada banci baru menetas? Bodoh nya aku. Hahahaha... Turunkan senjata kalian!" Kata Jeff berteriak memerintahkan anak buah nya untuk tidak menodongkan senjata.
"Kita bertemu lagi Ramond. Mana kedua adik mu yang tersisa? Hahaha... Apa kau tau bahwa adik bungsu mu Long telah mati di tangan ku tepat di jalan sepi Lotus road bersama anak buah Ramsey?" Hahaha...
"Bangsat kau Jeff... Aku menagih hutang nyawa kepada mu!" Kata Ramond dengan geram.
"Maju lah Ramond... Ayo maju!" Kata Jeff sambil membuka baju nya dan kini hanya memakai kaos singlet saja.
"Silahkan duduk Tuan muda. Aku akan memberikan anda tontonan gratis." Kata Jeff sambil mempersilahkan Jerry untuk duduk.
__ADS_1
"Tuan muda? Apakah kau yang bernama Jerry William?" Tanya Ramond hampir tidak percaya.
"Ya. Aku lah Jerry William. Seorang anak kecil yang malang 16 tahun yang lalu kau buru seperti seekor kelinci." Kata Jerry sambil tersenyum.
"Huhh... Bangsat kau Ryan. Kau telah menjebak ku."
"Kau pantas mendapatkan nya Ramond."
"Ah... Sudah.., sudah.., sudah. Kalau bicara terus kapan kita berkelahi?" Tanya Jeff sambil menguap.
"Hoaam..." Apakah aku harus tidur terlebih dahulu?" Ejek Jeff.
"Ku bunuh kau Jeff...!" Terik Ramond sambil mendekat kearah Jeff dengan mengeluarkan jurus-jurus ntah apa namanya.
"Hiaaaat..."
"Uts..., tidak kena." Kata Jeff sambil menghindar ke samping.
"Wuzzz..."
"Begh..."
"Plak..!"
"Ayo lah Ramond. Hanya segini saja kah?"
"Hiaaat... Caaah.."
Kini giliran Jeff yang menyerang ke bagian-bagian yang paling rawan di tubuh Ramond.
"Hap..."
"Plak.."
"Wadaw... Barang antik ku..!" Kata Ramond berteriak sambil memegang perabotan nya yang terkena sepakan Jeff.
"Modar kau Ramond..." Kata Jeff sambil nyengir.
"Ku bunuh kau gorila bangsat..!" Kata Ramond sambil meluruk kearah Jeff membuat kedua jagoan tua itu kini bergulingan di lantai.
"Kau hei... Sialan kau main gigit ya?" Teriak Jeff merasakan bahu nya sangat sakit akibat gigitan Ramond.
"Ih..."
"Bugh.."
"Adaaaau..."
"Rasakan kantong menyan mu pecah." Kata Jeff.
Tidak ada pilihan lain bagi Jeff untuk melepaskan diri dari gigitan Ramond selain meremas kantong menyan harta warisan Ramond.
"Kau..., kau. Bangsat kau Jeff...!" Kata Ramond sambil meringis dan menggeliat di lantai sambil mendekap selangk*ngan nya.
"Sudah Paman? Jika belum, lanjutkan!" Kata Jerry sambil tersenyum geli melihat Ramond dipermainkan oleh Jeff.
"Huhh..., berkeringat pun belum." Kata Jeff sambil melirik kearah Mike dan...,
"Hiaaat..."
"Bugh.."
"Plak.."
"Maaaak..... Waduh..." Teriak Mike yang tidak menyangka barang antik nya tiba-tiba di tendang oleh Jeff.
"Bereskan mereka. Ikat dan masukkan kedalam mini bus." Kata Jerry.
"Kemana kita akan membawa orang ini Tuan muda?" Tanya Regan.
__ADS_1
"Berikan saja untuk jadi umpan ikan hiu." Kata Jeff.
Bersambung....