
Bab 82.
Sabtu sore.
"Ryan....., Daniel....., Cepat lah! Apa kalian tidak jadi untuk ikut bersama ku ke Metro City?" Teriak seorang pemuda begitu dia selesai merapikan rambut ZigZag nya di depan cermin.
"Jadi..., Tunggu sebentar Jerry!. Aku akan segera selesai." Teriak seorang pemuda dari dalam kamar mandi.
"Sabar Jerry. Aku kan belum mandi. Daniel ini kebiasaan, mandi terlalu lama seperti anak gadis kembang desa." Kata seorang pemuda dengan handuk dan berus gigi yang terselip di telinga nya.
"Ryan.., setelah kalian selesai mandi, turun lah ke bawah.! Aku menunggu mu di bawah." Kata Jerry.
"Selesai mandi saja? Apakah tidak selesai berpakaian juga?" Tanya Ryan dengan wajah di buat se-serius mungkin.
Jerry yang akan keluar menghentikan langkahnya dan berbalik mengambil salah satu bantal dan melemparkannya ke-arah Ryan.
"Kau terlalu mengkritisi. Tapi kritis mu tidak mengandung paedah." Kata Jerry mencibir dan segera kabur ke luar ketika Ryan akan membalas perbuatan nya.
Sesampainya Jerry di luar, dia segera mengeluarkan ponselnya dan segera melihat pesan Whatsapp yang baru masuk.
Di dalam pesan itu tuan Barry menanyakan kapan dia bisa di Jemput.
Namun Jerry segera menolak dan akan memanggil taxi online untuk berangkat ke bandara Starhill.
Tidak berapa lama menunggu, akhirnya Ryan dan Daniel segera sampai ke bawah dan menghampiri Jerry.
"Sudah selesai mandi dan berpakaian?" Tanya Jerry sambil tersenyum kepada Ryan.
"Pertanyaan bodoh apa lagi yang kau kumandangkan Jerry?" Tanya Ryan tersenyum geli.
Jerry dan Daniel sama-sama tertawa dengan jawaban Ryan tersebut.
"Ayo kita panggil taxi. Semakin cepat kita sampai semakin baik." Kata Jerry.
"Jerry.., Sebenarnya apa yang akan kita lakukan di Metro City?" Tanya Daniel.
"Kau akan tau nanti setelah kita sampai disana." Kata Jerry.
__ADS_1
"Apa kau sering ke Metro City Jerry?" Tanya Ryan.
"Seumur hidup baru kali ini aku kesana. Itu pun kalau jadi." Kata Jerry tertawa
"Semoga saja kita nanti tidak tersesat disana." Kata Ryan sambil berdoa.
"Aamiin ya Tuhan." Kata Daniel pula yang di sambut tawa terbahak oleh Jerry.
"Hey... Kita mau ke kota bukan masuk ke hutan. Tersesat di kota sangat menyenangkan. Apa lagi banyak wanita nya." Kata Daniel sadar akan doa Ryan barusan.
"Untuk menggait Helen saja kau belum mampu. Lagak mu tersesat di tempat yang banyak wanita nya. Apa kau yakin kaki mu mampu menopang berat tubuh nya yang gemetar?" Cibir Ryan.
"Alah kau juga sama. Dengan Jenny saja kau belum bisa mendapatkan nya." Ejek Jerry.
"Makanya kau jangan sakit waktu itu. Biar kau tau betapa gagah nya aku mengambilkan minuman untuk Jenny." Kata Ryan membantah perkataan Jerry barusan.
"Apa benar Daniel?" Tanya Jerry.
"Alah. Dijadikan kuli oleh Jenny saja bangga mu selangit tembus." Ejek Daniel.
"Hey Daniel. Apa kau tidak tahu tinggi nya gunung Himalaya? Dalamnya lautan bisa di duga. Dalam nya kemampuan orang tidak dapat di ukur."
"Kau Daniel. Pantas sama Herman kau di beri asap kenalpot melulu." Kata Ryan balas mengejek.
"Aku mengalah sama Herman. Kau tau kan aku ini orang nya sangat toleran." Kata Daniel memuji diri sendiri.
"Saking toleran nya sampai dengkul mu disko melihat Helen yang akan keluar dari kamar pasien." Ejak Jerry yang ikut-ikutan nimbrung.
"Ah kalian main keroyok. Tidak adil. Aku akan diam saja." Daniel kini marajuk.
"Kau begitu persis seperti nenek-nenek yang kehilangan susur. hahahaha." Kata Ryan sambil terbungkuk menahan tawa. (Susur \= tembakau yang di kunyah oleh orang tua jaman dulu dan sering di selip kan antara bibir dan gigi).
"Eh sudah. Itu taxi nya sudah sampai." Kata Jerry lalu berjalan menuju bahu jalan agar sopir taxi itu tidak terlalu repot menjemput mereka.
*********
Bandara Internasional Starhill.
__ADS_1
Di lorong Vip, tampak beberapa lelaki berpakaian hitam seperti sedang berjaga-jaga dengan telinga masing-masing memakai intercom.
Begitu taxi yang di tumpangi oleh Jerry tiba, beberapa di antara mereka langsung berlari dan membukakan pintu taxi dan membungkuk hormat ketika Jerry dan kedua sahabat nya itu keluar dari taxi.
Daniel dan Ryan sengaja berlama-lama berjalan agar dapat lebih lama merasakan sensasi di hormati seperti itu.
Daniel dan Ryan dengan gaya Arogan berjalan melenggang seperti itik balik kandang dengan kepala mendongak ke atas. Tak lupa dengan kacamata hitamnya membuat dia merasa benar-benar seperti orang muda sukses yang kaya raya.
"Sampai mati dan hidup lagi pun aku tidak akan bisa seperti ini." Kata Daniel dalam hati dan terkikik sendiri membayangkan kata-kata hatinya barusan.
"Jaga wibawah mu Daniel. Jangan cengengesan seperti itu. Bersikap lah seperti tuan muda." Kaya Ryan berbisik.
"Aku tau. Perhatikan langkah mu. Jangan sampai terpeleset kulit pisang dan jatuh. Bisa malu kita."
"Bodoh.., mana disini bisa buang kulit pisang sembarangan." Kata Ryan semakin memperkecil suaranya.
"Cepat lah kalian melangkah. Setelah di periksa, kita harus segera berangkat." Kata Jerry mengajak Daniel dan Ryan untuk berjalan lebih cepat.
Tak berapa lama berselang, kini ketiga pemuda itu telah sampai di dekat pesawat pribadi yang telah siap untuk mereka naiki dan segera mengantar mereka ke kota Metro City.
Daniel dan Ryan melihat kalau Jerry sedang bercakap-cakap dengan lelaki setengah baya dan tampak lelaki itu hanya mengangguk saja.
"Daniel, Ryan, kalian sudah siap? Ayo kita berangkat!" Ajak Jerry.
"Tuan muda, Jika aku tidak banyak urusan disini yang belum selesai, ingin rasanya aku yang akan mengantar anda langsung ke Villa milik Tuan besar di Metro City. Tapi sangat di sesalkan aku sangat sibuk dan hanya bisa meminta Ronald untuk mendampingi anda." Kata lelaki setengah baya itu.
"Tuan Barry..., tidak apa-apa. Anda dapat bekerja dengan tenang dan jangan fikirkan apa pun. Ronald sudah cukup bagiku sebagai penunjuk jalan." Kata Jerry.
"Hati-hati jika sudah sampai di sana Tuan muda! Jangan lupa sampaikan salam ku kepada Tuan besar. Sangat menyesal tidak dapat ikut ke Metro City."
"Jangan khawatir Tuan Barry. Salam mu akan aku sampai kan."
"Jika begitu, selamat jalan Tuan muda."
"Baiklah Tuan Barry. Aku masuk dulu." Kata Jerry lalu segera menaiki tangga untuk masuk ke dalam pesawat yang di ikuti oleh Ryan dan Daniel tepat di belakang. ya.
Tak lama setelah itu, Jet pribadi itu pun mengeluarkan suara bising dan segera bersiap-siap untuk melakukan lepas landas di iringi oleh lambaian tangan tuan Barry.
__ADS_1
Bersambung