PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 27 Rencana Karina


__ADS_3

POV Haikal


Jika pria yang ada dalam foto ini adalah keluarga ku maka aku harus menyelidiki masalah apa yang terjadi antara keluarga ku dan keluarga majikan ku. Semua masih misterius. Aku nggak boleh gegabah dalam bertindak, semua masih belum pasti. Juga tidak bisa bertanya langsung pada keluarga Purbalingga tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Tapi, tunggu - tunggu. Wajah anak kecil yang ku yakini adalah diri ku ini kayak nya pernah ku lihat sebelum nya tapi di mana yah?". Gumam ku berpikir keras.


Tapi sampai pusing sekali pun aku masih belum menemukan di mana aku pernah melihat wajah yang sama.


"Sedang apa kamu di kamar mama?". Tiba - tiba mama datang mengagetkan aku.


Aku tak lagi takut pada nya karena ia sudah tega menyembunyikan fakta ini dari ku selama ini..


"Apa maksud dari tulisan di foto ini? Jadi selama ini yang kalian ceritakan pada ku hanya karangan belaka". Cerca ku.


"I - itu...". Mama tampak gugup. "semua itu bukan urusan mama. Papa kamu yang mengarang cerita, mama sama sekali tak pernah mengatakan apa pun tentang asal usul mu. Kamu jangan membuat situasi mama menjadi semakin tersudut. Keberadaan Karina saja belum di temui sekarang kamu mau mengintrogasi mama". Mama yang malah lebih garang sekarang.


"Baik lah, aku akan mencari tahu sendiri. Tapi sebelum mama terbukti tidak terlibat maka mama tak akan ku beri sepeserpun uang". Ucap ku mengancam.


"Hey, kamu mana boleh memperlakukan mama seperti itu. Terlepas dari kesepakatan papa kamu dan pria yang ada di foto itu, mama tetap yang telah membesar kan mu sampai menjadi seperti sekarang. Mama berhak menuntut kamu untuk membalas budi". Cegah mama tidak menerima keputusan ku yang akan memberi nya uang.


"Membesarkan bagaimana maksud, mama? Saat umur ku masih berusia sepuluh tahun aku udah bekerja du sebuah rumah makan dengan desakan mama dan papa, di usia yang masih kecil itu aku sudah bekerja keras untuk mengisi perut. Bukan mama yang membesarkan ku tapi aku yang membiayai mama mulai dari usia itu sampai sekarang. Jadi perkataan mama tidak terbukti sama sekali". Sahut ku mengingat kan sikap mereka pada ku.


"Tapi tetap saja, kamu harus membalas budi pada mama karena kamu bisa tingga di rumah ini dengan tenang dan bisa lanjut sekolah". Mama tetap tidak merasa bersalah atas hidup ku.

__ADS_1


"Membalas budi? Budi apa yang mama telah berikan pada ku? Mama bilang aku hidup tenang di rumah ini. Mama salah, sedetik pun aku tak pernah merasa tenang, pikiran ku selalu saja berperang mencari cara untuk mencari uang yang banyak agar mama dan papa tak lagi memukul ku saat uang gaji yang ku berikan telah habis. Kalau mengenai sekolah, itu semua karena pengorbanan ku sendiri. Selama ini kalian selalu menuntut ku kerja keras kalau tidak aku lebih baik putus sekolah saja...". Sambung ku mengeluarkan unek - unek yang selama ini ku simpan..


Mama terlihat tercengang. Mungkin ia tidak percaya anak yang selama ini selalu menurut dan takut sekarang sudah berubah dan membantah.


"Kamu kenapa bisa berubah begini Haikal? Kamu bukan lagi anak mama yang penurut". Imbuh mama dengan wajah memelas.


Aku tahu ia mulai berakting untuk meluluhkan amarah ku. Sampai tak menyangka jika mama bisa bersikap seperti itu pada ku, mungkin ia tahu kalau aku tak lagi akan menurut jika menggunakan trik sebelum nya makanya dia menukar strategi agar aku bisa di manfaat kan lagi.


"Sudah cukup, mah! Kalau mama nggak mau mengaku dan mengatakan tentang identitas ku yang sebenarnya, maka mulai hari ini aku tak peduli lagi dengan kehidupan mama". Imbuh ku ingin berlalu pergi tapi mama dengan cepat menahan tangan ku dan tiba - tiba berlutut.


"Kamu jangan buat mama seperti ini Haikal! Mama tahu cara mama membesarkan kamu sangat keterlaluan. Mama sering memukul mu saat keinginan mama tak terpenuhi, sama sekali tak pernah mau melindungi kamu dari pria brengsek yang tega memanfaat kamu untuk membayar hutang nya. Tapi benar - benar tidak mengetahui apa - apa tentang asal usul kamu. Hanya papa kamu yang sering bertemu pria itu dan menerima duit setiap bulan nya untuk menghidupi kamu. Pria brengsek itu malah hanya menggunakan uang itu untuk kepentingan nya sendiri". Lirih mama dengan linangan air mata.


"Mama mohon jangan buang mama. Hanya kamu harapan mama untuk bertahan hidup. Hanya kamu yang mama miliki sekarang, Karina sudah hilang dan entah masih bisa bertemu lagi atau tidak. Mama mohon jangan tinggalin mama, nak". Sambung mama terdengar tulus.


"Ini uang belanja untuk mama. Ambil lah dan beli makanan". Imbuh ku menyerahkan pada mama.


Mata mama tampak berbinar, ia mengambil uang itu dan menghitungnya. "Kok cuma segini? Mana cukup untuk mama makan sebulan". Ujar mama protes.


"Mama mau terima uang itu dengan lapang dada atau aku ambil kembali?". Ancam ku.


"Hah, jangan - jangan. Baik lah, terima kasih yah. Mama akan berusaha cukup - cukupin deh". Sahut mama terpaksa tapi wajah nya tetap cemberut. Baru saja ia menangis tidak ingin di tinggalkan tapi saat menerima uang tidak seperti keinginan nya wajah langsung berubah seram.


"Bersyukur aku masih baik hati memberikan nya pada mama. Aku mau pulang dulu, tadi aku izin hanya sebentar sekarang sudah terlalu lama ku meningglan kan pekerjaan". Ucap ku bohong.

__ADS_1


Sebenarnya bingung kenapa aku di minta tinggal di rumah besar itu, dengan jaminan tempat tinggal dan makan, bahkan uang jajan setiap hari nya ada saat ingin ke sekolah tapi sampai saat ini belum juga bekerja dan malah sudah di gaji full sesuai perjanjian.


Semakin curiga pada keluarga itu, sebelumnya aku memang sempat kagum pada keluarga itu karena kebaikan mereka tapi saat membaca pesan di foto usang yang ku temukan di kamar mama, membuat ku harus waspada pada mereka.


Meninggalkan rumah mama dan bergegas memesan ojek pulang ke mansion Purbalingga. Mulai sekarang, aku harus waspada tidak mudah baper dengan kebaikan mereka dan harus berpura - pura bersikap biasa saja di hadapan mereka. Bahkan dengan bang Jo atau siapa pun di mansion itu.


*


*


POV Karina


Pagi tadi aku sudah mendatangi rumah pasangan yang ingin mengadopsi ku menjadi anak angkat nya melalui alamat yang ia berikan sebelum nya. Sebelum nya aku sudah berhasil mendapatkan tandatangan mama pada surat yang sudah di palsukan oleh pasangan itu agar aku bisa di adopsi.


"Maaf kan aku, mah. Aku cuma mau keluar dari kehidupan yang penuh kesengsaraan. Aku akan kembali saat aky sudah benar - benar bisa berdiri di kaki ku sendiri". Gumam ku sambil menatap wajah mama yang tampak kesal.


Malam ini aku sengaja memberikan obat tidur ke dalam makanan mama agar iya tertidur pulas. Aku sengaja berpura - pura setuju atas pemintaan papa untuk menikahi juragan Jarwo tapi padahal itu semua agar mama semakin membenci papa. Papa nggak pantas di sayangi, aku sudah tahu yang sebenarnya bahwa aku bukan anak papa melainkan anak mama bersama pria lain.


"Kamu sudah siap, Karina?". Tanya papa saat membulat pintu kamar ku.


"Sudah. Kita berangkat sekarang". Ajak ku dengan wajah sedih karena harus berpisah dengan mama dalam waktu lama.


"Jangan gila ya, mah". Harap ku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2