
Bab 87.
"Kriiiing..."
"Kriiiing...."
"Kriiiing....!"
Terdengar suara telepon berdering di pagi buta itu, membuat seorang wanita setengah baya terbangun dari tidur nya dan segera meraih ponsel dan dengan meyipitkan matanya dia segera melihat ke-arah layar ponsel untuk melihat nama pemanggil.
"Robin..." Pikirnya dalam hati.
Wanita setengah baya itu segera melirik ke-arah seorang lelaki yang masih tertidur di samping nya.
Tak lama kemudian dia menjawab panggilan itu dan segera keluar dari kamarnya.
"Robin. Ada apa menelepon ku sepagi ini?" Tanya wanita setengah baya itu dengan lesuh.
"Dianna..., aku heran dengan mu. Dengan serangkaian peristiwa dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi, kau masih bisa tidur dengan nyenyak. Sungguh sesuatu ketenangan yang tiada tara." Kata lelaki bernama Robin itu menyindir.
"Lalu, apa lagi yang bisa aku lakukan? Kau kan tau bahwa aku setidaknya sudah berusaha untuk mencari tau siapa Jerry itu sebenarnya. Tapi sialnya mereka ada tiga orang. Dan anak buah ku tidak dapat memastikan siapa Jerry yang asli diantara ketiga anak muda itu." Kata Dianna.
"Kau harus mencari tau Dianna. Harus! Jika tidak, kau pasti dalam masalah besar." Kata Robin mengancam.
"Apa maksud mu Robin? Sudah cukup kau mengancam ku. Setiap hari hanya itu yang selalu kau katakan."
"Aku tidak mengancam mu Dianna. Seharusnya kau lebih berhati-hati! Bayangkan saja jika orang tua busuk bau tanah si William itu bertemu dengan Jerry dan memindahkan seluruh aset nya ke tangan anak itu. Kau dapat apa Dianna? Kau hanya akan gigit jari setelah apa yang kau lakukan puluhan tahun ini tidak membuahkan hasil." Kata Robin memperingatkan.
"Lalu menurutmu apa yang harus aku lakukan? Bukan nya aku tidak berusaha. Hanya saja usaha ku selalu gagal dan sepertinya anak itu selalu di lindungi oleh dewi keberuntungan." Kata Dianna sambil memijit-mijit kening nya.
"Kau masih ada kesempatan Dianna. Masih ada kesempatan." Kata Robin mengulangi perkataan nya.
"Kesempatan apa maksudmu Robin?" Tanya Dianna tidak mengerti.
__ADS_1
"Benar-benar bodoh. Dengar Dianna! Kau masih punya kesempatan. Awasi terus gerak-gerik orang tua itu. Perhatikan kemana dia akan pergi. Setelah mendengar bahwa cucunya yang hilang itu telah kembali, dia pasti akan menemui nya di Villa Smith. Kau harus bisa mengikutinya dengan berbagai alasan!" Kata Robin memberikan jalan pada Dianna.
"Benar Robin. Aku harus mengawasi orang tua itu. Kau tenang saja. Bagaimana pun aku tidak akan membiarkan dia bertemu dengan cucu nya itu." Kata Dianna dengan tekat bulat.
"Apa hubungannya dengan kau menyuruh ku untuk tenang? Bagaimana pun aku adalah kepala keluarga Patrik. Aku tidak akan tersentuh. Sebaliknya kau lah yang akan habis jika kedok mu terbongkar Dianna. Hahahaha."
"Kau memang benar-benar ular berbisa Robin. Kau menjebak ku dan keluarga ku." Kata Dianna menggeram.
"Apa.., aku menjebak mu? Hei.., hei.., hei. Aku tidak bodoh Dianna. Kau lah yang meminta bantuan ku untuk bisa masuk kedalam keluarga William dan menjebak Jackson. Kau juga mengemis di bawah ujung kaki ku untuk membantu keluarga mu dari kebangkrutan. Ingat itu Dianna." Kata Robin dengan suara menggeram.
"Sudah..., sudah Robin! Saat ini aku sangat buntu. Kau jangan menambah-nambah lagi kebuntuan ku. Begini saja! Aku akan menyuruh Pero untuk mengatur penghadangan jika orang tua busuk itu ingin menemui cucu nya di Villa Smith. Kau tunggu saja kabar baik nya." Kata Dianna.
"Bagus! Selesaikan dengan cara mu dan aku akan membantu mu dari belakang." Kata Robin lalu menutup panggilan.
Dianna berfikir sejenak lalu membuka kembali kunci layar di ponsel nya dan mulai melakukan panggilan ke nomor ponsel Pero.
"Kriiiing..."
"Kriiiing..."
Dia yang masih bermalas-malasan segera meraih ponselnya dan menekan tombol jawab sambil membenamkan wajah nya ke bantal.
"Hallo...., masih pagi sekali. siapa ini?" katanya dengan suara yang kurang jelas.
"Pero..., ini aku Dianna majikan mu. Cepat bangun! Aku ada tugas untuk mu yang harus segera kau selesaikan." Kata suara di ujung telepon yang ternyata Dianna itu.
Begitu mendengar suara yang dikenal nya itu, membuat Pero tersentak dan buru-buru duduk di sisi tempat tidur nya.
"Nyonya besar..., ada tugas penting apa yang membuat anda menelepon saya begitu dini?" Tanya Pero.
"Pero. Hentikan pertanyaan omong kosong itu. Segera persiapkan dirimu. Aku memerintahkan agar kau segera bersiap memimpin orang-orang kita untuk melakukan penghadangan terhadap Tuan besar William yang akan menuju Villa Smith untuk menemui Jerry."
"Seerrr...."
__ADS_1
Begitu mendengar nama Jerry di sebut oleh Dianna, darah dalam tubuh Pero berdesir kencang. Dia tau apa maksud dari perkataan Dianna itu.
Dia sangat ketakutan saat ini. Sumpah demi apa pun jika dia bisa menghindar, maka dia akan menghindari berurusan dengan Jerry. Ini karena Jerry di kelilingi oleh orang-orang yang kuat dan pintar.
Namun untuk tetap menyenangkan hati Dianna, dia tetap bertanya.
"Nyonya. Jika maksud anda adalah menghadang tuan besar William, maka dimana kami harus mencegat nya?" Tanya Pero.
"Kau begitu bodoh Pero. Tapi baik lah. Aku telah mengatur orang-orang ku dan menginstruksikan agar kalian menyergap mereka di jalan sepi menuju bukit Metro bagian Utara. Tepat ketika mereka sampai di bawah jembatan layang, sergap mereka dan segera tawan tuan William dan habisi semua pengikut nya!" Kata Dianna mengatur rencana.
"Baik lah Nyonya. Aku akan mempersiapkan diri. Dan anda tinggal menunggu kabar baik dariku." kata Pero.
"Selesaikan tanpa jejak atau kau akan ku buat menderita jika pekerjaan ini gagal kau kerjakan.
"Jangan khawatir nyonya." Kata Pero lalu mentup panggilan.
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana pun aku terhutang nyawa pada Jerry. Tidak..., aku tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama. Ayahnya telah celaka oleh perbuatan mereka. Kini anaknya juga mereka incar. Huh..., dasar manusia-manusia serakah. Aku harus menepati janji ku kepada Jerry." Kata Pero dalam hati.
Setelah berfikir sejenak, Pero lalu membangunkan istrinya yang masih tertidur.
"Istri..., istriku... Ayo bangun. Kau harus membawa anak-anak untuk meninggalkan Metro City ini dengan segera." Kata Pero membangun kan istri nya dengan cara mengoncang-goncangkan wanita yang masih terlelap itu.
"Ada apa suamiku. Apakah akan ada sesuatu yang akan terjadi? Mengapa kau menyuruh ku untuk meninggalkan Metro City?" Kata istri Pero yang terbangun dengan heran.
Dia memang tau apa pekerjaan suami nya. Namun yang tidak dia mengerti adalah, mengapa dia sampai di suruh pergi meninggalkan Metro city. Pasti ada sesuatu yang sangat serius.
"Aku mengemban tugas berat dari Dianna. Wanita ular itu memintaku untuk menculik tuan besar William. Kau segera lah berkemas dan tinggalkan kota ini. Aku khawatir jika aku gagal, kau dan anak-anak akan dalam bahaya."
"Apa? Sungguh gila wanita itu. Baiklah suamiku. Aku akan bersiap-siap untuk meninggalkan kota ini. Tapi, dimana aku harus pergi?" Tanya istri Pero yang tidak tau kemana dia harus mencari perlindungan.
"Kau tunggu lah dulu. Aku akan menghubungi seseorang untuk meminta perlindungan. Kau segera bangunkan anak-anak dan kalian harus segera berkemas dalam tiga puluh menit." Kata Pero mendesak agar istrinya segera bersiap.
Setelah istrinya bangun dan meninggalkan kamar itu, Pero lalu mengambil ponsel nya dan mulai melakukan panggilan.
__ADS_1
Bersambung...