
"Malah aku yang mau nanya mas sekarang mas Rehan kemana, aku rindu nih," sahut Arsi genit.
"Jadi Rehan beneran nggak ada di rumah?" Arya ingin memastikan..
"Ya iya lah, kan tadi kalian pergi bersama, gimana sih?" jawab Arsi kesal.
Arya mematikan panggilan sepihak kerana tiba - tiba cemas dengan keadaan Rehan saat ini. Menurut teman nya tadi, Rehan di culik oleh beberapa orang pria dan membawa nya masuk ke dalam mobil yang tidak di ketahui nomer plat nya. Hanya beberapa orang yang menyaksikan kejadian penculikan tapi tiada siapa pun yang sempat melihat nomer kendaraan itu sebelum berbaur dengan mobil yang lain.
"Aduh, kalau memang benar Rehan di culik maka aku harus mencari nya bagaimana. Ponsel saja dia nggak punya. Aku harus bagaimana sekarang?" Batin Arya bingung.
Pria itu kemudian melaporkan kejadian pada pihak polisi tapi belum bisa di proses karena kehilangan belum memakan waktu 24 jam. Bukti penculikan juga nggak jelas jadi polisi enggan untuk memproses dengan cepat.
*
*
Sementara di dalam mobil. Rehan sudah sadar dari pengaruh obat bius. Ia ingat terakhir kali masih berada di gerbang gedung perusahaan tempat Arya bekerja, sekarang entah berada du mana, karena bangunan - bangunan yang ia lihat begitu asing dari kota Makasa. Gedung di kota ini juga keliatan tidak terurus lagi, alias mati.
"Kamu sudah sadar?" ketus salah seorang pria yang duduk di samping kemudi.
"Kalian siapa? Kenapa kalian membawaku ke sini?". Tanya Rehan dengan raut wajah ketakutan..
"Tampak nya rumor yang beredar mengatakan kamu lupa ingatan dan mengubah identitas mu nggak salah ya." Sahut pria itu lagi membuat Rehan bingung.
Ia menduga kalau mereka semua mengenali nya dengan sangat baik tapi karena ia masih belum mengingat semua memori ingatan nya maka ia tidak mengenali mereka.
"Kalian sebenarnya siapa dan kenapa membawaku secara kasar seperti ini?" Rehan masih belum mengingat mereka.
"Kamu benar - benar lupa pada kami dan tempat ini? Coba ingat - ingat semula," ujar pria itu lagi. .
Rehan meneliti satu persatu wajah pria yang menculiknya, dan tempat mereka berada sekarang. Tapi ia sam sekali tidak bisa mengingat apa - apa dan hanya membuat kepalanya sakit karena terlalu memaksakan diri untuk mengingat semuanya.
Rehan memegang kepalanya yang sakit sambil meringis kecil tapi tiada satu pun dari mereka yang memperdulikan keadaannya atau sekedar memintanya berhenti untuk mengingat. Tapi saat ia di bawa masuk ke sebuah gedung yang cukup besar, ia tiba - tiba teringat sebuah bayangan memori di mana ia tersenyum pada seseorang sambil memegang sebuah korek aneh tapi sangat terlihat mewah dan unik. Terdapat ukiran harimau berwarna hitam di korek itu sehingga membuatnya senang saat menerima nya.
"Selamat datang ke markas kami, Klan Black Tiger." Ujar pria yang mengiring Rehan masuk ke gedung itu.
"Black Tiger?" guman Rehan bingung.
__ADS_1
"Mulai sekarang kamu resmi menyertai klan kami lagi, selamat bergabung," balas nya semakin membuat Rehan kebingungan.
"Lagi? Maksud kamu aku dulu pernah menyertai klan kalian?" tanya Rehan.
Mereka tak menjawab dan hanya menuntun Rehan ke sebuah ruangan yang asing bagi pria itu. Tapi bayang ia sedang memegang senjata api dan mengarahkan ke wajah seseorang yang sedang terikat melintas lagi ke ingatan nya. Rehan merasa semakin sakit dan pusing, penglihatannya berkunang - kunang hingga akhirnya ia tak sadarkan diri dan terjatuh. Beruntung tubuhnya d sambut oleh dua orang pria yang menemaninya tadi dan membawanya untuk berbaring di sofa.
"Bagaimana keadaan nya?" tiba - tiba seseorang datang menghampiri mereka dengan wajah dingin.
Sebelum menjawab, semua pria yang menggiring langkah Rehan memasuki gedung membungkuk memberi hormat padanya. "Tampak nya ingatan yang ia miliki di masa lalu tak semua nya kembali sekarang. Ia masih terlihat bimbang dan saat kami memancing ingatan nya kembali, ia malah pingsan karena terlalu memaksakan kehendak agar bisa mengingat semuanya." lapor salah satu dari mereka.
"Bagus. Itu yang kita inginkan." Sahut pria itu yang tak lain adalah Ronal.
"Obat yang bos minta juga sudah kami sediakan, apa perlu kita suntikkan sekarang saja ke dalam tubuhnya agar saat dia sadar nanti ingatan nya semakin berantakan?" saran anak buah Ronal.
"Suntikkan saja sekarang. Biar dia lebih mudah di pengaruhi saat sadar nanti. Pastikan tiada satu orang pun yang membocorkan rahasia kita pada nya, kalian paham kan!" tekan Ronal pada semua anak buah nya.
"Kami paham bos," sahut mereka serentak sambil membungkuk memberi hormat.
Seseorang datang sambil memegang sebuah alat suntikan lalu menghampiri Rehan yang sedang berbaring lemah di sofa. Setelah itu dia pamit pergi dari hadapan Ronal setelah memastikan tugasnya benar - benar berjalan sesuai permintaan bosnya itu.
Beberapa menit menunggu tapi Rehan masih belum menunjukkan tanda akan sadar, Ronal memerintahkan anak buah nya untuk menyiram wajah pria itu dengan air dingin supaya tidak membuang - buang waktunya lebih lama.
"Baik bos!" seru seorang anak buah Ronal segera pergi lalu kembali dengan meneteng segayung air dari toilet. "Ini bos." Ia menyerah kan air itu pada Ronal.
"Apa ini?" Tanya Ronal geram.
"Tadi bos minta air dingin ingin menyiram Rehan, ini lah air nya bos." Jawab nya santai.
Ronal mengambil botol kaca dan mengetuk kepala anak buahnya hingga botol kaca itu pecah berderai di lantai. "Aduh," lirih nya menahan sakit di bagian kepalanya yang sudah mengeluarkan darah segar.
Semua orang menatap sedih rekan nya itu.
"Makanya jadi orang itu jangan bodoh - bodoh banget. Sana siram wajah Rehan, cepat!" titah Ronal dengan sorot mata kejam khas miliknya.
"Baik bos," lirih nya menahan perih di kepalanya. Segera menghampiri Rehan dan ...
Byurrr....
__ADS_1
Rehan tersedak dan tersadar dari pingsan nya secara paksa. "Ukhh, ukhh, ukhh," Rehan ter batuk kemudian mengeluarkan air yang masuk ke hidung nya.
"Akhirnya kamu sadar juga. Maaf kami terpaksa menyiram kamu agar segera sadar." Sapa Ronal pada Rehan.
"Kamu bagian dari mereka juga?" tanya Rehan selidik.
"Ya, seperti itu lah. Tapi kamu nggak perlu takut karena kami sebenarnya teman - temanmu. Sudah lama kita tak bertemu, ingatan mu juga pasti belum sepenuhnya kembali. Jadi perkenalkan lagi, nama ku Ronal. Sahabat dekat mu." Imbuh Ronal sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Rehan tak langsung percaya, ia teringat dengan setiap perkataan ibu nya yang ketakutan saat ia akan ke kota ini kembali. Ia yakin pasti ketakutan ibu nya itu ada sebab tertentu yang sangat kuat hingga menimbulkan trauma yang sangat mendalam. Tapi melihat wajah ramah Ronal yang terlihat sangat jujur, Rehan menjadi sedikit percaya dengan ucapan pria itu.
"Kamu bilang kita sahabat dekat, jadi aku ingin lihat bukti atau sekedar foto untuk membuktikan ucapan mu barusan." tukas Rehan.
Ronal dan anak buah nya saling melempar tatapan tajam. Mereka bingung bagaimana menghadapi permintaan Rehan yang meminta bukti perkataan Ronal yang mengatakan dirinya dan Rehan bersahabat.
Ronal tersenyum menanggapi permintaan Rehan. Ia sudah menebak sebelumnya jadi ia sudah mempersiapkan sesuatu untuk mengelabuhi Rehan.
"Sudah tentu aku punya sesuatu yang bisa membuktikan kalau kita dulu adalah sahabat akrap." Sahut Ronal, ia kemudian beralih pada salah satu anak buahnya untuk mengambil sesuatu di ruangan lain. "Ambil foto yang terpajang di ruangan ku dan bawa kesini cepat!" Titah Ronal pada anak buah nya.
"Baik bos." salah satu anak buah Ronal segera bergerak menuruti perintah.
Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan membawa sebuah foto. Foto itu menunjukkan dua orang pria yang saling merangkul hangat. Dari foto itu memperlihatkan dua orang pria itu sangat dekat dan saling mengasihi satu sama lain seperti keluarga sendiri. Tapi Rehan malah menatap aneh foto itu.
"Itu beneran aku dan orang ini? Kok tampak aneh yah?" gumam Rehan sambil menatap foto itu dengan mengerutkan dahi. Rehan bergedik ngeri sehingga membuat semua orang bingung dengan sikap nya.
"Kamu kenapa seperti itu?" tanya Ronal bingung.
"Nggak papa, aku cuma nggak terlalu percaya kalau kita hanya sekedar sahabat, dari foto ini kayak nya agak aneh dan tampak berlebihan, seperti..." Rehan tak ingin menghabiskan ucapan nya karena merasa malu juga dengan foto itu.
"Maksud kamu?" Ronal sama sekali tidak mengerti maksud Rehan. Menurutnya foto yang ia tunjukkan tak aneh sama sekali dan tampak biasa saja.
Tapi semua anak buah Ronal mulai mengerti dan hanya bisa menggigit bibir menahan tawa. Mereka juga bingung di mana Ronal punya ide seperti itu sebelumnya. Dan siapa yang membantunya mengedit foto itu hingga terlihat sedikit aneh.
"Kamu jangan terlalu mengambil pusing tentang foto ini, setidaknya aku sudah membuktikan kalau kita dulu benar - benar sahabatan. Bahkan tiada sedetik pun kita tak bersama menyelesaikan setiap masalah." Ujar Ronal meyakinkan Rehan.
Bukan nya percaya dengan ucapan Ronal, Rehan malah semakin bergedik ngeri. "Aku nggak mungkin seperti itu dengan nya. Aku lelaki normal, nggak mungkin menyimpang seperti itu. Ronal tampaknya masih menginginkan kami kembali seperti dulu. Dari cara dia menatapku, kayak nya aku yang dulu terpaksa menuruti keinginan nya demi sebuah ambisi. Tapi nggak papa, aku akan mengikuti permainan nya." Batin Rehan.
"Jadi kamu mau apa sekarang? Maaf kalau sebelumnya aku sempat berpikir kalau kamu itu orang jahat, karena cara kalian membawa ku sini tadi itu sangat kasar." Kata Rehan.
__ADS_1
Ronal menghampiri Rehan dan merangkul bahu pria itu erat. "Maaf kalau aku membuatku takut tadi, tapi aku terpaksa agar kamu nggak melawan dan datang ke sini cepat. Jujur aku udah rindu banget dengan sahabatku ini." Sahut Ronal hangat.