
"Bagaimana Ryan? Apa kata tuan Barry?" Tanya Riko tidak sabaran ingin mengetahui apa yang telah mereka bicarakan di telepon.
"Tuan Barry mengizinkan kita untuk berangkat besok subuh ke Metro city. Hanya saja, dia mengatakan bahwa kita harus merahasiakan keberangkatan kita. Ini karena kita bertiga telah menjadi incaran mereka untuk di bunuh." Kata Ryan menjelaskan.
"Apa? Di bunuh?" Tanya Daniel mendadak ketakutan.
"Sudah Daniel. Kau tidak perlu terlalu takut. Jangan sampai ketakutan mu itu malah akan membunuh mu. Lebih tidak aman jika kita berkurung diri di rumah saja. Jika ingin selamat, maka kita harus bergerak dan bergerak." Kat Riko berusaha meredakan ketakutan Daniel.
Baru Riko selesai berkata, dari luar terdengar pintu rumah mereka di ketuk.
"Siapa di luar?" Tanya Riko sambil mengokang pistol nya.
"Ini aku Arslan." Kata suara di luar menyebutkan namanya.
Mendengar satu suara yang telah mereka kenal, membuat ketiga pemuda itu menarik nafas lega. Riko yang sejak tadi sudah siaga jadi mengendorkan sedikit raut wajah nya dan mulai membukakan pintu.
"Kapan kau tiba Kak? Mengapa tidak terdengar suara mobil mu?" Tanya Riko begitu membukakan pintu untuk Arslan.
"Aku, Herey dan hampir 30 orang sejak tadi berada di luar untuk menjaga kalian. Ini karena kabar yang di terima oleh tuan Barry mengatakan bahwa Robin telah mengupah pembunuh bayaran untuk menargetkan kalian sebagai sasaran mereka." Kata Arslan.
"Terimakasih banyak Kak." Kata Riko sambil mempersilahkan Arslan untuk masuk.
"Tadi tuan Barry menelepon ku agar aku menemani kalian dalam perjalanan ke Metro city. Makanya aku segera menemui kalian." Kata Arslan menjelaskan kedatangan nya.
"Bagus jika begitu. Kak Arslan akan satu mobil dengan ku." Kata Daniel.
"Enak saja. Aku juga mau satu mobil dengan Kak Arslan." Kata Ryan.
"Sudahlah! Begini saja. Kau bersama Riko berangkat semobil. Aku dan Daniel berangkat bersama. Mobil mu tinggal saja Riko!" Kata Arslan memberi usul.
"Baiklah Kak. Aku setuju saja. Kau yang nyetir Ryan!" Kata Riko.
"Ok. Tidak ada masalah." Kata Ryan.
"Sekarang ayo kita tidur. Besok subuh-subuh kita harus sudah berangkat. Kalian tidak perlu khawatir! Di luar ada ramai orang yang menjaga rumah ini." Kata Arslan lalu merebahkan tubuhnya di Sofa.
...*...
__ADS_1
Kriiiing...?!
Kriiiing.....?!
"Halo Syam. Ada apa malam-malam begini kau menelepon ku?" Tanya seorang lelaki setengah baya.
"Drako. Ada kabar dari Starhill yang harus aku sampaikan padamu." Kata si penelepon yang ternyata adalah tuan Syam itu.
"Kabar apa Syam?" Tanya Drako singkat.
"Begini Drako. Ketiga pemuda itu, Ryan, Daniel dan Riko saat ini menjadi target pembunuhan oleh Ramendra. Mereka telah mengupah pembunuh bayaran dari New village untuk membunuh ketiga anak itu." Kata tuan Syam menjelaskan.
"Apa...?! Kurang ajar Ramendra ini. Lalu bagaimana menurut mu Syam?" Tanya Drako.
"Saat ini anak buah ku terpecah di beberapa tempat antara lain, 26 Orang di Country home termasuk Herey. Lalu di Villa Smith dan Villa William di Metro Hill. Aku khawatir sisa anak buah ku ini tidak mampu untuk melindungi ketiga anak ini. Ini karena mereka akan berangkat ke Metro city besok subuh dari Starhill untuk mengunjungi Ivan di rumah sakit." Kata tuan Syam.
"Baiklah Syam. Aku rasa masih ada waktu. Malam ini juga aku akan pulang ke Metro city." Kata Drako lalu mematikan telepon.
"Ramendra membuat ulah lagi?" Tanya satu suara yang membuat Drako terkejut. Dia langsung memalingkan wajah nya ke arah datang nya suara dan kini terlihat kakek Malik di dampingi oleh Jerry sudah berdiri di dekat pintu saling berdampingan.
"Ap.., ap.., apakah itu Daniel, Ryan dan Riko?" Tanya Jerry dengan suara bergetar.
"Benar." Jawab Drako singkat.
"Kurang ajar betul orang tua bau tanah itu." Kata Jerry sambil merampas ponsel dari tangan Drako.
"Untuk apa ponsel itu Jerry?" Tanya Drako.
"Aku akan meminta tuan Raven untuk menyiapkan mobil untuk ku. Aku akan kembali malam ini ke Metro city dan menunggu mereka di jalan sebelum persimpangan Hillstreet." Kata Jerry sambil melakukan panggilan.
"Hallo Tuan muda. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya tuan Raven begitu panggilan itu tersambung.
"Tuan Raven. Sediakan mobil untuk ku! Aku akan kembali malam ini juga ke Metro city." Kata Jerry.
"Mobil ada untuk anda gunakan. Anda datanglah ke sini! Ini karena mobil tidak bisa langsung di antar ke gubuk paman Malik, Tuan muda." Kata tuan Raven.
"Baiklah. Aku akan segera ke sana." Kata Jerry segera mengakhiri panggilan.
__ADS_1
"Kau akan kembali ke Kota, Jerry?" Tanya kakek Malik.
"Benar Kek. Aku tidak bisa terlalu berlama-lama lagi di sini sementara sahabat-sahabat ku bertaruh nyawa demi diriku." Kata Jerry.
"Jika tekat mu telah bulat, maka ayo kita ke kota bersama-sama." Kata kakek Malik.
"Kakek akan ikut ke kota?" Tanya Jerry seakan tidak percaya.
"Banar. Tapi aku tidak akan berurusan dengan sampah seperti itu. Aku hanya ingin satu saja. Yaitu Ramendra." Kata Kakek Malik.
"Baiklah Kek. Sekarang ayo kita bersiap-siap. Waktu kita tidak banyak." Kata Jerry.
Setelah kata sepakat di ambil, maka semua orang kini mulai bersiap-siap untuk berangkat ke desa melalui jalan pinggir sungai dan setelah itu mereka akan melakukan perjalanan panjang ke Metro city menggunakan dua mobil.
"Aku akan mengambil mobil yang aku titipkan di rumah kepala desa." Kata Drako.
"Baiklah Ayah. Aku akan menyuruh tuan Raven nanti sekalian mengantarkan mobil ke rumah paman Morgan." Kata Jerry sambil membantu kakek Malik mengemas barang bawaan nya.
Sebenarnya tidak banyak barang yang di bawa oleh kakek Malik. Itu hanya beberapa stel pakaian dan selebihnya adalah obat-obatan yang telah di keringkan dan digiling halus menjadi serbuk.
"Kau Roxana?! Setelah ini kau tidak perlu lagi kembali ke rumah ini. Bagaimanapun kau telah bertemu dengan suami mu. Kau bisa menghabiskan hari-hari mu dengan bahagia bersama suami dan anak mu." Kata kakek Malik.
"Apakah Ayah tidak mau tinggal bersama dengan kami di Metro city?" Tanya Roxana.
"Benar Kek. Ayo lah tinggal saja bersama kami di Metro city!" Rengek Clara.
"Tidak cucu ku. Aku tidak akan bisa hidup jika tinggal di kota yang sangat bising dengan hiruk pikuk kesibukan manusia nya. Bagaimanapun aku telah menyatu dengan kehidupan di hilir sungai ini. Di sini tempat ku. Jika kalian rindu, kalian bisa mengunjungi ku kapan saja kalian mau." Kata kakek Malik.
"Ayo! Jika sudah siap, mari kita berangkat!" Kata kakek Malik sambil memberikan buntalan kepada Jerry untuk dia bawa.
Mereka berlima kini berjalan mengikuti pinggiran sungai menuju ke desa.
Setelah memberitahu kepada Morgan dan sedikit berbasa-basi, mereka pun lalu berangkat menggunakan dua mobil meninggalkan desa itu menuju ke kota.
Ada perasaan haru bercampur aduk dalam hati mereka. Ini terutama Clara dan Roxana. Di satu sisi mereka bahagia telah berkumpul kembali dengan keluarga mereka. Di sisi lain mereka juga merasakan kehampaan dalam hati karena harus meninggalkan gubuk tempat mereka selama ini tinggal. Apa lagi Clara yang lahir dan tumbuh besar di gubuk itu.
Bersambung...
__ADS_1