
"Tok.., tok.., tok..!"
"Masuk...!"
"Sendiego..! Ada apa kau menyuruhku untuk datang?" Kata seorang pemuda yang baru saja masuk kedalam ruangan kerja Sendiego.
"Riko..! Aku telah mentransfer uang sebanyak 500 ribu kedalam rekening mu." Kata Sendiego berkata kepada seorang pemuda yang ternyata adalah Riko.
"Hanya 500 ribu Sendiego? Apa kau tidak menghitung berapa kali aku memenangkan pertarungan? Jangan katakan aku tidak tau kalau kau begitu banyak mendapat keuntungan Sendiego!" Kata Riko dengan tajam.
"Riko... Kau mulai pintar berhitung sekarang. Baiklah..! Aku akan menyuruh Ramond untuk mentransfer 200 ribu lagi kedalam rekening mu. Bagaimana?" Tanya Sendiego sambil tersenyum dan menawarkan tambahan uang kepada Riko.
"Aku ingin 1 juta Sendiego! Tidak kurang tapi boleh lebih." Kata Riko yang tidak mau menerima 700 ribu Dollar yang di transfer Sendiego kedalam rekening bank nya.
"Apa kau gila Riko? 1 juta bukan jumlah yang sedikit. Kau tau bahwa kau baru memenangkan 5 kali pertarungan?" Kata Sendiego sambil membelalakkan matanya.
"Satu juta belum seberapa jika dibanding dengan apa yang kau dapat dari kemenangan ku Sendiego. Aku kau jadikan sebagai ayam aduan dan dipaksa untuk menang demi keuntungan mu. Kau mendapat ratusan juta sedang aku hanya kau beri 700 ribu. Aku tidak bodoh. Jika kau tidak memberiku 1 juta, maka lupakan pertarungan selanjutnya." Kata Riko memberi ancaman tegas kepada Sendiego.
"Ok.., ok. Kau akan mendapatkan apa yang kau ingin kan. Tapi ingat Riko! Pertarungan selanjutnya tidak boleh kalah!" Kata Sendiego.
"Aku lebih baik mati dari pada kalah. Kau duduk lah dengan tenang dan saksikan pertarungan ku. 10%. Aku ingin bagian ku 10% dari hasil taruhan nanti." Kata Riko sambil tersenyum penuh cibiran lalu bergegas keluar meninggalkan ruangan Sendiego.
"Setaaaan..! Kau ini Riko. Berani sekali memeras ku. Belum ada yang berani memeras Sendiego!" Kata Sendiego berteriak. Namun sekuat apa pun dia berteriak, Riko sudah berlalu dari tempat itu.
Merasa percuma saja marah-marah tidak jelas, Sendiego segera menyuruh Ramond untuk mentransfer 500 ribu lagi ke akun bank milik Riko.
"Kau salah jika menganggap aku ini bodoh Sendiego. Aku bertarung mati-matian untuk kemenangan dan kau hanya duduk menikmati hasil." Kata Riko dalam hati lalu berjalan menuju ke mobilnya.
Setelah Riko memasuki mobil, kini tampak mobil Audi R8 berwarna silver itu meluncur membelah jalan Country home menuju ke traffic light dan berbelok ke kiri menuju ke sebuah rumah sederhana milik Ramos sang pelatih.
"Wah anak emas ku sudah memiliki mobil sport. Kapan kau membeli mobil ini Riko?" Tanya Ramos begitu dia baru saja keluar dari mobil itu.
__ADS_1
"Aku tidak membeli mobil ini Pak. Aku dihadiahkan mobil ini oleh seseorang yang bertaruh untuk ku. Dia memenangkan uang 10 juta dan memberi ku hadiah mobil ini. Bagaimana menurut mu Pak?" Tanya Riko.
"Bagus... Sangat gagah. Dulu ketika aku masih muda, aku sangat mengidam-idamkan memiliki mobil sport yang super laju. Tapi itu dulu. Sekarang aku sudah tidak muda lagi." Kata Ramos sambil tertawa.
"Pak. Hari ini aku telah meminta bayaran kepada Sendiego sebesar 1 juta Dollar." Kata Riko.
"Apa? 1 juta Dollar. Uang itu terlalu banyak Riko." Kata Ramos membelalakkan matanya.
"Tidak. Itu tidak besar Pak. Dia harus membayarku karena telah bertarung untuk nya. Jika tidak, aku akan mengobrak abrik markas nya itu." Kata Riko tanpa ada rasa sungkan diwajah nya.
"Aku khawatir kau akan berujung seperti Arslan Riko. Hati-hati lah kepada Sendiego!" Kata Ramos memperingatkan.
"Aku sudah terlalu berhati-hati dari dulu Pak. Karena terlalu berhati-hati makanya aku selalu di sepelekan oleh orang-orang. Sekarang ini adalah Riko yang baru. Riko yang memiliki uang. Yang memandang Riko dengan sebelah mata, pasti akan aku buat menyesal seumur hidup nya." Kata Riko berapi-api.
"Hmmmm..., baiklah Riko. Aku yang tua ini hanya bisa memberimu nasehat. Oh ya.., kau sudah tidak di mata-matai lagi. Apakah kau akan pulang untuk mengunjungi orang tuamu Riko?" Tanya Ramos.
"Tidak pak. Aku tidak boleh kembali kedalam keluarga saat ini. Ini karena, untuk menghindari kalau-kalau keluargaku akan terkena imbas jika aku kelak mendapat masalah." Kata Riko sambil menggeleng.
"Lalu, apa rencana mu untuk saat ini Riko?" Tanya Ramos yang tidak mau lagi membahas tentang keluarga Riko.
"Mengapa tidak kau temui saja mereka Riko!?" Tanya Ramos.
"Ya Pak. Aku harus menemui mereka. Jujur saja bahwa aku sangat merindukan mereka. Mungkin aku akan menelepon mereka Pak. Ini karena, semenjak aku mengganti nomor ponsel ku, tidak ada yang tau aku dimana selama ini. Sudah waktunya bagi ku untuk membuat mereka bangga memiliki sahabat yang punya banyak uang sekarang." Kata Riko dengan bersemangat.
"Alangkah bahagianya kau memiliki sahabat-sahabat yang selalu merasa saling memiliki." Kata Ramos.
"Benar Pak. Namun selain sahabat, aku juga punya beberapa musuh. Ketika aku sedang di timpa kesusahan, mereka semakin mempersulit keadaan ku. Saatnya untuk membuat perhitungan." Kata Riko sambil mengepalkan tinjunya.
"Terserah padamu saja Riko. Aku hanya memperingatkan agar kau jangan terlalu hanyut dalam arus dendam. Atau kau akan tenggelam didalamnya!" Kata Ramos memperingatkan.
"Terimakasih Pak. Saya akan selalu memperhatikan nasehat dari anda." Kata Riko lalu segera menyalami lelaki setengah baya itu dan melangkah menuju kearah mobilnya.
__ADS_1
Ketika Riko telah berada di dalam mobil, dia segera mengeluarkan ponsel nya dan mulai membuat panggilan.
Sambil menunggu seseorang menjawab panggilan tersebut, Riko mulai mengatur rencana dalam hati.
"Rina.., bagaimana kabar mu saat ini sayang ku? Apa kau tau bahwa aku sangat merindukanmu?" Kata Riko dalam hati.
"Hallo siapa kah ini?" Tanya suara seorang wanita di seberang telepon setelah panggilan itu terhubung.
"Rina sayang.., ini aku. Apakah kau sudah melupakan diriku?" Tanya Riko dengan suara sendu.
"Kau kah itu Riko?" Tanya Rina seperti tidak percaya bahwa Riko telah menghubungi nya.
"Iya sayang. Ini aku Riko. Bagaimana kabar mu, apakah kau baik-baik saja?" Tanya Riko dengan perhatian yang dalam.
"Kabar ku baik-baik saja. Bagaimana dengan kabar mu?" Tanya Rina.
"Aku baik-baik saja. Rina.., apakah kau bertemu dengan sahabat-sahabat ku? Apakah mereka dalam keadaan baik?" Tanya Riko.
"Syukurlah jika kau juga dalam keadaan baik. Tapi Riko, saat ini Jerry sedang dalam masalah." Kata Rina.
"Masalah? Ada apa Rina, masalah apa yang menimpa Jerry?" Tanya Riko dengan darah berdesir ketika mendengar bahwa sahabat baiknya itu sedang dalam masalah.
"Jerry telah tertangkap basah oleh Anton dan teman-temannya sedang berduaan dengan Lisa dalam keadaan setengah tak berpakaian. Mereka menuduh bahwa Jerry telah menculik Lisa dan ingin melakukan hal yang tidak senonoh kepada Lisa. Saat ini semua orang membenci Jerry." Kata Rina menceritakan apa yang terjadi Kepada Jerry di bukit bambu.
"Kau percaya semua itu Rina? Kau kan tau siapa Anton, Zeck dan John. Mereka pasti yang telah menjebak Jerry." Kata Riko yang tidak percaya bahwa Jerry memiliki sifat bejat seperti itu.
"Aku tidak percaya dengan semua itu Riko. Tapi untuk saat ini, Jerry sangat tertekan. Setelah kami kembali dari bukit bambu, Jerry tiba-tiba menghilang entah kemana. Tidak ada yang tau kemana perginya Jerry." Kata Rina menjelaskan.
"Sayang..., apakah kau bisa menunggu ku di kafe depan kampus, aku akan kesana dan mungkin akan sampai sekitar pukul 4 sore."
"Aku akan menunggu kedatangan mu." Kata Rina.
__ADS_1
Setelah berbicara panjang lebar untuk melepas kerinduan, Riko akhirnya mengakhiri panggilan dan mulai menghidupkan mesin mobil nya lalu segera melaju menuju Starhill.
Bersambung...