PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Bab 36 Zack emosi


__ADS_3

POV Author


Pundas segera meminta anak buah nya membawa Josep keluar untuk di obati. Kondisi Josep sangat memprihatinkan dengan darah yang bercucuran keluar dari hidung dan mulutnya.


"Aku tahu kamu hanya merasa bersalah, tapi jangan sampai kamu menghilangkan nyawa seseorang yang tak bersalah". Bujuk Dilan.


Zack tertunduk, ia sebenarnya dari awal mendirikan Klan Naga Merah ini sudah bertekat tidak akan membunuh orang yang tak bersalah apa lagi anggota nya yang sudah bersama nya dengan setia. Ia hanya berniat menegakkan keadilan dalam bentuk kekejaman. Begitu pula dengan anggota nya yang lain yang juga menyematkan niat tekat yang sama.


"Rencana kalian bagaimana untuk membawa putra ku kembali?". Akhirnya Zack menanyakan pendapat sahabatnya untuk rencana selanjutnya dalam menemukan keberadaan Haikal.


"Minum air ini dulu, tenang kan pikiran tuan dulu. Aku dan Dilan sudah menyusun rencana brilian untuk menemukan den Albar". Imbuh Pundas sambil menyodorkan segelas air putih ke arah Zack.


"Sejak pertama melihat den Albar di lokasi pembangunan rumah sakit di desa tempat tinggal nya. Aku sudah bisa menebak sifat dan jati diri nya. Dia tak jauh berbeda dengan sifat tuan. Keras kepala dan tidak mudah gentar dengan kekejaman yang ia terima. Meskipun kita melihatnya sering tertawa lepas dan mudah bergaul dengan pekerja di mansion, tapi semua itu sebenarnya karena ia kurang kasih sayang. Di sekolah ia sama sekali tidak bergaul dengan teman - teman nya, dan malah cenderung di buli...". Jelas Pundas.


"Albar di buli di sekolah nya? Kenapa kamu nggak pernah cerita pada ku?". Cerca Zack kaget.


"Itu tak penting tuan. Yang penting itu dia bisa bersikap dingin dan biasa saja saat menerima bulian dari teman - teman nya. Ia bahkan mengabaikan, meskipun begitu, jika adik nya yang bernama Karina yang mendapat bulian ia adalah pertahanan pertama untuk adik angkat nya. Sebenarnya ia punya kekuatan tapi hanya menggunakan nya saat genting saja. Josep juga pernah meyaksikan Den Albar melawan beberapa orang preman yang ingin membawa adik nya pergi hanya dengan satu kali serangan. Preman itu langsung mengarang kesakitan padahal hanay6 sekali Den Albar memukulnya. Kekuatan den Albar sangat kuat seperti telah berlatih pada guru hebat". Balas Pundas.


"Siapa guru bela diri Albar?". Tanya Zack penasaran. Ia tidak menyangka jika Albar memiliki keahlian bela diri yang cukup tangguh. Padahal ia dan istri nya berpikir bahwa putra nya itu sama sekali tidak tahu bela diri makanya mereka mempersiapkan pengawal rahasia sejak sekarang.

__ADS_1


"Bukan tuan. Den Albar sama sekali tidak pernah berguru pada siapa pun. Kekuatan nya itu muncul dari dalam diri nya sendiri. Kekerasan hidup yang ia terima membuat nya bisa mempunyai kekuatan itu". Jelas Pundas sambil menggeleng kepala.


"Maksud kamu?". Zack masih penasaran apa mungkin putra nya itu seperti kakek nya.


"Dari kecil den Albar selalu melakukan pekerjaan, dari yang ringan ke yang berat selalu ia tekuni dengan gembira. Dari sana lah otot - otot dan saraf nya bekerja. Tubuh nya memang kurus tapi ia bisa menjatuhkan beberapa orang pria berbadan besar dalam satu kali tendangan. Ketajaman matanya, kepekaan telinganya sudah terlatih sejak kecil oleh kehidupan". Jelas Pundas.


"Aku paham. Jadi apa rencana kalian sebenarnya?". Zack sudah penasaran dengan apa yang di rencanakan dua sahabatnya.


"Tuan masih ingat dengan bu Sukma? Wanita tua yang pernah menjaga Albar sebelum di culik di sebuh desa terpencil bersama nyonya Aisyah dulu". Tanya Dilan.a


"Iya saya ingat, pada kejadian penculikan itu rumah bu Sukma keparakan sehingga membuat wajah nya terbakar juga bersama menantunya. Tapi setelah melakukan operasi plastik ia pamit dari pekerjaan nya tapi berjanji untuk membantu mencari putra ku. Kenapa kalian malah menanyakan wanita itu?". Kata Zack sambil mengingat kembali kejadian belasan tahun lalu.


"Apa? Jadi dia berkhianat?". Zack berubah murka.


"Tenang dulu, dengar dulu apa yang ingin aku sampai kan. Pundas juga begitu kan dulu nya tapi bukan berarti dia berkhianat tapi malah menjadi pahlawan kita. Begitu pula dengan bu Sukma. Sampai saat ini ia masih setia pada kita, beda nya ia sama sekali tidak memperlihatkan nya secara langsung bahkan komunikasi di antara kita terputus demi keselamatan diri nya". Jelas Dilan..


"Bagaimana kamu bisa yakin kalau dia tidak berkhianat?". Tanya Zack masih ragu.


"Semalam ia menghubungi ku karena masih hafal kontak ku, ia mengatakan kalau den Albar sekarang bersama nya di sebuah rumah mewah milik Ronal. Tapi ia juga tidak tahu alamat nya di mana karena selama ia bekerja di sana ia sama sekali tidak pernah di benarkan keluar rumah. Karena ia menggunakan ponsel pengawal secara diam - diam maka dia tidak bisa menyampai kan banyak informasi". Jelas Dilan lagi.

__ADS_1


"Apa benar yang kamu katakan?". Seperti mendapatkan angin segar di dalam ruangan pengap, Zack akhirnya bisa tersenyum senang.


Dilan mengangguk meyakinkan.


"Saya sudah melacak nomer ponsel yang di gunakan bu Sukma semalam dan ini lokasi nya". Pundas membuka laptopnya dan memperlihat kan nya pada Zack.


"Jangan tunggu lagi, kita ke sana sekarang!". Zack bangkit dengan antusias.


"Tunggu dulu tuan. Seperti yang saya katakan tadi, den Albar bukan hanya memiliki kekuatan fisik tapi otak nya juga memiliki pemikiran yang cerdas. Saya yakin ia sudah punya strategi maka nya berani untuk ikut mereka ke sana. Kita tak boleh mengganggu rencana nya begitu saja. Biar kan dia membangun jati dirinya dan menyelesaikan semua yang sudah ia susun hingga selesai. Kita di sini hanya perlu bersiap jika ia memerlukan bantuan". Sahut Pundas.


Zack menarik kerah baju Pundas karena tidak sependapat dengan sahabatnya itu. "Jangan membuat ku emosi, Pundas! Sebelum nya kamu juga menyarankan pada ku untuk tetap menyembunyikan identitas putraku dari dirinya sendiri konon nya untuk membentuk jati diri nya sebagai seorang pewaris. Tapi nyatakan sekarang masalah baru terjadi. Kami mau aku melakukan kesalahan yang ke dua kalinya?". Cerca Zack dengan emosi yang sudah menguasai dirinya.


"Tenang dulu, tuan. Coba tuan pikir kan lagi, lagi pula di sana sudah ada bu Sukma yang akan menolong nya, ia tak sendirian. Jika ia berhasil menyingkirkan Ronal dan sekutunya dengan cara nya sendiri, maka kita tak perlu ragu lagi pada nya. Bukan hanya ia layak menjadi pewaris perusahaan tapi ia juga akan mewarisi klan Naga Merah kita ini di masa depan". Bujuk Dilan.


"Kamu juga diam!". Bentak Zack pada Dilan. "Kalian nggak pernah merasakan kehilangan seorang anak apalagi sampai belasan tahun baru bertemu kembali. Jangan membuat ku kembali kehilangan anak ku satu - satu nya!". Ujar Zack dengan penuh amarah.


"Iya kami faham perasaan tuan tapi semua terpulang dari keputusan tuan juga. Terserah, kami hanya menerima perintah saja. Pendapat kami mau di dengar atau tidak juga terpulang tapi kalau nanti den Albar tidak memiliki prinsip sendiri atau tidak mampu menyelesaikan masalah sendiri jangan salah kan kami". Imbuh Dilan pasrah.


Zack tercengang, cengkraman nya ia lepas dari kerah baju Pundas.

__ADS_1


"Pikir kan lah dulu, kami mau pamit, banyak yang harus kami persiapkan". Pamit Dilan tampak dingin.


__ADS_2