PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Kartu bank yang asli


__ADS_3

Jerry tertunduk sesaat terpekur menatap lantai ruangan itu sambil menimbang-nimbang rencana yang telah di jelaskan oleh Ryan.


Saat ini banyak pertimbangan bergejolak di dalam hatinya antara mengikuti hawa nafsu untuk menyerang kubu Ramendra atau mengikuti rencana Ryan.


Jerry sendiri jelas tidak bisa meremehkan rencana dari Ryan ini. Ini karena dia sendiri tau bagaimana sepak terjang ketiga sahabatnya ini dalam membendung gempuran dari kubu Ramendra.


Setelah lebih dari 10 menit menimbang-nimbang, akhirnya Jerry menetapkan hati untuk mengikuti rencana sahabatnya tersebut.


"Kita tidak memiliki terlalu banyak waktu. Acara pelelangan itu hanya tinggal beberapa hari saja lagi." Kata Jerry sambil mengeluarkan dompet nya dan mencabut sekeping kartu Blackgold dan menyerahkannya kepada Daniel.


"Dalam kartu ini ada sejumlah uang yang sanggup untuk membeli 10 hotel Mega sekaligus. Kau pergunakan ini untuk melawan Ramendra. Ingat Daniel! Menang atau kalah tidak jadi masalah. Ini karena aku sangat menghergai usaha kalian semua. Password nya adalah hari ulang tahun ku." Kata Jerry menjelaskan kepada Daniel bahwa dia tidak membebankan suatu apa pun di pundak Daniel.


Bergetar tangan Daniel menerima kartu bank ekslusif itu. Selama hidup, baru kali ini dia memegang kartu yang hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki nya.


"Nah itu baru yang asli. Kemarin itu palsu." Kata Riko sambil tertawa.


"Aku mendengar bahwa kau telah menguras uang orang tua itu sebanyak 400 juta Dollar?" Tanya Jerry.


"Hahaha... Daniel mau di bodohi. Dia menggali lubang kubur nya sendiri ketika dia memandang ku dengan sebelah mata." Kata Daniel sambil tertawa.


"Tapi kau tau, Jerry?! Setelah itu, aku sangat ketakutan. Ini karena, orang-orang Ramendra mulai menargetkan kami sebagai sasaran pembunuhan." Kata Daniel sambil bergidik ngeri.


"Oh ya. Bicara tentang rencana pembunuhan. Ketika kalian mengikuti acara pelelangan itu nanti, kalian tidak boleh sendiri. Aku akan menugaskan paman Jeff dan Herey untuk membuntuti kalian. Ini karena aku mendapat kabar bahwa ayah angkat ku telah di beri tahu oleh tuan Syam bahwa seseorang telah berkhianat dan membocorkan rahasia perjalanan kalian ke Metro city ini kepada Ramendra. Makanya kalian tidak perlu heran mengapa mereka menghadang kalian di jembatan itu" Kata Jerry.

__ADS_1


"Kurang ajar. pantas saja mereka bisa mengetahui keberangkatan kami." Kata Arslan dengan wajah memerah.


"Siapa orang itu Jerry? Aku akan menghabisi penghianat itu." Kata Riko dengan marah.


"Jangan! Kalian pasti akan mengetahui nya nanti di acara pelelangan proyek terbengkalai milik ayah Ivan." Kata Jerry.


"Bagaimana kau bisa tau Jerry?" Tanya Daniel.


"Saat ini penghianat itu berada dalam pengawasan tuan Syam. Kau tau kan apa keahlian anggota tuan Syam?" Tanya Jerry.


"Melacak jejak, menyusup, mencari informasi dan bertarung adalah keahlian mereka." Kata Arslan.


"Perhatikan saja nanti di acara pelelangan itu. Ryan pasti bisa menebak siapa orang nya. Aku sangat menghormati orang ini. Selain dia adalah sahabat mendiang ayah ku, aku juga bersahabat dengan anak nya. Atas dasar ini lah mengapa aku tidak mau bertindak menghukum penghianat ini." Kata Jerry dengan wajah sedih.


"Baiklah Jerry. Kami mengerti. Oh ya, Apakah kau tertarik dengan proyek yang bangkrut itu? Jika kau tertarik, kami akan berusaha besok untuk memenangkannya." Kata Daniel.


"Ayah.., aku ingin kau menarik paman Jeff dan Herey ke Metro city. Mereka berdua harus membawa beberapa anak buah untuk mengawal Ryan dan Daniel dari jarak tertentu." Kata Jerry dalam pesan suara tersebut.


Tidak selang beberapa menit, ponsel Jerry berbunyi menandakan pesan Whatsapp telah masuk.


"Baiklah. Kau jangan dulu menampakkan diri di depan publik sebelum acara pelelangan itu berakhir. Aku sendiri yang akan turun tangan mengawal kedua sahabat mu itu. Biarkan Jeff berada di Country home. Cukup aku dan Herey saja." Kata Drako membalas pesan suara dari Jerry.


"Baiklah Ayah. Aku menurut saja apa katamu." Jawab Jerry lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

__ADS_1


"Lorna, kau harus bisa menjaga rahasia. Kalian semua juga dengar! Jangan katakan kepada siapa pun bahwa aku masih hidup. Ini demi kelancaran rencana Ryan juga." Kata Jerry berpesan kepada semua orang yang berada di tempat itu.


"Di hari pelelangan, Kak Arslan dan Riko harus sudah bersiap sedia. Aku akan meminta tuan Syam untuk menghubungi pihak kepolisian Metro city. Setelah itu, kita lihat apa yang bisa di lakukan oleh Ramendra untuk membela diri." Kata Jerry lagi lalu bangkit berdiri.


"Kau tenang saja Jerry! Kami akan menjaga rahasia mu." Kata mereka.


"Aku permisi dulu. Calon istri sedang menunggu. Cepat sembuh Van. Suatu saat nanti kita bisa bekerja sama. Aku menduga bahwa masalah ini tidak akan tuntas hanya karena kita bisa menumbangkan Ramendra." Kata Jerry menepuk pundak Ivan.


"Baik. Jaga dirimu Jerry!" Kata Ivan berpesan.


Jerry hanya mengangguk lalu memeluk mereka satu per satu kecuali Lorna. Dia masih merinding melihat wajah Lorna. Ini karena setiap wajah gadis ini dia lihat, maka dia akan terbayang acara perjodohan beberapa bulan yang lalu yang berakibat dia harus mengalami nasib sial.


Selesai berbasa-basi, Jerry pun segera memakai masker dan memasang kembali kacamata hitam nya lalu berjalan ke arah pintu.


Setelah Jerry menghilang dari pandangan mereka, Ryan dan yang lainnya merasa sangat bersyukur bahwa Jerry ternyata masih hidup.


Jerry baru saja sampai di luar ketika dia melihat beberapa orang tampak sedang berjaga-jaga di sekitar rumah sakit sambil memperhatikan keadaan.


Bagi yang tidak mengetahui permasalahannya, mereka hanya mengira bahwa orang-orang ini hanya beberapa lelaki yang kebetulan berada di tempat itu. Namun bagi Jerry, dia tau bahwa itu adalah anak buah tuan Syam yang sengaja di tempat kan di sekitar rumah sakit untuk memantau keadaan.


Jerry tidak terlalu memperdulikan itu semua. Dia segera berjalan cepat ke arah mobil nya. Setelah sampai di mobil tersebut, Jerry langsung masuk dan menghidupkan mesin lalu segera tancap gas menuju hotel mutiara milik nya yang dia warisi dari kakeknya William King.


Di sepanjang perjalanan dia terus saja memikirkan apa yang akan terjadi 3 hari ke depan. Apakah setelah Ramendra dapat di tumbangkan akan segera berakhir persaingan dan dia bisa fokus terhadap perusahaan atau akan ada lagi musuh baru yang akan mencoba membuat masalah dengan dirinya atau perusahaan miliknya.

__ADS_1


"Huhh... Entah sampai kapan begini terus. Miskin di hina, kaya di musuhi. Apa sebaiknya setelah masalah ini beres, aku akan mengembalikan perusahaan kepada kakek Smith dan kakek William? Dengan begini aku bisa tenang. Memulai hidup baru bersama Clara sebagai seorang petani di kampung halaman Ryan." Fikir Jerry dalam hati sambil terus melajukan kendaraan nya menuju hotel mutiara di mana Clara, kakek Malik, Roxana dan Drako menunggu.


Bersambung...


__ADS_2