PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Rencana pembangunan di kampung Ryan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Jerry, Ryan dan Daniel sudah bangun.


Menang sudah menjadi kebiasaan bagi penduduk perkampungan tersebut untuk bangun pagi.


Bagi para ibu-ibu rumah tangga, mereka akan menyiapkan sarapan serta secangkir kopi untuk suami mereka sebelum berangkat ke sawah.


Hal yang sama juga berlaku bagi keluarga Morgan. Saat ini pak Morgan sedang disibukkan dengan menyiapkan alat-alat untuk dibawa ke sawah.


"Nak Daniel, nak Jerry.., mengapa sudah bangun? Kalau masih lelah, tidur lah barang 1 atau 2 jam lagi." Kata pak Morgan dengan ramah.


"Tidak Pak. Kami juga di Starhill sudah terbiasa bangun lebih awal di pagi hari." Kata Daniel sambil menggosok-gosok mata nya.


"Gaya mu. Kau yang paling malas bangun pagi." Kata Ryan dari arah dapur sambil membawakan nasi goreng dan teh hangat untuk kedua sahabat nya itu.


"Kau ini Ryan... Argh... Selalu mematahkan ucapan orang." Kata Daniel dengan kesal.


"Hahaha.., kalian kesini kan untuk berlibur. Mengapa sungkan?" Kata pak Morgan sambil terkekeh.


"Kami sengaja bangun lebih awal karena ingin merasakan kehidupan di kampung ini Pak. Mungkin kami akan mengikuti Bapak nanti ke sawah." Kata Jerry.


"Boleh-boleh saja. Asal kalian tahan dengan terik matahari." Kata pak Morgan lagi.


"Iya Pak. Semoga saja Daniel tidak pingsan nanti." Kata Jerry sambil menahan tawa.


"Kau Jerry.., mengapa aku lagi yang kena." Rungut Daniel.


"Sudah lah. Iyakan saja biar kita segera main lumpur di sawah." Kata Jerry.


Bagi Jerry, bermain lumpur adalah sesuatu yang sangat di rindukan olehnya. Dulu ketika di New Village, dia sering di ajak ke kebun oleh pak Yosep dan bibi Lina. Sepanjang dia di kebun itu, dia lah yang paling kotor terkena lumpur seolah-olah dia lah yang paling kuat bekerja. Itu sekitar 15 tahun yang lalu sebelum pak Yosep terbunuh oleh anak buah Robin.


"Mengapa melamun nak Jerry?" Tanya pak Morgan yang merasa heran melihat Jerry tiba-tiba melamun.


"Oh.., eh.. Tid.., tidak Pak. Tidak apa-apa." Jawab Jerry.


"Ayo sarapan dulu. Setelah itu kita pergi ke sawah sekiranya nak Jerry dan nak Daniel mau ikut serta!" Kata pak Morgan.


"Ayo Jerry! Jangan malu-malu! Anggap saja rumah sendiri." Kata Daniel sambil meraih piring tempat sarapan nya.

__ADS_1


"Dasar muka tembok." Kata Jerry yang kesal melihat ulah Daniel seolah-olah dia lah tuan rumahnya.


"Hahaha... Ayo di makan nak Jerry. Benar kata nak Daniel. Kalian tidak perlu malu-malu!" Kata pak Morgan sambil mempersilahkan.


"Huhh... Enak. Aku tidak pernah jumpa nasi goreng se-enak ini di Starhill." Kata Daniel memuji dengan tulus.


"Dasar lidah buaya. Kemaren di Jewel star kau juga mengatakan seperti itu." Kata Jerry menutup mulutnya menahan ledakan tawa yang hampir saja tidak dapat dikendalikan.


"Aku tulus memuji. Kau saja yang tidak punya lidah. Kau mana tau cita rasa sejati itu seperti apa. Tau mu asal makan, kenyang, sudah!" Kata Daniel mencibir.


"Iya lah iya." Kata Jerry terus saja mengunyah makanannya.


Menang dia akui bahwa sarapan pagi itu terasa sangat nikmat sekali. Mungkin karena berasnya yang langsung dari sawah atau apa lah itu.


...*********...


Selesai sudah mereka sarapan. Kini saatnya bagi mereka bertiga menemani pak Morgan ke sawah milik keluarganya.


"Luas juga sawah mu Ryan." Kata Daniel sambil memandang ke sekeliling.


"Ayah ku adalah kepala desa disini. Kami memang tidak memiliki banyak uang simpanan. Tidak juga memiliki mobil. Tapi kalau masalah kembun dan sawah, jangan tanya. Mereka semua memiliki puluhan hektare sawah setiap keluarga." Kata Ryan menjelaskan.


"Itu lah Jerry mengapa para orang tua di kampung ku ini berusaha banting tulang sekuat tenaga untuk menyekolahkan anak nya setinggi mungkin. Bagi mereka tidak apa mencekik leher asalkan anak mereka bisa menjalani pendidikan dengan tenang. Harapan mereka hanya satu, kelak ketika anak mereka sudah jadi orang, mereka ini lah yang akan membawa perubahan ke kampung tercinta ini." Kata Ryan panjang lebar.


"Sepertinya harapan penduduk kampung ini tidak akan lama Ryan." Kata Daniel sambil melirik Jerry.


"Kau gila Daniel. Jerry mana sudi melirik kampung ku ini. Perusahaan Jerry mainnya di atas Milyar. Apa yang bisa dia harapkan di kampung kumuh seperti kampung ku ini?" Kata Ryan merendah.


"Kau salah Ryan. Semua pebisnis itu awal nya di mulai dari 1 Cent, 2 Cent. Aku melihat potensi yang sangat besar di kampung mu ini. Tapi jangan katakan bahwa aku ingin mengorek keuntungan di sini Ryan!" Kata Jerry sambil menunjukan tinju nya.


"Hahaha.., baik. Kalau aku boleh bertanya, potensi apakah itu Jerry?" Tanya Ryan.


"Ayo kita ke pinggir sungai itu!" Kata Jerry sambil menunjuk tepian sungai yang tidak jauh dari mereka.


Mereka bertiga kini berjalan beriringan menuju tepian sungai lalu duduk di sana.


"Pertama-tama sekali yang harus dilakukan adalah membangun Jalan. Jika jalan telah di bangun, maka proses pengembangan akan lebih mudah." Kata Jerry berhenti sejenak.

__ADS_1


"Yang ke dua adalah.., Membangun pabrik beras. Setelah itu kita akan mensubsidi pupuk, racun, bibit dan alat-alat pertanian kepada penduduk kampung agar mereka bisa bekerja dengan tenang. Tapi dengan syarat bahwa mereka harus menjual hasil panen mereka kepada kita."


"Yang ke tiga adalah, membangun irigasi. Sungai ini sangat perpengaruh besar bagi pertanian. Aku melihat bahwa jika bendungan pengaliran air berhasil di bangun, maka kita akan bisa mengatur kapan waktu pengairan dan kapan pengairan tidak di perlukan. Dengan adanya bendungan irigasi, petani tidak perlu lagi bergantung dengan cara tradisional yaitu dengan cara tadah hujan." Kata Jerry menjelaskan rencananya.


"Kau serius Jerry? Jika kau serius, aku akan mengabarkan berita ini kepada ayah ku." Kata Ryan dengan semangat.


"Jelas aku sangat serius kepada baju merah--"


"Hey Jerry... Yang kita bahas adalah bendungan. Mengapa bisa lari ke baju merah?" Kata Daniel sambil menggoyang-goyang tubuh Jerry.


"Ha? Eh.., oh apa tadi?" Tanya Jerry seperti orang ling-lung.


"Ada apa Jerry? Apa yang kau Lihat?" Tanya Ryan dengan heran.


"Kau lihat di sana itu Ryan! Ada seorang gadis berbaju merah."


"Mana Jerry? Oh iya. Aku melihatnya." Kata Ryan sambil meyipitkan matanya.


"He'em.., aku juga melihatnya." Kata Daniel pula.


"Siapa gadis itu Ryan?" Tanya Jerry penasaran.


"Entahlah Jerry. Sepertinya baru kali ini aku melihat gadis itu." Jawab Ryan.


"Hey... Lihat lah! Gadis itu sudah menghilang." Kata Daniel sambil menunjuk kearah dimana tadi gadis itu berdiri.


"Kejar Ryan..! Daniel.., ayo kita cari gadis itu!" Kata Jerry sambil bangkit berdiri.


Mereka bertiga kini tunggang langgang berlari di sela-sela pembatas sawah milik warga kampung. Mereka tidak perduli lagi bahwa lumpur telah naik sampai ke kepala mereka.


"Kemana dia menghilang Ryan?" Tanya Jerry dengan perasaan kecewa.


"Bagaimana aku bisa tau Jerry?!" Jawab Ryan sambil celingak-celinguk.


"Sudah lah Jerry! Mungkin belum rejeki mu untuk bertemu dengan gadis itu." Kata Daniel berusaha menenangkan Jerry.


"Ya sudah. Ayo kita ke pondok! Sebentar lagi di tempat terbuka ini akan sangat terik." Kata Ryan sambil membantu Jerry untuk bangkit berdiri.

__ADS_1


Mereka bertiga kini sama-sama melangkah dengan sesekali melirik ke arah di mana gadis berbaju merah tadi menghilang.


Bersambung....


__ADS_2