PEWARIS YANG HILANG

PEWARIS YANG HILANG
Pembalasan kakek Malik


__ADS_3

...Hotel mutiara Metro city...


Saat itu tampak seorang lelaki tua sedang berbincang dengan lelaki setengah baya yang memiliki bekas luka di wajahnya yang memanjang dari alis sampai ke pipi.


Dalam perbincangan itu, lelaki tua tersebut meminta kepada lelaki setengah baya yang berada di hadapan nya untuk melakukan sesuatu.


"Drako. Aku ingin kau mengawasi bagaimana situasi di Villa Ramendra saat ini!" Kata seorang lelaki tua kepada seorang lelaki setengah baya yang memiliki wajah sangar dan mengintimidasi itu.


"Untuk apa Paman menyuruh ku memantau situasi di Villa Ramendra?" Tanya Drako kepada lelaki tua itu.


"Kau jangan lupa tujuan awal ku datang ke kota ini. Itu tidak lain adalah untuk membalas dendam yang berkarat lebih dari 40 tahun yang lalu." Kata lelaki tua itu.


"Maaf Paman. Aku hampir lupa. Segera akan aku lakukan." Kata Drako dengan penuh hormat.


"Dia harus mendapatkan pembalasan yang setimpal atas dosa-dosanya yang lalu." Kata lelaki tua itu.


"Apakah Paman akan mengakhiri hidup orang tua itu?" Tanya Drako.


"Benar. Kalau pun aku tidak tega melakukannya, maka paling tidak aku akan mendorongnya terjun dari lantai atas Villa nya itu. Mau hidup atau mati, itu terserah bagaimana nanti." Kata lelaki tua itu.


"Baik Paman. Aku akan mengerahkan anak buah ku untuk memantau keadaan di Villa Ramendra." Kata Drako.


"Oh ya..?! Kau jangan lupa menyewa pemberita palsu! Setelah kau mendapat kabar bahwa Ramendra mengalami kecelakaan, kau harus menyuruh mereka membuat berita seolah-olah Ramendra telah gila dan bunuh diri dengan cara terjun dari lantai atas Villa nya." Kata lelaki tua itu.


"Baik Paman. Kalau masalah itu anda jangan khawatir. Serahkan urusan itu pada Drako, dan Drako akan membuat berita itu menjadi tajuk utama dalam pemberitaan di media online." Kata Drako.


"Hmmm..," Kata lelaki tua itu hanya mendengus saja.


"Saya izin pamit dulu Paman." Kata Drako memutar diri lalu pergi meninggalkan lelaki tua itu sendirian sambil menatap kosong ke depan.


"Kau tunggu lah Ramendra! Saat nya akan tiba. Hutang darah bayar darah, hutang nyawa bayar nyawa." Kata lelaki tua itu dalam hati.


...*...


...MegaTown...

__ADS_1


Saat itu Ramendra baru saja diberi izin oleh pihak rumah sakit untuk bisa kembali ke Villa nya setelah mendapat perawatan akibat mendadak pingsan usai memenangkan acara pelelangan di gedung dewan MegaTown beberapa hari yang lalu.


Begitu lelaki tua itu sampai di Villa nya, dia tidak lagi menemukan pengawal yang biasa berjaga-jaga di sekitar halaman dan pintu pagar di Villa itu.


Baru beberapa hari dia tidak berada di Villa itu, kini Villa itu sudah seperti istana hantu saja. Terlihat sangat sepi dan menyeramkan.


Ramendra berjalan memasuki area halaman Villa dan sedikitpun dia tidak merasakan adanya nafas-nafas kehidupan di sana.


Dengan perasaan hampa, lelaki tua itu berjalan ke arah pintu lalu mememcet bel untuk memberitahu penghuni di dalam bahwa seseorang telah datang.


Tak lama setelah itu tampak seorang wanita setengah baya membukakan pintu dan langsung menghambur ke dalam pelukan lelaki tua itu sambil menangis.


"Putri ku. Ada apa sayang? Mengapa kau menangis?" Tanya Ramendra sambil membelai rambut wanita setengah baya itu dengan lembut.


"Robin, Ayah. Robin menceraikan aku. Dia kabur meninggalkan ku sendirian menghadapi utusan yang datang dari bank tempat perusahaan meminjam." Kata wanita setengah baya yang ternyata ibu mendiang Hyden dan istri dari Robin Patrik itu.


"Kurang ajar. Robin ini. Hidupnya tidak akan lama lagi. Kau tenanglah putriku. Adik mu Fardy pasti telah mengutus seseorang untuk menyingkirkan sampah ini." Kata Ramendra berusaha menenangkan putri nya.


"Kemarin pihak bank mengatakan bahwa mereka akan datang lagi untuk menyita Villa ini setelah seluruh aset di perusahaan tidak mampu menutupi jumlah hutang yang kita miliki. Pihak bank akan melelang Villa ini. Andai harga yang mereka dapat dari pelelangan Villa ini tidak mampu menutupi jumlah hutang kita, maka mereka mengancam akan menyeret Ayah ke dalam penjara." Kata wanita setengah baya itu.


"Bangsat semuanya. Mereka hanya setia kepada ku ketika aku berada di puncak. Namun ketika aku jatuh, mereka meninggalkan ku. Yang paling aku sesalkan adalah Robin. Aku minta maaf kepada mu putri ku, karena aku telah menghancurkan masa depan mu dengan memaksa dirimu untuk menikah dengan Robin." Kata Ramendra sambil menghempaskan nafas kekesalannya.


"Mari kita masuk ke dalam nak. Aku ingin menikmati detik-detik terakhirku berada di Villa yang penuh kenangan dan sejarah ini. Villa ini adalah saksi bisu tentang kejayaan Ramendra satu ketika dulu. Namun itu semua harus hancur oleh anak-anak monyet. Semua adalah salahku yang terlalu menganggap enteng kepada lawan. Aku telah dibutakan oleh nafsu." Kata Ramendra lagi.


Kedua anak dan ayah itu lalu memasuki Villa tersebut dengan berdampingan.


Begitu mereka sampai di dalam, Ramendra segera menuju ke lift dan naik ke lantai paling atas di Villa itu. Namun baru saja dia keluar dari pintu lift, dia terkejut melihat seorang lelaki tua yang sebaya dengannya sedang duduk ongkang-ongkang di sofa yang terdapat di ruangan itu.


"Si.., siapa kau?" Tanya Ramendra sambil mengernyitkan keningnya.


"Kau lupa kepada ku Ramendra?" Tanya lelaki sebaya dengan nya itu dengan senyum menyeringai mengundang kematian.


"Maaf saudara. Aku tidak mengenal mu." Kata Ramendra.


"Mendekat lah kemari Ramendra! Kau akan mengenali diriku. Apa kau tidak mengenali Malik? Aku adalah Malik kepala desa Mountain slope yang telah kau hancurkan menjadi gundul. Kau juga memecah belah antara aku dan adik kandung ku sehingga kami bermusuhan dan saling bunuh. Mendekatlah kemari Ramendra!" Kata lelaki tua yang ternyata adalah kakek Malik adanya.

__ADS_1


"Kau.., Malik? Ya aku ingat sekarang. Bagaimana kau bisa masuk ke dalam Villa ku ini?" Tanya Ramendra dengan heran.


"Kau lupa siapa Malik ini, Ramendra? Malik adalah jawara tangguh di Mountain slope. Kau lupa bagaimana aku menghancurkan orang-orang mu yang masih tinggal di sana ketika itu?" Tanya kakek Malik dengan senyum dingin menghiasi bibir keriput nya.


"Malik.., ampuni aku Malik! Bagaimanapun itu adalah masa lalu. Tolong maafkan aku Malik!" Kata Ramendra yang mulai ketakutan.


"Maaf? Masa lalu katamu? Waktu boleh saja berlalu, Ramendra. Tapi hutang tetap harus di bayar. Aku telah menunggu saat ini lebih dari 40 tahun yang lalu. Apakah setelah saat yang aku nanti itu tiba, aku akan memaafkan mu begitu saja? Tidak Ramendra. Kau jangan bermimpi di siang bolong!" Kata kakek Malik.


Melihat aura membunuh yang terpancar di wajah kakek Malik membuat Ramendra ketakutan. Dia kini berusaha untuk mencari selamat dengan segera memutar badan dan bersiap untuk melarikan diri memasuki kamar lift. Namun belum lagi beberapa langkah dia lari, sebuah benda keras tepat menghantam betis kaki nya membuat Ramendra jatuh terjerembab mencium lantai.


Praaak...?!


Triiing...?!


Terdengar bunyi pecahan kaca di lantai begitu benda yang menghantam betis Ramendra jatuh ke lantai.


Kini di lantai tampak pecahan gelas yang di lemparkan oleh kakek Malik ke arah Ramendra tadi.


"Mau lari kemana kau Ramendra?" Tanya kakek Malik sambil mengangkat tubuh Ramendra dan begitu tubuh itu terangkat, pukulan keras pun hinggap di bibir Ramendra membuat gigi palsu lelaki tua itu copot dan terbang entah ke mana.


"Ampuni aku Malik. Aku mengaku bersalah." Ratap Ramendra. Namun karena bibir bengkak dan gigi palsu nya telah tanggal, membuat suara itu terdengar seperti erangan yang tidak jelas.


"Tidak ada maaf bagi mu Ramendra. Aku akan memberikan kematian untuk mu tanpa menyiksa mu terlebih dahulu. Itu adalah hadiah untuk mu dari ku." Kata kakek Malik lalu. mendorong tubuh Ramendra keluar dari jendela dan terjun bebas ke bawah dengan bunyi suara bergedebuk.


Sesaat tampak tubuh Ramendra menggeliat-geliat meregang nyawa lalu diam tak berkutik lagi alis mati.


Setelah kakek Malik selesai mendorong tubuh Ramendra, dia segera mengambil tisu begitu melihat gigi palsu Ramendra tergeletak di lantai.


Dengan tisu tersebut dia mengambil gigi palsu itu dan melemparkannya ke bawah tepat di samping mayat Ramendra sambil berucap, "Itu gigi palsu mu agar kau tidak kesulitan mengunyah di neraka sana nanti." Kata kakek Malik lalu bergegas pergi meninggalkan Villa itu dengan cara menyelinap dan terus turun ke bawah menggunakan tali yang sudah dia sediakan.


"Persetan dengan kamera perekam. Setelah ini aku akan kembali ke gubuk ku dan tinggal di sana sambil menunggu ajal menjemput ku." Kata kakek Malik dalam hati.


Dia benar-benar merasa puas saat ini. Tanpa beban, tanpa sakit hati dan tanpa dendam. Semua telah lunas hari ini. Ini berkat pertemuannya dengan Jerry. Jika tidak, entah sampai mati mungkin dendam itu tidak akan pernah terbalaskan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2